Menyikapi Valentine (Catatan Seorang Remaja)

Empat belas Februari datang. Kabarnya, hari Valentine pun tiba. Di sebuah negeri yang kuambah ini ada banyak yang menolak secara keras dan merayakan senang-senang. Darimana saja terberitan bahwa hal itu menjadi topik menarik tiap orang. Dan baru-baru ini, berbeda dengan tahun sebelumnya, kian banyak yang menolak hari Velentine atau hari kasih-sayang itu.



Ada pula yang mengsulkan empat belas Februari menjadi hari perdamaian tawuran pelajar, dan lain sebagainya yang berbau kasih-sayang. Di media sosial, ada yang berfoto bersama secarik kertas dan tertulis di sana tentang penolakan Valentine. Yaa entah, mereka itu menolak atau hanya ikut arus belaka. Ada pula yang ditanya apa itu Valentine, mereka tidak tahu, padahal merayakan. Negeriku banyak orang yang mengikuti arus saja dan tenggelam di hulunya.



Lebih heboh lagi, ada yang terjaring razia di hotel-hotel atau di tempat biasa pasangan pra nikah bercokol. Hasilnya fantastic, di sebuah berita di katakan, ada ratusan pasangan yang terjaring razia itu bahkan, ada yang membawa narkoba. Mungkin itu pelampiasan dari hari kasih-sayang?



Negeriku mempunyai banyak agama. Orangnya banyak yang berbeda-bada. Bayangkan, negari yang luasnya sampai jauh sana, berjajar ribuan pulau, ya tentu susah untuk menyatukan kepala mereka.



Ada yang saking kerasnya menolak. Mereka berdalih bahwa hari kasih-sayang adalah setiap hari, setiap saat. Namun, mungkin, dengan cara yang salah menjadi ada masalah.



Alangkah baik. Kita saling bertoleransi dan, mengahargai tiap pendapat orang walau sulit, namun meningat hidup di negeri yang beragam ini, yo mari kita pecahkan masalah dengan kepala dingin.

KAN: +.+ = - (baca: plus kali plus sama dengan min).***





Afsokhi Abdullah

Di kelas tanpa guru, 17 Februari 2015
Comments
0 Comments

Posting Komentar