Membaca 'Persengkongkolan Ahli Makrifat' (Kuntowijoyo)

Akhir-akhir ini kita sedang diuji tentang bagaimana ‘memandang’ agama. Tentu saja ada banyak ahli agama yang menyiarkan ajaran-ajaran baik. Namun, dalam penyampaian itu, tidak semuanya dengan cara yang sama. Ada yang menyampaikan seolah marah-marah, ada juga yang halus.

Kuntowijoyo adalah nama besar dalam kesusastraan Indonesia. Beliau besar dalam keluarga yang religius dan mendapat pendidikan yang tinggi (terakhir ia menjadi guru besar di UGM). Jujur saja, aku belum lama mengenal nama ini. Dan begitulah sebuah karya, membuat penulisnya tetap hidup. Dan ya, melalui buku kumpulan cerpen ini, aku merasakan denyut kehidupan beliau.

Di pengantar buku ini sempat ada singgungagan tentang apa itu sastra profetik. Dan menurut Kuntowijoyo, itu adalah adalah sastra yang sebagai ibadah dan sastra yang murni. “’Sastra ibadah’ saya adalah ekspresi dari penghayatan nilai-nilai agama saya, dan sastra murni adalah ekspresi dari tangkapan saya atas realitas.”


Penghayatan nilai agama yang dimaksud di atas, dalam buku ini adalah agama Islam. Dan terasa betul dalam membaca cerpen-cerpen di buku ini, aku merasakan penghayatan yang tidak biasa tentang realitas-agama. Tentu saja dibawa dengan cerita yang menarik; bahasa sederhana khas penulis tahun 60-an.

Buku ini dibuka dengan cerpen berjudul ‘Hati yang Damai Kembalilah kepada Tuhan’. Dari judulnya saja kita bisa mencium aroma-aroma religius di sana, dan memang begitu. Sebenarnya cerita ini simpel saja, tentang seorang lelaki yang tergeletak tak jauh dari sebuah masjid dan mencoba untuk masuk ke masjid dengan susah payah.

Orang-orang sekitar tidak suka dengan orang (bajingan) itu, kehadirannya bagi mereka bisa mengotori masjid. Karena si lelaki memang terkenal tidak baik, judi, mabuk, dan maksiat lainnya. Namun Kiai yang mereka hormati di desa itu datang dan membantu si bajingan untuk berdiri, orang-orang takjub melihat kejadian itu.

“Untuk apa kalian berusaha mengangkat orang ini keluar?”
Tak seorangpun menjawab.
“Untuk apa, anak-anak muda?”
“Masjid ini kotor, Kiai.”
“Masya Allah. Kautahu kalu masjid ini jadi kotor?”
Mereka semua terdiam.

Dialog di atas tentu saja mempunyai nilai sendiri secara penghayatan agama dan realitas kita. Yang mana banyak dari kita terlalu mudah men-cap setiap orang yang salah akan selalu salah. Padahal bisa saja dia hari ini salah, besoknya bertaubat. Bisa saja pagi ini kita muslim, sorenya kita kafir. Tidak ada yang tahu tentang keimanan seseorang kecuali urusannya paling sakral  dengan Tuhan.

Kebanyakan cerpen-cerpen dalam buku ini berangkat dari sebuah desa, dari sebuah lingkungan yang jauh dari keriuhan kota, di mana orang-orangnya masih ‘primitif’, masih kolot. Sebuah desa itu juga bisa berarti adalah kita, kita yang tidak terbuka tentang bagaimana memandang agama, kita yang memandang agama hanya dalam satu sisi, yang akhirnya yang muncul hanya kebencian dan kebencian.

Narasi-narasi yang ditawarkan buku ini menurutku dapat membuka mata kita tentang bagaimana menghayati realitas yang terlihat di depan mata dengan anjuran agama. Bahwa tujuan dari agama adalah kebaikan di muka bumi, tanpa ada kesan menceramahi dan di sisi lain menikmati kisah yang dibaca. Bukankah Al-Qur’an juga demikian? Berisi tentang ‘kisah’ masa lalu, agar kita tidak terjeremus di lubang yang sama?


Comments
0 Comments

Posting Komentar