MEMBACA 'DAWUK' (MAHFUD IKHWAN)

Pada sebuah pagi di warung kopi, Warto Kemplung terus mengoceh tentang kejadian yang belum lama terjadi. Tentang tentara Jepang yang mengepung Pesantren. Dan kemudian ia bercerita tentang Mat Dawuk, seorang pria buruk rupa yang beristri gadis cantik anak seorang ustad, tapi nakal, ialah Inayah.

Karena terlalu nakal, Inayah memutuskan pergi ke Malaysia untuk merantau, di sana ia bertemu dengan laki-laki yang hanya mau diajaknya kawin, tidak menikah. Hingga akhirnya ia berkekasihkan seorang laki-laki yang posesif, laki-laki itu tidak mau diputuskan oleh Inayah, dan ia sudah terlalu sering menyiksa gadis itu.

Dalam keadaan kabur dari lelaki posesif itu, ia bertemu Mat Dawuk, pemuda yang satu desa dengannya di Rembuk Randu. Ia menyelamatkan Inayah dari lelaki posesif itu dan menampungnya di sebuah gubuk di mana Mat Dawuk tinggal. Di sebuah pinggiran hutan di Malaysia. Mat bekerja sebagai pembunuh bayaran, tapi ia berjanji pada Inayah, jika mereka menikah, ia akan berhenti dari pekerjaannya itu. Dari sini, Mat mulai memikirkan masa depan--yang tak pernah dipikirkan sebelumnya.


Rumbuk Randu adalah sebuah desa fiktif yang dikarang penulis. Ia digambarkan berada di tengah hutan di pulau jawa, jauh dari laut dan pertanian. Orang-orang Rumbuk Randu kebanyakan bergantung pada hasil tani di hutan, sebagaian lagi menjadi TKI di Malaysia.

Novel ini sangat kental dengan budaya Jawa. Karakter-karakter yang muncul dengan segala hal magisnya juga sangat berkaitan dengan budaya Jawa.

Alur menuju konflik dalam novel ini dibawa dengan tidak biasa. Pembaca akan terus bertanya-tanya, apakah Mat Dawuk yang diceritakan oleh Warto Kemplung di kedai kopi benar-benar nyata? Atau sebenarnya Warto Kemplung adalah Mat Dawuk?

Dengan cara bercerita yang tidak biasa itu, sebagai pembaca aku merasa tidak bosan. Aku seperti tokoh ‘aku’ di novel ini yang mendengarkan cerita Warto Kampung di sebuah kedai kopi. Cerita dalam buku ini bergaya 1001 malam. Di mana kita merasa didongengi oleh penulis melalui tokoh Warto. Dan itu cukup mengasyikan. Saking asyiknya, kita sampai hampir lupa bahwa cerita yang sedang kita baca adalah sebuah dongeng dari tokoh fiktif juga.

Warto juga terkadang menghentikan ceritanya dan meminta kepada para pendengarnya untuk memberikan kopi dan rokok agar ia melanjutkan ceritanya. Cerita yang begitu detail dan seperti seolah-olah Warto berada di dalam cerita tersebut, membuat para pendengar ceritanya curiga bahwa itu hanya kisah bualan saja, atau memang Warto adalah Mat Dawuk?

Novel ini berfokus kepada emosi mat Dawuk yang seburuk rupa apapun, ia memiliki cinta dan belas kasih kepada istri dan calon anaknya. Namun orang-orang jahat terus berdatangan dalam hidupnya, dan membuatnya murka. Satu sisi kita akan bersimpati kepada Mat Dawuk, sisi lain kita bisa memaafkannya sebagai tokoh yang penuh dosa di masa lalu, sekarang ia adalah lelaki baik-baik.

Masalah dalam novel ini muncul ketika orang-orang tidak setuju dengan pernikahan Mat Dawuk dengan Inayah alias buruk rupa dengan cantik menawan. Keluarga Mat terus terusik dan kita bisa merasakan emosi Mat yang bergejolak. Cerita berhasil dibawa ke tensi yang paling tinggi untuk kemudian turun kembali perlahan. Seru sekali.

Tidak diragukan lagi bagaimana Mahfud Ikhwan menulis, novel pemenang Kasula Sastra Khatulistiwa 2017 ini memang salah satu karya penting dalam perjalanan sastra Indonesia. Setidaknya menurutku.

Membaca 'Riwayat Hidup Sebuah Pistol di Kawasan Mulholland Drive' (Aris Rahman P. Putra)


Pernah aku berpikir, jika suatu saat nanti penulis Indonesia yang namanya sudah besar saat ini,  pada suatu saat nanti meninggal dunia, siapa yang menggantikan posisi mereka? Apakah ada seseorang pada saat ini yang mempunyai kriteria yang setidaknya mendekati bagaimana penulis besar tersebut berkarya? Apakah nama-nama itu akan terus ajeg di sana dan tak tergantikan?

Tentu saja ini masalah karya, karya penulis besar di atas tentu saja tidak akan mati. Namun, pertanyaannya adalah, apakah di masa depan nanti ada karya yang bisa menggeser itu dari karya penulis masa sekarang?  

Belakangan ini aku kenal dan membaca karya-karya teman yang masih berusia muda. Mereka menulis dan berdedikasi tinggi akan itu. Dan aku kembali bertanya, apakah suatu saat nama mereka akan besar dan menggeser nama yang sudah ada?



Aku baru saja membaca sebuah buku kumpulan cerpen seorang teman. Kami satu almamater di Kampus Fiksi walau berbeda angkatan. Namanya Aris. Dilihat dari akun media sosialnya dapat kita simpulkan bahwa orang ini agak nyeleneh. Ia menulis kontol, peju, meracap, dan sebagainya  sebagai sebuah puisi. Tapi di sisi lain, karyanya juga sering dimuat di media online ataupun koran.
Dan beberapa karyanya itu dikumpulkan dalam sebuah buku yang berjudul ‘Riwayat Hidup Sebuah Pistol di Kawasan Mulholland Drive’. Judul tersebut diambil dari salah satu cerpen yang mungkin menjadi kebanggan si penulis.

Tulisan Aris di buku ini tentu saja sangat berbeda dengan tulisannya di akun media sosialnya. Di sini ia tampak serius dan dengan lihai merangkai cerita. Beberapa kali kamu akan menemukan sebuah kota fiksi, raja fiksi, dan segala hal fiksi lainnya. Ia agaknya ogah menulis karya fiksi yang mengambil latar belakang dari tempat yang nyata. Fiksi pokoknya harus fiksi!

Ia menulis tentang Pangeran Airlangga yang bukan Pangeran Airlangga. Ia mengarang sendiri tentang Pangeran tersebut, di mana sebuah Kerajaan Mengkudu Sepet akhirnya disebut, Ratu Sri Bhuwana Tunggal Tangga Mlaku, Pati Gajah Mungkur. Nama-nama itu dibuatnya menjadi sebuah fiksi yang, tentu saja kita tahu diambil dari kisah serius namun di sini ia selewengkan menjadi sebuah lelucon. Mengawinkan dua hal tersebut memang bukan hal mudah.

