CUKUR KUMIS PERTAMA DALAM HIDUP GUE

Awalnya, gue takut banget buat cukur kumis. Sebab, gue pernah liat temen gue SD, ketika itu dia punya kumis lebat banget, gue tanya kenapa bisa begitu, dia jawab karena dicukur.

Bayangin, itu anak masih SD, seinget gue waktu itu kelas 6. Gue ndak harus sebut namanya siapa, pokoknya gara-gara dia, gue takut cukur kumis.

Sampai gue terdoktrin: ''jangan cukur kumis, nanti tambah lebat.'' doktrin itu terus gue bawa bertahun-tahun.

Sekarang umur gue 16 tahun, belakangan pas gue ngaca, omegot, kumis gue menjalar di sela-sela hidung dan mulut gue #yaiyalah

Semakin hari semakin lebat saja itu kumis, hingga akhirnya ada beberapa orang komen:

''Kumis lu keren, kayak tukul. Hahha...''

''Kumis lele.''

Bla bla bla bla...

Mendenger komentar itu, gue jadi sering ngaca. Padahal, gue orang yang jarang ngaca walau di kosan ada kaca. Karena jarang ngaca, gue jadi merasa lebih ganteng. Begitu. Tsaaaah... #gajemodeon

Oke, lanjut, siang itu, gue memutuskan untuk mencukur kumis gue ini. Sebelumnya, gue tanya-tanya ke temen, merk cukur kumis apa yang bagus. Gue tanya ke Argi, dan dia jawab.

''Yang biasa aja, dijual kok di warung-warung. Kisaran goceng ke atas...'' jawabnya, lalu pada hari itu, ia jadi sering mengucapkan kata 'kisaran'.

Gue bergegas ke 'warung Bugis'. Membawa recehan uang dan niat mencukur kumis.

''Beli, Bu...'' ucap gue ketika sampai di warung.. Si Ibu mengangguk.

''Ada cukuran kumis?''

''Cukuran?''

''Iya.''

''Ada, ada...''

Tanpa babibu, langsung gue sabet itu cukuran, gue kasih uangnya dan sesegera mungkin gue masukin cukuran ke kantong. Gue merasa cukuran ini adalah benda paling rahasia dalam hidup ketika itu.

Sampai kosan di depan kaca, gue mulai pegang-pegang kumis, menarik-nariknya, dan tanpa sengaja gue bergumam,

''Udah tua aja ya gue..''

Setelah itu, gue buka itu bungkus cukuran. Gue cek siletnya, aw, tajam. Pelan-pelan dan ada rasa takut, gue dekatkan itu cukuran ke ketek, eh, ke kumis. Pelan, pelan, pelan... Dan, gajadi.

Gue ragu, takutnya salah dan melukai kulit. Karena itu, gue buka hape dan searching, sekejap, gue menemukan tutorial mencukur kumis.

Ribet juga ternyata, di artikel itu dijelaskan, harus pake krim dulu lah, abis mandi lah, bla bla bla bla... Padahal, selama ini gue belum pernah ngeliat secara langsung orang cukur kumis pake es krim, eh, krim maksudnya.

Karena itu, gue beranikan diri, mendekatkan si cukuran ke kumis. Pelan, cukuran itu gue gerakan dari atas ke bawah.

Ceta.

Ceta.

Ceta.

Bunyi kumis dengan si silet beradu, iya bunyinya gitu :3

Satu persatu bulu kumis terpotong. Gue lega.

Gue mencoba lebih gesit lagi, dan yei. Gue bisa mencukur dengan cepat, tanpa takut terkena siletnya. Alhasil, kumis gue sudah rapi...

***

Esoknya, gue PKL dan ketemu temen-temen sekelompok gue. Si Argi berkomentar.

''Nggak rapi tuh, masih ada sisa rambutnya somplak!'' katanya dengan mata beler.

Gue sih biasa aja mendengar komentar itu, sampai kosan, gue benahi lagi kumis ini. Hem... Lama-lama gue udah biasa, dan hap, kumis ini selalu bersih jadinya. Gue merasa lebih muda dan lebih berenergi. Tsaaah...

Yap, begitulah cerita cukur kumis pertama gue. Menakutkan bukan?

Kosan, 13 Agustus 2015
Comments
5 Comments

5 komentar

Hahahaha...

Gue pertama kali cukur kumis pas hari pertama masuk kuliah. Jadi nggak ada yang tau kalo gue dulunya kumisan. Jadi nggak ada yang komentar soal kumis. Ngoahahahaha

Reply

Haha. Sering juga denger, "jgn dicukur nanti tambah lebet."

Kunjungan pertama, Ashoki dari www.temannulis.com

Reply

Tambah lebat nggak bro? :v
Gue mau cukur nih

Reply

Tambah lebat nggak bro? :v
Gue mau cukur nih

Reply

Posting Komentar