KEPADA BULAN, BANTU AKU BERIKAN PELUKAN TERAKHIR PEDANYA



Waktu senggang begini bagiku sangat membunuh. Sebab kala itu, adalah saat di mana kepala ini mengingat tanpa dikomando. Mengingat tentang segala hal. Mulai yang buruk hingga yang baik. Semua seperti diputar kembali tanpa jeda barang sedetik.

***

Kepada bulan, bantu-aku untuk kali ini berikan pelukan kepada seseorang. Pelukan yang hangat. Sengaja aku memilihmu, bulan, sebab matahari, aku tahu sendiri, ia garang dan amat panas untuk dijadikan pelukan. Ia tidak layak.

Bintang? Ia terlalu banyak, aku bingung berkomunikasi dengan mereka.

Angin? Ah, sudah kemarin kusuruh ia membisikan kata-kata padanya. Sampai sekarang pun ia belum pulang ke peraduannya.

Meteor? Jangan bercanda kamu, bulan, hahaha...

Sebab itu, bulan, tolong bantu aku. Sekarang dengarkan ya, jangan hanya tersenyum di atas langit saja.

Begini, nanti kamu, bulan, akan menyelinap masuk ke rumahnya. Lalu jangan sampai cahayamu terlihat oleh penghuni rumah dan siapa pun itu. Diam-diam saja, jaga napasmu.

Barang tentu kamu harus hati-hati, pelan, pasti, dan jika sudah sampai dekat dengan seseorang yang tadi kuberikan fotonya padamu, segara peluklah ia.

Aku tahu, kamu, bulan, adalah yang paling setia dari benda-benda langit lainnya. Aku tahu itu dan jangan tanya kenapa.

Jadi, aku percaya padamu, kamu akan membantuku memberikan pelukan padanya.

***

Bulan, kuharap kamu bersahabat denganku malam ini, jadi jangan pura-pura tidak mendengar yah di atas sana...

Setelah kau peluk ia, tolong katakan sesuatu dekat telinganya sambil berbisik, ''Aku merindukanmu.''

Ya, ingat yah kata-katanya, ''Aku merindukanmu.''

Kamu hati-hati, bulan, jangan sampai membuatnya terbangun dari tidurnya. Jika itu terjadi, bisa gawat. Ia mungkin akan memukulmu, karena yang memeluknya bukan aku; yang mengatakan rindu bukan aku.

Jika kau terpukul, bagaimana? Bisa gawat malam-malam ke depan tanpa hadirmu!

Pasti ia nanti tak tahu, yang memeluknya adalah bulan, hahaha...

Aku kasih tahu ya, bulan, dia wanita yang setia, jadi jangan dekat-dekat dengan dia setalah ini, ingat, tugasmu hanya itu. Jangan jatuh cinta padanya!

Kuberitahu lagi ya, ia wanita yang bersamaku tidak di kala senang saja, saat sengsara pun ia di sampingku. Tanpa mengeluh.

Ehm...

Bulan, kamu kok masih saja tersenyum-senyum mesem begitu di atas sana. Kamu mendengarkanku kan? Kamu tahu tugasmu kan?!

Bulan, kamu kemana?!

Jangan tinggalkan aku, aku belum selesai meberitahumu satu hal akan tugasmu. Aku hanya ingin menambahkan, katakan padanya, ''Ini pelukan terakhir dariku. Dari seseorang di atas awan. Penikmati senja.''***

Jakarta, 1 Agustus 2015 pada Malam Minggu.
Comments
0 Comments

Posting Komentar