MULAI TERLENA PADA DUNIA?

Seperti biasa di malam Minggu, sekarang gue lagi di suatu tempat sendirian. Sekarang posisinya: gue lagi duduk di dekat kaca menghadap jalan, sepasang muda-mudi lagi pacaran tepat di depan gue (kami terhalang kaca), orang-orang sibuk di depan, belakang, samping gue. Sekarang masih jam setengah sembilan.

Gue lagi di Lawson Olimo, di sini gue mesen good day dan sukro garuda yang renyah minta ampun. Di samping gue ada tv besar, dan setidaknya gue bisa nonton itu tv setelah lama ndak nonton tv selama ini.

Sempat gue tangkap seorang perempuan dengan jilbab dan berkacamata di depan sana: jalan terhalang kaca. Itu menyebabkan sedikit ada bayangan untuk mengingat seseorang. Tapi ya, itu ndak penting.

Bisa dibilang gue sedang mengalami libur panjang. Dan selama dua hari belakangan, gue di kosan terus tanpa keluar. Sekalinya keluar paling buat beli makanan (kalau sudah lapar banget) dan mandi (kalau sudah bau banget). Ya, lebih sering ndekem di kamar sambil baca buku dan nulis dan baca buku dan nulis. Seperti itu diulang-ulang sampai gue jenuh. GUE JENUH!

Omong-omong, karena banyak waktu, gue pun membaca buku yang belum pernah gue sentuh. Dengan kata lain, itu buku belum pernah gue baca selama mejeng di rak buku. Kebanyakan buku nonfiksi yang berbau agama.

Dan gue mulai membaca buku-buku itu. Buku yang pertama menjadi pilihan: 'Agar Anda Selalu Ditolong Allah'. Selama membaca buku itu, gue sadar bahwa selama ini gue lupa-semua-ini adalah ciptaanNya. Gue lupa hal-hal seperti: Dia menciptakan sesuatu ndak sia-sia, Dia selalu menolong, Dia yang Maha segalanya.

Hal-hal seperti itu kadang gue lupakan. Gue terlalu fokus bahwa Dia sudah menakdirkan gue untuk ini, untuk itu, dan segalanya. Lupa bahwa sudah terlalu menumpuk dosa yang telah gue perbuat.

Tanda-tandanya adalah ketika gue menjalani hari, jadi ndak tenang. Serasa ada yang mengganjal dan seterusnya. Gue sungguh-sungguh seperti merasa ada yang hilang. Selama ini gue ndak tahu apa yang hilang itu.

Keimanan seseorang pasti mengalami masa pasang-surut. Keimanan butuh diberi asupan. Dan gue yakin itu. Maka, gue mulai memberi asupan keimanan gue dengan mambaca buku-buku agama. Dan yeah, itu manjur untuk menenangkan hati labil gue ini..

Setelah membaca buku-buku itu (yang kedua berjudul: Solusi Kehidupan), gue sadar bahwa ternyata gue sudah terlena pada dunia. Dunia yang sementara ini. Gue sudah mulai jauh dariNya. Gue beribadah hanya beribadah, gue shalat hanya sekadar shalat, maksiat ya sudah maksiat. Tanpa berpikir untuk meningkatkan ketakwaan. Keimanan.

Sebenarnya gue yakin, semua ini (dunia) akan hancur. Gue benar-benar menyesal pernah berpikir untuk ndak memikirkan hari akhir. Gue terlalu asyik memerankan 'tokoh ini' di dunia. Dalam keasyikan itulah gue terlena.

Karena bagaimanapun, gue harus bergaul dengan perlbagai orang. Gue bertemu dengan orang yang ndak shalat tapi dia dikasih oleh Allah kenikmatan. Gue bertemu orang yang bukan seagama tapi hidupnya selalu beruntung. Di sini gue mulai tersesat dalam berpikir, berpikir dengan kepala sempit. Gue merasa bodoh.

Gue tahu, sampai sini gue salah. Seharusnya gue jangan lupa untuk bersyukur, jangan lupa bahwa sesungguhnya yang namanya 'menjaga shalat' adalah selama kita menjalani hari. Dan menjadikan hati ini masjid yang isinya penuh dengan dzikir, bacaan al-Qur'an, segala hal ibadah kepadaNya.

Dunia bagai lumpur hisap, jika terlalu terlena maka kita akan lenyap.

Percayalah, bahwa hidup hanya sekali. Dan 'sekali' itu kita mempunyai banyak kesempatan-kesempatan, Tuhan pun memberikan banyak kesempatan bagi kita semua. Hanya tinggal bagaimana kita memerlakukan kesempatan itu. Gue sungguh beruntung ketika mulai terlena akan dunia, dan sadar bahwa itu sementara. Tuhan Maha segalanya, Ia selalu ada buat kita, lebih dekat dari apa pun.***
Comments
0 Comments

Posting Komentar