Cara Mudah Melatih Otak Agar Berpikir Kreatif



Saya membaca buku tentang cara berpikir kreatif sekitar 6-7 tahun lalu. Dan beberapa tipsnya masih saya ingat  dengan jelas, dan kali ini mau saya bagikan.

Otak merupakan organ manusia yang paling fenomenal. Ia sangat berperan penting terhadap karakter, pemikiran, hingga pengetahuan manusia, tidak terkecuali ide-ide kreatif. 

Pada dasarnya, kita semua dilahirkan menjadi manusia yang kreatif, hanya saja ketika tumbuh menjadi dewasa, kreatifitas itu mulai luntur. 

Sebab saat kita tumbuh, kita melihat dunia ini serba-baru. Melalui sudut pandang baru. Lalu semua dimusnahkan dengan sudut pandang yang diarahkan oleh orang lain. 

Seorang pemikir kreatif akan menghasilkan lebih banyak alternatif untuk memecahkan suatu masalah.

Salah satu proses berpikir kreatif yang paling penting adalah fase inkubasi. 

Fase di mana otakmu mencari jalan keluar sendiri tanpa kamu minta. Itu adalah hasil dari semua apa yang kamu lihat, baca, dengar, dan rasa. 

Semua terekam di otakmu tanpa kamu sadari dan memengaruhimu ketika mengambil keputusan.

Latihan untuk bisa berpikir lebih kreatif yang bisa sama-sama kita lakukan adalah, dengan melakukan hal yang tidak biasa tiap harinya. 

Seperti kamu bisa pergi ke kantor melalui jalan yang sama, kemudian pulang kantor melalui jalan yang berbeda. Atau ketika kamu terbiasa dengan membeli sesuatu di satu warung tertentu, kamu bisa mencoba membeli di warung lainnya. 

Cara lain, coba kamu menyikat gigi dengan tangan kiri, atau memulai mandi dengan urutan yang tidak sama seperti biasanya. 

Dengan begitu, kamu akan terlatih untuk melakukan hal-hal yang 'di luar' kebiasaan. Dan otak akan terlatih akan hal-hal baru. Tentu saja hal ini akan ditangkap otak kamu dengan baik, dan ketika kamu dihadapkan dengan satu permasalahan atau pencarian ide, maka otak akan memberi sinyal kepadamu tanpa diminta. Yaitu hasil inkubasi itu, ia akan melahirkan intuisi dan kamu akan mudah untuk mendapat sudut pandang baru ketika melihat satu hal.

Tentu saja hal ini tidak bisa didapatkan secara instan, kamu harus sering melatihnya, sesering mungkin.

Dan, selamat mencoba..


 



 

Pengalaman Beli Buku Murah di Pasar Kenari


Ini kali pertama buatku datang ke Jakbook yang berada di lantai 3 pasar Kenari Jakarta. Setelah peresmian, tempat ini sepi pengunjung. Hingga akhirnya ada seorang yang mengupload bagaimana situasi di Jakbook tersebut yang, ada ruang baca yang bagus, tempat ngopi, dan buku-buku murah—kemudian mulai banyak orang yang berdatangan.

Aku datang pada hari Minggu sekitar jam 3 sore. Ya, ini adalah sebuah pasar, ketika aku masuk, situasi begitu sepi, semua kios tutup. Menaiki eskalator yang mirip seperti di film horor, akhirnya aku sampai di lantai 3 dan mencium aroma-aroma kertas yang khas.

Ruangan ber-ac, ada petugas kebersihan dan keamanan yang terlihat di sana-sini. Tujuanku kemudian tertuju pada ruang baca yang berada di samping (semacam) coffee corner. Di sana tempatnya nyaman dan cocok banget untuk anak-anak muda nongkrong. Setelah melihat-lihat sekitar, aku tidak bisa menahan napsu untuk berkeliling mencari buku, yang siapa tahu cocok.

Selamat datang di lantai 3 pasar kenari..

Baru pertama mampir, aku sudah dikejutkan begitu saja. Aku melihat buku-buku novel dan nonfiksi terjejer meninggi di tembok-tembok. Mataku mencari-cari di bagian sastra dan akhirnya aku menemukan buku yang sudah lama kuidamkan: One Hundred Years of Solitude, Gabriel Garcia Marquez.

Hal itu semakin membuatku terkejut ketika penjual berkata: dijual setengah harga aja. Wah, kebetulan dong! Maka tak kusia-siakan untuk mengobrak-ngabrik lapak jual buku ini. Dan kutemukan buku lainnya yang tidak kalah menarik karya kepala suku Mojok: Seorang Pria yang Keluar dari Rumah, Phutut EA.

Yang membuatku agak sedih adalah, di sini juga menjual buku bajakan, buku ini dijual sangat murah. Ketika aku bertanya darimana buku-buku ini ia dapat, si penjual menjawab bahwa ia membeli dari satu orang ke orang lain, jadi tidak  hanya dari 1 distributor, ketika aku tanya apakah orang ini adalah orang dalam di sebuah penerbit, ia jawab tidak tahu. Kok bisa ya buku bagus ini dijual setengah harga saja! Gila emang.



Jadi, di tempat ini ada kios-kios yang menjual buku bekas dan baru. Ketika kulihat sekilas, buku-buku ada yang berbau politik, buku tutorial, panduan membuat apa, dan sebagainya.

Menilik ke bagian lain, aku menemukan toko semacam Gramedia. Di sini buku-buku sangat lengkap, dari agama, hobi, fiksi, dan sebagainya. Ini toko buku mengadopsi Gramedia, tapi bukan Gramedia. Di sini, aku menemukan beberapa buku bagus juga, walau ya.. di bagian novel bisa dibilang tidak terlalu update.

Ketika menuju kasir, aku kembali terkejut, bahwa buku-buku yang kubeli ini ternyata mendapat diskon 20%. Aku tidak tahu dari mana diskon itu, tahu-tahu ada saja. Mau nanya ke kasir, malu.
Di bagian lain, kamu akan menemukan semacam kantin, katika aku lihat mereka sudah pada tutup, jadi kita skip aja. Selain kantin, juga ada semacam mini market. Mereka menjual makanan ringan dan minuman seperti mini market pada umumnya.


Di sampingnya, ada sebuah tempat yang digunakan untuk semacam kursus atau seminar. Tempatnya bagus banget, beneran deh. Sebelahnya lagi ada PAUD.

Menghabiskan waktu kurang lebih 2 jam di tempat ini, membuatku merasa senang. Senang karena mendapat buku murah, senang karena tempatnya nyaman dan keren.


Melihat bagaimana pemerintah dapat membangun literasi masyarakatnya dengan langkah seperti ini, membuatku optimis bahwa ke depan akan ada terobosan lain. Jika membuat tempat sekeren ini saja bisa, barangkali ke depan akan ada dobrakan baru di sektor litarasi.

Kita semua sadar bahwa literasi begitu penting bagi suatu bangsa, dan aku harap, pemerintah dapat lebih serius lagi melihat ke arah ini. Semoga.***


Membaca 'Persengkongkolan Ahli Makrifat' (Kuntowijoyo)

Akhir-akhir ini kita sedang diuji tentang bagaimana ‘memandang’ agama. Tentu saja ada banyak ahli agama yang menyiarkan ajaran-ajaran baik. Namun, dalam penyampaian itu, tidak semuanya dengan cara yang sama. Ada yang menyampaikan seolah marah-marah, ada juga yang halus.

Kuntowijoyo adalah nama besar dalam kesusastraan Indonesia. Beliau besar dalam keluarga yang religius dan mendapat pendidikan yang tinggi (terakhir ia menjadi guru besar di UGM). Jujur saja, aku belum lama mengenal nama ini. Dan begitulah sebuah karya, membuat penulisnya tetap hidup. Dan ya, melalui buku kumpulan cerpen ini, aku merasakan denyut kehidupan beliau.

Di pengantar buku ini sempat ada singgungagan tentang apa itu sastra profetik. Dan menurut Kuntowijoyo, itu adalah adalah sastra yang sebagai ibadah dan sastra yang murni. “’Sastra ibadah’ saya adalah ekspresi dari penghayatan nilai-nilai agama saya, dan sastra murni adalah ekspresi dari tangkapan saya atas realitas.”


Penghayatan nilai agama yang dimaksud di atas, dalam buku ini adalah agama Islam. Dan terasa betul dalam membaca cerpen-cerpen di buku ini, aku merasakan penghayatan yang tidak biasa tentang realitas-agama. Tentu saja dibawa dengan cerita yang menarik; bahasa sederhana khas penulis tahun 60-an.

Buku ini dibuka dengan cerpen berjudul ‘Hati yang Damai Kembalilah kepada Tuhan’. Dari judulnya saja kita bisa mencium aroma-aroma religius di sana, dan memang begitu. Sebenarnya cerita ini simpel saja, tentang seorang lelaki yang tergeletak tak jauh dari sebuah masjid dan mencoba untuk masuk ke masjid dengan susah payah.

Orang-orang sekitar tidak suka dengan orang (bajingan) itu, kehadirannya bagi mereka bisa mengotori masjid. Karena si lelaki memang terkenal tidak baik, judi, mabuk, dan maksiat lainnya. Namun Kiai yang mereka hormati di desa itu datang dan membantu si bajingan untuk berdiri, orang-orang takjub melihat kejadian itu.

