KARENA KAMI BUKAN TERE LIYE, MAKA KAMI SALING 'MENELANJANGI'

Saya punya teman yang bisa diajak berdiskusi tentang buku, penulis dan seputar sastra. Namanya Indra Kurniawan, dia adik kelas saya di SMK. Sekarang dia kelas 3 dan saya sudah lulus. Sebab pertemuan kami karena ekskul jurnalis di sekolah.

Suatu malam dia whatsapp saya. Dia bilang, ''Boleh minta tolong ndak? Telanjangin cerpen gue.'' Dan saya diberi link tulisannya. Ya tentu saja, saya baca berulang kali dan kasih kritik dan saran.

Setelah selesai dengan kritik dan saran tadi, dia merasa ndak puas. Maka dia mengajak saya bertemu dan berdiskusi langsung. Dua hari kemudian kami bertemu di Lawson dekat kosan saya. Dia begitu berniat dan antusias.

''Sebelumnya gue belum pernah begini bikin cerpen. Rasanya berat. Pas mulai nulis, dapet beberapa paragraf langsung gue hapus,'' katanya ketika kami sudah berdiskusi panjang lebar sambil ditemani kopi dan beberapa makanan ringan, termasuk tahu bulat dadakan yang kebetulan lewat di depan Lawson, dan itu adalah pertama kali saya makan tahu bulat hits ini.

''Gue juga pernah ngalamin kayak lu gitu. Makin ke sini nulis makin susah,'' kata saya berempati kepada Indra yang pernah suatu hari ada cewek suka sama dia, dan cewek ini minta ke saya buat menulis kisah dia dan Indra. Waktu nulis kisah itu, saya belum kenal cowok bermata sipit ini.

Indra sangat suka membaca karya Tere Liye, sempat beberapa kali dia mengeluh-ngeluhkan penulis ini. Dia sangat mengidolakannya.

''Kalo Tere Liye bikin buku tentang upil, juga laku!'' kata saya pada Indra dengan penuh gurauan. Dan kami sadar, kami bukan Tere Liye. Kami harus berusaha keras untuk bisa menulis bagus. Kami dibanding Tere Liye? Seujung kukunya pun ndak ada apa-apanya. Kami sadar, untuk menulis bagus perlu perjuangan.

Ketika Indra sibuk menceritakan Tere Liye, saya menyambutnya dengan bercerita SGA, penulis favorit saya. ''Tulisan SGA tuh faksi. Fakta fiksi, menuliskan kisah nyata dicampur bumbu fiksi,'' kata saya di WA setelah pertemuan itu berakhir, kami masih lanjut berdiskusi di WA. Ndak ada habisnya emang.

Omong-omong, saya juga pernah ngalamin kayak Indra ini, sulit banget buat nulis, terbebani oleh entah apa. Pokoknya nulis tuh susah banget. Susah mengeksekusi ide. Hal ini saya alami ketika mencoba mengirim tulisan ke @kampusfiksi buat ikutan lomba mingguan di sana. Dan sumpah demi apa pun, tulisan saya kena semprot oleh admin @kampusfiksi, dan kamu tau rasanya? Beeeh.. Sakit, itu media sosial, orang pasti melihat akun saya dan bergumam, ''Dasar bocah belum bisa nulis!''. EYD tulisan saya waktu itu berantakan, proposisi, diksi, dan lain sebagainya ndak karuan, ibarat makanan, itu makanan yang menjijikan. Saya galau, dan pada titik ini, apa pun yang akan saya mulai tulis, saya yakin itu pasti jelek! Pasti jelek!

Tapi dipikir-pikir, kalau terus begitu, saya ndak maju-maju dong? Harusnya dengan semprotan admin @kampusfiksi itu membuat mata saya melek lebih lebar lagi, bahwa saya BELUM BISA MENULIS dan harus terus belajar dan belajar!

Beberapa hari kemudian setelah kejadian semprot itu, saya beli buku EYD yang saya masih ingat betul, belinya hasil dari ngajar pramuka. Dan mencoba membaca novel dengan kacamata penulis. Dan itu benar, ketika kita membaca buku dengan kacamata penulis, itu akan lebih terasa apa-apa yang ditulis oleh si penulis buku, dan jika sudah begitu, kita bisa belajar lewat buku tersebut. Begitulah.

Dan, berapa bulan kemudian, saya ikutan lomba mingguan lagi di @kampusfiksi, dan saya menang. Itulah jawaban dari semprotan si admin judes itu. Ya, saya senang sekaligus berterima kasih kepada admin @kampusfiksi.

Kembali ke diskusi saya dengan Indra di Lawson. Diskusi itu berakhir jam 12an malam. Dan saya selalu merasakan senang ketika berbicara sastra dan seputarnya. Entahlah kenapa, mungkin karena saya sudah terlanjur jatuh cinta pada sastra deh.

Kami mengobrol tentang apa saja, yang pasti seputar sastra, dan ketika mengobrol begini, ilmu-ilmu yang pernah saya terima tentang kepenulisan bisa muncul kembali. Sebenarnya hal itu pernah saya lupakan, karena diskusi, maka ia muncul ke permukaan. Itulah gunanya diskusi, menggali ilmu yang mengendap di kepala.

Setelah saya menelanjangi cerpen Indra, saya juga minta dia menelanjangi cerpen saya. Kami saling menelanjangi satu sama lain. Dan itu hal langka. Punya teman yang bisa diajak begini, sungguh amat sulit. Jadi saya bersyukur bisa bertemu dia. Dan suatu saat kami akan diskusi lagi, menurut saya diskusi macam begini penting. Sangat penting, tanpanya, kita seperti memakai kacamata kuda. Merasa sudah bisa menulis tapi nyatanya menjijikan ketika dibaca.***

Comments
0 Comments

Posting Komentar