Gokilnya Pelajaran Kewirasusahaan





Malam itu saya beranjak dari kosan menuju Lokasari yang agak jauh. Dengan jalan kaki, saya sampai di Lokasari jam 8 malam. Segera saya mencari supermarket Hari-Hari, sampainya di sana, saya bertanya kepada petugas yang memakai seragam putih-hitam.
“Mas, ada gas kaleng nggak?”
“Gas kaleng? Kayaknya nggak ada deh.”Jawabnya singkat. Nyes~
Saya masih belum percaya kalau di sini tidak ada gas kaleng. Saya pamit dari Mas-mas ini, lalu jalan-jalan menyusuri rak-rak yang berisi banyak kebutuhan hidup. Dari yang namanya ciki, minuman apa aja, tivi, skop, sendok, setrika, dan banyak lagi, tertata rapi.
Saya bertemu lagi dengan petugas yang kini memakai seragam orenye,
“Mbak, ada gas kaleng nggak di sini?” tanya saya mengganggu dia yang tampak sibuk.
“Oh, ada,” katanya, huh…, lega hati saya. Si Mbak ini pun menunjukan tempatnya kepada saya, saya berjalan di belakangnya. Kami berjalan agak jauh dari tempat kami bertemu.
“Kayaknya nggak ada deh.” Tanpa dosa, Mbak ini berbicara seperti itu. Sakit di-PHP-in, cukup Mbak, cukup…!
Saya masih keukeh mencari gas kaleng di sini. Walau dua kali dibilang nggak ada, saya yakin pasti ada! *maksa banget yah?*
And then, saya bertemu petugas di dekat tempat penjualan ikan segar. Amis.
“Mas, di sini ada gas keleng nggak yah?”
“Gas kaleng? Ada, di dekat kasil sana…,” jawabnya, semoga saja Mas ini nggak bohong.
“Oh ya, Mas? Terima kasih yah….”
“Ya, sama-sama….” Si Mas melambungkan senyum, lalu segera saya smash!
Peluh bercucuran lumayan banyak, baju saya basah, celana yang saya kenakan sudah tak nyaman lagi. Gerah!
Sampai di tempat yang ditunjukan Mas tadi, saya berputar-putar di daerah kasir yang ramai dengan orang-orang dengan membawa troli dan ranjang yang penuh dengan belanjaannya.
Saya lewati jajaran kompor sambil mengamati.
“Ada kompor, ada selang, ada…, oh yeah, ada gas kaleng!” Saya senang bukan kepalang! Loncat-loncat dan menjerit histeris. *boong kok*
Sebenarnya buat apa sih saya beli gas kaleng?
Jadi gini, besok adalah praktik pelajaran Kewirausahaan. Kami masuk di pelajaran masak-mesak. Sebelumnya adalah tentang pembenihan ikan air tawar. Mengingat tampat yang tersedia di sekolah kami tidak memadai, alhasil ikan air tawar ini tidak dipraktikan.
Dan masak-masak barulah bisa dipraktikan, walau menguras kantong juga sih :3
***
Saya mengantre menuju kasir yang ramai dan mengular panjang. Terlihat di kanan, kiri, belakang dan semua orang yang mengantre adalah mereka yang membawa belanjaan dengan keranjang dan troli yang penuh mutan.
Saya? Saya hanya belanja satu gas kaleng berwarna putih. Saya dekap gas itu di dada, lalu saya elus-elus dan mengecup keningnya. Jah. Bukan gitu. Gini, saya pegangi gas itu hati-hati, takut-takut nanti meledak.
Bayangkan, ketika itu, hanya saya yang membawa hasil belanjaan hanya satu ite . Malu, kesel, gondok, wuah, campur menjadi satu. Plus lagi Bapak-bapak di belakang saya tidak sabaran, dia mengantre seperti tidak melihat jarak saya dengan trolinya, jadi saya sempat ketabrak-tabrak trolinya.