“Untuk apa kalian berusaha mengangkat orang ini keluar?”
Tak seorangpun menjawab.
“Untuk apa, anak-anak muda?”
“Masjid ini kotor, Kiai.”
“Masya Allah. Kautahu kalu masjid ini jadi kotor?”
Mereka semua terdiam.

Dialog di atas tentu saja mempunyai nilai sendiri secara penghayatan agama dan realitas kita. Yang mana banyak dari kita terlalu mudah men-cap setiap orang yang salah akan selalu salah. Padahal bisa saja dia hari ini salah, besoknya bertaubat. Bisa saja pagi ini kita muslim, sorenya kita kafir. Tidak ada yang tahu tentang keimanan seseorang kecuali urusannya paling sakral  dengan Tuhan.

Kebanyakan cerpen-cerpen dalam buku ini berangkat dari sebuah desa, dari sebuah lingkungan yang jauh dari keriuhan kota, di mana orang-orangnya masih ‘primitif’, masih kolot. Sebuah desa itu juga bisa berarti adalah kita, kita yang tidak terbuka tentang bagaimana memandang agama, kita yang memandang agama hanya dalam satu sisi, yang akhirnya yang muncul hanya kebencian dan kebencian.

Narasi-narasi yang ditawarkan buku ini menurutku dapat membuka mata kita tentang bagaimana menghayati realitas yang terlihat di depan mata dengan anjuran agama. Bahwa tujuan dari agama adalah kebaikan di muka bumi, tanpa ada kesan menceramahi dan di sisi lain menikmati kisah yang dibaca. Bukankah Al-Qur’an juga demikian? Berisi tentang ‘kisah’ masa lalu, agar kita tidak terjeremus di lubang yang sama?


Mengenal Absurditas Melalui Novel 'Orang Aneh' (Albert Camus)


Kehidupan adalah detik ini juga, tidak ada masa lalu, tidak ada yang perlu dikenang. Segala hal yang terjadi, semuanya memang harus terjadi. Setidaknya begitulah hal yang dipegang oleh Marsault, tokoh utama di novel ini.

Nama Albert Camus seringkali aku temukan di blog Eka Kurniawan, dan akun-akun media sosial penjual buku di mana kata-kata Camus dikutip untuk dijadikan quotes. Ia merupakan filsuf yang memiliki pandangan absurditas —di mana pandangannya itu sangat kental di novel ini.

Ada banyak teori yang menjelaskan pandangan absurditas Camus, namun melalui novel ini, pandangan itu setidaknya menjadi lebih mudah untuk dipahami.

Dibuka dengan kematian ibunya, Marsault datang ke tampat di mana ibunya tinggal: sebuah panti jompo. Di sana ia bertemu dengan perawat dan penjaga. Ia tidak benar-benar sedih atas kematian ibunya, dan ia sendiri bahkan tidak tahu persis umur ibunya ketika meninggal.

Karena baginya memang tidak perlu ada yang ditangisi, yang sudah terjadi ya terjadilah. Ia bahkan heran kepada teman-teman ibunya yang sedih dan menangisi ibunya. Esoknya ia bertemu kekasihnya dan seolah kematian ibunya tidak pernah terjadi. Hidup berjalan begitu saja.

Sebuah konflik muncul ketika ia dan Raymond bersama teman-temannya berlibur di sebuah pantai dan menginap di sana. Raymond mempunyai masalah dengan orang Arab dan membuntuti liburan mereka.

Hingga akhirnya terjadi pertikaian antara rombongan Raymond dengan orang Arab tersebut. dan Marsault menembak salah satu dari mereka dan membuatnya dibui. Marsault mengaku kenapa ia melalukan itu karena hal sepele: ketika itu hari begitu panas baginya.

Dalam menjalani sidang, ia dipojokkan tentang sikapnya yang menurut orang lain dianggap aneh setelah kematian ibunya. Yang kemudian dianggap mempunyai kaitan dengan pembunuhannya terhadap orang Arab. Tapi sebenarnya tidak ada kaitannya.

Di pengadilan, karena alasan-alasan yang tidak masuk akal tentang bagaimana Marsault tidak merasa sedih karena ibunya meninggal, ia mendapatkan perlakuan yang tidak adil dan ia akhirnya mendapatkan hukuman mati.

“Keadilan seseorang  merupakan sesuatu yang tak ada artinya dan cuma keadilan dari tuhan yang berarti.” hlm. 162

Itulah kenapa orang-orang melihat Marsault sebagai ‘orang aneh’, orang yang tidak mempunyai perasaan, yang tidak bertuhan, tidak mempunyai hati nurani, dan tidak merasa bersalah. Yang menurut Jaksa, orang sepertinya tidak memilikit tempat di masyarakat!

Jika kita lihat di zaman sekarang, kadang kita bertemu dengan orang yang tidak umum dan kita melihatnya sebagai orang aneh. Tapi bisa jadi kita yang terlalu munafik untuk mengakui bahwa apa yang ia lakukan adalah sebuah kebenaran.

Kita gampang sekali melabeli orang sebagai ‘orang aneh’, padahal sebenarnya label itu hanya tentang mayoritas dan minoritas. Yang minoritas selalu dianggap aneh, yang dominan selalu di atas segalanya.

Sedangkan sifat individualisme, atheisme, keterasingan, tidak peduli terhadap hal yang tidak dianggapnya penting—sifat itu sering kita temui di teman kita, sahabat, bahkan keluarga. Dan sebenarnya itu baik-baik saja.

Dalam membaca novel ini (yang kubaca adalah versi penerbit narasi). Aku menemukan kendala dalam membaca buku ini: seperti lembaran yang terlalu tipis sehingga cetakan halaman selanjutnya tembus, dan terjamahan yang menurutku agak kurang tepat di beberapa bagian.

Ya namanya juga membaca terjemahan, pada dasarnya kita sedang membaca suatu ‘kesalahan’, bukan novel yang asli. Tapi kita menikmati kesalahan demi kesalahan itu.

Menurutku novel ini terasa seperti buku harian, narasi dengan POV 1 sangat dominan. Mungkin saja Marsault itu adalah Camus sendiri?

Dari buku ini aku belajar banyak tentang individualisme, keterasingan, dan tentu saja teori absurditas. Tentu saja kita tidak serta merta memahami apa itu  absurditas, tapi setidaknya ketika kita selesai membaca novel ini, kita akan merasa ingin tahu lebih jauh tentang apa itu absurditas, sebuah teori yang bisa mengubah sudut pandangmu tentang dunia ini.***

Banyak Baca Buku Membuatmu Semakin Bodoh

Seringkali teman-teman kita menggap orang yang suka membaca buku pasti orangnya cerdas, berpengetahuan luas, pintar, pokoknya di atas rata-rata. Tapi sepertinya tidak semuanya begitu, orang yang banyak membaca buku dengan orang yang banyak tahu tentu saja dua hal yang berbeda. Ada orang yang suka membaca buku hanya untuk menuntaskan sensasi menamatkan novel fiksi yang seru, ada juga motif lain yang tidak ada hubungannya dengan kecerdasan dan pengetahuan yang luas.

Malah, orang yang terlalu banyak tahu, dengan kata lain, terlalu banyak hal yang ia ‘masukan’ ke dalam otak, itu tidak akan efektif. Karena otak kita bagaikan loteng yang sempit, seharusnya kita taruh ‘perkakas’ yang penting saja dan mudah untuk kita ambil suatu waktu.



Aku malah percaya bahwa membaca buku membuat kita menjadi bodoh. Karena orang yang sudah pintar menurutku sudah tidak perlu lagi membaca buku. Orang yang membaca buku adalah mereka yang selalu merasa dirinya bodoh dan merasa perlu untuk tahu tentang banyak hal. Mereka yang selalu haus akan pengetahuan, jika sudah tahu akan sesuatu, yasudah, langkah selanjutnya ia tentukan sendiri: mau ia simpan di dalam otaknya atau dibuang begitu saja.  

Ya.. walaupun kita perlu mengakui bahwa ketika kita banyak membaca buku, itu membuat kita menjadi lebih percaya diri. Tapi semua itu menjadi sia-sia jika kita tidak melakukan action, karena sejatinya hidup adalah tentang action, bukan apa-apa yang menumpuk di kepala dan membuat  semrawut.

Dulu aku percaya jika aku membaca banyak buku, aku akan menjadi orang yang keren, tahu segala hal dan menjadi orang yang ‘tidak punya masalah’. Tapi anggapan itu ternyata salah kaprah, percuma saja kamu membaca banyak buku, kalau kerjaannya diam melulu, begitu kata Wiji Tukul.

Orang yang membaca banyak buku agaknya akan ‘kalah’ dengan mereka yang sering bertemu dengan orang banyak dan saling sharing dengannya. Mereka yang melakukan komunikasi dengan banyak orang dan mendapatkan satu-dua hal yang penting dan kemudian menjadi salah satu prinsip hidupnya.

Tidak ada salahnya memang membaca buku, setidaknya ia tidak membuatmu dungu, tapi tidak menutup kemungkinan ada buku yang membuatmu menjadi dungu dan tidak mau kalah. Memilah buku apa yang akan kamu baca juga penting, jangan hanya asal mengambil buku dan memercayainnya 100%. Kita seharusnya kritis terhadap tiap gagasan yang dituliskan dalam sebuah buku, itulah proses ‘membaca’ yang sesungguhnya.***

Of Mice and Men: Tentang Dua Lelaki Saling Melengkapi

“Aku hampir tidak pernah melihat dua lelaki bepergian bersama. Kau tahu bagaimana kebiasaan buruh, mereka datang dan dapat ranjang dan bekerja selama sebulan, lalu berhenti dan pergi sendirian.” (hlm. 57)

Dua lelaki yang selalu bersama tanpa ada ikatan apapun (hanya teman), sangat langka di dunia ini. Mereka akan saling melengkapi, selayaknya pasangan.

