SALAHKAH PELAJAR IKUT NGOMONGIN POLITIK?

Ngomongin politik emang ndak ada habisnya. Itu memang karena politik mempunyai dunianya sendiri. Ada banyak artian politik di batok kepala masing-masing orang. Kendati begitu, ilmuan politik Mark Roflofs mengatakan, ''Politik adalah pembicaraan, dan kegiatan politik ('berpolitik') adalah berbicara.''

Bagi orang awam, politik memang begitu membingungkan. Kita akan berpikir, politik itu hanya perkara kampanye, curang, partai, pemerintah dan seterusnya. Namun terlepas dari itu semua, artian politik itu sendiri lebih luas dari kata orang-orang awam tadi. Percayalah, saya juga orang awam.

Sebenarnya saya juga ndak suka terlalu serius membicarakan politik. Akan tetapi, menjadi warga negara, sudah sepatutnya kita bersuara lantang, bukan begitu? Jadi, ndak harus jadi 'orang politik' yang tampak begitu sibuknya, baru mau bersuara.

Kepercayaan kita pada orang-orang politik (politikus) memang ndak terlalu besar. Salah satu sebabnya adalah mereka terlalu mementingkan kubunya. Iya, setiap orang politik memiliki partai. Dan akan terlihat cenderung lebih condong ke partai ketimbang janjinya pada masyarakat.

Semua itu wajar saja, tapi kita haruslah sadar, tanpa berpolitik mau jadi apa pemerintahan ini? Dengan kesadaran politik maka akan banyak orang yang sadar pula untuk memajukan bangsa. Dengan caranya masing-masing dan dengan janji-janjinya masing-masing. Dalam hal ini, perkara komunikasi politik sudah harus menjadi keniscayaan bagi orang politik.

*

Kesadaran akan dunia politik memang begitu rendahnya di kalangan pelajar. Beberapa tahun lalu saya pernah mengikuti seminar terkait politik tingkat pelajar SMA. Dari sekian banyak peserta, ditanya oleh narasumber siapa yang minat politik, hanya satu yang angkat tangan. Dan ketika itu, bukan saya.

Hingga akhirnya saya bertemu Ihsan (teman sekelas). Ia adalah seorang anak dari Ayah yang politikus. Entah dengan alasan apa, Ihsan ini juga kepincut dengan dunia sang ayah. Terkadang kami (saya dan Ihsan) mengobrol tentang politik, tentang pidato Jokowi, tantang menteri hingga Ahmad Dhani. Dan jika obrolan kami terdengar oleh teman-teman yang lain, mereka akan berkata, ''Wuah berat, ngobrolinnya politik...'' dengan nada dibuat-buat.

Entah alasan apa, politik sepertinya sangat identik dengan orang-orang tua. Orang-orang dengan usia menjelang setengah baya. Dan bila anak sekolah seperti kami, tampak begitu ndak pantasnya ngomongin politik. Salahkah pelajar tertarik dunia politik?

PR untuk kita semua, menyadarkan bahwa politik itu sangat penting bagi kehidupan bersama. Bahkan, dengan semrawutnya politik, juga ikut mempengaruhi ekonomi. Itulah hebatnya politik, efeknya begitu besar, setidaknya bagi suatu negara.

PR bagi kita semua, mengubah paradigma politik yang memiliki arti begitu sempitnya. Dan terus berdo'a akan banyak generasi penerus yang sadar politik, politik yang sehat, politik yang mementingkan rakyat.***
Comments
0 Comments

Posting Komentar