P [Cerpen]

saat ini saya ingin keluar rumah. sendiri menyusuri jalan sambil melihat langit sore. satu hal yang masih terus saya ingat, bahwa langit terbuat dari lautan lain di dunia ini. di sana ada kehidupan yang sama seperti di sini, dan saya meyakini itu dari kecil.

saat saya duduk di tepi jalan yang berdebu, seorang peri turun dari langit diiringi polisi awan yang berseragam oranye. mereka berjejer rapi dan angin sore meniup rambut mereka yang klimis dan rapi.

saya melihat mereka turun perlahan ke sebuah danau yang tak jauh dari tempat saya duduk. maka saya pergi ke danau itu dan menanti mereka mendarat. terlihat peri itu berpakaian serba putih dan bercahaya samar, sedangkan polisi awan mengenakan pakaian serba oranye dan tegap. saya jadi ingat pemuda pancasila.

saya duduk di tepi danau, tak ada siapa-siapa, hanya saja nyamuk mulai banyak bersarang di kaki saya. membuat kulit saya banyak yang bentol-bentol. tapi hal itu tidak menyurutkan antusias saya terhadap kedatangan makhluk langit itu.

jika orang melihat ke atas, seharusnya juga melihat seberkas jejak di langit seperti roket yang pergi ke luar angkasa. namun bedanya yang satu ini berwarna oranye dan berekor kekuningan.

saya melihat ke sekeliling saya begitu sepi, sebentar lagi malam bakal tiba. namun makhluk langit itu tidak juga sampai ke danau. saya jadi semakin bosan dan memanggil-manggil mereka.

“ayo cepat, turun!”

kata saya, yang saya sendiri nggak tahu apa tujuan saya berkata seperti itu. seorang peri di barisan paling depan seolah adalah panglima dari rombongan itu. saya menunjuk-nunjuknya sambil mengisyarakatkan untuk segera turun sebelum malam tiba.

tapi seolah seperti slow motion, mereka begitu terlihat lambat untuk sampai ke danau. maka saya mencari cara agar mereka bisa cepat sampai. saya memanggil orang-orang di sekitar danau untuk menyerukan peri agar segera turun.

tak lama, tepi danau sudah terisi oleh banyak orang. mulai dari tukang bakso, tukang ojek online, anggota DPR, hingga anak kecil, sampai bapak saya sendiri yang cuma pakai sarung dan bertelanjang dada. kami sama-sama menyerukan kepada peri untuk cepat turun sebelum malam tiba.

“Turun! Turun!”

teriak kami serentak. 10 menit lagi agaknya matahari sudah tak terlihat. peri itu tersenyum kepada kami dan mengangkat tongkatnya sambil merapal mantra. ketika ia mulai mengayunkan tongkatnya ke arah kami, terlihat bintang-bintang kecil gemerlapan di ujung tongkat itu, berputar dan akhirnya menuju ke arah kami.

entah apa yang terjadi selanjutnya, sore itu menjadi terang kembali. matahari menjadi dua: di barat dan timur. barat berwarna biru, dan timur berwarna kuning spongebob. semua itu terjadi hanya dalam sekejap mata.

saya melihat ke orang-orang sekitar, mereka juga kebingungan. apa yang terjadi?

peri akhirnya sampai di atas danau, ia mengambang berdiri di atas air. sedang polisi awannya menunggu di atas pohon-pohon.

“Apa maumu?!” tanya saya sambil berteriak.

peri bergeming, dan hanya memberikan seulas senyum yang siapa saja yang melihatnya akan setuju bahwa ia adalah wanita paling cantik yang pernah mereka lihat sepanjang hidup dan tak pernah terbayangkan kecantikan semacam itu di kepala manusia. peri itu berbadan sempurna, bercahaya tipis, dan aura itu, tak datang dari bumi.

“Aku akan membawamu pulang,” kata peri padaku.

aku tak mengerti dengan apa yang dikatakan peri. tapi detik selanjutnya badan saya terasa melayang, dan berpindah ke sampingnya. harum wangi menyeruak dari tubuh peri, yang sepertinya ini wangi surga atau semacam itu.

“Sudah tidak ada kata bermain,” kata peri, saya hanya diam dan meringis.

Bapak saya terlihat kebingungan dengan apa yang terjadi, ia hanya mematung di sana. sarungnya sedikit melorot.

lalu saya dibawa peri ke awan hanya dalam hitungan 5 detik, di sini saya diajarkan bagaimana menggunting kuku kucing raksasa. di sini saya diajarkan untuk merawat kucing raksasa ini, di atas awan. dia adalah sumber kehidupan, kata peri.

kami tinggal di antara bulu-bulu kucing, bersama orang-orang lainnya. dan sepanjang hidup merawat kucing ini agar ia bisa terus berpindah dari awan satu ke awan lainnya.

kata peri, saya terjatuh dari punggung kucing ketika umur saya 6 bulan. lalu ditemukan oleh keluarga manusia yang mengurus saya sampai detik ini. hari ini adalah hari kepulangan saya ke rumah setelah sebelumnya mereka memantau saya dari atas awan.

saya tidak menyangka ternyata benar di awan ada kehidupan.***

Zara [Cerpen]

Apa yang lebih menyedihkan dari kedatanganku padamu, Zara? Aku jatuh cinta dan memikirkan bagaimana cara melepasmu—di detik yang sama.

