'Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat' Adalah Buku Lelucon?

Seingatku, aku terakhir membaca buku pengembangan diri itu sekitar 3-4 tahun lalu. Buku itu berjudul The Seven Habits of Highly Effective Teens. Dan, ya, pada dasarnya aku memang tidak terlalu menaruh perhatian lebih kepada buku jenis ini (dan dunia motivasi). Karena (1) aku yakin apa yang aku inginkan semua ada di tanganku, jika aku ingin sesuatu ya aku harus berusaha sekuat tenaga (2) semua kata-kata motivasi itu hanya omong kosong, dan orang kurang kerjaan yang memercayainya.

Hingga akhirnya aku menemukan buku ini: Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat. Jelas saja, sebagai buku pengembangan diri, judul buku ini bertentangan terhadap apa-apa yang orang katakan di seminar, blog, atau buku tentang pengembangan diri yang ‘menuntut’ kita untuk senantiasa melakukan segala hal yang positif. ‘Bodo Amat’ tentu saja berkonotasi negatif, tapi di buku ini ia dinarasikan bahkan setara dengan ajaran Buddhisme. Nah..

Karena itu aku tertarik untuk membaca ini, berharap aku menemukan hal baru. Dan benar saja, ketika membaca di bab pertama, aku menemukan judul yang berbunyi, “Jangan Berusaha”. Dari sini aku mulai berpikir, apakah ke depan akan ada banyak judul semacam ini? Atau sebenarnya buku ini hanya lelucon?

Akhirnya aku membaca kalimat demi kalimat buku ini, dan ya, aku menemukan bahwa apa yang dikatakan Mark Manson adalah hal yang bisa disetujui oleh banyak orang. Lihat saja, di bab pertama ini ia mengatakan bahwa berpikir positif, menjadi sukses, unggul, menjadi nomor satu, itu adalah bagian dari lingkaran setan yang membuat kita tidak pernah bahagia/merasa cukup.

Ironisnya, pengarahan pemikiran pada hal-hal positif ini—tentang apa yang lebih baik, apa yang lebih unggul—hanya akan mengingatkan kita lagi dan lagi tentang kegagalan kita, kekurangan kita, apa yang seharusnya kita lakukan namun gagal kita wujudkan. (Hlm. 5)

Artinya jika kita terus mengejar kebahagiaan, kita tidak akan pernah menemukan kebahagiaan. Kita tidak pernah hidup jika terus mencari arti kehidupan, kata Albert Camus.

Melalui bab 1 ini, aku bisa menemukan inti dari apa yang dipikirkan Mark Manson, bahwa sebenarnya ada banyak hal yang keliru di dunia ini, terutama tentang kebahagiaan di dunia, dan hal inilah yang sering muncul di bab-bab selanjutnya.

Tentu saja Mark menawarkan solusi dari masalah-masalah tersebut. Di bab 2 yang berjudul “Kebahagiaan itu Masalah” ia berkata,

Kebahagiaan datang dari keberhasilan untuk memecahkan masalah. Kata kuncinya di sini adalah “memecahkan”. Jika Anda berusaha menghindari masalah Anda atau merasa seakan-akan tidak punya masalah apa pun, Anda akan membuat diri Anda sengsara. (Hlm. 36)


Pengalaman membaca buku ini buatku cukup menyenangkan, dan tidak kaku-kaku amat sebagai buku nonfiksi. Kadang Mark menyisipkan kisah-kisah orang hebat hingga kisah hidupnya sendiri, dan kemudian pembaca dibawa untuk membedah apa pesan dari kisah tersebut. Dengan narasi seperti ini, aku pikir ia bisa ‘masuk’ ke banyak kalangan, dan memberikan kesan tanpa menggurui.

Mark lebih berkesan seperti tamu yang datang ke rumahmu, dan ia terus mengoceh tanpa henti di ruang tamu tentang pemikirannya yang gila dan, sialnya, kamu setuju.

Tentu saja ada banyak ‘mutiara-mutiara’ yang aku temukan dalam buku ini. Tapi pada intinya sih ia sedang membicarakan: bagaimana cara kita membuat ‘nilai’ untuk diri kita sendiri dan komitmen akan itu, buka pemikiran kita lebih lebar lagi, jangan menyiksa diri dan ingat suatu saat kita akan mati.