Cerpen yang menjad favoritku di sini adalah ‘Pada Malam Hari, Hal-Hal Ini Terjadi.’ Ia bercerita tentang pemuda yang bangun dari tidur karena mendangar sebuah alarm. Kata si narator, jika hal itu terjadi (bunyi alarm itu), maka ada dua kemungkinan. Kemudian kedua kemungkinan itu dijabarkan narator sehingga kita lupa bahwa itu hanya ‘kemungkinan’, bukan apa-apa. Padahal pembaca sudah dibawa kepada suasana seakan itu cerita yang berjalan. Dengan entangnya penulis menulis begini di akhir cerpen: Dan memang pada kenyataannya itu hanyalah sebuah alarm dan bukan yang lain-lain. Kurang ajar!

Cara bercerita seperti ini, yang membuat pembaca tersentak merupakan hal yang dicari kenapa kita membaca sebuah buku. Selain untuk menghibur diri, hal-hal yang tidak pernah kita temukan sebelumnya seperti tekhnik bercerita, cerita itu sendiri, dan pengolahan emosi merupakan sisi lain dari alasan kenapa kita mau meluangkan waktu untuk membaca.

Aris melalui buku ini tentu saja bisa dibilang mampu membuat napsu membacaku terpenuhi. Bobot tulisannya juga perlu diperhitungkan dan disejajarkan dengan penulis lain. Karena ketika aku membaca tulisannya, aku seperti belum mengenal orang ini. Benar kata orang, karya dan sosok penulisnya adalah dua hal yang berbeda. Jika kita menyukai karyanya, belum tentu kita menyukasi penulisnya, begitu juga sebaliknya. Dan memang, sebelum membaca sebuah buku, alangkah baiknya kita tak perlu mengenal lebih dekat dengan si penulis. Biarkan karya tersebut berdiri sendiri.***

MEMBACA 'SEPERTI RODA BERPUTAR' (RUSDI MATHARI)

Buku kecil ini aku dapatkan gratis ketika membeli paket buku di penerbit Mojok. Walaupun kecil, isinya begitu menggugah. Salah satu kalimat yang terus teringat di kepalaku: Tidakkah selain kelahiran, salah satu perayaan terbesar manusia adalah kematian?

Pada dasarnya, tulisan ini adalah tentang bagaimana Cak Rusdi, wartawan dan penulis senior Indonesia, melawan kanker dalam tubuhnya. Ketika orang biasa menulis dengan duduk di depan layar laptop atau komputer, Cak Rusdi tidak. Karena dalam keadaan sakit, ia menulis dengan handphone, bahkan mengirimkan tulisannya ke Mojok melalui pesan whatsapp.


Saat itu ia, dia hanya bisa mengandalkan telepon genggam untuk menulis. Tangan kirinya memegang telepon genggam, jempol kanan dia gunakan untuk mengetik.

Walau dalam keadaan di mana nyawa dipertaruhkan, ia tetap ingin terus menulis, menyampaikan gagasan.

Saya belum akan mati dan mudah-mudahan bisa menebus semua kesalahan dan alpa saya kepada Anda semua. Dan memang saya belum akan mati. Saya hanya sedang merayakan pertemanan saya dengan kawan-kawan baru saya, yang rupanya selama ini begitu setia menunggu untuk mejadi kawan saya: tumor-tumor itu.

 Dari beberapa buku yang sudah aku baca, ini salah satu buku yang paling bisa merasuk hati dan membuat nelangsa. Kamu akan merasakan bagaimana seseorang bertahan dengan harapan masih bisa hidup esok dengan keadaan seadanya. Ia berusaha sebisanya, Cak Rusdi menggunakan BPJS dan melalui prosedur yang sangat lama. Bahkan untuk foto rontgen, ia harus menunggu beberapa minggu.
Hingga akhirnya ia terlambat tahu bahwa tumor di dalam tubuhnya sudah stadium akhir. Dalam proses itu, ia bertemu dengan orang-orang yang setia membantunya. Mulai dari perawatan rumah sakit hingga orang-orang yang menunggunya di ranjang.

Phutut Ea, ketua suku Mojok, di Epilog buku ini dalam tajuk ‘Siapakah kita jika suatu saat Sakit dalam waktu yang panjang?’ mengatakan bahwa coba kita pertanyakan kembali tabungan sosial apa yang sudah kita lakukan, sehingga orang-orang akan membantu kita ketika sakit? Mungkin, kita tak seberuntung Rusdi Mathari, yang dengan mudahnya mendapat uluran tangan dari berbagai penjuru.

Melalui buku yang menguras emosi ini—sebuah buku yang ditulis oleh orang yang mau meninggal memang mempunyai ‘aroma’ yang berbeda. Kalimat demi kalimat yang kita baca seakan adalah suara bisikan dari dimensi lain yang membuat kita berpikir ulang: bahwa kita suatu saat juga akan mati. Suatu hal yang sering manusia lupakan.

Semoga Cak Rusdi tenang di sana, karyanya selalu hidup di hati kita.

MEMBACA SENYAP YANG LEBIH NYARING (EKA KURNIAWAN)


Aku mulai mengikuti jurnal Eka Kurniawan di tahun 2016. Saat itu aku jatuh cinta pada salah satu karyanya: Cantik Itu Luka. Novel itu membuatku yang ketika itu kelas 3 SMK, begadang untuk membaca, dan entah bagaimana, sejauh masa itu aku tidak pernah mengalami kenikmatan membaca sebelum bertemu novel itu.

Mulai sejak itu aku membaca jurnal Eka dan kesan pertama yang ada di benakku ketika pertama kali membacanya adalah, Eka menulis tiap jurnalnya dengan 1 paragraf saja! Jadi tulisan yang kurang lebih 500 kata tersebut ia tulis dalam 1 paragraf. Jika dlihat sekilas memang agak menyebalkan, siapa yang mau membaca paragraf sepanjang itu!
Tapi, ketika kita mulai membaca, tulisan itu begitu mengalir dengan jernih. Semua saling sambung-menyambung dengan cantik. Ketika ada salah satu pembaca berkomentar tentang kebiasaan Eka ini, ia mendapat jawaban yang kurang lebih begini: 

“Ya, saya memang sengaja membuat tulisan seperti itu, agar saya belajar menulis dalam 1 tarikan napas.”

DALAM SATU TARIKAN NAPAS!

Aku jadi membayangkan bagaimana cara Eka menulis jurnalnya itu, ia tidak berhenti mengetik, terus saja mengalir sampai selesai. Tidak seperti kita yang, ketika 1 paragraf selesai, kita akan sedikit menghela napas dan kembali berpikir: mau nulis apa lagi ya…

Dan, sebagain besar karya Eka Kurniawan sudah aku baca. Ketika mendengar jurnalnya akan diterbitkan, aku adalah salah satu orang yang menanti-nanti. Apalagi itu jurnal dalam periode 2012-2014, periode yang barang tentu banyak aku lewatkan.



Ketika aku ingin membeli buku ini, aku bertanya kepada penjual: “Apakah dalam buku ini, tulisan Eka masih dalam 1 paragraf?” dan penjual itu menjawab, “Iya, mas, tapi tenang saja, sudah melewati tahap edit kok.” “Oke saya mau satu.”