Foto: Tribunnews


Mungkin kerena saya menyelak antrean tadi kali yah. Ckckck….
Setelah giliran saya di kasir, saya melihat Mbak-mbak kasir ini kok ya mirip dengan Yayu saya yah. Ya, benar. Matanya agak sipit, pipinya gemuk, bibirnya begitu, dan ya seperti perempuan pada umumnya. Mirip pokoknya.
Saya berlalu menuju pintu keluar. Saya berputar-putar, kehilangan arah mata angin. Dan beberapa puluh menit kemudian, barulah saya keluar dari mal Lokasri Square.
Di Lokasari, kamu bisa mendapatkan banyak kebutuhan kehidupan lho. Dari mobil, makanan, baju, dompet, tas, dan masih banyak lagi. Dan jika kamu (laki-laki) tidak bisa menjaga mata, maka kamu bisa menangkap paha-paha yang berseliweran begitu saja di depanmu!
Kalau saya sih sudah biasa ya ke sini, jadi masalah itu bisa saya hindari dengan memalingkan mata seraya ber-ishtighfar

Foto: jualsewakios




Pelajaran pertama hari ini adalah olahraga, dan setelah olahraga barulah Kewirausahaan. Kerena itu, kami harus siap-siap sedari pagi. Saya, Bagus, Mama Qhod, Sapitri, Ratu dan Winda adalah satu kelompok. Kami akan memasak masakan khas Karawang: Tahu pepes. Selain itu, ada makanan sampingannya, yaitu serabi dan minuman es kelapa susu campur jelly campur sirup bango.
Ketika saya mencoba es situ, rasanya seperti buka puasa….
Pelajaran olahraga usai, meja-meja untuk kelompok yang ingin masak-masak sudah disediakan di depan. Bu Suhartini sudah masuk kelas. Dan mulailah masak-memasak!


Kenalin, itu ada Bu Suhartini dan Dhea. 
Cuco :3

Kita bikin pepes tahu!


Proses dalam memasak ini seru. Siapa saja rasanya ingin nimbrung ke tempat kami. Alasanya ingin membantu, dan setelah membantu mendapat jatah, ngoahaha. Saya tidak ikut campur masak-masak pepes. Biarkan Mama Qhod saja yang ambil andil. Saya hanya membantunya memotongi apa-apa yang bisa saya potongi.
Lalu, tak lama masakan sudah masak, dan minuman sudah sedia. Kini tinggal dimasukan ke wadah dan dibagikan kepada guru-guru dan teman-teman sekelas.
Ketika saya membawa sebaki yang berisi penuh es kelapa ala kelompok saya. Saya berpapasan dengan teman yang berbeda kelas.
“Aduh, jangan repot-repot....”
“Bisa kali dioper….”
“Sini dong…”
Dan lain-lain basa-basi yang lainnya. Termasuk guru-guru pun memberikan kode sebelum hari ini. Seperti Pak Adi,
“Khi, katanya ada masak-masak yah? Kok saya tidak kebagian sih, cuma kebagian infonya ajah.”
Glek, begitu kata Pak Adi yang berbadan gemuk, mungkin lebih dari gendut. Terus?











Nah, setelah segala masakan, minuman dan hal-hal lainnya sudah dibagikan kepada guru-guru. Kini saatnya dibagikan kepada teman sekelas!
Wehh…, kelas ramai. Rasanya sudah seperti pesta pernikahan. Ada yang berbutan makan, makan satu berdua, juga ada yang bersedia bersenandung tidak jelas.
Pokoknya, ketika itu sungguh amat ramai. Satu kelas sudah seperti satu tribun di Senayan suaranya. Sampai-sampai meja ikut bergetar, burung-burung melahirkan, kursi menjadi kursor, angin membeku, dan tambok runtuh….
Gila!
Tidak seperti itu kok.
Kami menikmati momen seperti ini. Kami saling berbagi dan saling menawarkan. Jarang ada waktu seperti ini, maka dari itu, saya bekukan dengan tulisan ini saja.









Jam 12 siang, kelas sudah rapi. Dan guru selanjutnya yang seharusnya mengajar tidak masuk kelas. Dan sampai bel pulang, tak ada guru masuk kelas. Oleh sebab itu, kami tidur-tiduran di kursi yang dijejerkan, di meja, di lantai, dan di mana saja yang bisa untuk tidur, di situ kami tidur.
Tapi tidak semua tidur sih. Ini kali pertama saya merasakan sensasinya tidur di kelas setelah beberapa tahun sekolah.
Nah, begitulah cerita saya di pelajaran Kewirausahaan.
Dengan ini, saya bisa jadi tahu, ternyata ada bakat-bakat terpendam yang terpatri di teman-teman saya, mereka bisa memasak, bisa nyuci piring, bisa motong cabe, nyobekin daun pisang, dan yang lebih dari itu, ada rasa berbagi yang tinggi di antara kami.

And then, see you next time ^_^



Tanmbahan:



















Comments
1 Comments

1 komentar:

Ah putih abu, ketika hidup masih terasa sederhana.
Minta paha dari Losari dong.

Reply

Posting Komentar