Lennie adalah seorang pemuda yang sangat kuat dan besar namun bodoh, sangat bodoh.
Sedangkan George bertubuh kecil, dan cerdas. Mereka hidup berpindah-pindah, tidak punya
keluarga, dan bekerja di peternakan. Namun pekerjaan itu tidak akan lama, karena Lennie selalu membuat masalah di tempat itu dan memaksa mereka berpindah. Hidup yang sulit.

Lennie sebenarnya tidak pernah berniat jahat, ia hanya ingin mengelus segala sesuatu yang
lembut dan lucu. Tapi ia tidak pernah berpikir panjang jika sesuatu yang lembut itu tidak semua bisa dia elus: tubuh wanita yang tidak ia kenal misalnya.

Cerita berjalan hingga akhirnya mereka diterima di sebuah peternakan menjadi buruh. Dan
George sudah ‘mewanti-wanti’ Lennie untuk tidak membuat masalah. Untuk itu George selalu menceritakan kepada teman besarnya itu tentang ‘harapan besar’ agar Lennie tidak membuat masalah, persis seperti anak kecil.

Harapan besar itu adalah di mana nanti mereka akan mempunyai tanah yang subur dan tempat
tinggal yang nyaman, hanya ada mereka berdua. Mereka akan menanam dan beternak sendiri, tidak bekerja untuk orang lain. Tapi untuk itu, mereka harus mengumpulkan uang dari sekarang.

Dan Lennie, dari semua harapan besar itu, ia hanya meminta memelihara kelinci untuk bisa ia elus-elus.



Tapi semua tahu (kecuali otak Lennie yang sangat bodoh), harapan besar itu, untuk mempunyai tanah sendiri dan rumah bagi pekerja buruh kasar seperti mereka adalah mustahil. Paling tidak karena tidak mencapai tujuannya itu, para buruh akan pergi ke tempat pelacur dan meminum minuman keras: kenikmatan sesaat.

***

Novela ini memberikan kita gambaran tentang dua orang yang memiliki kelebihan dan kekurangan. Di mana George tidak akan bisa dengan maksimal bekerja di peternakan karena
tubuhnya yang kecil, tapi ia bisa meyakinkan atasannya bahwa temannya, Lennie, bisa bekerja lebih keras dari yang lain karena tubuhnya yang besar dan kuat.

Novela ini dinarasikan dengan sangat hidup dan dialog yang membangun situasi dari tensi naik atau turun. Kendati soal dalam novela ini sangat sederhana.

Selain George dan Lennie, kita akan menemukan tokoh lain seperti Slim sang mandor dan Crooks si negro. Tokoh ini cukup menarik untuk diikuti karena membawa cerita menuju lebih dalam dan menarik.

“Orang tidak harus cerdas untuk jadi orang baik. Sepertinya menurutku kadang justru sebaliknya. Orang yang cerdas biasanya bukan orang baik.” (hlm. 58) - Slim

“Buku tidak bagus. Orang butuh orang lain—untuk berdekatan (hlm. 98) - Crooks

Seperti namanya, Novela, jadi buku ini hanya membahas 1 konflik saja pada suatu tempat. Dan buku ini pun sangat tipis. Namun membacanya sangat menghibur, kok. Karena kita akan menemukan sesuatu yang menyedihkan, menggetarkan, lucu, bijak, dan sifat-sifat manusia aneh lainnya!***

MENGENAL SHERLOCK HOLMES MELALUI 'PENELUSURAN BENANG MERAH'

Pada dasarnya ini adalah novel yang tipis dan sederhana. Bercerita tentang sebuah pembunuhan kemudian seorang detektif mengungkapnya. Tapi yang membuat menarik ketika membaca novel ini adalah kau dapat menemukan tokoh yang memorable. Ia akan terus teringat di kepalamu berhari-hari, dan kau mungkin akan bergumam: tokoh ini tidak manusiawi tapi menarik, tapi menyebalkan, tapi ah sudahlah..

Tokoh itu siapa lagi kalau bukan Sherlock Holmes. Dalam Novel Penelusuran Benang Merah, kita bisa mengenal sang detektif secara dekat dan runut. Maksudku, mungkin akan beda rasanya jika kamu ingin mengenal Holmes melalui seri novelnya yang lain. Sebab dari Novel inilah ia digambarkan dari A-Z, setidaknya menurutku.

Novel ini dibuka dengan sudut pandang orang pertama melalui tokoh Dr. Watson. Ia adalah dokter perang vetaran. Tanpa sengaja ia bertemu Sharlock Holmes dan berbagi tempat tinggal dengannya.

Dr. Watson adalah gambaran dari kita. Ia sama seperti kita ketika menemui sikap aneh dari sang detektif. Seperti fakta bahwa Holmes tidak menyadari bahwa bumi mengitari matahari.

Tapi Holmes memiliki alasan kenapa ia tidak tahu hal tersebut. Karena baginya hal kecil seperti bumi mengitari matahari tidaklah penting.

Setelah ia tahu hal tersebut, ia mencoba untuk melupakannya. Karena baginya otak manusia seperti loteng, cukup masukan barang-barang yang penting saja dan tertata rapi. Jika itu tidak penting, hanya memenuhi ruangan dan mengganggu.

Dari sini aku belajar bahwa selama ini jika kita menganggap belajar tentang banyak hal adalah hal yang sangat fantastis, itu keliru, karena otak kita tidak mungkin bisa menerima itu semua.

Otak mempunyai batasan, gunakan semaksimal mungkin dan buang yang tidak penting.

Itu baru salah satu sifat aneh Holmes. Sifat yang membuatku tergelitik adalah deduksi-deduksi yang tampaknya ngawur.

Yakni bahwa dari setetes air sesorang yang mengandalkan logikanya bisa menentukkan apakah air tersebut berasal dari Samudera Atlantik atau Air Terjun Niagra, meskipun ia belum pernah melihat kedua tempat itu. (Hal. 22).

Meskipun terdengar ngawur, hal itu dapat dibuktikan Holmes. Dengan seringnya ia mengamati, ia bahkan bisa tahu apa profesi seseorang hanya melihatnya dari jauh, dan banyak lagi keanehan lainnya.

Menurut Dr. Watson, teman sekamarnya itu adalah mesin pemikir paling hebat se Eropa!

***

Dalam buku ini, kasus yang dihadapi Holmes bukan sekedar pembunuhan biasa. Kendati ia sudah tahu ciri-ciri pelakunya hanya dengan mendatangi TKP.

Ia akan mengamati debu-debu, sisa cerutu, dan bekas tapak sepatu. Hanya dari amatan itu, ia bisa tahu tinggi, umur, hingga berat badan pelaku!

Ketika detektif dari kepolisian membuat spekulasi yang salah, Holmes sudah mengantongi identitas pelaku dan membuat rencana untuk menangkapnya dengan cara yang tidak biasa.

Demikianlah novel berjalan. Aku bisa katakan bahwa pertunjukkan utama dalam novel ini adalah pemikiran dan amatan yang tajam dan tidak biasa dari Holmes, tanpa menyebutkan bahwa kasus yang ditangani tidak terlalu menarik, tentu saja.

Setting waktu dalam novel ini adalah 80-an dan di London. Aku sedikit kesulitan di bagian narasi penggambaran tempat. Tapi di samping itu semua, novel ini sangat menghibur dan menggemaskan!

Menyelami dunia jurnalistik yang kelam bersama Cak Rusdi

Sekitar sebulan lalu aku bertemu dengan anggota ekskul jurnalis SMK-ku dulu. Di tiap tahun diadakan sebuah pertemuan untuk memperkenalkan anggota baru kepada dunia jurnalis.

Aku tidak menyiapkan materi untuk berbicara di depan mereka (karena ini mendadak). Untungnya aku belum lama ini sudah menyelesaikan buku karya Rusdi Mathari: ‘Karena Jurnalisme Bukan Monopoli Wartawan’ yang membuatku kagum.



Jadi aku bisa mengutip sedikit-banyak yang Cak Rusdi tulis di buku ini ketika aku di depan anggota jurnalis baru itu. Aku menyampaikan kepada mereka tentang blog salah satu warga Mesir yang  mengambil peran dari arus media utama, aku cerita tentang wartawan yang menulis berita tapi fiksi, tentang wartawan bodoh karena menanyakan saksi yang melihat mayat dan menanyakan hal bodoh, dan banyak lagi.

Artinya sebagian besar yang ada di dalam buku itu menempel di kepalaku, setidaknya begitu menurutku.

Melalui buku ini aku dapat menyelami dunia jurnalistik khususnya di Indonesia. Cak Rusdi dalam buku ini seperti bercerita dengan gaya santai kepada pembaca. Tapi dalam kesantaian itu, sebenarnya ia sedang membawa isu dan kasus yang tidaklah kecil.

Kebanyakan tulisan yang ada di buku ini pernah dimuat di blog Cak Rusdi dan akun Facebooknya. Jadi wajar jika buku ini terbilang ringan karena maksud dari penulisnya adalah menulis di blog dan status Facebook, bukan dimaksudkan untuk menjadi buku.