Senyap yang Lebih Nyaring merupakan judul salah satu artikel (atau esai?) Eka di buku ini. Ia berbicara tentang apa tugas penulis? Tugas penulis adalah bersuara melalui tulisannya, namun sejarah mencatat ada penulis yang memilih untuk bisu, bahkan hingga akhir hidupnya: Albert Camus.

Kebisuan Camus dipicu oleh dua hal: perang Alzajair (tempatnya lahir) dan dukungan sahabatnya sendiri: Sarte, terhadap Uni Soviet.
Ada tulisan Sarte yang mengharukan mengena kebisuan Camus, yang ditulisnya sebagai obituary setelah Camus meninggal dalam kecelakaan mobil. “Enam bulan lalu, atau bahkan kemarin, kami bertanya-tanya, ‘Apa yang akan ia laukan?’ tulis Sartre (…..) tapi, itu tidak menghalangi Sartre untuk terus bertanya-tanya, buku apa yang sedang dibaca Camus. Jika ia membaca koran, ia bertanya kepada diri sendiri, apa komentar Camus mengenai topik ini? (Hal.330).

Di bab yang lain, Eka juga tak luput untuk mengkritik tentang budaya literasi di Indonesia. Menurutnya, ada yang salah dalam pendidikan dasar kita. Kita diajarkan menulis dengan mengenal huruf-huruf, merangkai kata-kata, dan seterusnya. Namun itu tidak membuat kita belajar untuk berpikir. Menulis adalah tentang bagaimana belajar berpikir sistematis dan mengemukakan pendapat dalam bentuk tulisan.

Kita diajarkan bagaimana mengenali huruf, mengenal kata, menyusun kata menjadi kalimat. Tapi, itu tak membuat kita bisa menulis. itu hanya membuat kita menjadi tukang menyalin huruf, atau lebih canggih, hanya menjadikan kita tukang ketik. (243)

Sekali lagi, perkara menulis adalah tentang disiplin berpikir, seharusnya pendidikan kita sudah sampai pada titik itu.

Sebenarnya dalam buku ini Eka sedang berbicara tentang banyak hal, namun semuanya pasti mengerucut pada satu hal: Sastra. Namun, dalam bukunya ini dalam bab Apa yang Saya Katakan Ketika Saya Bicara Tentang Sastra ia mengatakan: “Di dunia ini hanya dua jenis karya. Satu, karya yang saya sukai; dua, karya yang tidak saya sukai.”

Sesederhana itu..

Dan tentu saja buku-buku yang Eka ulas dengan gayanya sendiri itu, adalah karya yang ia sukai. Dengan membaca jurnal ini, aku setidaknya bisa tahu selera penulis besar seperti Eka.

Belum lama ini Eka juga berkecimpung dalam dunia penerbitan: ia mempunyai penerbit sendiri! Novel pertama yang diterbitkan berjudul Angsa Liar. Tentu saja buku-buku yang akan terbit mempunyai idealisme yang erat dengan Eka. Dan aku yakin, penerbit ini akan tumbuh dengan memenuhi kebutuhan pembaca di ceruk yang lain. Kita lihat saja.

Membaca 'The Red-Haired Woman' (Orhan Pamuk)

Buku ini bercerita tentang remaja Turki yang dalam hidupnya selalu diawasi oleh ketakutan karena ia meninggalkan majikannya di bawah galian sumur yang dangkal. Itu adalah saat Cem lulus dari SMA dan ingin mencari uang tambahan untuk berkuliah. Ia memutuskan untuk pergi bersama Tuan Mahmut, seorang ahli sumur.

Hubungan Cem dengan tuan Mahmut terbilang sangat dekat, padahal awalnya mereka adalah orang asing, bahkan menurut Cem, tuan Mahmut lebih hangat dari ayahnya yang hilang dijemput aparat karena ‘kekiri’-nya.

Tuan Mahmut sering bercerita tentang kisah yang ada di Al-Qur’an kepada Cem, namun ia tidak pernah melihat orang tua ini shalat. Sedangkan Cem bertukar cerita kepada Tuan Mahmut, ia bercerita tentang mitos Rostam dan Sohrab.



Ini adalah buku Orhan Pamuk pertama yang kubaca. Namanya tentu saja sudah harum di kancah sastra dunia, ia adalah penerima nobel sastra tahun 2006. Tentu saja aku menemukan hal-hal segar melalui karyanya ini.

Singkatnya, semua cerita dari buku ini mempunyai bumbu yang sangat kental akan kisah lagenda Oedipus Rex dan kisah Rostam dan Sohrab. Tentu kedua kisah itu belum pernah aku dengar sebelumnya, dan sangat disarankan untuk membaca setidaknya sekilas terlebih dahulu tentang kisah itu untuk kemudian membaca buku ini.

Oedipus Rex pada intinya bercerita tentang seorang anak yang membunuh bapaknya, sedangkan kisah Rostam dan Sohram bercerita tentang seorang ayah yang membunuh anaknya. Dalam pembunuhan itu keduanya tidak tahu bahwa yang ia hadapi adalah anak atau ayahnya sendiri.

Dan kedua kisah itu seperti menghantui Cem kemana saja ia pergi hingga dewasa, apalagi ketika ia merasa telah membunuh majikannya, tuan Mahmut, yang ia tinggalkan di sebuah galian sumur yang dangkal.

“Kadang kehidupan ini mengikuti sebuah dongeng.” 

Omong-omong, dalam pekerjaannya membuat galian sumur, Cem yang masih berusia 18 tahun jatuh cinta kepada seorang wanita berambut merah yang lebih tua darinya dan tidur dengannya di sebuah apartemen. Yang kemudian hasil bercintanya itu menjadi boomerang terhadapnya, dan mengancam nyawanya pada suatu hari nanti.

Malam itu, aku tidur dengan seorang wanita untuk kali pertama dalam hidup. Itu saat yang sangat penting, dan rasanya seperti mukjizat. (….) wanita berambut merah itu menunjukkan siapa diriku dan apa artinya bahagia. (hlm. 121)

Cara bercerita Orhan Pamuk dalam buku ini sangat tersusun rapi, ia membuat kejutan-kejutan yang menarik dan teka-teki yang sukar untuk dipecahkan. Kualitas terjemahannya juga terbilang baik dan memuaskan. Aku suka bagaimana Pamuk membuat satu bab ke bab lainnya tidak terlalu tebal dan terbilang singkat. Namun tidak mengurangi nilai di dalamnya.

Omong-omong tentang nilai, menurutku ini adalah buku yang kaya nilai. Mulai dari hubungan anak dan ayah hinggga negara dan kebebasan individu. Banyak hal baru yang kupelajari melalui buku ini.

Bukui inijuga mengulas tentang potret Turki lintas zaman, hingga bagaimana negera itu kini menjadi sangat terkenal akan sekurelnya.