Aku menyukai semua yang melekat padamu, dan semua yang pernah melekat padamu.

Namun, bagaimana caraku untuk pulang, Zara? Aku tersesat di matamu yang lautan bunga, dan senyummu yang candu. Saat pertama kali melihatmu, aku adalah orang yang ingin menjadikanmu tempat ibadahku. Darimu aku mendapatkan surga, dan hanya padamu aku menyembah.

Zara, kuingin kamu tahu ketika mata kita bertemu, aku ingin menjadi angin yang bisa leluasa memelukmu. Namun, sama seperti angin, ia mudah berlalu.

Jika kamu dengar deru ombak, itu adalah jantungku saat bibirku mencium bibirmu. Sepotong bibir yang manis, dan katamu ini terbuat dari tebu yang kamu tanam di halaman rumahmu di dataran tinggi.

Saat jemariku bermain di antara helai rambutmu, Zara, aku adalah ikan yang tersesat sampai ke samudera, mencari ujung dunia namun yang kutemukan hanyalah kamu. Rambutmu adalah malam yang pekat, dan aku memujamu dari surau paling sepi di ujung jalan desa.

Tapi, aku ingin kamu tahu bahwa aku memikirkan bagaimana caraku untuk pulang, bagaimana caraku melepasmu. Kembali ke rumah yang telah kupupuk dari serakan patah hati yang tak pernah kamu bayangkan.

Saat sebelum bertemu denganmu, aku adalah manusia paling rapuh yang pernah berpikir menjadi abu adalah cara lain menjadi hidup.

Lalu kamu, Zara, katakan satu napas saja agar aku bisa paham kenapa dunia begitu menakutkan bahkan untuk orang dewasa seperti kita. Kamulah yang aku imani saat ini, kata-katamu adalah sabda, ciumanmu adalah obat lara.

Kumohon, Zara, jika kamu tak ingin aku di sini, buat aku menyesal karena pernah menatap matamu. Di sana setengah nyawaku terenggut, dan kamu permainkan, tak pernah kenal kata cukup.

Saat kamu memelukku, Zara, aku seperti menyentuh bulan di malam paling sepi dan dingin. Aku ingin memelukmu ketika kepalaku lebih ramai dari perang, lebih tajam dari parang. Aku hanya ingin pelukanmu dan wangi tubuhmu ketika aku tak percaya siapa-siapa.

Tapi, Zara, akhirnya kamu berkata bahwa wanita sepertimu tak pernah percaya segala hal yang mengikat. Kamu dan aku datang dari trauma yang sama, dengan awal dan akhir yang sama.

Aku tahu sejak awal kamu pun memikirkan hal yang sama ketika mata kita bertemu. Bahwa orang ini hanya singgah, dan suatu saat akan pergi seperti yang sudah-sudah.***


Juki [Cerpen]

Adalah sepasang mata Juki yang melihat perempuan itu melewatinya dengan begitu anggun. Pipi merah merona, rambut bergelombang sedikit pirang, dan bibir yang agak tebal seperti awan Jakarta malam itu. 

Juki baru saja bermandikan keringat, debu, dan pasir bak adonan di tubuhnya yang coklat. Ia sedang menunggu gantian mandi dengan teman satu mesnya, pekerjaan proyek hari itu selesai jam 11 malam.

Perempuan itu menyita perhatian Juki yang seperti baru saja kerasukan cinta pertamanya. Cinta yang sama saat ia di TPQ dan jatuh cinta dengan sepupunya sendiri. Meski kejadian sudah lama berlalu, tapi rasanya terkadang muncul dan bisa datang suatu saat di waktu yang berbeda, seperti malam itu.

Mata Juki bagai kucing di tengah kegelapan, ia menelisik jauh sampai perempuan itu tertelan gelap malam. Aku seperti melihat bidadari, gumamnya.

“Gantian mandi, Juk, nanti diserobot Si Kumbang,” kata temanya, Si Cacing, sekonyong-konyong mengganggu lamunan Juki yang mulai liar.

Juki cepat berdiri, dan berjalan ke kamar mandi yang terbuat dari triplek sisa proyek. Di sana ia mandi dan terus membayangkan lekuk tubuh perempuan yang baru saja dilihatnya.

***                                                                

Setelah beberapa hari di jam yang sama, Juki selalu memperhatikan perempuan itu. Akhirnya perempuan itu sadar akan keberadaan Juki. Saat Juki melihatnya mulai menjauh, terlihat samar lambaian tangan.

“Ia memintaku kesana?” gumamnya seperti orang tolol.

Juki yang saat ini bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek berlogo Manchester United, mendatangi perempuan itu dengan hati-hati. Layaknya anak kecil yang baru dikenalkan huruf abjad, Juki dengan saksama menelisik dari ujung kepala sampai ujung kaki perempuan di depannya.