Dengan tulisan yang terbilang ringan tersebut, pembaca jadi bisa lebih akrab ketika menyelami pikiran-pikiran Cak Rusdi. Poin penting dalam buku ini adalah kritiknya terhadap media hingga profesi jurnalis itu sendiri. Ia secara blak-blakan membicarakan itu, tentu saja dibalut dengan pengalamannya yang terbilang senior di kancah kejurnalistikan nasional.

Ia berbicara tentang profesinya sendiri, di mana kebanyakan jurnalis tidak mau disandingkan dengan pekerjaan buruh lainnya. Seolah pekerjaan jurnalis kebal PHK atau dipecat. Padahal pekerjaan jurnalis sama seperti pekerja buruh lainnya, hanya saja kebanyakan orang yang bekerja di media seperti ini terlalu banyak gengsi dan menggagap dirinya lebih cerdas dari orang yang bekerja lain.

Hal itulah yang membuat pekerja media sedikit untuk membuat serikat pekerja. Padahal dengan membuat serikat pekerja, hak-hak mereka menjadi lebih diperhatikan. Gaji jurnalis juga tidak besar-besar amat, bahkan bisa dibilang miris.

Cak Rusdi juga menyebutkan pekerjaan jurnalis dewasa ini sudah mulai runtuh wibawanya di mata  masyarakat. Ia bersanding dengan politikus yang suka korup dan tebar janji. Wajar saja, karena media dewasa ini memang sudah semrawut. Dosa jurnalis, dosa media.

Jadi, masihkah jurnalis menjadi pekerjaan idaman?

Tidak hanya tulisan kritiknya tentang media, di buku ini juga ada rangkuman dari seminar Cak Rusdi. Seperti bagaimana memerlakukan sumber berita, melakukan wawancara, verifikasi, dan sebagainya. Hal itu bisa menambah wawasan pembaca di dunia jurnalis.

Buku yang mengangkat kritik terhadap media seperti ini sepertinya harus dibaca oleh banyak orang. Karena dengan membacanya kita dapat berpikir ulang tentang bagaimana menerima informasi yang terus kita terima sehari-sehari.

Terbitnya buku ini di ‘tahun panas politik’ agaknya memang tepat. Ia seperti oase di tengah keriuhan media yang tidak karuan. Kita sepertinya perlu berhenti sejenak untuk berkata-kata yang tidak berguna, dan mencoba menundukan kepala sambil membaca buku-buku penuh manfaat seperti buku ini.



Pertama kali membaca buku Agatha Christie: The Thirteen Problems

Sebelumnya aku tidak terlalu tertarik dengan novel genre detektif. Namun setelah dipikir lagi dan ada keingininan untuk keluar dari zona nyaman-membaca, maka aku putuskan untuk mencoba membaca novel genre satu ini. Dan buku yang kupilih untuk itu adalah ‘The Thirteen Problems’ karya Agatha Christie.

Nama ini tentu saja sudah tidak asing lagi, namun aku baru menaruh perhatian setelah aku dibuat terpesona tak berdaya dengan film ‘The Murder Orion Express’ yang adalah adaptasi dari salah satu novel Agatha.

Maka aku putuskan untuk membaca bukunya sebagai bentuk untuk mencari sensasi-sensasi film yang mungkin saja bisa aku dapatkan di bukunya yang lain.

Dan, ya, ternyata untuk mencari bukunya tidaklah mudah, butuh beberapa bulan untuk akhirnya bisa membacanya.


 ‘The Thirteen Problems’ bercerita tentang pengalaman misteri-misteri yang sulit dipecahkan, seperti judulnya, misteri tersebut ada 13 kasus. Jadi, pada suatu malam ada beberapa tamu berkumpul di rumah Miss Marple, seorang perawan tua yang hidup di sebuah desa.

Kemudian para tamu menceritakan pengalaman menarik mereka masing-masing. Di antara para tamu tersebut ada yang seorang penulis, model, dokter, bahkan pendeta. Hanya Miss Marple di antara mereka yang terlihat kuno dan tidak meyakinkan untuk memecahkan misteri.

Cerita para tamu di rumah Miss Marple kebanyakan bercerita tentang pembunuhan. Jadi, setiap orang yang bercerita sudah mempunyai jawaban dari kasus tersebut. Setiap tamu yang lain, juga Miss Marple, mendapat kesempatan untuk menganalisis kasus tersebut dan menebak apa motifnya hingga pelaku utama.

Namun, dari sekian analisis, hanya pandangan Miss Marple yang tepat sesuai jawaban. Padahal nenek tua perawan ini tidak terlalu meyakinkan.

Tiap memecahkan kasus, Miss Marple selalu mengaitkan dengan peristiwa yang terjadi padanya. Hanya peristiwa sederhana, namun dari situ ia bisa mengambil kesimpulan.

“Banyak kejadian yang mirip satu sama lain di dunia ini,” ujar Miss Marple, “misalnya Mrs. Green, dia mengubur lima anak dan masing-masing mereka diasuransikan. Yah akhirnya orang mulai curiga.”

Novel ini berhasil membawaku ke dalam perkumpulan di sebuah ruang tamu yang hangat: saling menyimak cerita, menganalisis, dan membuat kesimpulan. Walau pada akhirnya hanya Miss Murple yang tepat menjawabnya.

Kasus-kasus dalam cerita ini sangat menarik, mulai dari pembunuhan hingga pemalsuan identitas. Sebuah kasus yang hanya dilakukan oleh mereka yang sangat detail dan terencana, ribet seperti benang yang kusut.

Namun Miss Marple hadir sebagai tokoh yang selalu bisa meluruskan benang kusut itu melalui analisisnya yang tajam. Yang membuat siapa saja bakal terkagum-kagum dengan si perawan tua ini. Sebagai tokoh utama, ia memiliki karakter yang sangat nempel di kepalaku, dan kuyakin akan terus kuingat bertahun-tahun.



Novel ini tidak terlalu tebal, terjemahannya juga bagus, walau di beberapa ada bagian yang membuatku bingung dan harus membacanya ulang.

Perbedaan sensasi membaca novel detektif dengan novel lainnya adalah ia bisa membawa pembaca berpikir keras, dan selalu ada kejutan di akhir cerita yang bisa membuat geleng-geleng kepala.

Novel ini barangkali adalah jembatanku untuk mulai gemar membaca novel detektif, dan tentu saja sekarang aku sedang memburu buku-buku Agatha.




Membaca Novel Perdana Eko Triono: Para Penjahat dan Kesunyiannya Masing-Masing

Melalui program Columbus, para mantan badit dari tahanan ditempatkan di sebuah daerah bernama Jabelekat untuk membangun kota baru seperti Mexico, Tokyo, Sydney atau New York.

Parta Gamin Gesit merupakan salah satu bandit yang tinggal di Jabelekat bersama istrinya. Tahun-tahun pertama, mereka mendapat jatah beras dan barang pokok lainnya dari pemerintah, namun setelahnya, mereka mandiri. Seperti membuka lahan atau berbisnis. Semuanya dimulai dari nol.

Novel ini ditulis oleh Eko Triono, nama yang lebih dikenal sebagai cerpenis. Itu pula yang kuyakini ketika membaca novel ini, aku masih bisa mencium aroma cerpen.



Setting tempat novel ini adalah sebuah tempat yang bernama Jabelekat, tentu saja ini fiktif. Sebagai orang Cilacap, ketika mendengar Jabelekat, yang tergambar di kepalaku adalah sebuah tempat yang jauh. Diceritakan dearah itu awalnya kosong, kemudian diisi oleh para mantan-mantan bandit untuk membangunan kehidupan yang berarti.

Namun permasalahan mulai berdatangan, mulai dari Beruk maniak yang suka mengintip para wanita mandi, hingga monopoli dagang. 

Tentu saja dalam mengatasi masalah tersebut, kita tidak bisa membayangkan kehidupan normal seperti di sekitar kita. Ini adalah Jabelekat, daerah yang dihuni oleh para mantan bandit, bisa saja naluri bejat mereka keluar kapan saja.

Program ini (Columbus) digagas Presiden Republik. Dijalankan oleh Kementerian Transmigrasi. Tujuannya untuk mengirim bandit-bandit ke tanah baru. Agar mereka, kata Presiden, mengurangi jumlah penjara, konsumsi bubur sumsum, dan biaya cuci baju napi. Dan agar mereka menemukan hikmah kebijaksanaan dalam kebersamaan kembali dengan masyarat. (Hal. 18)

Maka setiap ada masalah, para penghuni Jabelekat akan konsultasi terlebih dahulu dengan orang paling pintar di antara mereka, orang yang diutus pemerintah untuk mengatasi masalah para penghuni Jabelekat.

Ia adalah Yusuf Yasa. Tapi anehnya, solusi yang dibawa oleh Yusuf Yasa terkesan nyeleneh. Ini membuatku berpikir ulang, bagaimana caraku membaca novel ini, haruskah dengan serius atau sedikit bercanda?

Misalnya saja dalam mengusir Beruk Maniak, Yusuf Yasa mengusulkan dengan membuat sayur bening dan sambal.

***

Novel diawali dengan akhir cerita. Jadi lembar-lembar selanjutnya kita akan membaca masa lalu bagaimana daerah itu sebelum adanya pemberontakan yang membuat Jabelekat ‘punah’ dari peradaban.
 



Dengan alur tersebut, pembaca agak sedikit kebingungan kalau tidak konsentrasi, karena bisa saja pembaca akan ling-ling: kemana arah cerita ini?