Orang-orang Turki yang kebarat-baratan ini terlalu jemawa untuk percaya kepada Tuhan. Mereka hanya peduli pada individualitas. Banyak yang memilih tiak percaya kepada Tuhan hanya untuk membuktikan bahwa mereka berbeda, meskipun tidak akan mengakui itulah alasannya. Tetapi, keyakinan itu sebetulnya seperti orang lainnya. Agama adalah tempat berlindung dan pelipur bagi orang yang lembek. (Hlm. 294)

Orang-orang kiri hanya peduli prinsip, bukan penampilan (Hlm. 219)

Pada akhirnya, pengalaman membaca buku ini sangat menyenangkan dan mempunyai nilai-nilai yang bisa kita ambil di dalamnya. Ia adalah sebuah karya dari  penulis kelas dunia yang tidak boleh dilewatkan begitu saja.***

Membaca 'Persengkongkolan Ahli Makrifat' (Kuntowijoyo)

Akhir-akhir ini kita sedang diuji tentang bagaimana ‘memandang’ agama. Tentu saja ada banyak ahli agama yang menyiarkan ajaran-ajaran baik. Namun, dalam penyampaian itu, tidak semuanya dengan cara yang sama. Ada yang menyampaikan seolah marah-marah, ada juga yang halus.

Kuntowijoyo adalah nama besar dalam kesusastraan Indonesia. Beliau besar dalam keluarga yang religius dan mendapat pendidikan yang tinggi (terakhir ia menjadi guru besar di UGM). Jujur saja, aku belum lama mengenal nama ini. Dan begitulah sebuah karya, membuat penulisnya tetap hidup. Dan ya, melalui buku kumpulan cerpen ini, aku merasakan denyut kehidupan beliau.

Di pengantar buku ini sempat ada singgungagan tentang apa itu sastra profetik. Dan menurut Kuntowijoyo, itu adalah adalah sastra yang sebagai ibadah dan sastra yang murni. “’Sastra ibadah’ saya adalah ekspresi dari penghayatan nilai-nilai agama saya, dan sastra murni adalah ekspresi dari tangkapan saya atas realitas.”


Penghayatan nilai agama yang dimaksud di atas, dalam buku ini adalah agama Islam. Dan terasa betul dalam membaca cerpen-cerpen di buku ini, aku merasakan penghayatan yang tidak biasa tentang realitas-agama. Tentu saja dibawa dengan cerita yang menarik; bahasa sederhana khas penulis tahun 60-an.

Buku ini dibuka dengan cerpen berjudul ‘Hati yang Damai Kembalilah kepada Tuhan’. Dari judulnya saja kita bisa mencium aroma-aroma religius di sana, dan memang begitu. Sebenarnya cerita ini simpel saja, tentang seorang lelaki yang tergeletak tak jauh dari sebuah masjid dan mencoba untuk masuk ke masjid dengan susah payah.

Orang-orang sekitar tidak suka dengan orang (bajingan) itu, kehadirannya bagi mereka bisa mengotori masjid. Karena si lelaki memang terkenal tidak baik, judi, mabuk, dan maksiat lainnya. Namun Kiai yang mereka hormati di desa itu datang dan membantu si bajingan untuk berdiri, orang-orang takjub melihat kejadian itu.

“Untuk apa kalian berusaha mengangkat orang ini keluar?”
Tak seorangpun menjawab.
“Untuk apa, anak-anak muda?”
“Masjid ini kotor, Kiai.”
“Masya Allah. Kautahu kalu masjid ini jadi kotor?”
Mereka semua terdiam.

Dialog di atas tentu saja mempunyai nilai sendiri secara penghayatan agama dan realitas kita. Yang mana banyak dari kita terlalu mudah men-cap setiap orang yang salah akan selalu salah. Padahal bisa saja dia hari ini salah, besoknya bertaubat. Bisa saja pagi ini kita muslim, sorenya kita kafir. Tidak ada yang tahu tentang keimanan seseorang kecuali urusannya paling sakral  dengan Tuhan.

Kebanyakan cerpen-cerpen dalam buku ini berangkat dari sebuah desa, dari sebuah lingkungan yang jauh dari keriuhan kota, di mana orang-orangnya masih ‘primitif’, masih kolot. Sebuah desa itu juga bisa berarti adalah kita, kita yang tidak terbuka tentang bagaimana memandang agama, kita yang memandang agama hanya dalam satu sisi, yang akhirnya yang muncul hanya kebencian dan kebencian.

Narasi-narasi yang ditawarkan buku ini menurutku dapat membuka mata kita tentang bagaimana menghayati realitas yang terlihat di depan mata dengan anjuran agama. Bahwa tujuan dari agama adalah kebaikan di muka bumi, tanpa ada kesan menceramahi dan di sisi lain menikmati kisah yang dibaca. Bukankah Al-Qur’an juga demikian? Berisi tentang ‘kisah’ masa lalu, agar kita tidak terjeremus di lubang yang sama?


Membaca 'Empat Pemburu Harta' (Sir Arthur Conan Doyle)

Aku tidak habis pikir apa yang ada di dalam kepala Sir Arthur Conan Doyle ketika menciptakan Sherlock Holmes. Tokoh fiktif ini begitu sangat hidup, dengan sifat khasnya yang membuat siapa saja akan mudah mengingatnya. Hidup Holmes seperti hanya diciptakan untuk memecahkan kasus-kasus yang sulit. Bahkan katanya, jika tidak memecahkan kasus, otaknya tidak akan pernah puas.

Otakku tidak puas dengan berdiam diri. Beri aku masalah, beri aku pekerjaan, beri aku sandi yang paling rumit, atau analisis yang paling berbelit-belit, dan aku akan kembali menjadi diriku yang semula.

Novel ini dibuka dengan percakapan ringan Holmes dengan Watson. Di mana mereka juga sempat menyinggung Penelusuran Benang Merah yang pada cerita tersebut memang benar-benar dibuat novel.

“Aku membacanya sekilas. Sejujurnya aku tidak bisa memberimu pujian untuk itu.”

Begitulah kata Holmes kepada Watson yang sudah mengabadikan salah satu pemecahan kasusnya.
Pada bab pertama hanya berisi percakapan-percakapan ringan antara Holmes dengan Watson hingga akhirnya tiba dimana Watson mengetes deduksi Holmes yang menurutnya masih di luar nalar.
Dan Holmes menunjukkan deduksinya dengan arloji yang diberikan Watson. Dari jam tersebut, Holmes bisa tahu siapa pemilik sebelumnya hingga pada kesimpulan: ‘Kakakmu sering mendapat kesulitan keuangan’ hanya dengan mengamati sebuah arloji!

Dan ya, pemikiran Holmes memang luar biasa.

Misteri muncul bersamaan dengan seorang wanita yang datang ke tempat Holmes. Wanita itu meminta Holmes untuk memecahkan kasus ayahnya yang telah hilang—yang ternyata mempunyai kaitan dengan masa lalu yang membuat maut selalu mengincarnya. Semuanya mengerecut pada sebuah harta dan pengkhianatan.


Sebenarnya setiap cerita kasus Sherlock Holmes hampir  memiliki kesamaan. Ia akan mencari petunjuk dan fakta-fakta untuk memecahkan kasus dengan pengamatan dan pemikirannya yang luar biasa. Tidak perlu waktu lama bagi Holmes untuk menemukan fakta dan ciri-ciri pelakunya dalam kasus ini.