Jika kita amati lebih jauh lagi, sebenarnya buku ini sedang membicarakan hal-hal baik yang seharusnya sudah kita sadari sejak lama. Ia mengajarkan kita untuk ikhlas, tawakal, tidak terlalu mengejar kebahagian dunia, memberikan manfaat pada orang lain, dan jangan lupa pada ‘hari akhir’ kita. Bahkan aku merasa apa yang dikatakan Mark dalam buku ini, ada beberapa yang mirip dengan apa yang dikatakan kitab suci. .

Dan, sebagus-bagusnya buku ini, ada hal yang membuatku agak jengkel. (1) ada banyak pengulangan ‘makna’ dan kalimat bertele-tele yang membuatku kadang bosan (2) setidaknya penerbit memberikan ilustrasi atau gambar atau apalah untuk membantu pembaca mengingat apa yang dibacarakan pada bab/halaman tertentu, karena memang banyak sekali hal yang disampaikan pada buku ini, dan kita tidak mungkin ingat semua.

Pada akhirnya, membaca buku Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat adalah pengalaman menyenangkan yang bisa membuatmu membuka mata, pikiran, lebih lebar lagi tentang dunia ini. Ia menyajikan pemikiran-pemikiran yang membuat kita berpikir ulang tentang suatu hal yang sudah terlanjur kita amini selama ini.

Dan setelah membacanya, jika kamu ingin menerapkan apa-apa yang dikatakan buku ini atau tidak, itu masalah lain. Tapi setidaknya, ketika kita selesai membaca buku ini, kita merasa seperti manusia yang ‘sedikit’ beruntung di antara manusia-manusia lainnya.***

Membaca Kumcer Cemara (Hamsad Rangkuti)

Seseorang pernah bilang bahwa karya sastra yang sukses adalah ia yang mampu ‘merekam’ suatu peristiwa, masa, sebagai bahan renungan yang nantinya dibaca di masa mendatang. Dan buku kumcer Cemara karya Hamsad Rangkuti, setidaknya menurutku, adalah karya sastra yang seperti itu.


Ada 15 cerpen di buku ini. Sebagian besar mengangkat tentang kehidupan sehari-hari: bagaimana seorang anak muda yang tidak bersosialisasi, wanita yang suka pamer perhiasan, para petani, hingga tender.

Ketika membaca cerpen-cerpen di dalam buku ini, aku menemukan beberapa istilah yang jarang kujumpai. Aku harus kembali membuka KBBI di sela-sela membaca buku untuk mengerti maksudnya.
Seperti ‘Menjangan’, istilah ini baru aku temui di buku ini, dan artinya adalah hewan rusa; kijang. Jika aku tidak membuka KBBI, mungkin aku akan sulit membayangkan apa itu ‘Menjangan’.

Tidak hanya satu-dua, ada beberapa istilah semacam itu yang bisa kamu temui di kumcer ini. Maklum saja, sebagian cerpen ini diberi titimangsa pada tahun 80-an!

Tidak seperti Danarto, maestro seangkatannya itu, cerpen-cerpen Hamsad Rangkuti terkesan tidak menyampaikan pesan apa-apa. Maksudku pesan yang berupa sebuah seruan untuk berbuat baik dan sebagainya.

Dalam cerpen Hamsad Rangkuti, aku lebih sering menemukan ‘hiburan’, terkait pesan, agaknya itu tergantung kita para pembaca, ingin pesan itu seperti apa dan bagaimana, itu terserah pada pembacanya.

Jika dirasa secara sekilas, cerpen-cerpen Hamsad disampaikan dengan sangat sederhana. Entah bagaimana aku menjadi merasakan candu ketika membaca kalimat demi kalimatnya padahal tidak ada akrobat yang wah dari narasinya. Semuanya murni ‘cerita’, ya, Hamsad Rangkuti bisa dibilang mendongeng melalui cerpen-cerpen yang ditulisnya.

Mari kita lihat isi buku ini.

Sebenarnya aku menyelesaikan membaca buku ini pada September tahun lalu, dan sialnya aku lupa untuk membuat resensi. Jadi, dari beberapa bulan yang lalu, cerpen yang masih melekat di kepalaku adalah: Masa Muda Saya, Perhiasan, Muntah Emas, dan Jembatan.

Di dalam cerpen Masa Muda Saya, Hamsad menulis tentang anak muda yang anti-sosial yang hidup di indekos. Semua tetangga membicarakannya, tapi ia hanya cuek: sebuah sikap yang mungkin banyak melekat di anak muda antar-zaman.