“Mau apa kau?” ketus perempuan itu ketika Juki sudah di depan hidungnya.

Juki tak menjawab, kaku, kelu, seluruh tubuhnya dingin, menyatu dengan malam Jakarta saat itu.

“Aku tau laki macam kau, bajingan goblok yang mau menggadaikan masa depan untuk kesenangan sementara,” perempuan itu mendengus, “aku tau kau mau badanku.”

Juki menelan ludah, pupil matanya melebar, penglihatannya jadi lebih terang dari sebelumnya.

“Lima ratus ribu sekali main,” ucap perempuan itu, matanya kemudian memutar seolah tak sabar dengan sikap naif Juki yang sangat ketara.

“Mau nego? Bisa,” tambahnya.

Juki yang seolah tersirna oleh kecantikan perempuan itu–setidaknya menurutnya–kemudian mengeluarkan tiga lembar uang seratus ribuan dari saku celana logo Manchester Unitednya. Perempuan itu menerima.

“Ok, deal, ikuti aku dan jangan berisik.”

Juki mengikuti perempuan itu dari belakang seperti anjing yang menuruti majikannya. Ia melihat perempuan itu dari belakang yang terbalut kaos polos putih oversize dan celana jeans pendek sampai terlihat putih pahanya. Tubuh yang berisi, pinggul yang proporsional, dan kaki yang agak gemuk. Juki taksir umur perempuan itu di akhir 30an, sama sepertinya.

Juki sebenarnya sangat menyukai mata perempuan itu, yang terlihat tegas dan mengintimidasi, namun ia yakin sebenarnya di balik mata itu ada sosok yang rapuh dan penyayang.

Mereka sampai di depan sebuah kamar dengan pintu coklat yang terlihat cukup terawat, perempuan itu masuk disusul Juki. Matanya kosong, entah apa yang ada di batok kepalanya saat itu.

“Mandilah,” kata perempuan itu pendek.

Juki menuruti kata perempuan itu dan masuk ke kamar mandi yang tidak terlalu besar, hanya cukup untuk satu orang. Di sana ia temukan peralatan mandi seperti sabun, sikat, dan lainnya tertata rapi. Ia cepat mandi dan keluar dengan sehelai handuk biru berlogo Chelsea.

Juki duduk di ujung ranjang dengan sprei berlogo Barcelona yang mendominasi, kemudian perempuan itu mengelus pahanya. Juki hanya bisa diam dan menikmati sensasi itu, tangan perempuan itu terasa begitu lembut.

Kemudian perempuan itu mulai mendekatkan kepalanya ke pundak Juki, Juki semakin mencium aroma harum dari badan perempuan itu, wangi mawar, ya wangi mawar yang samar-samar.

Malam itu lampu kamar antara menyala atau tidak, tipis saja, Juki mulai bernafas tak beraturan, perempuan itu masih tenang dan terlihat profesional.

“Nggak usah tegang, goblok!” bentak perempuan itu pelan tapi nyelekit.

Juki hanya bisa mematung dan mencoba rileks.

Saat perempuan itu baru ingin mendaratkan ciuman di pipi Juki, terdengar satu pesan masuk ke hp Juki.

Juki yang melihat ke arah meja di mana hpnya tergeletak, melihat samar satu notifikasi SMS masuk, ia mengernyitkan dahi dan memfokuskan pandangan pada layar hpnya:

“Kamu belum kirim? Anakmu butuh susu.” Isi pesan itu terlihat di layar.

Juki, sekali lagi, hanya bisa mematung seolah terbius oleh harum perempuan itu yang membuatnya sangat nyaman berada di sana.

Tak lama kemudian, ia menyadari bahwa dirinya dan perempuan itu sudah tak menggunakan sehelai kain pun. Juki tak ingat apa-apa, dan tak merasakan apa-apa. Yang ia tahu pistolnya sudah lemas seperti kentang rebus.

“Sudah selesai,” kata perempuan itu.

Juki mulai berkemas dan sorot matanya melihat ke arah tubuh bugil perempuan itu, perempuan yang kemudian ia menyebutnya Si Mawar. Ia keluar dari kamar itu dan tak lupa hp android yang sudah ia kenakan dua buah karet di bodynya—karena terkadang baterai di hpnya tak berfungsi dan dengan mudah kapan saja drop—dibawanya dan dimasukan ke saku.

Ia pulang dengan berjalan menyusuri jalan gelap yang sama ketika ia datang ke tempat itu, tak jauh, hanya sekitar 30 meter.

Seolah tak terjadi apa-apa, ia kemudian tidur di mesnya dengan selembar kardus air mineral. Ia tak cerita kepada siapa-siapa, dan hanya tidur yang ia inginkan untuk saat itu. Tidur adalah pelarian paling murah yang ia tahu.

***

Hari-hari selanjutnya, ia hanya bisa melihat perempuan mawar itu dari kejauhan tanpa menidurinya. Karena ia tak punya uang lagi. Pada saat dimana ia mendapat bagian upahnya, ia datang ke tempat perempuan mawar itu dan tanpa tedeng aling-aling ia bilang, “Aku mau semalam denganmu.”

