Catatan di Balik Launching Buku Kaola Kumal. Gramedia Matraman (Bab 2). KOALA KUMAL BOLEH DITALANGIN.

Kami pun masuk lebih dalam. Naik eskalator mencari jejak yang tepat. Gue tak habisnya kagum dengan toko buku ini. Maklum, gue biasanya ke toko buku biasa, kecil, banyak kecoa dan terkadang cuma baca buku di perpus yang sempit.

Gue ngeliat banyak buku berjejeran. Tak hanya buku. Ada pula tas, handphone, Al-qur’an yang gede gitu. Dan pokoke banyak lagi....

“SUATU SAAT, GUE BAKAL PUNYA BUKU. DAN MEJENG DI SINI,” kata gue ke kedua teman gue ini. Tapi mereka acuh, dan sibuk dengan jejak langkahnya sendiri, mencari komodo raksasa yang tak kunjung ketemu.

Kami naik ke lantai paling atas. Di sana, kami hilang arah. Lalu memutuskan untuk mendirikan tenda.

“Di mana sih, Khi?” tanya Dina. Lalu gue buka Hape Nokia E63 milik gue. Langsung gue buka Opera Mini dan masuk ke Twitter. Gue liat TL-nya Radit, TL Gramed Matraman, dan TL Gagas Media.

“Nah, di sono, di kasir lantai tiga!” saru gue. Dan kami pun mempunyai arah. Kami turun lewat tangga jalan, lebih kerennya eskalator gitu-lah. Menuju kasir lantai tiga. Di kasir ini, banyak banget yang antre, sebab buku Koala Kumal emang dijual tapatnya di tempat ini!


Sampainya di sana. Kami saling celingukkan. Melihat ada yang antre tak jauh dari kasir, kami pun ke sana. Ada banyak yang memakai baju Koala Kumal. Dan gue yakin itu adalah tempat di mana akan diadakannya Met & Gret-nya Radit.

Benar. Ya. Katika kami masuk barisan paling belakang. Ada kak Odie, ya, gue kenal sama kakak ini. Dia adalah editor Bukune. Gue pernah ketemu dia di Festival Pembaca Buku Indonesia. Dan gue masih terngiang kata-kata dia.

“SEMOGA BUKUNYA AFSOKHI MEJENG DI SINI.” Katanya, ketika gue ngikut tantangan menulis di bot Gagas Media kala Festival itu.

Kak Odie dengan toanya (yang biasa buat demo gitu lho) menerikkan bahwa: bagi yang pre-oder di sebelah kiri. Dan bagi yang baru beli bukunya di sebelah kanan.
Di bagian pre-oder sepertinya sedikit dibanding yang beru beli buku Koala Kumal hari ini.

TERUS YANG BELUM BELI KE MANA...?

Di sini gue kaget, terperanga. Gue paham, ternyata harus beli buku Koala Kumal dulu baru boleh antre. Padahal, gue nggak bawa duit lebih waktu itu. Pas-pasan banget pokoknya. Masak gue harus jual kolor dulu?

Lalu Meyla dan Dina menuju kasir di mana tempat buku Koala Kumal berada.

“Eh. Gue nggak bawa duit lebih,” panik gue. Keringat bercucuran hebat, dan membanjiri seisi gedung Gramed Martraman.

“Mau minjem dulu?” tawar Dina.

Sempat ada hening di antara kita. Dina tampaknya membawa dompet. Em... gue ngomong nggak jelas dalam hati....

“Udah, ngga papa daripada udah sampe sini balik lagi?” kata Dina.

“Tapi gue nggak tau kapan gantinya....!”

“Udah. Ngga papa.”

Gue pun mengangguk tak berdaya. Saat itu pula gue berkomitmen: harus puasa seminggu untuk bayar uang Dina kembali. Harga bukunya Rp 59.500,. dan itu pulalah yang akan gue bayar ke Dina. Apa seminggu cukup yah gue ngumpulin duit segitu. Em... akan gue coba!

Tak lama, Meyla dan Dina pun keluar dari antrean kasir. Membawa satu bungkus plastik yang berisi tiga buku Koala Kumal. Kami lalu kembali ke antrean yang tadi. Di antrean kami disuruh kak Odie untuk menampakan buku Koala Kumal masing-masing. Dina pun membagikan buku yang masih di plastik.

Gue buka plastik yang masih menempel erat di buku Koala Kumal yang masih baru ini.

“Jangan lupa kasih nama di halaman pertama...!” parintah kak Odie. Kami pun mencari-cari pulpen untuk menulis. Nggak tau dari mana: si Dina dapet pulpen. Setelah giliran Meyla menulis, gue pun mendapat giliran untuk menuliskan nama gue di buku ‘Koala Kumal yang ditalangi dulu’ ini.

***

Masih jam setengah satu siang. Padahal acara dimulai jam 2. Antrean belum terlalu panjang jam segini.

Gue antre diampit oleh beberapa cewek-cewek. Di belakang gue ada Meyla dan Dina. Di depan ada cewek gendut yang awalnya gue kira cowok. Di samping gue ada cewek anak SMA yang gue taksir baru kelas satu.

Anak SMA ini seru sendiri. Ngomongin tentang Raditnya Dika dengan penuh semangatnya. Dalam hati gue bergerutu. “Biasa aja kali...,”

Cukup pegel gue ngantre. Karena bosen, gue baca aja bukunya. Gue buka. Dan gue baca. Ya, gue baca sambil berdiri. Halaman awal membuat gue lebih kenal sama Radit. Di mana ia bercerita bahwa ini bukunya yang ke-7. Memang, jika ia menerbitkan buku. Ia ibaratkan dengan anaknya sendiri. Dan sekedar info. Radit menulis buku Koala Kumal selama 3 tahun.

Asyik gue baca buku ini. Yang ngeselin di bukunya Raditya Dika adalah suka bikin gue ketawa tiba-tiba.

Dan ketika gue baca di bagian yang ‘bikin gue ketawa tiba-tiba’ gue pun menahan tawa sekuat tenaga. Malu gila. Ini kan di tempat umum. Masak gue ketawa sendiri. Dikira nanti gue orang gila dan, diusir dari barisan.

Masih asyik gue baca buku. Lalu anak SMA di samping gue manyapa.
“Kak,” katanya. Wajahnya..., gue taksir dia itu keturuan China. Taulah anak kayak gitu tampangnya kayak gimana.

Gue memincingnkan mata dan bertanya, “Iya?”

Lalu dia pun menunjuk ke arah tepat depan gue. Apa yang dia maksud gue pun nggak tahu. Apa gue nyelak dia yah? Batin gue.

“Itu pembatesnya, jatoh,” katanya.

“Aduh, iya...,” gue pun langsung memungut pembatas itu. Dan berterimakasih kepada anak SMA ini. Dia lalu tersenyum.***


                                                              Bersambung ~

Afsokhi Abdullah, 19 Januari 2015 
Di Kelas yang Tak Ada Guru. 
Comments
0 Comments

Posting Komentar