Saya paling suka mengurung diri di dalam kamar begitu saya sampai di rumah indekosan saya. Saya hidupkan lampu. Saya pun membaca buku atau membaca karangan-karangan sahabat saya di majalah-majalah ataupun di koran-koran. Saya tidak suka membaca karangan dari pengarang yang tidak saya kenal. Sebetulnya itu tidak baik, tapi begitulah sifat saya. Sehingga sifat jelek itu berakibat ke dalam pergaulan saya sehari-hari. Saya tidak mau bertutur sapa dengan dengan orang yang tidak saya kenal.

Begitulah paragraf pembuka cerpen tersebut. Langsung pada intinya! Melalui cerpen ini Hamsad menyinggung sifat pemuda yang menutup diri, tidak mau bersosialisasi, yang sialnya sangat relevan padaku!

Tapi, uniknya, hal itu dibuat sangat menggelikan oleh sang maestro.

“Kumisnya jarang, seperti kumis kucing. dia kira kumis seperti itu menarik? Saya jijik melihat kumis seperti itu. Tapi angkuhnya bukan main. Dia tidak pernah mau menegur kita. Si Kucing  dungu itu.”

Saya ambil cermin. Saya lihat muka saya. Saya hitung kumis yang tumbuh di bawah hidung saya. Memanjang, seperti tonggak-tonggak.

Kemudian di dalam cerpen Muntah Emas, Hamsad membuat cerita tentang sebuah muntah di lantai (bus yang penuh) dekat salah satu bangku yang membuat orang-orang tidak mau mendudukinya. Namun tokoh ‘Aku’ tetap duduk di bangku itu tanpa memedulikan muntah tersebut dan orang di sekitarnya yang berdiri dan menunggu reaksi apa yang akan terjadi pada tokoh ‘Aku’.
Orang-orang terheran kenapa ‘Aku’ bisa tidak jijik dengan mutah itu.

Aku perhatikan muntah itu. Beberapa potongan yang masih utuh memberi tanda makanan apa yang baru dimakan orang yang memuntahkan muntah itu. Potongan mi, daun selada, potongan-potongan kecil bakso. Semuanya berwarna kuning berlendir.

Dari narasi di atas, tentu dapat kita simpulkan tidak ada pesan apa-apa yang ingin disampaikan. Ia hanya sedang membuat ‘hiburan’ yang membuat pembaca penasaran dengan tokoh ‘Aku’ yang kuat dengan muntahan itu. Dan ya, jawabannya ada kaitannya dengan judul cerpen: Muntah Emas.

Pada akhirnya, membaca cerpen-cerpen Hamsad Rangkuti adalah menyelami dunia dongeng yang membuat siapa saja terhibur, dan bagi sebagian orang, membaca cerpen Hamsad adalah pergi ke masa lalu yang direkamnya untuk kita yang hidup di masa sekarang. Mari doakan beliau semoga tenang di alam sana. Aamin.

Membaca Kumcer Ikan-Ikan dari Laut Merah (Danarto)

Membaca cerpen-cerpen Danarto adalah menyelami dunia yang penuh dengan nilai-nilai sufistik, surealis, ketauhidan hingga asketisme. Kendati sebenarnya setiap cerita yang ditulis adalah sebuah keseharian biasa. Bahkan kamu akan sering bertemu dengan tokoh ayah, ibu, dan anak. Hubungan ayah dengan anak, sebuah keluarga dengan tetangganya, dan seputarnya.

Setelah aku selesai membaca kumpulan cerita pendek ini, aku menemukan kecenderungan dalam tiap cerpen yang ditulis Danarto. Yakni ia pasti mempunyai kejutan di akhir cerita, dengan membangun  cerita perlahan di awal, menggunakan bahasa yang sederhana, membangun tokoh, situasi, konflik dengan sabar hingga akhirnya kejutan itu muncul dengan cerdiknya.

Yang membuat berang kadang kala apa yang diceritakan di awal tidak terlalu penting untuk mencapai ending. Tapi jika tidak membacanya, kita tidak akan tahu jalan cerita. Danarto seperti sedang membuat kesan bahwa ia sedang menari-nari dengan cerpennya dengan lihai.

Selain masalah sehari-sehari, buku ini juga mengangkat sejarah yang dikemas dengan cara yang unik. Seperti 'O, Yarusalem' dan 'Alhamdulillah, Masih ada Dangdut dan Mi Instan'.