Dan malam itu Juki seolah terlahir kembali, ia begitu menikmati tiap sentuhan perempuan mawar itu. Bibirnya yang bau Samsu dilumat habis perempuan itu dengan saksama, dan lumatan lainnya yang membuatnya seolah berada di surga dan segala bentuk janji manis untuk orang yang berbuat baik selama di dunia.

Juki menikmati surganya malam itu, ia terkekeh, tersenyum, merengkuh, mendesah, di riuhnya malam Jakarta yang jahanam.

***

Esoknya uangnya lenyap, ia sudah habiskan di satu malam bersama perempuan mawar. Ia datang ke proyek dengan mata merah dan wajah tak menyenangkan, ia begadang sampai subuh untuk menikmati tiap detik bersama perempuan mawarnya.

“Semalam kau kemana?” tanya Si Kumbang, orang paling ditakuti di antara kuli dan tukang bangunan.

“Bukan urusanmu, aku mau kerja, jangan ganggu,” ucap Juki acuh tak acuh.

“Istrimu menelponku.”

“Peduli setan.”

“Katanya istrimu sudah lama tidak kau sentuh, aku menyuruhnya untuk mencoba sendiri atau kalau sudah tak tahan, aku bisa melayani saat itu juga.”

Juki cuma diam. Saat itu dadanya adalah api.

“Aku bohong,” Si Kumbang terkekeh, “istrimu menelepon Si Cacing karena malam itu kau tidak ada kabar.”

Juki sudah kadung diselimuti amarah, tanpa babibu, Juki meninju mulut Si Kumbang dan darah segar keluar begitu saja. Juki mengerang kesakitan, begitu juga Si Kumbang. Tangan Juki ikut berdarah karena terkena gigi depan Si Kumbang yang kuning kecoklatan.

Tak lama kemudian area proyek sudah seperti arena tinju bebas dadakan. Tak ada yang melerai, karena semua sudah benci dengan si Kumbang dan ini saatnya melihat orang yang berani mati melawan jagoan itu.

Si Kumbang pun balas menyeruduk Juki sampai terpelanting di tumpukan pasir yang baru saja datang pagi tadi. Juki berusaha berdiri, orang-orang mengerumuni mereka dengan menyemangati Juki. Juki yang tidak memiliki ilmu apa-apa, hanya badan yang ia tempa di tempat proyek, mengandalkan nyali dan keberuntungan.

Juki mulai mendekati Si Kumbang dengan perlahan, ia pasang kuda-kuda, begitu pula si Kumbang. Orang-orang sorak sorai meneriakan nama Juki berkali-kali, ia adalah pahlawan bagi mereka.

Juki dan Si Kumbang sama-sama mengamati pergerakan masing-masing, saling memutar otak dan strategi untuk mencari celah untuk menyerang dengan telak.

Ketika melihat Si Kumbang ingin menyeruduknya lagi, Juki langsung melemparkan pasir tepat ke arah mata Si Kumbang, pasir yang ia rengkuh dari kejatuhan pertamanya tadi. Pasir itu otomatis membuat penglihatan Si Kumbang kabur dan menjadi kesempatan Juki untuk menyerang.

Sorak sorai semakin bergemuruh ketika Juki mulai meninju telak rahang Si Kumbang, yang membuat badan besarnya mulai goyah, Juki kembali meninju perut Si Kumbang, kemudian menendang dengkulnya sekuat tenaga sehingga membuat Si Kumbang terjatuh ke depan.

Hal itu dimanfaatkan Juki untuk mencekik dari belakang dan kesempatan itu tak ia sia-siakan, cekikan Juki yang bercampur tabungan amarahnya dan teman-temannya membuatnya begitu bersemangat.

Sedang Si Kumbang terus mencoba melawan, ia sekuat tenaga menjatuhkan Juki yang berada di atas badan besarnya. Tapi siapa saja yang melihat perkelahian itu akan tahu siapa yang akan kalah.

Tubuh Si Kumbang mulai lemas, nafasnya sudah sulit karena lengan Juki sudah seluruhnya masuk ke lehernya. Seperti kesetanan, Juki ingin membunuh Si Kumbang saat itu juga. Namun Si Cacing yang melihat Si Kumbang sudah tak berkutik, melerai perkelahian itu.

Si Kumbang terkapar seperti tai kucing, kemudian Juki diarak oleh teman-temannya.

“Juki, juki, juki, juki!”

Orang-orang mengelu-elukan namanya. Ketika ia berada dalam kesenangan, ia melihat ke luar, ke arah jalan yang biasanya orang lalui, ia melihat perempuan mawarnya, perempuan itu tersenyum tipis, dan Juki membalas senyumnya dengan memberikan ciuman jarak jauh ala remaja baru kasmaran.

“I lope you,” kata Juki mengikuti yang di film-film.

Meski tak ada yang tahu apakah yang berada di sana benar perempuan mawar yang dimaksud Juki.

