Kereta Kepanikan dan Ibu Kenenek-Nenekan

SEKILAS pohon yang sedari lama berkejaran di luar jendela kereta, kini mulai berhenti. Mereka mematung dan hanya bergerak jika ada angin yang sudi bertamu. Kereta ini pun berhenti berlari, kehabisan tenaga dan mungkin sudah banyak keringat bercucuran. Lari yang amat kencang tadi, seperti tenaga ribuan kuda, kini terhenti perlahan lalu tak berjalan lagi. Sempat juga terdengar decitan dari rel kereta ini sebelumnya. Cit citt citt.... Cit. Entah apa maksudnya. Biasanya, jika kereta berhenti di stasiun, maka tak lama kemudian kereta akan berjalan perlahan, lembut, dan, kembali 'ngebut' tanpa pandang bulu. Sebelum lepas landas dari stasiun, tentunya, terlebih dulu kereta menunggu restu tiupan pluit petugas, lalu diberikannya isyarat jalan kepada masinis.



Kali ini lain, malam ini, lain. Kereta menjadi pengap, pengap sekali, dan ini adalah pengap yang paling parah yang pernah aku alami. Lampu mati, ac mati, dan terbitlah suara dari rongga mulut manusia yang TERGORES rasa kepanikan yang teramat--suara itu keluar-masuk telingaku. Ditambah lagi nyayian hewan-hewan dari luar gerbong kereta. Krik krik krik. Hem. Apa kereta ini anjlok?





***



Seorang Ibu tua yang kurasa mendekati kenenek-nenekan duduk di sampingku dengan khusu', khusu' sekali. Aku takzim melihatnya dalam kegelapan. Ia seperti tak mementingkan bahkan tak acuh dengan kejadian ini. Kenapa?



''Bu,'' sapaku, lalu ia menolehkan kepala penuh dengan beribu tanya. Kerutan wajahnya sedikit lagi bisa dibilang kendor.



''Kereta ini anjlok yah, bu?'' lanjut tanyaku, perasaanku agak mulai panik. Seisi kereta tak terkendali.



''Mungkin saja, Mas.''



''Mengerikan yah, bu. Sudah berapa kali naik kereta ini, bu?'' aku mencoba untuk berdialog agak panjang dengannya. Tujuanku agar ketidakpanikan Ibu itu menular dan menjalar ke tubuhku.



Hai. Siapa yang tidak panik. Kereta berhenti dengan perlahan, lalu lampu padam, diam, henti, tak ada penjelasan.



''Ya, Ibu sering naik kereta ini,'' jawab Ibu itu dari tanyaku tadi yang menggantung agak lama di udara dekat kepala.



''Lalu, apa Ibu pernah mengalami anjlok kereta?'' tanyaku kembali, huh. Jiwa kewartawananku muncul.



''Ya, nggak pernah, Mas, ya tenang aja. Toh nanti juga balik lagi.''



Aku menelan ludah, ''Oh..., gitu yah, bu.''



Lalu aku benar-benar tenang menanggapi situasi ini. Bairkan mereka semua panik. Lebih baik juga menunggu sampai kereta baik.



Tak ada cahaya memedahi di sini. Hanya ada semburat pijar bulan yang utuh dan pantulan dari benda yang dikenainya. Selain itu, kunang-kunang yang menari ria di luar jendela sana pun ikut memeriahkan kepanikan!



***



Syahdan, tiba-tiba, pintu kereta yang seharusnya tidak boleh terbuka, kini terbuka dengan kencang, seolah ditendang kencang, kencang sekali!



Jeklek! jeklek! jeklek!



Semua orang segera ingin keluar. Dan, ketika mereka keluar melewati pintu. Mereka tidak tahu bahwa di luar sana adalah jurang! Satu-persatu berjatuhan hingga dangkal. Walau begitu ada saja yang terus ingin berlari keluar mengikuti: bapak-bapak, anak kecil, ibu yang menggendong bayinya, nenek-nenek, kakek-kekek, bencong, dan semua jenis manusia ada di kereta ini--semua panik tentunya! Dari gerbong ke gerbong yang lain, semua penumpang tampak penuh akan kepanikan. Riuh. Dan bulan hanya tersenyum manyun. Busyet. Masih saja ada yang tersenyum ketika seperti ini!



Segera petugas kereta keluar dari kandangnya, lalu berteriak sekuatnya, terlihatlah otot di lehernya, 'meringkel',



''Semua harap jangan panik! Kembali ke tempat duduk masing-masing! Kereta sedang anjok! Ada kerusakan! Kembali! Kembali ke tempat masing-masing! Harap didengar...!''



Terikan petugas kutangkap agak samar-samar. Sebab, suara itu bertengkar dengan riuh kepanikan.



''Aduh, bagaimana ini. Bagaimana ini!''



''Kita keluar saja! Ayo keluar!''



''Ya, ayo keluar!''



***



Petugas terlambat mencegah para penumpangnya yang keluar dari pintu. Jelas mereka yang keluar pasti akan menemui ajal!



''Dasar goblok orang-orang itu! Pake otak dong sedikit! Panik, begini aja panik!'' murka Ibu tua di sampingku. Ibu ini lebih pengalaman jika mengalami situasi seperti ini. Aku jadi belajar darinya.



Huh. Aku tak bisa mencegah mereka yang keluar pintu kereta, sebab gelap, suara berantakan tak jelas, sana ngomong, sini ngomong, mulut manusia memang susah untuk diam! Apalagi ketika panik! Mungkin darah segar di bawah sana LUMER menjadi anak sungai.



Tak lama kemudian kereta mulai berjalan perlahan, meninggalkan mereka yang mati kerena kepanikan masuk jurang.***



NB: Cerpen terinspirasi dari perjalanan penulis dengan rangkaian kereta Serayu Malam.



Afsokhi Abdullah

08 Maret 2015
Comments
2 Comments

2 komentar

@Fikri Maulana: Hehe.. Itu buah hasil berimajinasi, kak...

Reply

Posting Komentar