Seperti yang aku katakana di muka bahwa novel ini seperti mempunyai aroma cerpen. Itu karena menurutku apa yang ditulis oleh penulis begitu padat, rapat, tidak seperti novel yang biasa kita baca: lambat, runut, dan telling.

Ini adalah novel pertama penulis, dan tentu saja aku sangat mengapreasiasi usahanya untuk keluar dari zona nyamannya selama ini. 

Ending novel ini tidak terduga—walau akhir cerita sudah dibeberkan di awal novel—bahkan sukses membuatku berkata: bajingan!

Kisah Cinta Pertama Rahwana yang Njelimet (Buku Cinta Mati Dasamuka)

Seorang anak kecil yang dibawa oleh kedua orang tuanya menghindar dari pengejaran. Melewati hutan, berpindah-pindah, penuh ketakutan. Selama itu pula ia harus menjaga ibu dan adiknya. Dalam pada itu, ia juga mendengarkan rahasia-rahasia kehidupan yang seharusnya tidak ia dengar: Sastrajendra.


 
“Sastrajendra mungkin mudah diucap, tapi tanpa kedalaman dan kelapangan seseorang dalam memahami hakikat hidupnya, ilmu itu akan dengan mudah menjadi racun yang menguasai kepala dan menebar kematian di mana-mana.” (Hal. 51)

Adalah Rahwana yang kemudian menjelma manjadi remaja raksasa. Ia memang keturunan Bangsa Raksasa yang di kemudian hari memimpin negeri bangsanya yang bernama Alengka penuh keserakahan.

Melalui buku ini, Cinta Mati Dasamuka (Rahwana), kita akan dibawa untuk menyusuri kehidupan Rahwana sejak kecil. Di mana ia adalah hasil dari perkawinan yang tidak semestinya. Bapaknyaknya adalah Wisrawa, yang harusnya melamar Sukesi untuk anaknya, malah ia sendiri yang menikahi calon isteri anaknya.

Itu karena Wisrawa menjabarkan tentang Sastrajendra kepada Sukesi sebagai syarat pernikahan, Sukesi adalah putri raja yang selalu haus akan ilmu. Sastrajendra sendiri adalah rahasia Tuhan yang menyingkap rahasia-rahasia kehidupan. Di mana ia tidak sembarangan untuk dituturkan dan diajarkan. Dan barangsiapa yang menjabarkan, maka ia akan kena hukuman dari Dewa.

Dalam menjabarkan Sastrajendra, Wisrawa meminta untuk ditempatkan di tempat tertutup, tidak ada siapapun selain dia dan Sukesi. Karena keadaan tersebut, ia tergoda oleh bisikan-bisikan yang kemudian membuat mereka berdua bercinta sepanjang malam, alih-alih menjabarkan Sastrajendra.


Tak ada guru dan murid. Itu semua runtuh. Menjadi sekadar seorang laki-laki dan perempuan. Yang tergoda oleh kebetuhan paling dasar. Terbius berahi. (hal. 57)
***
Di dunia wayang, setidaknya ada 3 bangsa yang selalu masuk ke cerita: Bangsa Manusia, Bangsa Dewa, Bangsa Raksasa. Berbeda dari Bangsa Manusia dan Raksasa, Bangsa Dewa memiliki keistimewaan layaknya malaikat. Mereka bahkan bisa membaca pikiran satu sama lain hingga akhirnya tidak ada salah paham sedikit pun.

Berbeda dengan Bangsa Dewa—Bangsa Raksasa dan Bangsa Manusia memiliki kekurangan dan hawa napsu. Dan dunia wayang, setidaknya menurutku, adalah sedang bercerita tentang sifat-sifat manusia itu sendiri.

Di mana kita terkadang bisa sebaik Dewa, sejahat Raksasa, atau seperti Manusia yang tidak pernah cukup. Ia sedang membicarakan kita. Dan untuk kali ini, lewat buku ini, Rahwana adalah aktor utamanya.

Rahwana diceritakan tumbuh dan memiliki ajian di mana ia bisa terbang dan jika bagian tubuhnya terpotong (termasuk kepalanya) itu akan tumbuh lagi. Manjadikan Rahwana seorang Raksasa yang sombong, tak terkalahkan.

Kendati ia sombong dan kasar, ia juga menginginkan wanita sebagai pendamping hidupnya. Pertama kali ia jatuh cinta adalah ketika ia bertemu dengan Widyawati di sebuah hutan. Tentu saja gadis ini ketakutan melihat Rahwana. Dan Rahwana berencana meminang gadis ini. Maka Rahwana meminta agar dibawa ke kedua orangtua si gadis.

“Siapa namamu, Nduk..? Bicaralah. Aku tak bermaksud jahat, justru aku ingin membawamu ke tempat yang lebih beradab. Hutan dan gunung bukan tempatmu, Cah Ayu. Istanalah tempatmu, duduk di indahnya singgasana.” (Hal. 113) 


Segala kesombongan, kepongkahan, dan segala sifat buruk Rahwana seakan rontok ketika duduk di depan bapak si gadis. Tapi wajahnya masih wajah raksasa, mengerikan, bertaring, rambut acak-acakan.

Si bapak gadis tidak setuju jika anaknya dipersunting raksasa, maka ia, walau sudah tua renta,  masih berani melawan Rahwana yang tinggi besar. Namun naas, ia malah dibunuh oleh Rahwana, juga ibu dari si gadis karena keduanya melawan untuk melindung anak satu-satunya itu.

Melihat kejadian itu, si gadis malah membakar dirinya sendiri. Rahwana berteriak kencang, dan itu adalah patah hati terhebatnya yang di kemudian hari menjadi petaka terhadap hidupnya dan negerinya.

Setelah patah hati terhebatnya tersebut, itu malah membuatnya semakin semangat untuk mencaplok negeri tetangga yang semua adalah Bangsa Manusia hingga menyebrang benua dan samudera.

Karena perbuatannya itu, Rahwana beserta adik-adiknya dihukum dan diasingkan. Dalam pengasingan tersebut, mereka dituntut untuk merenung dan mencari apa keinginan mereka yang sebenarnya.

Rahwana ingin menguasi dunia, Kumbakarna adiknya yang pertama ingin bisa makan dan tidur sepuasnya, Wabisana ingin tahu segala ilmu, dan Shurpanaka tidak jelas apa keinginannya karena selama ini ia berbuat semaunya, kebutuhan batinnya tak pernah cukup.

Bahwa hidup sejati hanyalah upaya menelisik membawa diri sehingga mampu merasakan nikmatnya makan dan minum. (Hal. 287) - Kumbakarna
*
Cerita tentang Rahwana menculik Sinta sepertinya sudah begitu tenar. Tapi motivasi Rahwana menculik Sinta barangkali masih sedikit orang yang tahu. Dan melalui buku ini, akhirnya aku bisa tahu kenapa Rahwana menculik Sinta.

Bahwa Sinta sangat mirip dengan isterinya ketika muda, dan ia menggap bahwa Sinta adalah anaknya yang hilang. Isteri Rahwana merupakan Bangsa Dewa. Bangsa Dewa mengutus Dewi Tari untuk menjadi isteri Rahwana untuk menyeimbangkan kehidupan karena Rahwana yang sudah meresahkan bahkan sampai kahyangan.

Sebelumnya, Rahwana terus mencari gadis yang mirip seperti cinta pertamanya. Mulai dari isteri raja hingga puteri kerajaan, ia ingin mendapatkan gadis itu dengan cara apapun. Awalnya Rahwana datang baik-baik. Namun akhirnya ia akan memberontak ketika tahu gadisnya disembunyikan darinya. Banyak orang mati karena pencarian cinta Rahwana.

Begitulah, namun sudah sifat Rahwana tidak pernah cukup, ia menculik Sinta dan mengakibatkan kekacauan. Rama dan para kera akhirnya menyerang istana Alengka untuk membebaskan Sinta. Pasukan Rama membuat daratan antar-benua berbulan-bulan, tentara mereka adalah kera yang tak kenal takut.



Akhirnya negeri Alengka hancur setelah peperangan berhari-hari, berdarah, dan penuh emosi.


**

Secara keseluruhan, aku sangat menikmati buku ini, ia begitu menghibur dengan ciri khas dongeng. Membaca kisah wayang tentu saja berbeda dengan membaca novel. Yang mencolok menurutku adalah dari penuturan antartokoh dan gaya bercerita.

Antartokoh di dalam buku ini begitu sopan dan menghargai, dan gaya bercerita penulis seolah sedang membacakan dongeng yang penuh keseruan dan kita tidak ingin segera tamat.

Ngapain ke Big Bad Wolf (BBW)?

Seorang pegiat buku, aku lupa siapa, pernah bilang begini: saya tidak setuju dengan rendahnya minat baca di Indonesia jika penyebaran buku di negera kita masih bermasalah. Akses untuk membaca buku masih susah, minim perpustakaan, minim buku murah. Kita baru bisa menilai negara kita rendah atau tidak dalam minat membaca buku ketika buku itu sendiri bisa dengan mudah didapat.

Kurang lebih begitu katanya.


Big Bad Wolf (BBW) merupakan pameran buku yang menjual buku-buku murah. Kita bisa mendapatkan buku dengan harga ‘tidak wajar’ di sini. Tapi tunggu dulu, bisa saja buku seleramu tidak ada di sini. Jadi jangan senang dulu.