***

Beruntungnya, atas kejadian perkelahian tersebut, tidak ada yang mengadu pada mandor. Semua kuli dan tukang senang karena Si Kumbang sudah hancur harga dirinya. Membuat mereka jadi lebih leluasa bekerja tanpa takut diusili oleh Si Kumbang yang sering kelewatan.

Malamnya, Juki datang ke tempat perempuan mawar itu, dan disana ia disambut dengan baik. Perempuan itu membantu Juki menyembuhkan luka-luka kecil di tubuhnya yang keras seperti beton dengan kapas dan alkohol.

Bak pasangan baru, mereka kemudian berciuman, bercumbu, dan bercinta sampai pagi.

“Hari ini gratis, besok bayar, ya.”

Juki hanya meringis mendengar kata-kata itu keluar dari mulut yang sama yang melumat tiap jengkal tubuhnya, dan ia mulai menyalakan rokok samsunya, mengebulkan asapnya perlahan. Pikirannya mulai tenang, dan bergumam: sedang apa istriku sekarang?***

SEPOTONG BULAN UNTUK MANTAN PACARKU

Mantan terindah, termanis, tercantik dan kuyakin akan selalu cantik. Apakah masih ada rindu padaku di hatimu? Barang setitik? Jika masih, tuntaskanlah.

Mantan, kita pernah menjalin kisah indah, atau jika aku tidak munafik, kukatakan tidak hanya indah, namun ada gundah, amarah, susah, banyak lagi. Seperti yang kautahu, aku adalah pria yang sangat suka bertele-tele, jadi maafkan saja jika tulisan ini lumayan panjang.

Surat ini akan kukirim padamu, bukan sembarang surat, di dalam amplop ini juga ada sepotong bulan. Jika kau tak percaya, buktikan saja sendiri, ketika kau buka amplop ini akan ada rasa betapa dahsyatnya permukaan bulan yang kupotong pada kemarin malam. Rasa yang tak berbeda jauh ketika kita pertama kali saling bergandengan tangan di tepi danau itu.

***

Malam ini langit cerah. Ada bintang, kunang-kunang, pohon bergoyang digoda desir angin malam, dan tak lupa kudiskripsikan di sini: sepasang muda-mudi di bawah pohon sana yang sedang dimabuk asmara, bercumbu, dirasuki setan. Sayang, punyamu hitam, kata si perempuan.

Lihatlah, dan baca ceritaku tantang pengiriman sepotong bulan ini: malam ini rencananya akan kukirim surat ini, setelah malam kemarin kucuri sepotong bulan dari peraduannya.

Awalnya…, hai Mantan, masih di situ? Aku ulang ya… awalnya, aku hanya ingin mengembalikan memorimu tentang kisah cinta kita. Di mana kau dan aku bertemu dalam sebuah malam cerah di sebuah ruang dan waktu yang sama. Hanya itu niatanku.

Kamarin malam, aku seperti pencuri, dan memang aku pencuri, aku menggunakan sarung untuk menutupi wajahku, dan amplop yang kubawa untuk memasukan sepotong bulan. Dan hasilnya malam ini bulan tersenyum pahit karena sebagian permukaannya telah kucuri, dan bintang berbinar seperti lampu jalanan yang baru saja direnovasi, seakan mereka sedih, sang bulan disakiti olehku.

Langsung saja kutebas sepotong bulan itu dengan sebilah pedang. Tidak cukup dicoba sekali, namun berkali-kali hingga penduduk dunia ketakutan dengan bunyi yang ditimbulkan. Semua orang panik, dan tugasku hanya satu, memberikan sepotong bulan untukmu, apa pun nanti yang terjadi. Pikiranku cuma ada satu, kamu.

“Dia mencoba mencuri bulan!” teriak seseorang dari kejauhan sambil mengacung-ngacung ke arahku.

“Benar, dia mencurinya!” saut yang lain.

Ketika itu aku sedang di atap rumah, dengan sarung yang menutupi wajah, berharap identitasku tak ketahuan seseorang pun.

Mendengar teriakan mereka, aku terus mencoba menebas-nebas potongan bulan yang ternyata sangat keras, tidak semudah yang kubayangkan sebelumnya, kukira bulan permukaannya seperti agar-agar. Aku terus menebas bulan, dan sebuah amplop siap sedia di tangan yang lain jika potongan-potongan bulan terjatuh dari atas sana seperti potongan keju yang berkilauan.

Sepotong bulan yang terjatuh masih bersinar sesuai semestinya, dan aku pasti tahu, Mantan, kamu akan menyukainya.

Jadi, kamu tidak usah lagi keluar kamar untuk menikmati bulan, tidak usah lagi keluar malam sendirian, tidak usah lagi menatap bulan hanya dari jendela kamarmu. Kini, sudah ada sepotong bulan untukmu, jika kamu ingin menikmati bulan, ambil potongan ini dan taruh di tempat yang kamu suka. Di atap kamarmu, misalnya.

