Ibu Rumah Tangga dan Literasi Kita

Adalah Mbak Umi—ibu rumah tangga yang memiliki dua anak yang lucu-lucu—lebih memilih membeli buku ketimbang baju baru. Waktu aku pulang kampung, aku main ke rumahnya untuk meminjam buku. Awal pertemuan kami adalah ketika ada event kepenulisan Kampus Fiksi di Jogja. Di akhir acara, aku bertemu Mbak Umi yang ternyata satu kampung denganku. Singkat waktu, kami saling kenal dan akhirnya pada edisi pulang kampung akhir tahun kemarin, aku datang ke rumahnya dan meminjam buku. Begitu.




Beliau mempunyai koleksi buku yang lumayan banyak. Mulai dari Tere Liye hingga Hamsad Rangkuti, dari pop hingga sastra. Selain mengoleksi buku bacaan, Mbak Umi di sisi luang waktunya sebagai ibu rumah tangga juga menyempatkan untuk membuka lapak baca buku gratis di sekolah anaknya.

“Jadi ya yang dibaca di sekolah itu ya buku nonfiksi,” katanya, “orang sini kan tidak suka buku beginian.” Ia mengambil salah satu buku sastra dan menaruhnya kembali. Sebagian besar koleksi buku nonfiksinya didapat dari event Kampus Fiksi.

Kini beliau dikaruniai dua anak: Isna dan Alif. Isna masih PAUD, dan Alif sekolah dasar. Mbak Umi mengakui bahwa jam untuk membaca buku sangat sulit untuk dibagi dengan pekerjaan sehari-harinya sebagai ibu rumah tangga. Untuk baca aja susah, apalagi menulis, kurang lebih begitu ungkapnya.

Maka berikutnya kami membahas Pia Devina. Penulis produktif yang superduper sibuk. Ia adalah ibu rumah tangga, juga bekerja. Tapi ia bisa membagi waktu untuk menulis dan hasilnya ia bisa membuat beberapa novel. Salud memang dengan mbak Pia Devina, kadang aku yang punya banyak waktu ini suka minder. (Baca: 30 Questions with Pia Devina; Saya Menulis Setelah Anak Saya Tidur)

“Ya itu kan Pia Devina,” kata Mbak Umi yang tersinggung, “dia mah nggak ada bandingannya. Hahaha.”

Sejauh ini, di kampungku aku mengenal Mbak Umi sebagai penggiat baca di sekitarnya. Tentu saja tujuannya untuk membuat melek baca masyarakat sekitar.

Faktanya, kampungku memang jauh dari toko buku, kita harus pergi jauh ke kota dengan memakan waktu berjam-jam untuk bertemu toko buku.



Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika aku lebih banyak menghabiskan waktu di kampung. Tidak ada toko buku, bioskop, sinyal, ah itu sangat membuatku mati kebosanan.

Dua hal tersebut: toko buku dan bioskop menurutku adalah dua kebutuhan pokok selain makan dan minum. Sebab dengan dua hal tersebut kita bisa mengisi kehidupan ini dengan hal-hal yang baru. Dengan membaca buku kita bisa mendapat hal baru, begitu pula nonton film di bioskop.

Kembali lagi ke Mbak Umi yang kupinjam bukunya beberapa. Aku tidak tahu ada berapa ‘Mbak Umi’ di luar sana, yang pasti ibu rumah tangga seperti Mbak Umi sangat perlu dicontoh oleh ibu rumah tangga lain. (Juga kamu para calon ibu rumah tangga, hehe)

Dengan melek baca, tentu saja ibu rumah tangga akan terbuka pikirannya, menerima banyak ilmu dan jauh dari kesan kuno. Dampaknya adalah bagi anak-anaknya kelak. Jika ibunya saja hobi membaca, pasti kemungkinan besar anaknya tak jauh dari hobi tersebut. Sehingga nantinya akan timbul pemikiran-pemikiran maju tanpa halangan apapun di kepala si anak, didukung dengan ibunya yang melek pengetahuan berkat buku.

Jadi, ada berapa koleksi bukumu di rumah?


dari kiri: Mas Daru, Mbak Umi, Pangeran Bersarung
                        
Comments
0 Comments

Posting Komentar