Membaca cerpen Danarto juga terasa seperti diceramahi dengan sangat lembut. Jika kita mau berpikir sejenak untuk merenungi tulisannya, kita akan menemukan nilai yang melimpah.

Ia juga mengangkat ‘kekakuan’ dalam beragama. Contohnya seperti di dalam cerpen Telaga Angsa.
“Moral dan agama ada pada keindahan kesenian itu, kalau Eyang puas atas pertunjukkan balet Rusia itu, ini artinya balet Rusia itu telah berdakwah tentang kebenaran.”
“Sekalipun mereka atheis?”
“Sekalipun mareka atheis.”

Dan melalui cerpen Si Denok, Danarto menyinggung selera seni anak muda yang sangat kaku. Di mana Sukarno mempunyai banyak koleksi patung wanita telanjang (dan nyatanya memang begitu), dan para anak muda protes karena hal itu bertentangan dengan idielogi mereka yang mengaku punya jiwa revolusioner.

“Koleksi seni rupa Bung bertentangan dengan nilai-nilai ketimuran kita yang luhur dan agung,” sela seorang pemudi.

“Lukisan dan patung wanita telanjang adalah lambang keindahan. Jika nilai-nilai ketimuran kita bukan keindahan, lebih baik aku tinggalkan.”


Tidak afdol jika kita tidak membahas cerpen yang menjadi judul buku ini. Ikan-Ikan dari Laut Merah bercerita tentang bocah anak nelayan yang mempersembahkan ikan kepada Rasul.

'Hidup sezaman dengan Kanjeng Rasul Muhammad rasanya seperti hidup di lingkungan yang tertata rapi dengan sendirinya. Dalam segala hal, kami umatnya, diayomi seperti bibit tanaman kecil yang dipeluk dalam dadanya dari badai gurun.'

Ikan yang dipersembahkan itu diambil di Laut Merah, ia melompat sendiri ke parahu dan meminta untuk dipersembahkan kepada Rasul supaya ia dielus dan masuk surga.

Jika dibaca secara sekilas, memang cerpen ini terkesan sangat surealis. Tapi jika ditilik dari sudut tasawuf kita akan menemukan banyak nilai.

Seperti yang dikatakan Om Edi Mulyono di pengantar buku: ikan besar dan keledai itu simbolis patut benar untuk ditafsirkan sebagai umat Rasul. Ketika kedua makhluk itu berjuang keras supaya bisa berjumpa dengan Rasul—untuk kemudian mati—dapat diterjemahkan bahwa sikap tersebut merupakan mengikuti segala apa yang diajarkan Rasul. Dimensi syariat cukup terwakili dalam “dielus-elus” Rasul. (….) kemudian, situasi syariat itu diberanjakkan dengan narasi “Air mata ikan itu berderai dan mulutnya tak mampu berkata apa-apa” menuju kedalaman batin, dan intuisi, dan tepat pada derajat demikianlah (air mata) dimensi ontologis yang amat mendalam, puncak ittihad, memandu dan melebur pada diri. Tuhan-dan-makhluk memanungggal dalam simbolisme air mata.

Pada akhirnya, buku kumpulan cerpen Ikan-Ikan dari Laut Merah adalah sebuah buku yang dapat dinikmati dari berbagai sudut pandang, kaya nilai, dan menggugah hati karena kepasrahan yang sering muncul ke permukaan.***

Betapa Nikmatnya Membicarakan Orang Lain

Dari dulu aku sering bertemu orang-orang yang membicarakan orang lain, hingga akhirnya aku tidak tahan untuk tidak ikut dalam pembicaraan itu. Lama aku menahan, dan ternyata itu sangat menyenangkan. 

Kita memang sangat amat jeli dengan kesalahan orang lain. Seperti si A orangnya sangat jorok, si B kerjanya nggak becus, si C kalau ngomong selalu nyakitin. Hal-hal seperti itu sering muncul menjadi topik utama ketika kita membicarakan orang lain. 

Jika sudah naik tingkat, misalnya di lingkungan ke-rumahtangga-an, topiknya akan berbeda: Si A tidak becus menjadi suami, masa isterinya disuruh kerja; Si B kayaknya gajinya kecil kok bisa beli motor cash. Dan banyak lagi. 

