Tulisan untuk Sahabat



Bagiku, tidak ada sahabat lama. Semua sahabatku adalah baru, mengikuti waktu yang terus baru pula. Sahabat selalu ada dalam ingatan, dan ingatanku kuat karena sahabat. Aku suka mengingat, dan mengingat adalah kusakaanku. Apalagi mengingat tentang sahabat. Hem.... Beginilah ingatanku mengenai sahabat. Tak perlu bermeditasi untuk mengingatkannya. Semua ada di batok kepala, utuh, bersama beribu-ribu cerita.

***

Bertahun-tahun yang lalu. Seragam putih-merah kukenakan sedemikian rupa. Dasi, topi, yang kukenakan petanda bahwa aku anak SD. Dulu, aku sekolah siang, ya jadi aku harus mandi siang, juga otomatis tidak mandi pagi, ckckck.

E tetapi aku terlihat tampan lho..., itu terbukti ketika aku melihat rapotku, ada fotoku di sana. Rasanya ingin kembali aku ke masa-masa itu. Bebas, dan tak memikirkan banyak tugas!

Ah..., aku ingin bercerita mengenai sahabat. Begini ceritanya. Sore itu, kebanyakan anak laki-laki bermain bola dan anak perempuan bermain bola bekel' yang kecil dan suka memantul itu.

Berbeda dengan anak laki-laki, bola yang dimainkan adalah bola plastik cap Panda. Warnanya putih dan empuk bila ditendang. Bola cap Panda, berbeda dengan bola jenis lainnya. Untuk itu, temanku, Andre, adalah langganan pembawa bola cap Panda, kala itu. Dialah pemilik bola itu, walau... Em, maaf, dia sendiri tidak pandai bermain bola. Aku ingat betul sepatu yang ia kenakan, berwarna hitam, agak runcing dan bertali.

Demikianlah. Aku? Aku ketika itu adalah anak baru, aku pindahan dari kampung, sebab orangtuaku berada di Jakarta, dua-duanya. Kelas 4 SD, tepatnya semester 2, aku pindah ke Jakarta, sekolah di sana dan mendapat teman baru. Perbendaharaan bahasa Indonesiaku cukup baik, hanya saja, bahasa 'gaul' banyak yang tidak kumengerti kala itu. Hu..., begitulah nasibku.

Aku jadi ingat Denis. Dia adalah temanku, perempuan, perawakannya besar dan suka bermain dengan Ibat. Mereka berdua suka sekali mengerjaiku. Huh.Terlebih lagi kala itu, hem..., ketika aku bermain bekel' bersama teman-temanku di kelas. Bu Yuli sedang tidak masuk hari ini.

Dalam permainan, pasti ada yang kalah dan ada yang menang, sedangkan aku tidak suka kecurangan. Melihat Syahrul, temanku, curang, segera aku menyerunya.

''Hai. Curang kamu!''

Begitu seruku, Syahrul tetap mengelak, tak mau menerima kecurangannya sendiri. Karena itu, kami bertengkar dan ribut!

***

Selepas keributan itu. Aku dipojokan oleh Denis dan yang lainnya. Aku menangis sedu-sedan. Tapi, tak lama kami kembali berteman. Hahaha..., maklum, anak SD. Aku ingat betul ketika kami kembali berteman. Waktu itu aku keluar kelas sehabis menangis, lalu, ada Syahrul, Maulid, dan yang lainnya dari lawan arah. Mereka memberhetikanku lalu kami bersalaman dan berjanji tak boleh lagi mengulang keributan tadi.

***

Selama SD, aku duduk sebangku dengan Andre, selalu, ya, selalu. Sebab, dia itu pintar, dan mengerti segala hal. Aku sering berdiskusi dengannya walau dia yang dominan. Andre memang seperti keturunan China, kulitnya putih, rambutnya lancip, dan matanya agak sipit, kalau tertawa matanya akan hilang dimakan kerutannya. Selain itu, ia juga agak gendut. Ah, pokoknya seperti anak-anak China pada umumnya.

Kadang aku suka bermain ke rumah kosannya. Sekedar bermain PS atau juga layangan. Kalau bermain PS, selalu aku kalah olehnya. Apalagi PS bola, huuu... Dia rajanya. Kadang-kadang, aku bermain di 'daerah' Andre hingga sampai senja malam. Soalnya, di lapangan luas tak terasa hari akan gelap.

