Catatan di Balik Launching Buku Kaola Kumal. Gramedia Matraman (Bab 4). GUE BAKAL MENJADI PENULIS SUKSES SEPERTI RADITYA DIKA.

Kami pun menuju pintu keluar. Di sana (pintu keluar) tidak jauh dari penitipan tas kami. Sebelum sampai sana. Tepatnya sampai di kasir lantai tiga deket eskalator turun, gue moto kejadian di mana antrean berjubal banyanknya. Gue bersyukur. Nggak di antara barisan paling belakang itu.







Ketika kami sampai toko buku anak-anak. Kami sempat selfie. Setelah selfie, gue baru sadar.
“Eh. Gue baru sadar. Kita bisa dengan pedenya selfie di tempat umum gini,” kata gue.

“Bodo lah,” jawab Dina. Meyla hanya mengendus.






Kami pun menuju pintu keluar tanpa tersesat. Sempat juga ada hujan turun. Kami mengambil tas kami. Lalu keluar.

“Eh. Tadi gue liat toko buku di sono,” kata gue. Sambil mengacung ke arah loby mobil. Saat itu masih gerimis kecil. Lalu Meyla dan Dina patuh sama gue. Mereka ikut ke toko buku di loby.

Di atasnya ada semacan pemberitahuan gitu. Tulisannya Rp 5.000,.

Lah. Gue langsung tertarik ke sana. Dan mencari buku-buku bagus. Pertama gue cari buku idaman gue: Gadis 360 detik yang lalu. Namun nggak ketemu.

Gue pun binggung. Ini kasirnya di mana. Gue nanya ke cowok yang sedang mengubek-ubek buku sama kayak gue.

“Ini kasirnya di mana, yah?” tanya gue ke cowok itu.

“Nggak tahu,” jawabnya singkat. Gue pun menjauh darinya. Gue berjalan mengarah ke arah agak keluar. Dan di sana. Di sana ada kasir...! gue nggak ngeliat tadi pas masuk.

Gue tanya ke kasir itu, “Kak, ini kasirnya yah?” dia menganggukan kepala. “Harganya lima ribuan semua ini?” tanya gue kembali.

“Harga ada di belakang bukunya, mas, bervariasi. Dan nggak selalu sama.”

Gue menganggukan kepala. Paham. Lalu gue mencari-cari buku yang setidaknya murah, dan berisi lembaran yang banyak dan, best seler kalo bisa.

Gue liat kebanyakan di toko buku ini semua bukunya terbitan Gramedia, Kompas, Elex Kompotindo, ah, gue tahu, ini buku terbitan grup Kompas semua. Dan pasti bukunya nggak usah diragukan. Sebab, Kompas adalah penerbit mayor. Dan gue yakin, naskah yang lolos bukan main-main.

Setelah bermain-main dengan melihat harga di setiap pantat buku. Gue lupa sama Meyla dan Dina. Gue beri jeda sejenak. Menemukan mereka sedang membaca buku juga. Gue kira mereka bakal ninggalin gue. Huh.

Banyak pilihan. Banyak sekali. Dengan proses yang cukup panjang. Gue jatuhkan pilihan ke buku: Hamba Sebut Paduka Ramadewa. Ya, gue menjatuhkan ke buku ini bersebab gue kira di dalamnya penuh dengan sastra; gaya penulisan yang mengaggumkan.


  
Dan, benar. Ketika gue baca di rumah. Benar. Pokoke gue nggak salah milih.

***

Gue ke arah kasir. Tampaknya ‘abang kasir’ nggak percaya kalau ini buku harganya Lima Belas Ribu. Sebab, bukunya tebal, dan covernya juga menarik menurut gue. ‘Bang Kasir’ mengecek di lembaran kertas yang dia miliki.

Dia pun menanyakan ke tamannya yang sedang sibuk dengan buku yang berantakan. Dijawab oleh tamannya dengan anggukan kepala. Gue nggak maksud dengan anggukan kepalanya.

Namun, beberapa kali bang kasir menanya, dan selalu dijawab dengan anggukan kepala oleh temannya.

“Mana uangnya?” tanya si kasir. Dan gue udah siap dengan uang lima belas ribu. Gocengan semua. Sisa duit goceng di celana gue saat ini.

Bang kasir pun membungkus buku dengan plastik khas Gramedia, dan mensteples bon bersamaan dengan plastik. Nggak bisa. Dia kesusahan. Nggak tahu kenapa.

“Udah gitu aja, bang,” kata gue. Nggak sabar, udah mau ujan deras. Lalu abang kasir pun mengasihkan gue plastik beserta buku yang gue beli.

“Terima kasih...,” katanya, senyumnya mekar.

***

Gue, Meyla, dan Dina pun beranjak keluar. Melewati jembatan busway untuk menuju halte busway. Isi saldo kartu yang gue pegang pas-pasan. Tinggal sekali jalan doang ini.
Dengan diiringi gerimis kecil. Kami sampai di antrean menuju Senen. Singkat cerita, gue kebablasan, sehingga gue turun di Jembatan Merah. Sedang Meyla dan Dina turun di Senen. Mereka nggak bilang-bilang kalo mau turun.

Ketika gue turun di halte Jembatan Merah. Gue ngeliat Kak Ines, kakak kelas gue ketika itu. Sekarang dia udah lulus, dan kuliah. Gue nggak nyapa dia. Sebab gue ngikut arus penumpang menuju keluar. Kalo gue berhenti, gue bakal ditabrak dari belakang. Uh.

***

Singkatnya. Gue sampai di kosan. ASTAGFIRULLAH, WAKTU DUHUR UDAH NGGAK ADA. Jadi, sampainya gue di kosan, gue cuma sholat Ashar. Sehabis Ashar, gue baca buku Koala Kumal, hanya beberapa lembar habis itu udah.

Esoknya, pagi-pagi gue baca lagi tuh buku. Dan, tak terasa, sudah selesai gue baca semuanya dari bab 1 sampai akhir.



Dan gue terus menggebu untuk menjadi penulis. Gue akan belajari ini buku!!!

Begitulah ceritaku. 

LIHAT. SUATU HARI NANTI, GUE BAKAL MENJADI PENULIS SUKSES SEPERTI RADITYA DIKA...!


                                                     TAMAT~

Afsokhi Abdullah, 19 Januari 2015 
Di Kelas yang Tak Ada Guru. 
Comments
0 Comments

Posting Komentar