Ketika aku datang ke BBW pada Jumat (30/03) aku menemukan banyak buku-anak di sana, kemudian nomor selanjutnya ditempati oleh buku-buku import berbahasa Inggris. BBW tahun ini diadakan di ICE BSD City. Walau namanya BBW Jakarta, tapi ia diadakan di Tangerang, ajaib memang. Ohya, acara ini diselenggarakan sampai tanggal 9 April.

Untuk mencapai ke tempat tersebut, dari tempatku, Mangga besar untuk sampai ke sana memerlukan banyak waktu dan ongkos. Aku belum pernah kesana sebelumnya, maka aku cari-cari informasi tentang bagaimana bisa mencapai ke tempat itu.

Maka aku naik shuttle bus dari ITC Mangga Dua, biaya perorangnya Rp. 20.000. Bus ini membawamu ke terminal BSD, kemudian transit 2 kali untuk akhirnya sampai di lobi ICE. Kamu tidak perlu membayar lagi, cukup Rp. 20.000 kamu sudah diantar hingga lobi ICE.

berasa pulang kampung

Masuk ke dalam gedung, aku menemukan orang berlalu-lalang dengan membawa plastik berisi penuh buku. Seketika darahku mengalir begitu deras, napasku satu-satu, begitu napsu. Itu semakin menjadi-jadi ketika aku masuk ke ruangan yang begitu besar, berisi banyak buku dan orang-orang. Belum sembuh dari pusing perjalanan, aku sudah dibuat pusing di tempat ini.

Hal pertama yang harus kamu lakukan adalah mencari keranjang. Dan sialnya ketika aku datang, keranjang sudah habis. Sedangkan buku belanjaanku sudah tidak mungkin untuk ditenteng tangan. Maka aku menemukan keranjang di sebuah pojokan yang ada tulisan: Buku yang tidak jadi dibeli.
Aku bereskan buku-buku itu dan mengambil keranjangnya. Keranjang adalah elemen penting dalam BBW, percayalah.

buku tidak jadi dibeli

Sangat disayangkan banyak sekali buku berserakan di sana-sini, terutama di bagian ‘buku yang tidak jadi dibeli’. Entahlah apa yang mereka pikirkan ketika tidak membeli buku sebanyak itu.

Di ruangan sebesar ini, ada 1 tempat yang memusatkanku yaitu bagian: Buku Indonesia. Di sinilah buku-buku terbitan penerbit mainstream diobral abis-abisan. Ada penerbit Gagas Media, Divapress, Mizan, dan sebagainya.

Dan entah kebetulan atau bagaimana, buku yang aku beli semua dari penerbit Divapress, sebuah penerbit di Jogja yang pada masanya pernah konsesten menerbitkan kembali buku-buku sastra dari penulis-penulis senior seperti Danarto, Hamsad Rangkuti, Umar Kayam dan sebagainya. Dan selanjutnya penerbit ini membuka lini baru bernama Basabasi.


Tak terasa siang sudah datang, perutku sudah memberontak. Di sini memang disediakan foodcourt. Agak ribet memang untuk jajan di sini, kamu harus top up di kartu khusus minimal 100 ribu, dan dari kartu itu kamu bisa menukarkan saldonya dengan makanan. Jadi, tidak ada uang cash di antara kita. Hal ini juga berlaku di kasir pembayaran buku, untung aku ada E-Money dan temanku mempunyai debit Mandiri.
harus punya kartu ini buat bisa makan di foodcourt

Memang acara ini ada banyak spanduk Mandiri, mungkin ia sponsor utama acara ini dan mengimplementasikan nontunai dengan caranya. Cukup efektif sih, dan terkesan modern.

Aku sempat membagikan momen ketika di BBW ke instastory. Beberapa ada yang nanya itu dimana, nitip dong, gue mau kesana sebenernya, dan lain-lain.

Dan jika memang mereka ingin ke sini, mereka mau ngapain?

Paling mereka bakal bingung, banyak buku di sini, dan mereka mencari buku incaran mereka dan tidak ketemu. Memang di BBW ada banyak buku murah, tapi jangan salah, itu tidak memastikan bahwa di sini juga banyak buku seleramu.

Jadi, dari fakta di BBW, banyaknya orang yang mencari buku untuk dibaca, kita masih percaya bahwa minat baca kita rendah? Kalau aku sih tidak, aku lebih percaya bahwa pemerataan buku di negara kita belum baik dan perlu diperhatikan lagi.

Pada awalnya, pendiri BBW memang resah terhadap minat baca orang Melayu. Adalah Andrey Yap dan istrinya Jacqueline Ng. Dan mereka untuk pertama kalinya membuka BBW di Malaysia yang 50% pengunjungnya adalah orang Melayu. Mereka mendapat ide ini karena ketika pergi ke luar negeri, ada banyak toko buku menjual sisa yang tidak terjual. Buku sisa itu bisa juga kelebihan produksi lalu dijual dengan potongan harga supaya memikat pembeli.

Jadi, bisa dikatakan bahwa faktor kenapa orang jarang membeli buku karena buku itu mahal. Dan ketika ada buku murah, mereka akan berbondong-bondong membeli. Dari sini, masih percaya bahwa minat baca kita rendah?

Semoga ke depan pameran seperti BBW akan bermunculan, dan menarik mereka yang tadinya merasa membaca itu tidak perlu, mulai berpikir ulang bahwa membaca itu adalah sebuah keperluan sama seperti makan dan minum. Semoga saja.***

Referensi bacaan: https://gaya.tempo.co/read/769193/ini-sejarah-dan-rahasia-big-bad-wolf-menjual-buku-murah

Setelah Membaca ‘Pacarku Memintaku Jadi Matahari’

Seperti lahir dari kepala yang rumit, penuh tanda tanya, dan semrawut, cerita di buku Pacarku Memintaku Jadi Matahari memang perlu dibaca oleh mereka yang sedang kesepian, depresi, tak ada tujuan, bingung, dan semacamnya.

Reza Nufa, dalam menulis buku ini, setidaknya menurutku, menargetkan pembaca yang suka galau, bermasalah dengan kekasih, keluarga, dan masalah-masalah khas remaja umur 19-an. Dan, sialnya, itu sangat dekat denganku.




Tulisan Reza Nufa memang tidak terlalu banyak kita temukan di media massa. Namun, ia aktif di media sosial dan mungkin dari sana, ia memupuk pembacanya. Dan buku ini, adalah buku yang sudah ia persiapkan untuk itu.

Penggunakan ‘pacar’ pada judul menurutku sudah ketara mau ke arah mana buku ini. Mungkin akan lain jika ‘pacar’ di sini diubah menjadi ‘kekasih’ atau semacamnya.

Sebagai cerpen pembuka, ‘Cara Terbaik Menjadi Anjing’, menurutku agak terlalu berat. Tapi selanjutnya, pembaca seolah dibuat lega karena cerpen-cerpen selanjutnya tarasa lebih ringan dan bersahabat, dalam artian cerpen tersebut tidak terlalu njelimet dan tidak membutuhkan konsentrasi penuh.

Cerpen ‘Suropati Menuju Sore’, terasa sangat dekat dengaku, sebab aku sendiri sering main ke taman yang satu ini. Pemandangan umum yang terjadi di taman suropati: merpati, anak kecil, orang tua, pasangan kekasih, ia gambarkan begini:

Merpati pintar bertingkah seola-olah mereka hampir takluk, bisa digenggam, tapi di saat-saat terakhir mereka dengan licik melompat, bahkan menghilang di rumbun daun-daun(…). Dulu dia pernah ada cinta dengan seekor merpati. Sampai saat ini masih membuatnya sakit meski sama sekali tidak disesali. ( 25-26)

Ternyata tidak hanya masalah pacar dan keluarga yang diangkat di buku ini. Agama pun turut menjadi cerita yang menggelitik. Sebut saja di cerpen ‘Dua Pemabuk Mengazani Mayat’. Diawali dengan dua laki-laki yang menemukan mayat, dan mereka merasa perlu untuk mengurusi mayat tersebut walau mereka sedang mabuk. Ada pertimbangan-pertimbangan yang lucu sekaligus menyedihkan yang dipikirkan dua laki-laki ini.

“Tetep aja nggak ada untungnya nolongin orang mati(…)”
“Tapi siapa tahu dia itu orang alim yang dibunuh. Nanti gantian, di akhirat kita ditolong sama dia, Yud. Bisa aja ‘kan?”
“Pede banget bakal masuk neraka.”
“Firasatku bilang begitu.” (hal. 31)

Tidak hanya itu, bahkan di buku ini, ia dengan entengnya menghujat tuhan, walau aku tidak tahu pasti tuhan mana yang ia maksud. Eh sebentar, emang ada tuhan selain tuhan?

Apa besaran dosa dan bagaimana cara menghitungnya? Hanya tuhan yang tahu. Dan kalaupun tuhan curang, kita tidak akan pernah tahu. Lama-lama tuhan ini tai juga, jelas kau setuju. 

Banyak narasi-narasi nyeleneh tentang tuhan di buku ini dan, itu lucu buatku. Mungkin bagi mereka yang berurat tegang, pasti akan melempar buku ini sesegera mungkin. Tapi di sinilah titik  keseruannya, ia membuat dunianya sendiri dan membuat tokoh yang menyedihkan, kesepian, tak tahu apa-apa, merasa bersalah, putus asa, seolah tidak ada yang bisa menolongnya dari semua itu, tuhan sekalipun.