Di sini, sialnya Holmes bertemu dengan detektif kepolisian yang membuat langkah yang salah. Akhirnya Holmes memecahkan kasus ini tanpa bantuan polisi.

Serunya di novel ini kita akan menemukan adegan laga yang tidak biasa. Menegaskan bahwa Holmes tidak hanya detektif yang ‘hanya bisa berpikir’ dalam memecahkan masalah. Ia bahkan memburu langsung mangsanya!

Ada kemungkinan kita memerlukan pistol pada saat tiba di sarang mereka (….) tapi kalau rekannya melawan, aku akan menembaknya hingga mati.
Novel ini ‘dibawa’ oleh narasi Dr Watson yang selalu bersama Holmes. Menurutku itu seakan Watson adalah juru kamera Holmes yang menyorot gerak-gerik hingga emosi Holmes dengan sangat dekat. Narasi seperti ini sukses membuatku menikmati bab demi bab, adegan demi adegan.

Kau benar-benar seperti mesin—mesin yang penuh perhitungan. Terkadang sikapmu sangat tidak manusiawi. – Dr. Watson kepada Holmes.

Pengejaran musuh dalam novel ini sangat seru, tentu saja didukung oleh pemikiran Holmes yang tidak biasa dalam mencari petunjuk. Hingga akhirnya kasus usai: Watson mendapat wanita yang menjadi istrinya, dan Holmes mendapat kepuasan karena sudah memecahkan kasus ini. Begitu saja.

Mengenal Jurnalisme Online Lebih Dekat Melalui Buku Ini

Belakangan ini sempat heboh terkait Tirto.id yang membuat kekeliruan dalam menampilkan animasi rangkuman debat cawapres. Animasi tersebut ‘dilempar’ Tirto.id ke media sosial dan mendapat kencaman dari banyak warganet kemudian Tirto.id menyatakan permintaan maafnya. Hal tersebut merupakan contoh kecil dari jurnalisme online dan ya, ia tak bisa lepas dari media sosial sebagai lingkup liputan dan khalayak-nya.

Di zaman serba digital seperti sekarang ini, pers cetak (koran) mulai ditinggalkan peminat. Dan jurnalime online (digital) semakin hari semakin menggeliat. Bahkan yang tadinya berbasis cetak mulai bermigrasi ke digital. Tentu saja hal tersebut dipengaruhi oleh teknologi yang semakin maju dan kecenderungan masyarakat kita yang lebih sering membuka gawai ketimbang koran untuk mengupdate berita.

Tapi ironisnya, attention span (rentang perhatian) khalayak saat ini lebih pendek. Riset oleh Microsoft menunjukkan rentang perhatian khalayak internet saat mengonsumsi sebuah laman daring rata-rata hanya 8 detik (2015), turun dari 12 detik pada 2000.

Hal tersebut tentu saja menuntut media online untuk membuat inovasi, berlomba-lomba membuat pembaca agar bisa berlama-lama di lamannya—hal ini juga terkait iklan yang membuat media tersebut tetap hidup.

Melalui buku yang ditulis oleh pengajar jurnalisme online di UGM (Engelbertus Wendratama) ini, kita diajak untuk melihat ‘dapur’ jurnalisme online dan bagaimana cara kerjanya. Mulai dari tata bahasa dalam penulisan berita, hingga model-model bisnis jurnalisme online.



Kita setiap hari membaca berita di internet, mayoritas yang kita baca tersebut kita lihat terlebih dahulu melalui media sosial. Melihat hal tersebut, memang media sosial dan jurnalisme tidak bisa dilepaskan. Bahkan jurnalis bisa membuat riset melalui media sosial. Media sosial sudah seperti ruang lingkup kehidupan yang lebih kompleks ketimbang dunia nyata. Dan hal itu harus dimanfaatkan jurnalis untuk mendukung liputannya. Dan tentu saja, dalam melakukan liputan tersebut ada langkah-langkahnya.
Dan kita tahu, ada banyak sekali media online yang bisa ditemui sehari-hari, mereka saling berlomba untuk mendapatkan pembaca paling banyak dan ya, ujung-ujungnya adalah mendapatkan uang dari iklan untuk operasional hari-hari mereka, walau tidak semuanya begitu.
Tapi sayangnya mereka lupa hakikat jurnalis.

Bahwa khalayak perlu berita yang penting dan menarik, di samping berita itu disampaikan secara cepat. Tapi kadang kita temukan media online berlomba-lomba untuk menjadi siapa yang tercepat memberitakan hingga lupa unsur-unsur jurnalistik di dalamnya. Dan yang dirugikan adalah khalayak. Karena sekecil apapun, jurnalis adalah orang pertama yang menulis untuk nantinya menjadi referensi di masa mendatang. Jika referensi tersebut keliru, maka lagi-lagi khalayak yang dirugikan. Sebab sejatinya, mata seorang jurnalis adalah mata khalayak.

Pada era daring, pengemasan liputan butuh cara-cara segar karena sebuah konten harus bersaing dengan jutaan konten lain. (…) seperti memasukkan humor dan menyusun cerita dalam narasi yang menegangkan pembaca. (Hlm. 77)

Dalam buku ini, kita akan diajak untuk memahami bagaimanajurnalisme online bekerja. Pada bab I kita akan diberi pengertian apa itu jurnalisme online. Dan pada bab II kita akan menemukan bagaimana cara menulis berita.

Pada bab II ini kita diajarkan untuk menulis secara lugas dan rangkum. Bahwa seharusnya jurnalis harus lebih hebat dalam menggunakan bahasa tulis dibanding profesi lain. Pada bab ini kita juga diajak untuk menyunting beberapa tulisan berita yang bahasanya bisa jauh lebih efesien.

Supaya bisa membuat tulisan jurnalistik yang kuat, kita juga harus memahami prinsip bahwa jurnalis adalah storyteller (pencerita) yang bertugas membuat cerita yang penting dan atau menarik. (hlm. 18)

Pada bab-bab selanjutnya kita akan diajak untuk menelaah unsur-unsur berita, bagaimana menampilkan dan melakukan liputan, prinsip dan etika jurnalisme, hingga memanfaatkan media sosial sebagai sumber berita. 

Semua pembahasan itu menjadi bernas karena kita akan mendapat ‘bocoran’ perangkat yang bisa digunakan untuk membuat liputan jurnalistik. Di samping itu kita juga akan menemukan hal yang menambah pengetahuan kita terkait jurnalistik di dunia. 

Seperti halnya pers cetak yang terlambat menanggapi teknologi, sekolah jurnalisme di perguruan tinggi terlambat mengikuti digitalisme informasi. (Hlm. 196)

Bahkan karena sadar akan ketertinggalan tersebut, banyak sekolah di AS sudah membuat beragam inovasi, seperti mengajarkan pemogramanan (coding), desain laman, jurnalisme data, bisnis konten multimedia, hingga kemitraaan inovatif dengan perusahaan media dan teknologi.
Terpelas dari itu semua, buku ini sangat nyaman ketika dibaca. Karena (1) bahasa yang digunakan sangat ramah dan lugas (2) lay out buku yang simpel.

