NGOBROL-NGOBROL SAMA DEE LESTARI DI TAMAN ISMAIL MARZUKI

Ada orang yang kalo pas nulis ekspresif banget. Tapi pas ketemu sama penulisnya, dia ngomong ndak lancar, grogian. Itu karena penulis terlalu asyik dengan dunia imajinasinya sendiri. -Dee

Ini kali pertamaku bisa bertemu secara langsung dengan Dee Lestari. Setelah sebelumnya hanya bisa ketemu di layar notebook dan twitter  (aku jarang nonton tv). Omong-omong, siapa yang ndak kenal sama perempuan satu ini? Dia penulis, penyanyi, pencipta lagu, ah pokoknya perempuan yang sangat menyenangkan. Bagaimana ndak? Dia menghibur banyak orang dengan tulisan-tulisannya, suaranya, lagu ciptaannya..
            Nah, ceritanya nih aku mendapat kesempatan untuk bisa ngobrol-ongobrol sama Mbak Dee dalam rangkaian acara ASEAN Literary Festival 2016. Di teater kecil taman ismail marzuki siang itu, ramai pengunjung. Apalagi kalau bukan menunggu Ibu Suri?
            Ada mb-mb, mz-mz, bpk-bpk, ibu-ibu dan anak kecil.
            Ketika acara dimulai dan sang moderator mulai bertanya-tanya kepada Dee Lestari, aku menyimak sangat takzim. (moderatornya bernama natasya indri, aku suka sama moderator itu).
            Beberapa yang bisa aku rangkum dari obrolan tersebut:
1.      Dee Lestari menulis karena suka.
Iya, dia menulis apa yang dia sukai. Dia tidak berpikir menulis buku dikhususkan untuk genre ini, pembaca ini, dan seterusnya. Bisa dibilang, karya-karya Dee itu ‘abu-abu’.  Dibilang sastra kurang tepat, dibilang pop juga kurang tepat. Dee menulis ya berdasar apa yang dia suka. Omong-omong, Dee kecil sangat suka membaca buku serial. Jadi ya dia menulis buku serial juga. Pokoknya, apa yang kita tulis itu dipengaruhi dengan apa yang kita baca.
2.      Penulis adalah pekerjaan yang rawan bunuh diri
Dee mengutip dari survey bahwa penulis memang rentan akan bunuh diri. Dia juga megakui untuk menulis itu butuh energi yang luar biasa. Maka itu alasannya kenapa dia menikah dengan fisioterapi. “Bisa jadi pasien seumur hidup,” canda Dee dan disambut gelak tawa pengunjung.

itu yang dee di sebelah kanan, dan kak natasnya indri yang kiri...


3.      Penulis yang baik adalah yang mampu mengamati
Bisa dibilang, seseorang bisa dibilang penulis jika ia sudah pandai mengamati kehidupan sekitar. Jika sudah begitu, maka ide-ide tak ada hentinya mengalir.
4.      Penulis kebanyakan mempuyai keresahan personal
Penulis adalah mereka yang mempunyai keresahan-keresahan dan ingin mengungkapkannya ke khalayak. Untuk karya Dee sendiri, jika diamati, keresahan yang ada di karyanya adalah tentang ‘pencarian jati diri’.
5.      Supernova sudah berakhir, tapi masih berlanjut
Sebenarnya Supernova adalah suatu permasalahan itu sendiri. Nanti akan ada cerita lanjutannya. Tapi bukan Supernova namanya.
6.      Menulis cerpen ketika hamil
Dee bilang, kalau dia sedang hamil, dia menulis cerpen. Karena menurutnya menulis cerpen tidak begitu menguras banyak energi. Tapi ia perlu beradaptasi. Karena ia sudah terbiasa membuat novel yang, memiliki proses panjang.
7.      Adaptasi novel ke film bukan perkara memfotocpy novel ke layar lebar
Karya Dee beberapa ada yang sudah difilmkan. Perlu diketahui, adaptasi bukan sekadar menyalin novel ke film. Ambil contoh, ketika di novel digambarkan begitu memakan banyak uang (karena tempat dan situasinya yang membuatnya mahal) itu akan dipangkas. Dan juga, jika visualisasinya kurang bagus, di film akan diperhitungkan lagi. Bisa dengan mengganti adegannya, tempatnya, dan sebagainya. Pokoknya novel dan film itu sangat jauh berbeda.
8.      Tekhnik menulis
Selain mengumpul ide menulis, meditasi dan sebagainya. Jangan lupakan tekhnik menulis. Kendati membaca buku tekhnik menulis tidak bisa memberi tahu apa yang kita suka, tapi tekhnik menulis itu penting. Dengan begitu, kita bisa tahu di babak pertama ada apa, babak kedua, ketiga..
9.      Menulis novel memerlukan nafas panjang
Biasanya penulis novel itu sangat bernergi di bab pertama, tapi selanjutnya melempem. Itu memang sudah fitrahnya, kata Dee. Jadi memang, untuk menulis novel dibutuhkan nafas panjang. Kalau nafasmu ndak panjang, ya ndak bisa menulis novel sampai kapan pun.

Jadi itu saja yang bisa aku bagikan kepada kalian semua tentang obrolan dengan Dee Lestari. Kuharap bisa berguna bagi aku khususnya dan bagi pembaca umumnya.***


Comments
0 Comments

Posting Komentar