Secara psikolog, membicarakan orang lain timbul dari dorongan naluri manusia. Seperti aku misalnya, aku ini orangnya cuek banget, tapi ketika ada orang-orang di sekitarku membicarakan orang lain, naluriku berkata padaku untuk ikut membicarakannya juga, apalagi jika itu bisa menciptakan gelak tawa. Tertawa di atas penderitaan orang lain memang sungguh nikmat!



Ada juga yang bilang bahwa membicarakan orang lain adalah bentuk lain dari komunikasi sosial. Orang yang membicarakan orang lain sebenarnya tidak memiliki kepribadian yang buruk, ya sepertiku tadi, ia naluriah belaka. 

Tapi yang membuat gawat adalah ketika membicarakan orang lain, pendapatmu tentang orang tersebut dapat membuat persepsi negatif, dan itu adalah sebuah pembunuhan karakter dalam bentuk lain. Dan jika membicarakan orang lain sudah seperti kebiasaan, menurutku itu juga sebuah penyakit. Hal itu bisa timbul karena seperti lingkungan di keluarga, sekolah, kampus, tempat kerja, teman-temanmu sering membicarakan orang lain dan kamu menjadi terbiasa tanpa kamu sadari. Terlalu banyak membicarakan orang lain juga akan mengasah sifat picikmu.

Jadi ya membicarakan orang lain seperlunya saja, buat hiburan saja.  

Ya memang, 1 kesalahan kecil saja jika dibicarakan di sebuah ‘klub gosip’ akan menjadi topik yang selalu menarik, dimasak dengan berbagai tekhnik dan menjadi ‘hidangan’ yang beragam. Dari satu orang akan merambah ke orang lain, dari berbisik hingga bersuara kencang. Peduli setan orang yang dibacarakan mendangar, yang terpenting kebutuhan batinku terpenuhi. 

Tentu saja orang yang berada satu klub gosip bersamamu tidak menutup kemungkinan ia juga membicarakanmu ketika kamu tidak ada. Benar, kita memang tidak akan pernah keluar dari lingkaran setan itu: dibacarakan atau membicarakan orang lain. Kita hanya perlu sebuah pilihan. Dan jika kamu bertanya kepadaku, aku akan memilih untuk membicarakan orang lain. Karena pertama, sebagai hiburan, kedua: aku sudah dibicarakan orang lain, aku juga punya hak dong untuk membicarakan mereka. Walau pada dasarnya ini memang tidak mempunyai tujuan yang jelas.  

Intinya kita tidak akan pernah bisa keluar dari lingkaran setan ini, jadi, nikmatilah. 

Awalnya kukira ini sangat memalukan, tapi setalah kucoba, ternyata menyenangkan. Jadi, mulailah membicarakan orang lain! hahaha. 

Dan ya, hanya umur kita yang bertambah, sifat anak-anak itu tetap kita bawa sampai mati. Menjadi dewasa sepenuhnya hanyalah omong kosong!***

Of Mice and Men: Tentang Dua Lelaki Saling Melengkapi

“Aku hampir tidak pernah melihat dua lelaki bepergian bersama. Kau tahu bagaimana kebiasaan buruh, mereka datang dan dapat ranjang dan bekerja selama sebulan, lalu berhenti dan pergi sendirian.” (hlm. 57)

Dua lelaki yang selalu bersama tanpa ada ikatan apapun (hanya teman), sangat langka di dunia ini. Mereka akan saling melengkapi, selayaknya pasangan.

Lennie adalah seorang pemuda yang sangat kuat dan besar namun bodoh, sangat bodoh.
Sedangkan George bertubuh kecil, dan cerdas. Mereka hidup berpindah-pindah, tidak punya
keluarga, dan bekerja di peternakan. Namun pekerjaan itu tidak akan lama, karena Lennie selalu membuat masalah di tempat itu dan memaksa mereka berpindah. Hidup yang sulit.

Lennie sebenarnya tidak pernah berniat jahat, ia hanya ingin mengelus segala sesuatu yang
lembut dan lucu. Tapi ia tidak pernah berpikir panjang jika sesuatu yang lembut itu tidak semua bisa dia elus: tubuh wanita yang tidak ia kenal misalnya.

Cerita berjalan hingga akhirnya mereka diterima di sebuah peternakan menjadi buruh. Dan
George sudah ‘mewanti-wanti’ Lennie untuk tidak membuat masalah. Untuk itu George selalu menceritakan kepada teman besarnya itu tentang ‘harapan besar’ agar Lennie tidak membuat masalah, persis seperti anak kecil.