Dan, Mantan, ketika kaunikmati potongan-potongan bulan itu, kau akan ingat padaku, kau akan ingat semua tentang kita, tentang pelukan kita, ciuman kita, tangis kita, sial kita, dan semua hal yang telah kita lakukan bersama. Ya, aku yakin, kamu pasti akan ingat itu semua jika menerima sepotong bulan ini.

Hahaha.. Tapi, Mantan, jangan kaunikmati potongan bulan itu ketika sedang ada suamimu. Aku takut, jika ia tahu, kau akan dimarahi dan semuanya menjadi di luar rencana. Nikmatilah kala kau sepi. Kau tahu, bukan? Bulan sendiri tidak setiap hari ada di jendela kamarmu,  tak selalu ada di awan hitam sana, terkadang ia hanya berupa potongan kecil melengkung atau bahkan tidak ada sama sekali. Dan ya, ketika seperti itulah waktu yang tepat kaunikmati potongan bulan yang kukirimkan ini.

Sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengirim surat ini, kupercayakan kepada angin malam, ia akan membawakannya tepat di samping peraduanmu. Jika surat ini sampai, maka akan ada kesilauan yang temaram, lalu kamu terbangun. Kupercayakan kepada angin.

Kulipat surat ini, kulempar dan kubiarkan angin membawanya ke tampatmu. Sedang, semua orang sudah mengepungku, aku hanya diam, tak bisa bergerak, tenggorokanku tercekat, aku siap, mati.

“Dia pencuri bulan!”
“Bakar!”
“Bunuh!”
“Habisi saja!”

Semua orang berteriak sambil mengacungkan senjata tajam mereka masing-masing, seolah bulan adalah anak mereka sendiri yang dicabuli olehku, mereka begitu marah, wajah-wajah itu mengingatkanku pada bara-bara api. Aku pasrah, seorang dari mereka naik dan mendekatiku yang berada di atap rumah, dengan kekuatan penuh ia menerjang tubuhku, dan sebilah parang dengan cepatnya menebas kepalaku tanpa ampun, menusuk perutku sampai amburadul, lalu mengangkat tubuhku, menggiring tubuhku yang tak lagi utuh ke sekeliling kampung. Malam itu, di bawah nyala bulan yang temaram, yang kucuri beberapa potong saja. Dan, kini nyawaku melayang-layang, menyatu dengan angin, memastikan surat ini sampai ke peraduanmu.***

*cerpen ini terinspirasi dari cerpen Sepotong Senja untuk Pacarku karya Seno Gumira Ajidarma

Dia Mengingat Sesuatu (Sebuah Cerpen)


sumber gambar: pixbay

Daun pohon kelapa yang berada di ketinggian melambai-lambai, begitu seirama, terlihat seperti manusia yang mencoba belajar menari. Cahaya rembulan yang lembut jatuh di dedaunan menari itu. Jatuh begitu magis, begitu mengkilap-kilap seperti sisik ular.
    Di salah satu pohon kelapa itu ada seorang lelaki—sebut saja namanya Disan—sedang mengganti wadah yang biasa ia gunakan untuk mengumpulkan air nira. Ia harus menggantinya, jika tidak, di hari esok wadahnya akan penuh dan bisa saja membuat wadah itu jatuh karena tidak muat menerima air nira yang terus mengalir.
    Air nira ini adalah bahan utama untuk membuat gula jawa. Banyak di kampungnya yang berprofesi seperti dirinya. Walau penghasilannya tidak seberapa, tak ada pilihan lain bagi Disan. Sejak kecil ia sudah diajari oleh ayahnya tentang bagaimana membuat gula jawa yang baik. Bagaimana cara mengaduknya di atas wajan yang besar, dan bagaimana panas api yang pas untuk kematangan gula itu.
    Seperti pada lelaki pencari air nira pada umumnya, mereka akan membawa arit yang tajam di balik pinggannya, dan beberapa wadah yang terbuat dari wadah cat bekas  digelantungkan di sisi-sisi pinggangnya yang lain. Mereka merayap begitu cepat, tapak demi tapak mereka lewati seperti cicak kebelet kawin.
    Tapi sepertinya, hanya Disan yang bekerja hingga larut malam seperti ini. Teman seprofesinya tentu saja sudah di rumah, bertemu anak dan isterinya, dan berkumpul di rumah  sambil mengobrol ringan tentang anaknya yang mendapat nilai bagus di sekolahnya atau tentang isterinya yang mendapat arisan lebih cepat karena menggunakan nama anaknya. Bahagia sungguh sesederhana itu.
    Ini adalah pohon kelapa terakhir sebelum Disan akhirnya pulang. Ia masih di atas, di antara daun-daun kepala yang menari karena angin dan disirami sinar rembulan yang temaram. Susana seperti ini membuat lelaki 40 tahun itu seperti terlena, sementara ia mengganti wadah untuk air nira, matanya mulai tak kuat menahan angin malam ini yang sejuk, dan sinar rembulan yang sungguh sialan, mengingatkannya pada pandangan isterinya yang setemaram bulan, tapi bedanya rembulan tidak suka pakai daster malam-malam.
    Di kejauhan terdengar adzan isya, samar-samar suara itu dibawa angin dan ditangkap telinga Disan. Karena tahu malam sudah akan larut untuk memanjat sebatang pohon, ia mempercepat pekerjaannya itu lalu turun setapak demi setapak. Angin malam ini dan sinar rembulan memang sialan, mereka meninabobokan lelaki itu, maka setapak demi setapak itu menjadi sulit dijamah. Padahal tanah masih jauh di bawah sana.
    Maka dengan tanpa menyalahkan apa pun, lelaki itu terjatuh ketika kakinya salah menampakkan pada tapak yang telah ia buat 3 tahun 8 bulan 354 hari yang lalu. Ia salah langkah, dan membuatnya oleng, dan jatuh, bersama arit yang tajam, dan wadah yang penuh isi air nira.
    Suara adzan isya sudah hampir habis, dan napas lelaki itu sudah satu-satu, tidak ada yang tahu kapan napasnya akan habis.

