Hari Penyesalan, Perubahan

Hari Penyesalan, Perubahan

Jika ada waktu senggang seperti ini, yang terlintas pertama di lamunanku, adalah penyesalan. Ya, jelas, aku tidak mempergunakan waktu untuk berencana, tidak segera sadar bahwa hidup ini penuh perjuangan. Tidak segera.

Dan, waktu ternyata tidak menungguku untuk tumbuh dewasa. Namun, sekarang, terbayarlah sudah semuanya. Dagang di sekolah ke sekolah, gang ke gang; menjadi tukang urut, tukang bangunan yang gajinya hanya habis untuk makan. Semacam pekerjaan seperti itu sudah kulakoni semua. Sudah kulakoni.

Pulang kampung adalah pil pahit yang harus kumasukan ke dalam tubuh, secara paksa dan tanpa air. Bagaimana tidak? Aku tidak punya banyak hal yang dapat membahagiakan orangtuaku. Aku tidak membawa perubahan, hanya kekecewaan yang tersirat jelas di raut wajah ibu-bapak ketika kedatanganku di kampung. Tatapanya, beribu makna ada di sana.

Ya, semua sah-sah saja. Aku berkaca dari caraku belajar di sekolah tingkat kejuruan, dan mondok. Aku tidak memperhatikan, malas mengerjakan tugas, terpusat kepada teman, hura-hura; mengisi rapot pun sendiri. Ya sendiri, jadi aku bisa seenaknya saja mengisi. Semua, sah-sah saja kan?
Hanya kiriman uang dari orangtua yang kuharapkan ketika masih mondok. Masalah belajar. Itu tidak penting.

Sekarang, aku masih bisa bercerita, bagaimana menyesalnya dulu, betapa sengsaranya hidupku. Bercerita kepada diri sendiri. Bercerita kepada dunia. Bahwa akan ada orang yang ingin berubah detik ini. Ya, aku, menyesal.

Aku sadar. Ketika kecil. Aku terlalu manja kepada ibu-bapak. Terkadang pula aku membentaknya. Ah, semuanya adalah dulu. Aku menyesal. Sungguh.
Orangtuaku sudah sangat sepuh. Terakhir aku melihatnya ketika keberangkatanku ke Malaysia untuk bekerja. Ibu, bapak. Wajahnya terlalu banyak kerutan, termakan oleh proses sang waktu. Matanya berkaca-kaca, menatap tajam dan penuh harapan saat kepergianku. Senja itu.

Angin kala itu menjadi sangat dingin. Dada ini serasa penuh, sesak. Kepala ini berat untuk diajak tegap. Semua angin di kutub utara seperti bermuara di ujung-ujung jari kaki ini.

***

Sekarang, semua akan kuubah. Dengan apa yang kupunya, akan kuperbaiki hidup ini dengan waktu yang tersisa. Dewasa ini, aku sadar akan semua itu. Penyesalan hanya penyesalan, keberhasilan adalah tujuan akhirku, pilihanku.

Walau peluh membanjari tubuh ini. Walau dunia menertawakanku. Aku akan tetap berusaha. Akan tetap berubah sedikit demi sedikit. Dan pada akhirnya, aku akan pulang dengan membawa keberhasilan. Yang nyata.

Afsokhi Abdullah, Jakarta, 13 November 2014
Untuk Kakak-ku di Malaysia ^-^
Samsul Hidayat.

Comments
0 Comments

Posting Komentar