Harapan besar itu adalah di mana nanti mereka akan mempunyai tanah yang subur dan tempat
tinggal yang nyaman, hanya ada mereka berdua. Mereka akan menanam dan beternak sendiri, tidak bekerja untuk orang lain. Tapi untuk itu, mereka harus mengumpulkan uang dari sekarang.

Dan Lennie, dari semua harapan besar itu, ia hanya meminta memelihara kelinci untuk bisa ia elus-elus.



Tapi semua tahu (kecuali otak Lennie yang sangat bodoh), harapan besar itu, untuk mempunyai tanah sendiri dan rumah bagi pekerja buruh kasar seperti mereka adalah mustahil. Paling tidak karena tidak mencapai tujuannya itu, para buruh akan pergi ke tempat pelacur dan meminum minuman keras: kenikmatan sesaat.

***

Novela ini memberikan kita gambaran tentang dua orang yang memiliki kelebihan dan kekurangan. Di mana George tidak akan bisa dengan maksimal bekerja di peternakan karena
tubuhnya yang kecil, tapi ia bisa meyakinkan atasannya bahwa temannya, Lennie, bisa bekerja lebih keras dari yang lain karena tubuhnya yang besar dan kuat.

Novela ini dinarasikan dengan sangat hidup dan dialog yang membangun situasi dari tensi naik atau turun. Kendati soal dalam novela ini sangat sederhana.

Selain George dan Lennie, kita akan menemukan tokoh lain seperti Slim sang mandor dan Crooks si negro. Tokoh ini cukup menarik untuk diikuti karena membawa cerita menuju lebih dalam dan menarik.

“Orang tidak harus cerdas untuk jadi orang baik. Sepertinya menurutku kadang justru sebaliknya. Orang yang cerdas biasanya bukan orang baik.” (hlm. 58) - Slim

“Buku tidak bagus. Orang butuh orang lain—untuk berdekatan (hlm. 98) - Crooks

Seperti namanya, Novela, jadi buku ini hanya membahas 1 konflik saja pada suatu tempat. Dan buku ini pun sangat tipis. Namun membacanya sangat menghibur, kok. Karena kita akan menemukan sesuatu yang menyedihkan, menggetarkan, lucu, bijak, dan sifat-sifat manusia aneh lainnya!***

Foxtrot Six: 'Film Mahal' yang Disayangkan

Ketika film-film Indonesia sedang ramai dengan genre romantis dan horor, Foxstort Six kemudian hadir dengan film penuh aksi dan drama yang dewasa. Ia bercerita tentang 6 mantan anggota marinir yang mempunyai misi rahasia untuk membebaskan Indonesia dari ‘belenggu mematikan’.

Diceritakan pada 2031 Indonesia terdampak krisis pangan yang sangat parah. Warganya begitu terlantar, kelaparan di mana-mana, yang kaya semakin kaya; pemerintahan bobrok, media tidak memihak masyarakat, menteri dan dewan  hanya memikirkan kakayaan dirinya sendiri.

Digambarkan teknologi di Indonesia yang sangat maju, mulai dari kendaraannya hingga gadget. Tapi di jalan yang lain ada orang-orang yang berdemo, menuntut pemerintah yang semakin tidak jelas.
Karena kekejian itu, lahir gerakan reformasi untuk mengggulingkan pemerintahan dan menuntut keadilan.




Meski di tahun 2031, warga Indonesia digambarkan belum dewasa. Mereka sangat mudah terprovokasi dan mudah diarahkan oleh elit. Petinggi pun semakin senang dengan situasi seperti ini.
6 mantan anggota marinir tersebut mencoba merebut kembali kendali pemerintahan. Tentu saja dengan resiko mati di depan mata, karena kekutan mereka sangat tak sebanding, lawan mereka  memiliki pasukan kusus dan senjata terbaik.

Di situlah ketegangannya, di mana tokoh-tokoh protagonis dibuat hancur-sehancur-hancurnya seolah tidak ada harapan lagi. Tapi seperti para penjahat pada film yang lain, mereka tidak langsung membunuh lawan saaat itu juga, tapi bermain terlebih dahulu yang membuat boomerang bagi mereka.

Omong-omong, semua dialog dalam film ini berbahasa inggris, menurutku itu pilihan baik untuk membuat kesan lebih dewasa dan keren. Atau bisa dikatakan terasa lebih Hollywod di samping aspek efek CGI dan adegan laganya yang berusaha keras memukau penonton dari segi visual dan audio.