Buku ini cocok untukmu yang berminat di dunia jurnalistik, juga untuk kita penikmat berita agar tidak buta-buta amat tentang dunia jurnalisme yang sangat kompleks.***

Membaca Kumcer 'Tuhan Tidak Makan Ikan' dan Karya Sastra Lucu

Aku selalu iri dengan seseorang yang bisa menyisipkan humor dalam berkomunikasi, apalagi jika ia menyisipkannya pada sebuah tulisan.

Buku kumpulan cerpen ini menurutku memiliki virus humor yang tersebar di banyak halaman. Seolah penulis tidak pernah kehabisan stok untuk membuat pembaca tertawa.

Itu juga menegaskan bahwa karya sastra juga bisa selucu ini. Walau kita tahu, sastra mempunyai 'wajah' yang serius, tapi bukan berarti ia tidak bisa lucu. Dan menurutku karya sastra yang kaya humor itu sangat langka saat ini.

Kendati demikian, ada beberapa cerpen yang serius dalam buku ini. Sebut saja cerpen yang berjudul "Istri Pengarang". Cerpen ini bercerita tentang sepasang suami-istri di mana sang suami adalah seorang penulis, hanya dengan menulis ia menghidupi keluarganya.

Hingga suatu hari sang istri cemburu dengan tokoh wanita yang ditulis oleh suaminya sendiri.

“Karena hanya denganmu aku kembali menjadi manusia biasa yang tidak direpotkan dengan kegiatan berpikir dan berasa yang kadang terasa menyiksa. Padamu aku bisa membicarakan hal remeh-temeh dan sejenak melukapan teror ide untuk dituliskan. Padamu aku seperti selalu libur sebagai penulis.”

Begitulah, bahtera keluarga mereka tetap berjalan, yang satu terus menulis untuk mendapat uang, yang lainnya hanya bisa sabar dengan honor penulis yang tidak seberapa.

Dari judulnya memang terkesan serius, tetapi buku ini tidak serius-serius amat. Ia bisa membawa kita untuk mencoba menertawakan diri sendiri, mengakui kebodohan, dan pada akhirnya ia seperti memberi kita obat hati.

Beberapa ada cerpen di buku ini memang nyeleneh, tapi itu tidak menghilangkan fokus pembaca untuk menikmati cerita demi cerita.

Mood tiap cerpen yang berubah-ubah, membuat pembaca tidak bosan untuk membalikan satu halaman ke halaman lain. Ketika kita habis membaca cerpen yang membuat gelak tawa, seketika menjadi merenung ketika kemudian bertemu cerpen selanjutnya yang serius. Seolah kita bisa melihat penulis yang menampakkan raut wajahnya ketika serius dan bercanda secara bersamaan. Absurd.



Terkadang, dalam cerpen-cerpen di buku ini kita dibuat serius di awal, namun pada akhir cerita, apa yang kita baca ternyata sia-sia belaka. Sebut saja cerpen “Perjalanan Ke Pacitan”. Bercerita tentang penyair yang diundang ke sebuah desa dan ia bertemu dengan seorang gadis.

Di awal, tokoh ‘aku’ sangat mengaggumi si gadis tersebut, namun di akhir, ia membalik itu semua dari yang terkesan cantik menjadi kekonyolan.

Yuh Kariyem mengeluhkan mata kanannya yang terasa mengganjal dan agak perih. Kuminta dia tenang. Aku membuka mata kanannya perlahan-lahan dengan kemampuan terhalus yang dimiliki jari-jariku. Dan, betapa kagetnya aku ketika melihat ada benda hitam sebesar biji semangka menempel di bola mata kananya. Ya tuhan, ternyata Yu Kariyem kelilipan tahi lalatnya sendiri.

***

Menurutku cerpen-cerpen dalam buku ini sangat khas, tokoh ‘Aku’ dan ‘Trijoko’ juga sangat khas. Berbicara tentang Trijoko, ada satu cerpen yang menarik tentang tokoh ini di cerpen berjudul ‘Riwayat Sempak”, bercerita tentang sepasang kekasih muda-mudi, di mana sang gadis sangat posesif. Sebuah cerita yang sangat dekat dengan kita.

Trijoko beberapa kali memang keluar menjadi tokoh utama di cerpen ini, dan ia tak pernah kehilangan kekhasannya: tak terduga, agak bodoh, dan memiliki pendirian.

Di luar itu semua, aku sangat suka dengan desain cover buku dan ilustrasi di dalam buku ini. Cetakan dan lay out-nya juga bagus, buku jadi enak dibaca dan tidak bikin sakit mata.

Sebagai sebuah karya sastra, bisa dibilang ini tidak terlalu berat untuk dibaca oleh orang awam sepertiku. Jika kamu pernah membayangkan Raditya Dika menulis sastra, mungkin itulah yang  akan kita temukan dalam karya Gunawan Tri Atmodjo, setidaknya menurutku.***

'Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat' Adalah Buku Lelucon?

Seingatku, aku terakhir membaca buku pengembangan diri itu sekitar 3-4 tahun lalu. Buku itu berjudul The Seven Habits of Highly Effective Teens. Dan, ya, pada dasarnya aku memang tidak terlalu menaruh perhatian lebih kepada buku jenis ini (dan dunia motivasi). Karena (1) aku yakin apa yang aku inginkan semua ada di tanganku, jika aku ingin sesuatu ya aku harus berusaha sekuat tenaga (2) semua kata-kata motivasi itu hanya omong kosong, dan orang kurang kerjaan yang memercayainya.

Hingga akhirnya aku menemukan buku ini: Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat. Jelas saja, sebagai buku pengembangan diri, judul buku ini bertentangan terhadap apa-apa yang orang katakan di seminar, blog, atau buku tentang pengembangan diri yang ‘menuntut’ kita untuk senantiasa melakukan segala hal yang positif. ‘Bodo Amat’ tentu saja berkonotasi negatif, tapi di buku ini ia dinarasikan bahkan setara dengan ajaran Buddhisme. Nah..

Karena itu aku tertarik untuk membaca ini, berharap aku menemukan hal baru. Dan benar saja, ketika membaca di bab pertama, aku menemukan judul yang berbunyi, “Jangan Berusaha”. Dari sini aku mulai berpikir, apakah ke depan akan ada banyak judul semacam ini? Atau sebenarnya buku ini hanya lelucon?

Akhirnya aku membaca kalimat demi kalimat buku ini, dan ya, aku menemukan bahwa apa yang dikatakan Mark Manson adalah hal yang bisa disetujui oleh banyak orang. Lihat saja, di bab pertama ini ia mengatakan bahwa berpikir positif, menjadi sukses, unggul, menjadi nomor satu, itu adalah bagian dari lingkaran setan yang membuat kita tidak pernah bahagia/merasa cukup.

Ironisnya, pengarahan pemikiran pada hal-hal positif ini—tentang apa yang lebih baik, apa yang lebih unggul—hanya akan mengingatkan kita lagi dan lagi tentang kegagalan kita, kekurangan kita, apa yang seharusnya kita lakukan namun gagal kita wujudkan. (Hlm. 5)

Artinya jika kita terus mengejar kebahagiaan, kita tidak akan pernah menemukan kebahagiaan. Kita tidak pernah hidup jika terus mencari arti kehidupan, kata Albert Camus.