***

Suara jatuh yang ditimbulkan cukup kencang, seorang kakek tua yang belum pikun yang tinggal tak jauh dari pohon kelapa itu mendengar suara ganjil dan mencari apa gerangan yang jatuh. Walau ia harus membatalkan wudhunya, dan pergi mencari sumber suara. Ah, nakal sekali-kali tidak apa, masak dari dulu jadi orang baik mulu. Pikir kakek itu, shalat tepat waktu sangat penting. Ia adalah tipe manusia yang datang ke masjid 2 jam sebelum shalat Jum’at dimulai, ia ingin mendapat unta nanti akhirat.
    Kakek itu menyeruduk pintu kamarnya—isterinya yang sudah nenek-nenek melihatnya dengan tatapan tanda tanya—kakek itu mencari senter yang ia simpan di antara dinding-dinding yang terbuat dari anyaman bambu. Dan kemudian berlari ke arah sumber suara yang ia curigai. Intuisinya memang bagus. Ia menyoroti apa saja yang ada, dan sekonyong-konyong mendapati wajah seorang lelaki yang menyedihkan. Wajahnya begitu lelah, darah mengelilingi tubuh itu, darah yang becampur dengan bau air nira. Sungguh momen yang sangat sulit bagi sang kakek. Apa yang harus ia lakukan?
    Maka sang kakek memanggil orang-orang yang ia temui di jalan sepi. Ia hanya menemui 3 orang bocah yang membolos mengaji.
    “Hei, tolong, ada orang jatuh!”
    Dan 3 bocah itu dengan lugunya segera menolong sang kakek. Bocah memang begitu, tidak berpikir panjang ketika ingin menolong. Maka mereka berlari tergopoh-gopoh ke arah di mana lelaki itu terjatuh.
    Salah satu bocah itu seperti mengenal siapa orang yang terjatuh itu. Ia mendakati tubuh malang itu dan melihat wajahnya. Dia ingat sesuatu, dia ingat sesuatu yang tak bisa ia ungkapkan ketika itu juga.***


tulisan ini terinspirasi dari sebuah kejadian di salah satu desa terpencil di Cilacap Jawa Tengah, yang mana kebanyakan lelaki dewasa di sana berprofesi sebagai penderes air nira. sudah banyak kabar tersiar tentang orang yang terjatuh dari pohon kelapa, beberapa ada yang sakit, beberapa ada yang sakit kemudian meninggal, beberapa ada yang sakit kemudian meninggalkan anak dan isterinya. 


SEMUA LELAKI MELAKUKANNYA [CERPEN]