Cerpen-cerpen di buku ini memang tidak terlalu panjang, sehingga aku menemukan cerita begitu singkat dan kurang kokoh. Beberapa kali ada kalimat ‘jangan tanya aku begini/begitu….” untuk alternatif membangun sebuah sebab-akibat-cerita.



Memang banyak cerita yang tidak panjang di buku ini, namun aku tidak katakan bahwa tidak ada cerita yang panjang. Bacalah ‘Sani Belum Kembali’, di sana tokoh ‘aku’ tampak begitu bawel dan seperti orang linglung. Ia membahas banyak orang, mulai dari yang tidak penting hingga yang tidak penting amat, mulai dari gereja hingga susu perempuan.

Penulis muda seperti Reza Nufa, Asef Saiful Anwar, Eko Triono, Dea Anugrah, Sabda Armandio, menurutku adalah penulis dengan generasi yang ogah mematuhi aturan. Mereka jengah dengan hal yang sudah ada sejak dulu dan mencoba membuat hal baru. Dan sepertinya kita sedang menuju dunia itu: menulis tanpa aturan yang mengikat.

Secara keseluruhan, aku menikmati buku ini, covernya pun keren, suka. Kisah hidup penulis yang berliku tampaknya menjadi tabungan rasa dalam mengeksekusi tiap cerpen. Melalui buku ini, setidaknya menurutku, penulis sedang menunjukan bahwa ia serius dalam menulis sastra, ini baru permulaan, ke depannya kuyakin ia menulis lebih banyak dan lebih baik dari ini.

Kenapa Membaca Cerpen Eko Triono Membuatku Tidak Bisa Tenang?



Hatiku sudah lama berencana jadi lemari es. Biar suhu kecewa dan sedih bisa diatur.
(Hal. 149)

Mungkin aku sudah bisa dikatakan terlambat karena baru mengenal cerpen-cerpen Eko Triono belakangan ini. Sebelum membaca buku kumpulan cerpennya berjudul Agama Apa yang Pantas Bagi Pohon-Pohon, sebelumnya aku hanya sempat membaca satu cerpennya yang berjudul sama dengan judul buku kumpulan cerpen tersebut.

Membaca cerpen Eko Triono menurutku sangat asyik dan seolah membawaku bertamasya ke dunia tanpa batas. Satu hal yang kukhawatrikan ketika membaca buku kumpulan cerpen adalah ketika satu cerpen dengan cerpen selanjutnya mempunyai rasa yang sama. Dan itu sangat menyebalkan.

Namun, di buku kumpulan cerpen ini, Eko Triono seperti sudah menyiasati itu semua. Di setiap cerpennya mempunyai rasa sendiri-sendiri. Dan menurutku, penyisipan fiksimini di sela-sela cerpen yang panjang sangat bagus untuk membuat pembaca tidak bosan. Melalui fiksimini tersebut pembaca seolah dibawa beristirahat sebentar untuk kemudian melanjutkan perjalanan yang jauh, yang penuh warna dan, penuh tanda tanya.

Seperti yang dikatakan Tia Stiadi, kritikus sastra, di pengantar buku ini, bahwa Eko menghadirkan tamasya antah-berantah, suasana yang lahir dari keajaiaban fantasi dan penerbangan khayal edan-edanan. Dan aku setuju.

Menurutku, bahasa yang digunakan Eko dalam cerpen-cerpennya sangat sederhana namun berisi, lebih cenderung ke penghematan kata, kata-kata yang ia gunakan mempunyai kekuatan. Di tiap pembuka cerpennya, pun ia secara lugas langsung masuk ke inti cerita tanpa embel-embel deskripsi yang ‘disengaja’. Deskripsi itu, dalam cerpen-cerpennya, hadir dan terbayang di kepala pembaca dengan sendirinya ketika cerita terus berjalan.

Terkait pembuka cerpen, aku suka dengan cerpen yang berjudul Fantasmagoria Oligo:
Kita terhentak! Kereta Lumbrica berhenti mendadak. Padahal, baru saja melewati terowangan Pegunungan Rubella. Ada apa? (hal. 199)

Dalam buku kumpulan cerpen ini, Eko mengangkat cerita tentang cinta, kesepian, pembunuhan, politik, keluarga, bahkan kegilaan. Semuanya terkemas sangat apik menjadi cerita yang menggelitik dan kadang membuat pembaca tersentak.

Dengan tekhnik berceritanya, kadang pembaca dibawa bertanya-tanya sejak awal cerita hingga akhirnya semua terjelaskan di akhir cerita. Dan tekhnik ini sungguh membuat pembaca tanpa sadar ingin terus membuka halaman demi halaman karena penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya.

Seperti dalam cerpen Turi-Turi Tobong, berkisah tentang seorang bocah yang pergi ke dukun, kemudian ia melalui perjalanan panjang dengan truk besar. Sampai di suatu tempat, ia duduk di tepi jala gawang, dan ternyata ia (hanya) sedang menonton pertandingan sepak bola antar desa. Ketika pertandingan akan dimulai, ia keluarkan air kencingnya yang sudah ia wadahkan di plastik dari sang dukun itu dan kemudian menumpahkannya di tiang gawang. Dan itu menjadi sebab kanapa tim sepak bola desanya menang.

Ceritanya sangat sederhana, namun dikemas sangat apik oleh Eko dan membuat pembaca terus memperhatikan gerak-geraik apa yang akan dilakukan tokoh selanjutnya.

Favorit 

Cerpen favoritku di buku kumpulan cerpen ini berjudul Bunga Luar Angkasa. Bercerita tentang sepasang suami istri. Suami ini bekerja sebaga pebisnis dan pada pagi itu ia akan bertemu dengan alien. Sedang istrinya bekerja di sebuah toko bunga.

Dari awal cerita, ketika si suami berkata ingin bertemu dengan alien, aku sudah curiga, apa yang salah? Keganjilan apa ini?




Tulisan Eko seolah mendobrak pakem yang sudah ada di wajah umum, ia berkeliaran tak terkontrol, dan kita hanya perlu membuka kepala lebih luas lagi untuk bisa menikmati. Tanpa itu, kau tidak bisa menikmati cerpen-cerpennya, setidaknya menurutku.

Cerpen-cerpen Eko membuat pembaca ikut membangun cerita itu bersama. Seperti gunung es, penulis hanya menghadirkan permukaan kisahnya saja kepada pembaca dan seraya demikian memyembunyikan sebagian besar kisahnya. Begitulah yang dikatakan Tia Stiadi di pengantar.

Cerpen Eko di buku ini membuat kita terus bertanya-tanya dan tidak membuat kita tenang. Ia membawa kita bertamasya di dunia antah-berantah. Dengan gaya bahasa dan tekhik berceritanya, kita seolah tersihir dan ingin terus melanjutkan membaca sampai habis. Itulah yang kuyakini kenapa aku tidak perlu banyak waktu untuk menghabiskan buku ini.

Ini adalah salah satu buku favoritku yang kubaca di tahun 2017. Terima kasih, Mas Eko, sudah menulis cerpen-cerpen yang menakjubkan!

Membaca Alkudus: Membaca Kitab Suci Fiksi




Tuhan terlalu kesepian bila mengurusi hal-hal kecil yang manusia sendiri tahu apa yang baik baginya dan apa yang tidak. (hal. 260)

Diceritakan Alkudus merupakan kitab suci bagi agama Kaib dengan Erelah Sang Utusan sebagai rasul terakhir. Seperti halnya kitab suci, isinya adalah tentang kisah para nabi dan seruan agar belajar dari orang-orang terdahulu. Juga anjuran-anjuran untuk berbuat kebaikan dan meninggalkan keburukan.

Sebelumnya aku tak pernah menyangka ada orang berpikiran untuk menulis novel seperti ini, novel yang ‘mengadopsi’ firman Tuhan di kitab suci kita. Penulis sukses membuat seolah Alkudus merupakan firman Tuhan dengan menggunakan bahasa langit.

Sejauh ini, buku semacam ini yang pernah kubaca adalah Seruan Zahatustra. Bercerita tentang utusan yang menyeru kepada kaumnya. Tapi buku itu tak kunjung usai kubaca, karena (1) berat, (2) berupa ebook. Btw, kubaru sadar bahwa apa yang dimaksud ‘Tuhan sudah mati’ dalam buku itu adalah membunuh gambaran-gambaran Tuhan yang ada di kepala manusia.

Novel ini, Alkudus, dibuka dengan kisah Dama dan Waha, manusia pertama di bumi yang diturunkan dari surga. Kemudian kisah para nabi dengan berbagai macam mukjizat. Namun Erelah, rasul agama Kaib sendiri tidak mempunyai mukjizat, menurut pengikutnya, kehadiran Erelah sendiri sudah sebuah mukjizat.

“Maka Tuhan memilih cerita sebagai jalan bagi firman. Di sisi-sisinya Tuhan sertakan perintah dan larangan sebagai petunjuk agar jalanmu menjadi lurus dan lempang…. Sebaik-baiknya kebahagiaan adalah yang dibagi, termasuk dengan bercerita.” (hal. 16-17)

Erelah sendri merupakan seorang perempuan, dan banyak dari kaumnya yang meragukannya menjadi Rasul.


Membaca novel ini layaknya membaca kitab suci sungguhan, penulis dengan lihainya merangkai cerita para nabi. Di sana dijelaskan ada malaikat, iblis, manusia, dan segela unsur yang juga disebutkan dalam kitab suci kita.

