TAKUT






Adakah di sini yang merasakan sangat takut kehilangan? Takut ditinggal oleh seseorang? Dan merasa jika satu hari saja tanpa informasi tentangnya, kau akan bimbang? Merasa berkecemamuk di dada jika ia bersama yang lain, walau hanya sekedar berbasa-basi? Dan, merasa bahwa ia, sangat berarti?
            Jika pernah, itu pula yang saat ini gue alami.
            Entah bagaimana menjelaskannya, sampai saat ini, hati gue masih saja tak bisa reda dari gemuruh, masih ada kilat-kilat di sana, dan sesekali mengejap-ngejap.
Dia sudah gue anggap sebagai bagian dari hidup gue, gue cocok sama dia, dan begitu sebaliknya. Dan gue berharap akan selalu seperti itu.
            Lalu, kenapa beberengen dengan itu, ada rasa cemburu yang juga besar mengekori. Benar, sampai saat ini, baru kali ini, gue merasakan hal yang sehebat ini. Sekali lagi, entah, gue tidak bisa menjelaskannya dengan detail, sebab gue, juga tidak-maksud dengan apa yang gue rasa ini.
            Ketika dia tidak seperti biasa, gue merasa resah, hari gue bakal tidak lengkap, hari gue bolong, ada yang menga-nga di dada, tersayat sembilu. Ketika dia sudah tidak lagi perhatian kerena sibuk, di situ ada rasa yang tidak menyenangkan, dan jika mendapat informasi darinya, itu akan terbaca datar, tanpa ada rasa sebagai latar belakang.
            Mungkin setiap orang juga merasakan ini, merasa dicintai dan mencintai anak manusia. Walau kita semua tahu, cinta yang sahih adalah hanya milik-Nya, namun bagi gue, dicintai oleh manusia, adalah kenikmatan dunia.
            Bagaimana tidak, gue merasa hidup menjadi lebih hidup, gue menjadi manusia yang lebih dimanusiakan.
            Bersamannya, gue benar-benar merasakan kisah cinta yang sebenarnya. Sebelumnya, tidak sampai seperti ini. Kami tidak ada batas, dan benar-benar membaur menjadi satu-kesatuan.
            Ada target di mana akan menjalani hari selalu bersama, ada target di mana aset rumah bersama, ada target memiliki keluarga, dan banyak lagi target yang kami miliki.
            Mungkin kata orang, ini yang dinamakan cinta monyet, membuat gila dan seterusnya. Jika memang, berarti benar iya, gue sudah gila. Dan memang begitu.
            Ada rasa takut menyelimuti hari-hari gue. Di mana dia seperti memiliki dua, kepribadian, yang satu baik dan, yang satu kurang baik. Terkadang, ia juga adalah kedua-duanya. Tapi tetap saja, ia gue cinta.
            Bagaimana-menjelaskannya-gue-bisa-takut-seperti-ini, tapi gue mencoba tenang detik ini. Napas gue hirup keluar-masuk, berharap dada berhenti berkecamuk. Apa ini yang dinamakan resiko jatuh cinta?
            Gue merasa takut, suatu hari nanti, kami tidak lagi bersama. Memang siapa yang tahu tentang ini? Manusia tidak ada yang tahu, hanya sang pengendali takdir yang tahu. Lalu jika memang kami tidak diperuntukan untuk bersama, mau apa? Dan situ, gue mulai benci takdir.
            Gue merasa takut, suatu hari nanti, dia mendapati yang lebih dari gue. Mana ada yang tahu isi hati seseorang? Isinya mengerikan, bisa tersimpan kejahatan dan kebaikan saling bersandingan, mana ada yang tahu isi hati seseorang? Apalagi hati perempuan? Sekali lagi iya, hanya sang pengendali takdir yang tahu.
            Gue merasa takut sama diri gue sendiri. Kadangkala gue merasa tidak bisa berbuat apa-apa, kadangkala gue merasa rendah di hadapannya.

            Entah sampai kapan rasa takut ini bercokol dalam hati gue. Lagi, sampai saat ini gemuruh di dada masih saja ada, awan hitam menyelimutinya, dan sesekali petir menyambar, gue rasakan perih. Inikah resiko jatuh cinta? Kalau memang iya, gue takut,  bila menjalani sendiri, gue butuh kata ‘kita’ untuk menghadapi.***  
Comments
1 Comments

1 komentar:

ka afsoki galau tingkat dewa , wkwk

Reply

Posting Komentar