Melalui bab 1 ini, aku bisa menemukan inti dari apa yang dipikirkan Mark Manson, bahwa sebenarnya ada banyak hal yang keliru di dunia ini, terutama tentang kebahagiaan di dunia, dan hal inilah yang sering muncul di bab-bab selanjutnya.

Tentu saja Mark menawarkan solusi dari masalah-masalah tersebut. Di bab 2 yang berjudul “Kebahagiaan itu Masalah” ia berkata,

Kebahagiaan datang dari keberhasilan untuk memecahkan masalah. Kata kuncinya di sini adalah “memecahkan”. Jika Anda berusaha menghindari masalah Anda atau merasa seakan-akan tidak punya masalah apa pun, Anda akan membuat diri Anda sengsara. (Hlm. 36)


Pengalaman membaca buku ini buatku cukup menyenangkan, dan tidak kaku-kaku amat sebagai buku nonfiksi. Kadang Mark menyisipkan kisah-kisah orang hebat hingga kisah hidupnya sendiri, dan kemudian pembaca dibawa untuk membedah apa pesan dari kisah tersebut. Dengan narasi seperti ini, aku pikir ia bisa ‘masuk’ ke banyak kalangan, dan memberikan kesan tanpa menggurui.

Mark lebih berkesan seperti tamu yang datang ke rumahmu, dan ia terus mengoceh tanpa henti di ruang tamu tentang pemikirannya yang gila dan, sialnya, kamu setuju.

Tentu saja ada banyak ‘mutiara-mutiara’ yang aku temukan dalam buku ini. Tapi pada intinya sih ia sedang membicarakan: bagaimana cara kita membuat ‘nilai’ untuk diri kita sendiri dan komitmen akan itu, buka pemikiran kita lebih lebar lagi, jangan menyiksa diri dan ingat suatu saat kita akan mati.

Jika kita amati lebih jauh lagi, sebenarnya buku ini sedang membicarakan hal-hal baik yang seharusnya sudah kita sadari sejak lama. Ia mengajarkan kita untuk ikhlas, tawakal, tidak terlalu mengejar kebahagian dunia, memberikan manfaat pada orang lain, dan jangan lupa pada ‘hari akhir’ kita. Bahkan aku merasa apa yang dikatakan Mark dalam buku ini, ada beberapa yang mirip dengan apa yang dikatakan kitab suci. .

Dan, sebagus-bagusnya buku ini, ada hal yang membuatku agak jengkel. (1) ada banyak pengulangan ‘makna’ dan kalimat bertele-tele yang membuatku kadang bosan (2) setidaknya penerbit memberikan ilustrasi atau gambar atau apalah untuk membantu pembaca mengingat apa yang dibacarakan pada bab/halaman tertentu, karena memang banyak sekali hal yang disampaikan pada buku ini, dan kita tidak mungkin ingat semua.

Pada akhirnya, membaca buku Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat adalah pengalaman menyenangkan yang bisa membuatmu membuka mata, pikiran, lebih lebar lagi tentang dunia ini. Ia menyajikan pemikiran-pemikiran yang membuat kita berpikir ulang tentang suatu hal yang sudah terlanjur kita amini selama ini.

Dan setelah membacanya, jika kamu ingin menerapkan apa-apa yang dikatakan buku ini atau tidak, itu masalah lain. Tapi setidaknya, ketika kita selesai membaca buku ini, kita merasa seperti manusia yang ‘sedikit’ beruntung di antara manusia-manusia lainnya.***

Membaca Kumcer Cemara (Hamsad Rangkuti)

Seseorang pernah bilang bahwa karya sastra yang sukses adalah ia yang mampu ‘merekam’ suatu peristiwa, masa, sebagai bahan renungan yang nantinya dibaca di masa mendatang. Dan buku kumcer Cemara karya Hamsad Rangkuti, setidaknya menurutku, adalah karya sastra yang seperti itu.


Ada 15 cerpen di buku ini. Sebagian besar mengangkat tentang kehidupan sehari-hari: bagaimana seorang anak muda yang tidak bersosialisasi, wanita yang suka pamer perhiasan, para petani, hingga tender.

Ketika membaca cerpen-cerpen di dalam buku ini, aku menemukan beberapa istilah yang jarang kujumpai. Aku harus kembali membuka KBBI di sela-sela membaca buku untuk mengerti maksudnya.
Seperti ‘Menjangan’, istilah ini baru aku temui di buku ini, dan artinya adalah hewan rusa; kijang. Jika aku tidak membuka KBBI, mungkin aku akan sulit membayangkan apa itu ‘Menjangan’.

Tidak hanya satu-dua, ada beberapa istilah semacam itu yang bisa kamu temui di kumcer ini. Maklum saja, sebagian cerpen ini diberi titimangsa pada tahun 80-an!

Tidak seperti Danarto, maestro seangkatannya itu, cerpen-cerpen Hamsad Rangkuti terkesan tidak menyampaikan pesan apa-apa. Maksudku pesan yang berupa sebuah seruan untuk berbuat baik dan sebagainya.

Dalam cerpen Hamsad Rangkuti, aku lebih sering menemukan ‘hiburan’, terkait pesan, agaknya itu tergantung kita para pembaca, ingin pesan itu seperti apa dan bagaimana, itu terserah pada pembacanya.

Jika dirasa secara sekilas, cerpen-cerpen Hamsad disampaikan dengan sangat sederhana. Entah bagaimana aku menjadi merasakan candu ketika membaca kalimat demi kalimatnya padahal tidak ada akrobat yang wah dari narasinya. Semuanya murni ‘cerita’, ya, Hamsad Rangkuti bisa dibilang mendongeng melalui cerpen-cerpen yang ditulisnya.

Mari kita lihat isi buku ini.

Sebenarnya aku menyelesaikan membaca buku ini pada September tahun lalu, dan sialnya aku lupa untuk membuat resensi. Jadi, dari beberapa bulan yang lalu, cerpen yang masih melekat di kepalaku adalah: Masa Muda Saya, Perhiasan, Muntah Emas, dan Jembatan.

Di dalam cerpen Masa Muda Saya, Hamsad menulis tentang anak muda yang anti-sosial yang hidup di indekos. Semua tetangga membicarakannya, tapi ia hanya cuek: sebuah sikap yang mungkin banyak melekat di anak muda antar-zaman.

Saya paling suka mengurung diri di dalam kamar begitu saya sampai di rumah indekosan saya. Saya hidupkan lampu. Saya pun membaca buku atau membaca karangan-karangan sahabat saya di majalah-majalah ataupun di koran-koran. Saya tidak suka membaca karangan dari pengarang yang tidak saya kenal. Sebetulnya itu tidak baik, tapi begitulah sifat saya. Sehingga sifat jelek itu berakibat ke dalam pergaulan saya sehari-hari. Saya tidak mau bertutur sapa dengan dengan orang yang tidak saya kenal.

