BISA BELAJAR ILMU EKONOMI LEWAT NOVEL TERE LIYE: NEGERI PADA BEDEBAH

Di sebuah negeri, sebut saja negeri bedebah (baca: celaka, sebuah umpatan), hidup seorang konsultan keuangan professional. Namanya Thomas. Ia pemuda yang cerdas. Bisa menggerakan, memengeruhi orang banyak dan mengkondisikan suasana yang tadinya mencekam menjadi mencair. Thomas mempunyai masa lalu yang kelam. Ketika masih kecil, ia ditinggal oleh kedua orangtunya. Ndak tanggung-tanggung, sebabnya adalah kebakaran rumah mereka mengakibatkan kedua orangtua Thomas hangus terbakar.
            Itu semua karena bisnis arisan yang dijalankan oleh Liem dan ayah Thomas. Hari itu bisnis itu bangkrut. Orang-orang yang menginvestasikan uangnya, meminta untuk dikembalikan segera. Hari itu rumah mereka sudah dikepung massa.
            Parahnya, ada yang melihat ini suatu celah untuk mencari uang. Tersebutlah seorang polisi dan jaksa. Kedua orang ini yang menjanjikan perlindungan bagi bisnis Liem dan ayah Thomas. Tapi nahas, ketika kedua orang ini sudah diberi harta yang tersisa dari keluarga itu, malah kedua orang ini pergi entah kemana. Bukannya melindungi.
            Di luar sudah banyak massa. Karena sudah tersulut amarah, hancur dan terbakarlah rumah keluarga ini. Beruntung Thomas sedang berada di luar. Dan ketika ia kembali ke rumah, yang dilihatnya hanya rumah rata dengan tanah. Juga abu kedua orangtuanya, yang ndak terselamatkan.

aku ini suka bau buku, btw.. 

            Berawal dari masa lalu itu, Thomas tumbuh menjadi pemuda yang cerdas. Ia sangat cekatan dan boleh dibilang di atas rata-rata orang normal. Ia sekolah di sekolah bisnis.

*

Novel ini dibuka dengan Pesawat berbadan besar yang kutumpangi melaju cepat meninggalkan London. Penerbangan ini nonstop menuju Singapura.
            Kesan pertama membaca paragraf pembuka ini, aku langsung berimajinasi, hm, pasti tokoh utamanya orang kaya nih. Dan yeah benar. Di cerita-cerita selanjutnya, walaupun si tokoh utama dalam keadaan genting sekalipun, ia masih punya uang banyak.
            Selanjutnya, aku menemukan banyak sekali si tokoh utama ini berceramah tantang ekonomi. Iya, si Thomas ini sangat pandai sekali berceramah. Di depan orang luar atau dalam negeri.
            “Ya, ya, saya tahu di pojok sana keberatan.” Aku pura-pura memasang wajah serius. “Tetapi di dunia dengan sistem ekonomi saling bertaut, tidak ada batas pasar modal dan pasar uang, krisis seperti ini lebih menakutkan dibandin teror dadri ekstern kanan atau ekstern kiri. Kita tiak pernah melihat indeks saham terjun bebas seperti hari ini ketika dulu menara WTC dihancurkan, bukan? Bahkan indeks tidak berkedut ketika kapal salam nuklis Soviet memasuki perairan Amerika di era perang dingin. Hari ini, semua orang panic, satu per satu seperti anak kecil menunggu jatah permen, perusahaan raksasa mendaftar perlindungan keberangkutan, dan harga surat berharga menjadi sampah, tidak lebih dari harga selembar kartas folio kosong.” Hlm. 13
            Memang, di awal-awal novel kita seperti dijajali ilmu ekonomi. Banyak sekali istilah perbankan yang tidak semua (terutama orang awam) tahu artinya. Sedikit agak monoton. Tapi, di bab-bab selanjutnya, semua itu berubah dengan aksi-aksi mendebarkan Thomas.
            Permasalahan ini membawa Thomas terlibat di dalamnya berawal ketika Bank Semesta, punya Om-nya yang bernama Liem bangkrut. Persis seperti kejadian ketika bisnis arisan Liem yang sampai menghanguskan kedua orangtua Thomas. Maka dari itu, Thomas mencoba menolong Bank Semesta agar dibantu oleh pemerintah, memberi talangan dana. Thomas menjadi orang yang sangat dicari ketika ia berusaha menyembunyikan Liem, yang menjadi buronan, bertanggung jawab akan bank-nya yang bangkurt, tertutama nasabahnya yang ingin uangnya kembali, uang yang mereka tabung di bank semesta milik Liem.
            Thomas bisa mengelabui banyak pasukan polisi, bahkan bandara bisa diterobosnya dengan pengamanan yang super ketat.
            Sayang, kisah percintaan Thomas yang super sibuk ini ndak terlalu diekspos. Selama cerita, ia dekat dengan Julia (wartawan) dan sekretasisnya, bernama Maggie.
Menurutku Tere Liye berhasil membuat jantungku berdebar di setiap akhir babnya, membuat aku terus ingin melanjutkan ke lembar selanjutnya. Paragraf yang singkat dan ndak terlalu gemuk pun menjadi pembantu pembaca agar ndak lelah membaca. Ditambah gaya penulisan Tere Liye yang ndak usah diragukan lagi.
             Kebijakan bukanlah ilmu pasti, sepintar apa pun kau. Hlm. 172
 