Dari aspek adegan perang, memang tidak ada yang baru. Kita akan menemukan darah yang bercucuran, senjata api saling menembak, merobek luka, menyembuhkan luka sendiri, dan sebagainya.

Kalau dilihat dari aspek cerita, juga tidak ada yang baru. Film ini sama seperti film perang pada umumnya. Tapi tidak bisa dibilang buruk karena ada kejutan-kejutan yang bisa membuat penonton berdecak kagum.

ketika saya datang ke gala premiere di plaza indonesia... satu studio sama iko iwais!!!!1111!!


Motif para antagonis pada film ini mengingatkanku pada The Hunger Game, di mana mereka (orang penting dalam pemerintahan) bersenang-senang di atas penderitaan rakyatnya yang kelaparan. Dan mereka menggunakan ‘lapar’ itu sebagai senjata.

Menurutku jahitan cerita dalam film ini tidak terlalu rapat, cerita malah bagaikan jahitan yang masih ada bolong di beberapa tempat. Adegan hacker pun dibuat sangat mudah, seperti tidak ada alternatif lain untuk membangun cerita lebih menegangkan.

Kalau dari aspek akting, menurutku cukup memuaskan. Mengingat pemeran dalam film ini  adalah (bisa dibilang) aktor terbaik yang dipunyai Indonesia (walau tanpa Gading Martin. Haha). Oka Antara yang menjadi tokoh sentral dalam film ini memberikan performa yang maksimal. Tentu saja tanpa mengesampingkan pemain lainnya.


oka antara dalam bidikan kamera saya


Dilihat dari cinematography, menurutku film ini ada di atas rata-rata film Indonesia. Mulai dari grading dan pengambilan gambarnya terlihat professional.

Sangat disayangkan, film yang dibuat seniat (baca: Edan! Biaya Pembuatan 'FOXTROT SIX' Termahal Sepanjang Sejarah) ini menurutku seharusnya masih bisa membuat gebrakan yang lebih dashyat; yang bisa mengangkat kritik sosial, politik, kemanusiaan, bahkan sejarah.

Tapi secara keseluruhan, film ini mampu menghiburku. Dan aku sangat mengapresiasi semua di balik pembuatan film ini, karena, ya, film ini dibuat sangat niat dan menurutku membuat kancah perfilm-an Indonesia semakin berwarna.***


SEPOTONG BULAN UNTUK MANTAN PACARKU

Mantan terindah, termanis, tercantik dan kuyakin akan selalu cantik. Apakah masih ada rindu padaku di hatimu? Barang setitik? Jika masih, tuntaskanlah.

Mantan, kita pernah menjalin kisah indah, atau jika aku tidak munafik, kukatakan tidak hanya indah, namun ada gundah, amarah, susah, banyak lagi. Seperti yang kautahu, aku adalah pria yang sangat suka bertele-tele, jadi maafkan saja jika tulisan ini lumayan panjang.

Surat ini akan kukirim padamu, bukan sembarang surat, di dalam amplop ini juga ada sepotong bulan. Jika kau tak percaya, buktikan saja sendiri, ketika kau buka amplop ini akan ada rasa betapa dahsyatnya permukaan bulan yang kupotong pada kemarin malam. Rasa yang tak berbeda jauh ketika kita pertama kali saling bergandengan tangan di tepi danau itu.

***

Malam ini langit cerah. Ada bintang, kunang-kunang, pohon bergoyang digoda desir angin malam, dan tak lupa kudiskripsikan di sini: sepasang muda-mudi di bawah pohon sana yang sedang dimabuk asmara, bercumbu, dirasuki setan. Sayang, punyamu hitam, kata si perempuan.

Lihatlah, dan baca ceritaku tantang pengiriman sepotong bulan ini: malam ini rencananya akan kukirim surat ini, setelah malam kemarin kucuri sepotong bulan dari peraduannya.

Awalnya…, hai Mantan, masih di situ? Aku ulang ya… awalnya, aku hanya ingin mengembalikan memorimu tentang kisah cinta kita. Di mana kau dan aku bertemu dalam sebuah malam cerah di sebuah ruang dan waktu yang sama. Hanya itu niatanku.

