UJIAN SEKOLAH HANYA PERKARA MENGINGAT MASA LALU


Bagi gue, ujian sekolah hanya perkara mengulang dan mengingat masa lalu. Eits, bukan maksud menyepelekannya, tapi begitulah pandangan gue. Ya kan bener, apa yang diujikan US adalah materi-materi yang telah diberikan ‘sebelumnya’ oleh guru, dan itu termasuk masa lalu, kan? Dan untuk bisa menjawab soal-soal yang diuji, hanya tinggal perkara mengulangnya. Simpel.
            Sampai sekarang gue masih heran, kenapa di setiap ujian seperti ini, maka akan ada papan yang berbunyi: “Harap Tenang Ada Ujian” tulisannya gede banget. Segede yang itu, itu… Gue terus bertanya, apakah di setiap ujian membutuhkan ketenangan? Maka jika iya, harusnya ketika kita mendapati ujian, cobalah tenang dan cari jalan keluar, jangan panik dan, teruslah menggandeng tangan Abang. Ya kan yang namanya ujian bukan hanya ujian sekolah. Ujian ada banyak, termasuk menahan rindu, itu termasuk ujian. Koe ngerti lah…
            Gue jadi terinspirasi: jika nanti gue mencoba move on, gue akan menulis gini: harap tenang sedang move on, atau yang lebih baper: harap tenang, aku sedang mencintaimu. Tulisan itu gue pajang di jidat.
            Jadi pesan moralnya, jika kita sedang mendapati ujian, maka mutlak harus tenang, niscaya kau akan lulus menghadapi ujian dan mendapat jalan keluar. Begitupun nyontek, harus tenang. #janganditiru
*         
Kebetulan, ujian sekolah gue seruangan sama anak Akuntansi (gue Adm. Perkantoran) dan anak akuntasi dikenal pinter-pinter. Entah bagaimana asal-muasalnya gue bisa sekelas sama mereka,  apalagi di depan gue tepat duduk seorang perempuan yang ndak asing lagi dalam hidup gue: Wahyu Wulandari, dia anak akuntansi. Gue sempet kaget ketika gue mendapati tempat duduk kami berdekatan, bukan apa-apa, dari dulu emang degup jantung ini kalau deket dia… ada yang aneh aja. Dan sampai sekarang gue ndak tahu sebabnya apa.



            Berangkat dari itu semua, setiap ujian sekolah, gue yang menyiapkan dan memberi intstruksi memberi salam. Dan itu akan gue lakukan selama setidaknya seminggu. Entah kenapa yang dipilih gue, apa mungkin karena aura gue yang berkharisma? *seketika mual*
            Ada banyak hal seru di ujian sekolah ini. Salah satunya adalah ketika Argi menyetel lagunya kencang-kencang di kelas. Kami yang sudah biasa sekelas sama dia sih ndak masalah, yang masalah adalah anak akuntansi. Mereka ndak bisa belajar pagi itu. Argi bukan tanpa teguran, beberapa kali ia ditegur tapi tetep aja ngeyel. Gue rasa dia emang rada-rada sih. Gue harap Argi ndak baca tulisan ini. Dan lu harus tau, lagu yang disetel sama Argi itu, musik metal yang kata orang-orang lebih seperti antena rusak.
            Gue sendiri punya pengalaman seru. Seperti ujian sekolah yang menurut gue hanya perkara mengingat masa lalu. Duduk tepat di belakang Wulan pun seperti terbang jauh ke masa-masa itu, masa SMP. “Rasanya seperti kelas delapan lagi, ya,” kata gue begitu saja, dan Wulan menoleh ke belakang, tepat ke arah gue, tersenyum, gue beku.
            Wulan masih sama seperti dulu, tapi bedanya ia menjadi lebih maniak k-pop. Ketika itu dia nyayi lagu korea sambil headshet nyantel di telinganya, suara nyayiannya samar-samar begitu, gue kira shalawatan. “Shalawatan, Lan?” tanya gue. Dia tertawa mendengar pertanyaan gue, dan menjawab, “Hebat ya shalawatan pake bahasa Korea. Hahaha..” gue pun melebur dalam ketawanya yang renyah itu.
            Dan dia juga masih suka corat-coret buku gue gitu. Waktu SMP, buku gue beberapa kali jadi korban tulisan dia yang munyil itu, seperti orangnya. Pagi itu gue lagi belajar untuk menghadapi ujian Kewirausahaan, sebuku tulis gue anggurin di meja. Dia menolah ke belakang, menarik buku itu begitu saja dan, mulai menulis di meja gue. Gue membiarkan, masih belajar Kewirausahaan.
            Dan hasilnya seperti ini:




Dia menulis nama gue pake ‘huruf Korea’ gitu. Dan gue bales begini:





“Itu apaan?” tanyanya.
“Wu l an,” jawab gue sambil menjelaskan satu persatu huruf itu.
“Kayaknya Wulan pernah belajar huruf Jawa nggak gitu-gitu amat,” kataya sambil mengernyitkan dahi.
“Setidaknya gue menyepakati kalau ini tulisannya adalah Wulan.”
Dia diam beberapa saat, dan kemudian tertawa. Seperti biasa, tawa kami melebur menjadi satu.*** 






Comments
0 Comments

Posting Komentar