Dalang
Tapi, menurutku ada beberapa kekurangan di novel ini. Di antaranya adalah dialog tokoh. Ada kata-kata yang biasa dipakai Thomas, terkadang pula dipakai tokoh lain. Ada kata-kata yang biasa dipakai oleh Opa-nya, juga dipakai tokoh lain. Kata-kata itu berupa: boleh jadi, orang tua ini. Jadi rasanya, terlihat banget dalang si penulis dalam novel ini.
            Juga ketika Thomas diintrogasi. Ditanya siapanya Liem. Thomas mejawab dengan sebutan ‘Om Liem’. Itu jelas-jelas menandakan bahwa Thomas mempunyai ikatan suadara dengan si buron Liem. Tapi pengintrogasi tarus-terus menyetrum Thomas untuk mengaku siapanya Liem. Dan Thomas hanya menjawab seorang konsultan keuangan perofesional yang diperkejakan Om Liem.
           
Kritikan pedas
Ya, di beberapa situasi, tokoh buatan Tere Liye, Thomas, seperti menampar keadan di Indonesia. Contohnya adalah ketika Thomas dipenjara, dan ia bisa kabur dengan mudah dengan menyogok.
            “Dua M, Bos. Kau terlalu menganggpku rendah. Jangan dibandingkan aku dengan pegawai pajak yang kalian tahan dan cukup ratusan juta saja untuk membiarkan dia pergi pelesir, atau orang-orang tua pesakitan yang post power syndrome setalah tidak berkuasa lagi, dikejar-kejar penyidik komisi pemberantasan korupsi, hanya puluhan juta  sudah kalian biarkan berobat  ke manalah. Dua M, Bos. Tertarik?” (hlm. 198)
            Begitu kata Thomas kepada sipir, dan akhirnya Thomas bisa kabur, bahkan dengan membawa serta hp salah satu sipir dan sepeda motor. Edan emang!
           
Ending
Ending novel ini benar-benar ndak terduga. Semua berakhir di sebuah kapal. Ternyata, selama ini ada penghianat, ia adalah Ram. Bab terakhir ini diberi judul Penghianatan di atas penghianatan dan Sepotong Laut yang Hilang dari Peta. Sempat menduga sih sebenarnya dan curiga sama tokoh Ram ini, tapi ya tetap, aku terkecoh dan ndak bisa dengan tapat menebak ending.
            Menurutku, cara penulisan Tere Liye agaknya sama dengan penulisan novel karya Maggie Shayne. Di mana di setiap akhir babnya, pembaca pasti dibuat mati-matian penasaran. Di di bab selanjutnya, lain lagi perkarannya, bukan membahas bab yang tadi itu. Jadi ya, bikin greget deh.
            Semakin percaya kalau Tere Liye terpengaruhi tulisannya oleh Maggie, tokoh-tokoh di novel ini mempunyai kemiripan nama dengan novel karya Maggie Shayne yang Twilight Hunger. Bahkan si penulisnya, Maggie, mirip sama salah satu tokoh sekretaris Thomas. Juga tokoh bernama Erik.
            Tapi ya aku ndak tahu pasti.

            Yang aku tahu pasti, novel ini sangat menghiburk. Bahkan sampai-sampai ndak mau beranjak lagi kalau udah duduk baca novel ini. Pokoknya matap deh. Bisa belajar ekononi juga, hehehe.. 
Comments
0 Comments

Posting Komentar