Sekiranya ada waktu luang, Mukesh akan selalu melakukannya. Ia merasa sudah ketagihan, dan sepertinya ia tak mungkin bisa lepas dari itu. Seperti sekarang, lihatlah, ia sedang melakukannya sesuai dengan apa yang telah ia pelajari. Dan ia langsung mempraktikan setelah ia mengerti bagaimana cara terbaik melakukannya. Ia masih mengenakan seragam putih abu-abu (baru saja ia pulang sekolah), dan celananya jadi agak berantakan. Ia terkapar dengan posisi ternyaman di ranjangnya. Seragam putihnya lecek, lihatlah, ia menggelinjang, sudah sampai klimaks, matanya terpejam, mulutnya terbuka membentuk huruf ‘o’ besar, dadanya bergemuruh, dan, detik selanjutnya ia merasakan rileks yang luar biasa. Kemudian tongkatnya yang tadi berdiri tegak, kini tidur perlahan. Lelah.
            “Aku seperti terlahir kembali,” gumamnya sambil melihat langit-langit kamarnya, lalu menghela napas panjang dan membuangnya dengan tenang. “Hidup jadi terasa mudah di tanganku.”
            Mukesh ketagihan masturbasi karena ia pernah ditanya temannya, teman sekelasnya ihwal apakah ia pernah melakukan masturbasi? Waktu itu ia tidak tahu-menahu tentang hal itu, apalagi cara melakukannya, menyentuh kemaluannya pun enggan, kecuali ketika ia kencing, itu pun terkesan malu-malu. Tapi memang remaja itu penuh dengan penasaran, isi kepalanya penuh tanda tanya. Dan ketika ia ditanya sudah melakukan masturbasi apa belum dan Mukesh menjawab belum, ia ditertawakan teman-temannya. Tentu saja waktu itu di kelas tidak ada murid selain pria, itu waktu sesaat setelah pelajaran olahraga; setelah membicarakan teman wanita sekelasnya yang jadi makin montok karena memakai seragam olahraga.
            “Lakukanlah, ingin kuajari sampai benar? Hahahaha…”
            “Kenapa aku harus melakukan?”
            “ Semua lelaki melakukannya, tolol!”
            “Tolol?”
            “Iya, kau tolol!”
            “Aku tidak bisa membayangkan wajah lonjongmu ketika melakukan itu, mungkin seperti itulah gambaran orang tolol, hahaha.”
            Bogem mentah pun mengenai pipinya. Mukesh merintih. Tidak melawan.
            Setelah kejadian itu, Mukesh terus berpikir.  Apakah aku harus mencoba melakukannya? Apakah semua lelaki melakukannya? Jika iya, aku berarti bukan lelaki, dong? Pikirnya. Maka sepulang sekolah sehabis ia ditanya hal itu, ia mencobanya. Tapi ia tak sanggup, ada yang mengganjal di hati. Ditambah pipinya masih nyeri, sakit, seperti ada semut kecil ganas menggerogoti.
            Kenapa aku harus melakukannya? Bukankah lelaki hanya melakukan seks dengan istri atau gundiknya? Kenapa aku harus memperkosa tangan sendiri?
            Hal itu terus menghantui batok kepala Mukesh yang penuh tanda tanya, dan lama-lama ia penasaran juga dan berpikir, bagaimana jika mencoba sekali? Itu bukan ide yang buruk. Maka saat itulah ia benar-benar melakukannya sampai klimaks, dibantu pacarnya yang kebetulan main di rumahnya dengan alasan mengerjakan tugas sekolah bersama. Alasan klise, sebenarnya mereka ingin bercumbu saja, melampiaskan rindu selama ini.
            “Apa kamu tahu apa itu masturbasi, Sayang?” tanya Mukesh pada si wanita sekonyong-konyong, ketika itu tidak ada bahan perbincangan di antara mereka. Ia bertanya begitu polos, datar, tenang, dan si wanita rona wajahnya jadi begitu merah mendengar pertanyaan bodoh itu.
            “Kenapa kamu begitu berani bertanya tentang hal jorok itu padaku?”
            “E, maaf, aku tidak bermaksud—“
            “Bukankah semua lelaki melakukannya? Dan tentu saja kau juga melakukannya, Mukesh!”
            “Tidak, aku belum pernah.”
            “Yang benar?”
            “Benar.”
            “Biar kubantu kau untuk melakukannya. Buka celanamu! Sekarang! Jangan biarkan wanita ini tidak sabar!”
            Mukesh hanya diam, pasrah, telantang. Ini tidak terlalu buruk, pikir Mukesh. Wanita itu melakukannya dengan agresif dan Mukesh merasakan nikmat yang luar biasa. Rasanya seperti terbang entah ke mana, seperti terlahir kembali. Sedangkan setan-setan di pojok-pojok ruangan itu tertawa terbahak-bahak, termasuk di pojok hati mereka yang gelap.
            “Aku bisa melakukan lebih dari ini.”
            “Ehm.. tidak, ini jauh dari cukup. Kau mengajariku banyak hal hari ini.”
            Lalu mereka berciuman, lama, lengket, dan berapi-api.
            Hari-hari selanjutnya, Mukesh semakin keranjingan masturbasi. Sebenarnya pacarnya itu menawari jika Mukesh mau melakukan, ia siap membantunya. Tapi Mukesh tidak secereboh itu, ia takut keblablasan dan bisa saja membuatnya bunting. Seumur mereka, mereka juga sudah bisa bikin anak, jika mau.

***

Sepulang sekolah, tengah malam ketika tidak bisa tidur, pagi hari, di wc sekolah, jika ada waktu luang, Mukesh akan selalu melakukannya. Makin hari ia makin mahir saja untuk melakukan itu. Dan hingga pada satu titik ia berpikir, apa aku tidak terlalu berlebihan? Di tambah pikirannya terbebani oleh sang pacar yang mengaku bahwa ia pernah membantu mantan pacarnya untuk melakukan itu. Jelas Mukesh kecewa pada sang pacar, dan itu semakin membuat pikirannya kacau. “Semua wanita sama saja, lebih baik aku menikah dengan tanganku,” racau Mukesh ketika ia melakukan itu di tengah malam ketika ia tidak bisa tidur.
            Semua lelaki melakukan itu, dan hanya lelaki sejati yang melakukannya dengan sang istri. Dan iya, aku bukan lelaki sejati, pikir Mukesh, tapi tidak apa, dari pada aku meniduri wanita yang belum jadi istriku. Kemudian tongkatnya yang tadi berdiri tegak, kini tidur perlahan. Lelah.