SEPOTONG BULAN UNTUK MANTAN PACARKU

Mantan terindah, termanis, tercantik dan kuyakin akan selalu cantik. Apakah masih ada rindu padaku di hatimu? Barang setitik? Jika masih, tuntaskanlah.

Mantan, kita pernah menjalin kisah indah, atau jika aku tidak munafik, kukatakan tidak hanya indah, namun ada gundah, amarah, susah, banyak lagi. Seperti yang kautahu, aku adalah pria yang sangat suka bertele-tele, jadi maafkan saja jika tulisan ini lumayan panjang.

Surat ini akan kukirim padamu, bukan sembarang surat, di dalam amplop ini juga ada sepotong bulan. Jika kau tak percaya, buktikan saja sendiri, ketika kau buka amplop ini akan ada rasa betapa dahsyatnya permukaan bulan yang kupotong pada kemarin malam. Rasa yang tak berbeda jauh ketika kita pertama kali saling bergandengan tangan di tepi danau itu.

***

Malam ini langit cerah. Ada bintang, kunang-kunang, pohon bergoyang digoda desir angin malam, dan tak lupa kudiskripsikan di sini: sepasang muda-mudi di bawah pohon sana yang sedang dimabuk asmara, bercumbu, dirasuki setan. Sayang, punyamu hitam, kata si perempuan.

Lihatlah, dan baca ceritaku tantang pengiriman sepotong bulan ini: malam ini rencananya akan kukirim surat ini, setelah malam kemarin kucuri sepotong bulan dari peraduannya.

Awalnya…, hai Mantan, masih di situ? Aku ulang ya… awalnya, aku hanya ingin mengembalikan memorimu tentang kisah cinta kita. Di mana kau dan aku bertemu dalam sebuah malam cerah di sebuah ruang dan waktu yang sama. Hanya itu niatanku.

Kamarin malam, aku seperti pencuri, dan memang aku pencuri, aku menggunakan sarung untuk menutupi wajahku, dan amplop yang kubawa untuk memasukan sepotong bulan. Dan hasilnya malam ini bulan tersenyum pahit karena sebagian permukaannya telah kucuri, dan bintang berbinar seperti lampu jalanan yang baru saja direnovasi, seakan mereka sedih, sang bulan disakiti olehku.

Langsung saja kutebas sepotong bulan itu dengan sebilah pedang. Tidak cukup dicoba sekali, namun berkali-kali hingga penduduk dunia ketakutan dengan bunyi yang ditimbulkan. Semua orang panik, dan tugasku hanya satu, memberikan sepotong bulan untukmu, apa pun nanti yang terjadi. Pikiranku cuma ada satu, kamu.

“Dia mencoba mencuri bulan!” teriak seseorang dari kejauhan sambil mengacung-ngacung ke arahku.

“Benar, dia mencurinya!” saut yang lain.

Ketika itu aku sedang di atap rumah, dengan sarung yang menutupi wajah, berharap identitasku tak ketahuan seseorang pun.

Mendengar teriakan mereka, aku terus mencoba menebas-nebas potongan bulan yang ternyata sangat keras, tidak semudah yang kubayangkan sebelumnya, kukira bulan permukaannya seperti agar-agar. Aku terus menebas bulan, dan sebuah amplop siap sedia di tangan yang lain jika potongan-potongan bulan terjatuh dari atas sana seperti potongan keju yang berkilauan.

Sepotong bulan yang terjatuh masih bersinar sesuai semestinya, dan aku pasti tahu, Mantan, kamu akan menyukainya.

Jadi, kamu tidak usah lagi keluar kamar untuk menikmati bulan, tidak usah lagi keluar malam sendirian, tidak usah lagi menatap bulan hanya dari jendela kamarmu. Kini, sudah ada sepotong bulan untukmu, jika kamu ingin menikmati bulan, ambil potongan ini dan taruh di tempat yang kamu suka. Di atap kamarmu, misalnya.

Dan, Mantan, ketika kaunikmati potongan-potongan bulan itu, kau akan ingat padaku, kau akan ingat semua tentang kita, tentang pelukan kita, ciuman kita, tangis kita, sial kita, dan semua hal yang telah kita lakukan bersama. Ya, aku yakin, kamu pasti akan ingat itu semua jika menerima sepotong bulan ini.

Hahaha.. Tapi, Mantan, jangan kaunikmati potongan bulan itu ketika sedang ada suamimu. Aku takut, jika ia tahu, kau akan dimarahi dan semuanya menjadi di luar rencana. Nikmatilah kala kau sepi. Kau tahu, bukan? Bulan sendiri tidak setiap hari ada di jendela kamarmu,  tak selalu ada di awan hitam sana, terkadang ia hanya berupa potongan kecil melengkung atau bahkan tidak ada sama sekali. Dan ya, ketika seperti itulah waktu yang tepat kaunikmati potongan bulan yang kukirimkan ini.

Sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengirim surat ini, kupercayakan kepada angin malam, ia akan membawakannya tepat di samping peraduanmu. Jika surat ini sampai, maka akan ada kesilauan yang temaram, lalu kamu terbangun. Kupercayakan kepada angin.

Kulipat surat ini, kulempar dan kubiarkan angin membawanya ke tampatmu. Sedang, semua orang sudah mengepungku, aku hanya diam, tak bisa bergerak, tenggorokanku tercekat, aku siap, mati.

“Dia pencuri bulan!”
“Bakar!”
“Bunuh!”
“Habisi saja!”

Semua orang berteriak sambil mengacungkan senjata tajam mereka masing-masing, seolah bulan adalah anak mereka sendiri yang dicabuli olehku, mereka begitu marah, wajah-wajah itu mengingatkanku pada bara-bara api. Aku pasrah, seorang dari mereka naik dan mendekatiku yang berada di atap rumah, dengan kekuatan penuh ia menerjang tubuhku, dan sebilah parang dengan cepatnya menebas kepalaku tanpa ampun, menusuk perutku sampai amburadul, lalu mengangkat tubuhku, menggiring tubuhku yang tak lagi utuh ke sekeliling kampung. Malam itu, di bawah nyala bulan yang temaram, yang kucuri beberapa potong saja. Dan, kini nyawaku melayang-layang, menyatu dengan angin, memastikan surat ini sampai ke peraduanmu.***

*cerpen ini terinspirasi dari cerpen Sepotong Senja untuk Pacarku karya Seno Gumira Ajidarma

Comments
0 Comments

Posting Komentar