Dan ini membuatku yakin bahwa jika kita melihat ‘kitab suci’ hanya sebatas kisah-kisah masa lalu, sungguhlah amat kerdil. Kitab suci adalah yang bisa membuat diri kita berbuat baik dari waktu ke waktu. Kitab suci tidak hanya dibaca melalui lisan, namun juga diimplementasikan dalam kehidupan.

Terlepas dari itu semua, aku sepertinya yakin bahwa penulis novel ini agaknya terpengaruhi terhadap kisah-kisah di Al-qur’an, sebab ada beberapa kisah yang mirip. Namun bedanya di novel ini penulis menjelaskan dengan gamblang dengan kata-kata yang lebih lugas dan jelas.

Pola dalam setiap bab di novel ini hampir sama satu dengan yang lain, yakni: cerita tentang para nabi dan mukjizatnya kemudian imbauan untuk berbuat baik di akhir babnya.

Ada kisah yang menarik di novel ini yang menurutku agak menggelitik. Yakni kisah tentang Kaum Kawut yang menipu usia. Kaum ini merasa perlu untuk membuat dirinya selalu muda agar bisa terus beribadah kepada Tuhan. Orang yang beruban akan disemir, orang yang sudah keriput kulitnya maka mereka akan berusaha agar mengencangkannya, bagaimanapun mereka akan berusaha agar terlihat muda.

Diurapi kulit mereka dengan beragam ramuan agar tiada berkerut dan senantiasa kencang. Tidak perempuan tidak lelaki semuanya rutin mengurapi kulit sekujur tubuh mereka. Menutupinya dari cahaya matahari yang Kami sinarkan. Sungguh mereka itu adalah kaum yang menduskatan nikmat-Ku sebab telah kami beri anugerah di setiap percik cahaya matahari. Bukankah pohon-pohon tumbuh demikian subur karena matahari yang Kami pancarkan? Dan tanah yang darinya manusia Kami ciptakan selalu butuh cahaya matahari. Seperti juga titik kecil seluruh kulit mereka tampak keringat mengucur. (Hal. 130)

Karena kaum ini semakin sesat, maka diutuslah Sikwa untuk menegur dan mengingatkan mereka bahwa apa yang telah mereka perbuat adalah penipuan atas diri sendiri.

Namun mereka menjawab, “Dan sesungguhnya kami menginginkan kemudahan agar senantiasa dapat beribadat kepada Tuhan. Bagaimanakah nasib Tuhan apabila tidak ada lagi manusia yang menyembahnya? Maka kami ingin hidup meskipun Tuhan tidak mengizinkannya.”

***

Setelah membaca seluruh novel ini, aku menemukan satu titik bahwa kisah-kisah dalam Alkudus membicarakan tentang ketentuan Tuhan yang tidak disadari oleh manusia. Dan ketentuan-ketentuan itu akan tampak bagi mereka yang berpikir. Manusia diberi akal untuk melihat kebesaran Tuhan, namun dari sekian banyak kaum yang dikisahkan dalam Alkudus, banyak dari mereka yang bebal. Secara halus penulis seperti menyinggung cara beragama kita belakangan ini.

Mereka yang mengingkari ketentuan itu, masih dalam novel ini, akan diberi azab, sedang mereka yang beriman, akan diberi ujian, demikianlah ketentuan Tuhan.

Tuhan terlalu kesepian bila mengurusi hal-hal kecil yang manusia sendiri tahu apa yang baik baginya dan apa yang tidak. (hal. 260.)

Ada banyak pesan yang bisa kita ambil dari novel ini, penulis juga sangat pandai memasukan kata-kata yang seperti sebuah syair di antara cerita-cerita. Membuat pembaca tidak bosan untuk melanjutkan membaca dari halaman ke halaman.

Sebagai kitab suci agama Kaib, aku mengimani kitab ini dalam artian aku setuju dengan imbauan yang ada dalam kitab ini walau ia hanya fiksi. Aku merupakan orang yang tidak terlalu mudah mengingat ayat-ayat kitab suci, namun di Alkudus ini, masih saja ada firman yang menghantui kepalaku. Bahwa sesungguhnya ujian keimanan paling berat adalah ketika kau dalam keadaan sendirian.

Dalam membaca novel ini, aku hampir lupa bahwa seluruh dalam buku ini adalah fiksi, mungkin bisa jadi maksud dari penulis, Tuhan di buku ini juga fiksi belaka.

Risiko Mencintai Gadis yang Dicintai Banyak Orang


Sabarlah sedikit, Sayang. Aku dicintai banyak orang. – Olly Agneta

Masa-masa sekolah, apalagi SMA, adalah masa yang sulit dilupakan. Karena ketika itu kita berada di posisi dalam pencarian jati diri. Di saat itu pula kita berpikir tentang masa depan, sedangkan umur kita masih dibilang remaja—masa depan hanya untuk orang dewasa.

Olly Agneta merupakan gadis yang sulit ditebak, ia malakukan apa saja yang ia suka, dan menjadi pusat perhatian di asrama Cocordia. Ia juga mengedarkan rokok dan minuman fermentasi. Namun, sejauh itu ia tidak pernah tertangkap oleh pihak asrama karena pelanggarannya tersebut, ia sangat cerdik dan lihai.

Begitulah kira-kira gambaran tokoh sentral di novel It’s a Could With Legs, karya Reza Reinaldo. Bercerita tentang kehidupan di asrama sekolah SMA. Penulis menyoroti bagaimana kenakalan remaja dan percintaan yang, tentu saja, semua itu sama-sama kita lakukan ketika di masa SMA.

Dalam novel ini, penulis membuat tokoh yang edan-edanan bernama Olly Agneta. Olly digambarkan sangat berantakan namun ia selalu dinaungi nasib beruntung. Olly merupakan gadis yang mempesona dan membuat siapa saja jatuh cinta, termasuk Enzi Fadel si anak baru nan lugu.

Olly suka menulis dan bermain gitar, kebiasaannya yang lain adalah bermain di dalam kardus, masuk ke sana dan berkhayal.

“Kita akan menembus atmosfer tanpa pakaian astronot dan tabung oksigen. Joseph memiliki penis yang lebih panjang daripada kesabarannya, maksudku, jangan sampai dia menyabotasi pakaian astronotmu dan membuatmu mati konyol di luar bumi. Oh, ampun, mati di dalam bumi saja perlu perjuangan. Nah, sekarang, planet mana yang akan kita datangi?” ( hal. 92)

Begitulah kata Olly ketika mengajak Enzi si anak baru nan lugu itu bermain di dalam kardus. Adegan seperti ini mengingatkanku pada kartun sepongebob, haha..



Novel ini merupakan salah satu novel populer di storial.co, beberapa kali menjadi buku pilihan editor dan sudah dibaca oleh ribuan pembaca. Aku mengenal penulisnya, Reza Reinaldo, dan kutahu dia mempunyai jelajah baca yang tinggi. Bahkan aku pernah mendengarnya langsung bercerita tentang novel ini.

Di novel ini, kita akan menemukan percakapan-percakapan yang tidak biasa. Apalagi ketika membaca dialog Olly, dia sangat cerdas dan banyak bicara. Itu mungkin dilatarbelakangi karena ia penulis dan membaca banyak buku. Dan Enzi, si anak baru dan lugu itu, bisa beradaptasi dengan cepat cara berpikir Olly hingga akhirnya kedekatan mereka terjadi, dan pada akhirnya Enzi jatuh cinta kepada Olly.

Namun, jatuh cinta kepada Olly bukanlah hal mudah. Enzi seperti dipermainkan dan dia bahkan tidak mempunyai alasan untuk marah kepadanya ketika Olly melakukan hal yang tidak seharusnya. Mereka tidak mempunyai ikatan apa-apa, walau mereka sudah pernah berciuman.

Jika kau menganggap hubungan istemewa itu seperti halnya bersentuhan dan berciuman. Itu sama halnya seperti kulit yang menua. (aku lupa halaman berapa, tapi aku ingat kata-kata ini)

Olly dicintai banyak orang, dan sudah membuat banyak lelaki patah hati karena ditolaknya. Dia melakukan hal yang ia suka, bebas sebebas-bebasnya, tanpa ikatan apa-apa.

Awan dengan Kaki

Novel ini bercerita tentang Olly yang ingin menulis novel ketiganya berjudul Awan dengan Kaki (masih di asrama Cocordia)  namun ia tidak tahu arti dari metamorfisis tersebut. Maka ia meminta bantuan kepada Enzi untuk membantu mencari arti tersebut. Karena itu, kadang mereka berdua saling memandang langit bersama, meneliti, ketika siang maupun malam. Dari sinilah kedakatan mereka dimulai.

Namun, hingga akhirnya Olly menghilang, Enzi belum memberitahu arti dari Awan dengan Kaki yang telah ia temukan. Ia menulis arti metamorfisis itu ketika Olly sudah tidak ada di sampingnya.
Novel ini sangat menarik dan membuat pembaca terus tertarik untuk membuka dari bab satu ke bab selanjutnya. Tokoh sentral di sini adalah Olly, dia digambarkan sangat gila namun di sisi lain ia sangat menarik. Apa yang dilakukan tokoh ini selalu membuat penasaran pembaca.

Akhir dari novel ini cukup menohok, dan sukses membuatku membanting novel ini keras-keras ke lantai (ini benar terjadi). Kurangajar! Aku seperti dipermainkan oleh Olly Agneta!

Pada akhirnya, kukatakan ini adalah novel yang emosional.
Good job, Ka Reza! Ditunggu karya-karya selanjutnya!