KEPADA KAMPUNG, MAAF TAHUN INI KITA TIDAK BERTEMU

Tahun ini, gue ndak pulang kampung karena ada PKL. Tahulah, kalau kantor cuti bersamanya ndak terlalu lama, ndak seperti anak sekolah yang sebulan bisa libur.

Karena itu, gue sedih, ndak bisa bertemu dengan Mamake (Ibu), Bapake (Bapak), Adik dan saudara-saudara.

Gue kangen suasana kampung yang khas, suara bising malamnya, sinar paginya, angin sorenya, dan senyum tulus penduduknya.

Cilacap, memang terkenal dengan Nusakambangan, teroris, dan semacamnya yang mengerikan. Namun, asal situ tahu saja, Cilacap adalah kabupaten dengan wilayah terbesar di Jawa Tengah.

Sumber Alamnya berlimpah, maka dari itu Pertamina membangun 'obor'nya di sini. Eh, ngomong-ngomong, obor itu kelihatan lho dari belakang rumah gue.

Balik ke kenangan kampung, yang selanjutnya gue kangenin adalah langgar (mushola) Mbah Kakung (Kakek) yang belakangan ini semakin ramai. Di sana, bisa kita temukan canda tawa anak-anak kecil sehabis mengaji, orang tua pada ngobrol, dan saudar-saudara gue yang sering bermain ke rumah Mbah Kakung.

Kalau bulan Ramadhan, mushola Mbah Kakung bakal ramai pengunjung. Sehabis tarawih, pasti akan banyak makanan berlimpah, mulai nasi sampai jajanan anak-anak.

Kami makan bersama, saling berbagi, dan bercerita yang didominasi tentang sawah dan hasilnya..

Gue kalau di antara mereka, hanya bisa diam, dan lebig memilih bermain dengan anak-anak kecil lainnya. Teman sepantaran gue, banyak yang sudah bekerja, dan tampak lebih tua ketimbang semestinya. Jadi gue bingung, apa yang harus diperbincangkan antara kami..

Kalau malam dan menjelang tengah malam, lantunan ayat suci Al-Qur'an akan terdengar menjadi pengantar tidurmu. Sumbernya dari beberapa langgar yang tersebar di desa gue dan desa sebelah.

Malam yang sunyi, hening, maka dari itu bisa dengan mudah telinga menangkap sumber suara itu. Menenangkan hati.

***

Gue kangen masakan Mamake, masakan yang khas, rasanya pas, ada pedas, asam, ah, macam-macamlah. Mamake memang pintar memasak, terkenal juga di desa.

Di kampung halaman, kadang bertemu kawan lama MI dulu. Kebanyakan mereka melanjutkan di pesantren. Oh iya, di kampung gue, ada dua pilihan setelah lulusan SD dan SMP: mau pesantren atau bekerja?

Teman gue yang mas-mas kebanyakan ambil opsi kedua, dan opsi pertama untuk mereka teman mbak-mbak gue. Mereka menjadi wanita-wanita sholeha, dan siap menjadi istri yang baik, menurut gue sih gitu...

Yang gue kangenin lagi adalah bercanda dengan Adik-adik gue. Namanya Khavizah, dan Maming (Fahmi Nur Syabani), dia anaknya gampang diledekin, kadang ngeselin kadang nyenengin juga sih. Paling jago meliara ayam, burung, pohon, dan semacamnya.

Kami sering berantem, pernah Maming sampe cidera sama gue, wuhaha...

***

Ndak ada habisnya kalau ngomongin kampung... Yang pasti, gue bangga punya kampung di Cilacap, bahasa Ngapaknya pun tak pernah gue lupakan :)

Lebaran tahun ini, gue hanya bisa menelepon kampung, minta maaf, dan bercerita tentang keadaan, nelangsa memang, tapi lebih berkesan. Ah ndak, lebih berkesan kalau bertemu langsung.

Februari udah UN aja. Jadi, gue ndak bisa pulang kampung abis lebaran ini, PKL berakhir September. Uhuhuh... Harusnya gue fokus belajar, dan pulang kampung dengan bangga, dengan nilai UN yang kece dan akan masuk PTN. Semoga saja yah, aamiin...

Huh, sudah sampai sini dulu saja ya. Gue udah mulai sedih nih. See you ngesuk maning ^_^

23.38 Sevel Olimo, 18 Juli 2015
Comments
0 Comments

Posting Komentar