Selain itu, Andre juga pernah bermain ke kontrakanku. Kontrakan di bawah jalan kereta Jayakarta. Kami bermain berempat, ada Syahrul, Maulid, Andre dan aku. Kadang kita makan bersama, dan bermain apa saja. Pernah suatu hari, ketika kami berangkat ke kontrakanku, Andre, kakinya terkena kawat sampai berdarah. Terpaksa ia sulit untuk berjalan. Sampai di kontrakan, ia diobati oleh Bapakku. Bapakku sudah tua, kala itu aku ingat betul, beliau sedang membuat adonan untuk dagangannya.

***

Sekarang, hari telah berlalu menjadi tahun. Selepas lulus SD, kami berpisah, dan jarang bertemu. Terakhir, aku ingat betul, aku bertemu Andre di SMK N 11 Jakarta untuk mendaftar di sana juga. Namun, naasnya, Andre tidak diterima sedang aku, Alhamdulilah, diterima.

Aku 'pangling' ketika melihat Andre kala itu. Dia tampak agak kurusan, wajahnya sudah tidak seperti anak China lagi, pokoknya berbeda..., ketika pendaftaran di SMK 11, terlebih dahulu aku bertemu Reza, anak kecil itu, aku bertemu dengannya dan bertanya,

''Di mana Andre?''

''Itu, di sana.''

Aku menghampiri, menembus keramaian, dan terlihatlah sosok Andre, benar, dia itu berbeda. Selain itu, kini ia pun menjadi agak 'alay'. Eksis di media sosial, meng-upload foto-fotonya sampai banyak. Hohohho, itulah Andre yang sekarang.

Sebenarnya ada banyak yang belum kuceritakan mengenai sahabat di sini. Namun, semua sahabatku terpatri di dalam hati, mereka tak akan kulupakan, mereka ada beserta cerita yang kita buat. Oh..., terima kasih sahabat, aku yakin, suatu hari nanti pasti ada suatu waktu untuk kita bercerita banyak.***

Afsokhi Abdullah
Kosan, 01 Januari 2015

Hari Yang Indah






Aku tidak akan melupakan semua kejadian hari ini. Sayang untuk aku lupakan, maka semua itu akan aku ikat dengan aksara lewat untaian jari-jemari yang kupunya.

Malam ini, yang juga petanda hari akan menjadi hari yang lain, aku berusaha agar 'hari ini' tidak terlupakan. Kenapa demikian? Hai! Siapa orang yang akan mudah sahaja melupakan sebuah keindahan, kenyamanan, cinta, kasih dan seribu rasa lainnya? Aku juga manusia, mempunyai kealpaan dan suka lupa. Ya maka dari itu aku menulis untuk mengingatnya, serta mengabadikannya dalam sebuah karya....

***

Pagi hari, matahari penuh menyinari hari Rabu-ku. Aku berangkat sekolah dengan mengenakan seragam Pramuka lengkap. Sampai di sekolah, ternyata benar asumsiku semalam: lapangan digunakan untuk bazar, maka tidak bisa digunakan untuk olahraga. Ya, pelajaran pertamaku adalah olahraga dan aku tidak membawa bajunya. Wong aku udah tahu bahwa hari ini bakal ada bazar.

Alhasil pelajaran pertama kosong mblong. Tidak ada guru masuk dan semua temanku asyik dengan gadgetnya masing-masing di kelas. Seperti biasa, setiap pagi aku menulis di buku jurnal, tiga lembar, ya harus tiga lembar. Hal ini aku dapati dari sebuah buku yang menganjurkan agar melepaskan pikiran lebih kreatif dalam kehidupan maka, menulis tanganlah tiga lembar setiap pagi. Kalau tidak salah..., penulis buku yang menganjurkan hal ini adalah Julia Cameron.

***

Sedang asyik menulis, ada yang memanggilku untuk mengahdap Pak Adi, beliau adalah pembina Pramuka-ku.
Tak lama.
Aku sampai di hadapannya,

''Iya, pak?''

''Ah..., Sokhi. Bapak mau minta tolong. Em..., boleh berdua, temen kamu ajak satu lagi, anak Pramuka, ajak. Siapa aja.''

''Ratna?''

''Ah..., iya Ratna juga ngga apa-apa.''

Segera aku menuju kelas dan memanggil Ratna yang ternyata sedang berada di depan kelas, bersandar, dengan teman-temannya, ia sedang bermain ponsel besar yang marauk tangan munyilnya itu.

''Na!'' panggilku.

Dia mengangguk, artinya mungkin, ''Apa?''

''Dipanggil Pak Adi, sekarang....''

