ANTARA NGAMBEK, MARAH, KETIDAK JELASAN DAN KESURUPANNYA ARGI PRAMANA

Saya punya teman, menurut saya dia aneh. Namanya, sebut saja Argi. Ia kalau di kelas, duduk tepat di depan saya, kebetulan dia juga satu kelompok PKL dengan saya selama 3 bulan.

Dia sangat suka mengenakan earphones di tengah keramaian, juga kadang menggambar untuk mengisi waktu luang sambil mendengar musik instrumen metal yang lebih seperti antena rusak terdengarnya.

Suatu waktu, bahkan sering, ia akan diam menyendiri, seperti orang ngambek, kalau ditanya jawabnya seperti orang ngajak ribut.

Penyebabnya-ia-seperti-itu kadang sepele: karena diledekin atau dimasukan foto aibnya ke medsos.

Yang kedua mungkin tidak sepele ya?

Saya tahu, dia tidak bisa marah. Orang sepertinya, tidak bisa dengan mudah mengeluarkan apa yang ia pikirkan dan rasakan ketika itu juga.

Dalam hatinya, pasti berkecamuk, mengejab-ngejab; seperti tersayat jika 'merasa' marah; tidak bisa mengontrol diri dan lebih memilih menyendiri-dalam-diam jika mengalami perasaan seperti itu.

Iya, dia bisa marah, namun hanya disimpan dalam dada, tanpa bisa dikeluarkannya.

Lain waktu, jika ia berbicara dan saya perhatikan, kadang ucapannya terucap seperti orang gagap, susah sekali ia berbicara tampaknya dan, rancu untuk didengar.

Bisa jadi, ia seperti saya, memikirkan apa yang akan diucapkan berkali-kali, sebab sampai akibat, hingga akhirnya terlalu banyak pilihan di kepala dan susah diucapkan dan memilihnya.

Berbeda dengan orang yang berbicara terlebih dahulu baru berpikir. Ia bisa saja lancar berbicara, namun setelahnya ia tak tahu akibat ucapannya itu baik/buruk pada perasaan orang yang mendengar.

***

Suatu hari saya pernah bermain ke museum prasasti yang isinya kebanyakan kuburan Belanda dekat tempat PKL. Suasana museum sangat sepi dan khitmat.

Ketika kami: Ucup, Saya, Ridho, dan Argi menyusuri itu kuburan, tiba-tiba Argi seperti orang kesurupan.

''Huekg!'' begitu bunyi yang bersumber dari Argi tiba-tiba, keras.

Seketika Ucup tertawa geli dan Ridho mendekatkan tangannya yang terbuka kepada Argi dan berbicara seperti paranormal, ''Siapa di dalam? Siapa di dalam...?''

Ucup tertawa semakin menjadi, dan saya ikutan tertawanya Ucup karena tak tahan.

Detik selanjutnya, air muka Argi berubah serius, seperti Koro Sensai kalau lagi membicarakan pribadinya.

Kemudian, dia memisahkan diri dari kami, ia pergi.

''Gila luh Argi kesurupan!'' ledek Ucup, itulah kegemaran Ucup, meledek.

''Huekg!'' suara Ridho meniru Argi. Lalu gelak tawa kami terbit kembali.

***

Argi pergi, bersama langkah-langkah panjangnya menuju kantor, kebetulan waktu itu sedang istirahat siang PKL.

Beberapa jam kemudian, Argi baikan seperti biasa. Bahkan, sampai ke tingkat titik 'ketidakjelasan'-sebagai-menusia terendus oleh saya.

Di sisi lain, Argi adalah teman yang baik, kadang dia rela berkorban demi temannya. Sekedar mengantar ke wc, beli pulsa keluar, minta anter ke kantin, hingga meminjam laptopnya dan lain sebagainya.

***

Ada kemiripan sifat saya bersamaan penjabaran di atas.

Seorang introvet adalah pemikir, ia lebih suka dengan dunianya sendiri yang dibuatnya. Introvet bukan anti sosial, bukan... Jika seorang introvet sudah memiliki alasan untuk berteman denganmu, ia adalah teman terbaik nan paling setia yang kamu miliki.***

Baca twit Argi Pramana: @4261_san

@4261_san Aku tdk peduli dgn ucapan mereka. Yang aku
inginkan hanya ketenangan, jauh dari orang2
aneh yg berstatus 'teman' tersebut.

@ReffindaRYN: @4261_san mending lu tinggal aja di pluto dah.

31 Juli 2015 pada hari Jum'at
Comments
0 Comments

Posting Komentar