SAMPAI KAPAN BISA SEPI MENYENDIRI?

Sampai sekarang, gue ndak tahu apa yang gue perbuat benar atau salah.

Setiap hari, gue ditemani sepi. Setiap hari, hanya angin dan semacamnya yang magis setia menemani hari-hari gue.

Awalnya, gue merasa nyaman dalam kesendirian. Tapi, jika dirasakan lebih dalam lagi, sepi dan kesendirian adalah bentuk jalan akhir bagi seseorang yang tidak bisa mengerti dirinya sendiri bahwa ia adalah makhluk yang butuh orang lain, butuh sosialisasi, dan butuh dikuburkan mayatnya oleh orang lain.

Ia adalah orang yang tidak bisa memantaskan diri di suatu tempat, atau kelompok yang berisi orang-orang beragam pastinya.

Kadang gue berpikir, apa yang seharusnya gue lakukan? Apa harus keluar dari situasi ini dengan bergaul dengan (setidaknya) orang sepantar dekat kosan, atau jalan-jalan sendiri di tempat keramain bertemu orang-orang dan hal baru yang tidak disangka.

***

Jika membicarakan pegaulan di sekitar kosan, agak miris memang. Daerah kosan gue, bisa dibilang kurang moralnya. Itu terbukti banyaknya kasus-kasus narkoba di sini, pencurian, sampai tempat PSK.

Jujur, gue adalah orang yang gampang terpengaruhi. Sulit membedakan mana yang harus diserap dan mana yang harus di-takacuhkan.

Begitulah, kalau gue boleh memilih, mending gue tinggal di kampung. Bersama udara bersih, saudara banyak, dan orangtua yang perhatian. Tapi tidak, gue tidak bisa mengubah takdir..

Dalam hati gue yang paling dalam, ingin rasanya menyudahi orang kuper seperti demikian. Sebenarnya hal ini hanya terjadi di tempat gue tinggal saja. Di sekolah, tidaklah gue seperti itu, malah bisa dibilang siswa aktif, aktivis.

Tapi tetap saja, sikap tertutup dan pasif tetap terbawa oleh tubuh ceking ini ke mana saja. Kadang, jika bertemu tempat baru, gue merasa jadi orang asing. Gue tidak seperti kebanyakan orang. Bisa bertukar canda sedemikian rupa dan akrab dengan cepatnya.

***

Merasa kesepian dalam kesendirian, gue rasakan ketika merenung dan ndak ada kerjaan. Kalau hari-hari biasa, gue merasa nyaman saja. Tapi lain kalau tiba saat seperti ini, gue merasa butuh teman, keluarga, sahabat, orang yang bisa menghibur.

Dalam bentuk nyata, bukan yang biasa dihubungi lewat perangkat handphone.

Iya, gue butuh itu. Rasanya, kalau dipikir-pikir, sampai kapan gue seperti ini, ndak punya banyak teman, sahabat, apalagi keluarga dan saudara yang tidak (sempat) gue kanal.

Apa jadinya kalau gue tua nanti. Hidup dalam kesepian, sendiri. Ehm. Oke, pasti itu akan menyedihkan.

Maka dari itu semua, gue sadar, harus keluar dari situasi ini, mulai dari bergaul dan menyapa orang di sekitar kos. Atau opsi kedua, berjalan-jalan di tempat ramai sendiri, pun bisa membuat gue bahagia, seperti sekarang ^_^


18 Juli, Sevel Olimo 2015
Comments
0 Comments

Posting Komentar