Kamarin malam, aku seperti pencuri, dan memang aku pencuri, aku menggunakan sarung untuk menutupi wajahku, dan amplop yang kubawa untuk memasukan sepotong bulan. Dan hasilnya malam ini bulan tersenyum pahit karena sebagian permukaannya telah kucuri, dan bintang berbinar seperti lampu jalanan yang baru saja direnovasi, seakan mereka sedih, sang bulan disakiti olehku.

Langsung saja kutebas sepotong bulan itu dengan sebilah pedang. Tidak cukup dicoba sekali, namun berkali-kali hingga penduduk dunia ketakutan dengan bunyi yang ditimbulkan. Semua orang panik, dan tugasku hanya satu, memberikan sepotong bulan untukmu, apa pun nanti yang terjadi. Pikiranku cuma ada satu, kamu.

“Dia mencoba mencuri bulan!” teriak seseorang dari kejauhan sambil mengacung-ngacung ke arahku.

“Benar, dia mencurinya!” saut yang lain.

Ketika itu aku sedang di atap rumah, dengan sarung yang menutupi wajah, berharap identitasku tak ketahuan seseorang pun.

Mendengar teriakan mereka, aku terus mencoba menebas-nebas potongan bulan yang ternyata sangat keras, tidak semudah yang kubayangkan sebelumnya, kukira bulan permukaannya seperti agar-agar. Aku terus menebas bulan, dan sebuah amplop siap sedia di tangan yang lain jika potongan-potongan bulan terjatuh dari atas sana seperti potongan keju yang berkilauan.

Sepotong bulan yang terjatuh masih bersinar sesuai semestinya, dan aku pasti tahu, Mantan, kamu akan menyukainya.

Jadi, kamu tidak usah lagi keluar kamar untuk menikmati bulan, tidak usah lagi keluar malam sendirian, tidak usah lagi menatap bulan hanya dari jendela kamarmu. Kini, sudah ada sepotong bulan untukmu, jika kamu ingin menikmati bulan, ambil potongan ini dan taruh di tempat yang kamu suka. Di atap kamarmu, misalnya.

Dan, Mantan, ketika kaunikmati potongan-potongan bulan itu, kau akan ingat padaku, kau akan ingat semua tentang kita, tentang pelukan kita, ciuman kita, tangis kita, sial kita, dan semua hal yang telah kita lakukan bersama. Ya, aku yakin, kamu pasti akan ingat itu semua jika menerima sepotong bulan ini.

Hahaha.. Tapi, Mantan, jangan kaunikmati potongan bulan itu ketika sedang ada suamimu. Aku takut, jika ia tahu, kau akan dimarahi dan semuanya menjadi di luar rencana. Nikmatilah kala kau sepi. Kau tahu, bukan? Bulan sendiri tidak setiap hari ada di jendela kamarmu,  tak selalu ada di awan hitam sana, terkadang ia hanya berupa potongan kecil melengkung atau bahkan tidak ada sama sekali. Dan ya, ketika seperti itulah waktu yang tepat kaunikmati potongan bulan yang kukirimkan ini.

Sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengirim surat ini, kupercayakan kepada angin malam, ia akan membawakannya tepat di samping peraduanmu. Jika surat ini sampai, maka akan ada kesilauan yang temaram, lalu kamu terbangun. Kupercayakan kepada angin.

Kulipat surat ini, kulempar dan kubiarkan angin membawanya ke tampatmu. Sedang, semua orang sudah mengepungku, aku hanya diam, tak bisa bergerak, tenggorokanku tercekat, aku siap, mati.

“Dia pencuri bulan!”
“Bakar!”
“Bunuh!”
“Habisi saja!”

Semua orang berteriak sambil mengacungkan senjata tajam mereka masing-masing, seolah bulan adalah anak mereka sendiri yang dicabuli olehku, mereka begitu marah, wajah-wajah itu mengingatkanku pada bara-bara api. Aku pasrah, seorang dari mereka naik dan mendekatiku yang berada di atap rumah, dengan kekuatan penuh ia menerjang tubuhku, dan sebilah parang dengan cepatnya menebas kepalaku tanpa ampun, menusuk perutku sampai amburadul, lalu mengangkat tubuhku, menggiring tubuhku yang tak lagi utuh ke sekeliling kampung. Malam itu, di bawah nyala bulan yang temaram, yang kucuri beberapa potong saja. Dan, kini nyawaku melayang-layang, menyatu dengan angin, memastikan surat ini sampai ke peraduanmu.***

*cerpen ini terinspirasi dari cerpen Sepotong Senja untuk Pacarku karya Seno Gumira Ajidarma