Begitulah paragraf pembuka cerpen tersebut. Langsung pada intinya! Melalui cerpen ini Hamsad menyinggung sifat pemuda yang menutup diri, tidak mau bersosialisasi, yang sialnya sangat relevan padaku!

Tapi, uniknya, hal itu dibuat sangat menggelikan oleh sang maestro.

“Kumisnya jarang, seperti kumis kucing. dia kira kumis seperti itu menarik? Saya jijik melihat kumis seperti itu. Tapi angkuhnya bukan main. Dia tidak pernah mau menegur kita. Si Kucing  dungu itu.”

Saya ambil cermin. Saya lihat muka saya. Saya hitung kumis yang tumbuh di bawah hidung saya. Memanjang, seperti tonggak-tonggak.

Kemudian di dalam cerpen Muntah Emas, Hamsad membuat cerita tentang sebuah muntah di lantai (bus yang penuh) dekat salah satu bangku yang membuat orang-orang tidak mau mendudukinya. Namun tokoh ‘Aku’ tetap duduk di bangku itu tanpa memedulikan muntah tersebut dan orang di sekitarnya yang berdiri dan menunggu reaksi apa yang akan terjadi pada tokoh ‘Aku’.
Orang-orang terheran kenapa ‘Aku’ bisa tidak jijik dengan mutah itu.

Aku perhatikan muntah itu. Beberapa potongan yang masih utuh memberi tanda makanan apa yang baru dimakan orang yang memuntahkan muntah itu. Potongan mi, daun selada, potongan-potongan kecil bakso. Semuanya berwarna kuning berlendir.

Dari narasi di atas, tentu dapat kita simpulkan tidak ada pesan apa-apa yang ingin disampaikan. Ia hanya sedang membuat ‘hiburan’ yang membuat pembaca penasaran dengan tokoh ‘Aku’ yang kuat dengan muntahan itu. Dan ya, jawabannya ada kaitannya dengan judul cerpen: Muntah Emas.

Pada akhirnya, membaca cerpen-cerpen Hamsad Rangkuti adalah menyelami dunia dongeng yang membuat siapa saja terhibur, dan bagi sebagian orang, membaca cerpen Hamsad adalah pergi ke masa lalu yang direkamnya untuk kita yang hidup di masa sekarang. Mari doakan beliau semoga tenang di alam sana. Aamin.

Membaca Kumcer Ikan-Ikan dari Laut Merah (Danarto)

Membaca cerpen-cerpen Danarto adalah menyelami dunia yang penuh dengan nilai-nilai sufistik, surealis, ketauhidan hingga asketisme. Kendati sebenarnya setiap cerita yang ditulis adalah sebuah keseharian biasa. Bahkan kamu akan sering bertemu dengan tokoh ayah, ibu, dan anak. Hubungan ayah dengan anak, sebuah keluarga dengan tetangganya, dan seputarnya.

Setelah aku selesai membaca kumpulan cerita pendek ini, aku menemukan kecenderungan dalam tiap cerpen yang ditulis Danarto. Yakni ia pasti mempunyai kejutan di akhir cerita, dengan membangun  cerita perlahan di awal, menggunakan bahasa yang sederhana, membangun tokoh, situasi, konflik dengan sabar hingga akhirnya kejutan itu muncul dengan cerdiknya.

Yang membuat berang kadang kala apa yang diceritakan di awal tidak terlalu penting untuk mencapai ending. Tapi jika tidak membacanya, kita tidak akan tahu jalan cerita. Danarto seperti sedang membuat kesan bahwa ia sedang menari-nari dengan cerpennya dengan lihai.

Selain masalah sehari-sehari, buku ini juga mengangkat sejarah yang dikemas dengan cara yang unik. Seperti 'O, Yarusalem' dan 'Alhamdulillah, Masih ada Dangdut dan Mi Instan'.

Membaca cerpen Danarto juga terasa seperti diceramahi dengan sangat lembut. Jika kita mau berpikir sejenak untuk merenungi tulisannya, kita akan menemukan nilai yang melimpah.

Ia juga mengangkat ‘kekakuan’ dalam beragama. Contohnya seperti di dalam cerpen Telaga Angsa.
“Moral dan agama ada pada keindahan kesenian itu, kalau Eyang puas atas pertunjukkan balet Rusia itu, ini artinya balet Rusia itu telah berdakwah tentang kebenaran.”
“Sekalipun mereka atheis?”
“Sekalipun mareka atheis.”

Dan melalui cerpen Si Denok, Danarto menyinggung selera seni anak muda yang sangat kaku. Di mana Sukarno mempunyai banyak koleksi patung wanita telanjang (dan nyatanya memang begitu), dan para anak muda protes karena hal itu bertentangan dengan idielogi mereka yang mengaku punya jiwa revolusioner.

“Koleksi seni rupa Bung bertentangan dengan nilai-nilai ketimuran kita yang luhur dan agung,” sela seorang pemudi.

“Lukisan dan patung wanita telanjang adalah lambang keindahan. Jika nilai-nilai ketimuran kita bukan keindahan, lebih baik aku tinggalkan.”


Tidak afdol jika kita tidak membahas cerpen yang menjadi judul buku ini. Ikan-Ikan dari Laut Merah bercerita tentang bocah anak nelayan yang mempersembahkan ikan kepada Rasul.

'Hidup sezaman dengan Kanjeng Rasul Muhammad rasanya seperti hidup di lingkungan yang tertata rapi dengan sendirinya. Dalam segala hal, kami umatnya, diayomi seperti bibit tanaman kecil yang dipeluk dalam dadanya dari badai gurun.'

Ikan yang dipersembahkan itu diambil di Laut Merah, ia melompat sendiri ke parahu dan meminta untuk dipersembahkan kepada Rasul supaya ia dielus dan masuk surga.

Jika dibaca secara sekilas, memang cerpen ini terkesan sangat surealis. Tapi jika ditilik dari sudut tasawuf kita akan menemukan banyak nilai.

Seperti yang dikatakan Om Edi Mulyono di pengantar buku: ikan besar dan keledai itu simbolis patut benar untuk ditafsirkan sebagai umat Rasul. Ketika kedua makhluk itu berjuang keras supaya bisa berjumpa dengan Rasul—untuk kemudian mati—dapat diterjemahkan bahwa sikap tersebut merupakan mengikuti segala apa yang diajarkan Rasul. Dimensi syariat cukup terwakili dalam “dielus-elus” Rasul. (….) kemudian, situasi syariat itu diberanjakkan dengan narasi “Air mata ikan itu berderai dan mulutnya tak mampu berkata apa-apa” menuju kedalaman batin, dan intuisi, dan tepat pada derajat demikianlah (air mata) dimensi ontologis yang amat mendalam, puncak ittihad, memandu dan melebur pada diri. Tuhan-dan-makhluk memanungggal dalam simbolisme air mata.

Pada akhirnya, buku kumpulan cerpen Ikan-Ikan dari Laut Merah adalah sebuah buku yang dapat dinikmati dari berbagai sudut pandang, kaya nilai, dan menggugah hati karena kepasrahan yang sering muncul ke permukaan.***