Tanpa menunggu lama, segera aku dan Ratna menuju keberadaan Pak Adi di ruang guru.

''Nah,'' kata Pak Adi, ''saya punya tugas untuk kalian berdua. Kan kita mau pelantikan de ka er Tamansari nih. Ini ada beberapa data yang belum lengkap dan, data itu, tolong, kalian ke kecamatan Tamansari, tanya di sana yah.''

Aku dan Ratna mengangguk.

Setelah memperjelas tugas dari Pak Adi yang perawakannya agak gendut itu..., kami kemudian pergi ke kantor Kecamatan Tamansari, berjalan berdua. Terlebih dahulu kami izin di meja piket. Lalu kami keluar dari gerbang sekolah.

''Tau tempatnya, na?'' tanyaku.

Ratna menggeleng.

''Itu lho lagi pas mau berangkat Raida, kita ke sana dulu....''

Ratna diam lalu senyum kecil menyungging di bibirnya yang manis itu. Aku pun ikut tersenyum lalu berkisah,

''Terkadang aku mengingat yang nggak penting gitu....''

''Beginilah jadi Pramuka, harus selalu siap,'' sambungku dengan membuat kepalan di tangan dan menhunuskan ke udara.

Ratna masih diam dan memandang mantap ke depan sembari berjalan di sisi kiriku.

Kami sampai di penyebrangan. Di ujung sana kami akan naik angkot lalu turun tepat di kantor kecamatan. Ada pula mbak-mbak sendiri yang ikut serta akan menyebrang. Dia mungkin tak sabar-an, dia menyebrang ketika arus lalu-lintas ramai.

''Wah..., parah mbak ini, wah..., parah...,'' kataku sembari ikut menyebrang, lalu sampailah di ujung sana.

Tak lama kemudian, angkot bersandar tepat di muka kami setelah kurayu dengan lambaian tangan. Kemudian kami masuk dan duduk di bagian belakang, bersebelahan. Suasana angkot lumayan penuh tapi tetap tertib. Ratna diam dan aku diam, hanya memandangi segala apa yang ada berlari di kaca angkot ini. Rasanya berbeda dengan naik angkot seperti biasanya, entah apa yang membuat beda untuk kali ini..., tapi, yang kurasakan adalah rasa nyaman dan tentram, ah,...

***

Kami turun di depan kantor kecamatan Taman sari. Masuk dan bertanya salah seorang petugas,

''Ka, kantor Tamansari di mana, yah?'' tanyaku karena banyak gedung di dalam ketika kami melangkah masuk, bukan kantor kecamatan saja ternyata!

''Itu, di sana. Masuk aja,'' jawab petugas tadi.

''Oh... Makasih kak...,'' ucapku dan Ratna, bersautan.

Kami masuk, dan sampai di satu meja dengan tulisan di atasnya,

''TAMU HARAP LAPOR.''

Melihat itu, aku mengarahkan kaki ke meja itu, ternyata ada seorang laki-laki yang kutaksir dia adalah penjaga di sini,

''Ada apa?'' tanyaya.

''Ini, kak, kami dari Pramuka SMK11. Ingin meminta data-data ini,'' jawabku sembari menjolorkan kertas dari Pak Adi tadi.

''Em..., silakan ke sana. Itu yang lagi duduk.''

''Terima kasih, kak...,'' kembali suara aku dan Ratna beradu.

Orang yang ditunjuk oleh penjaga tadi tak jauh dari pandangan mata, beberapa langkah, kami sampai, lalu kembali bertanya seperti tadi dan mendapat jawaban,

''Kalian nanti ke lantai dua. Terus belok ke kanan, ada tulisan ruangan staf, pak haji Nurhidin, bilang aja begitu.''

Lalu kami kembali mengucap terima kasih, dan kemudian berlalu ke lantai atas. Langkah kakiku hampir salah ingin masuk ke sebuah ruangan yang entah apa itu, kantor sepi, dan ketika hampir masuk rangan itu, segara kubelokan lagi arah kaki dan hampir menabrak Ratna. Ah... Hampir saja....

Kami menaiki anak tangga, dan sampai lantai dua bertemu penjaga yang ramah, kami menanyakan pak haji Nurhidin lalu diarahkannya masuk ke dalam. Sampai masuk ke dalam, kami disapa oleh ibu-ibu, lalu kami bertanya lagi mengenai pak haji Nurhidin itu, dan mendapat jawaban bahasa tangan yang mempersilakan kami menuju meja Bapak Tua yang sedang sibuk dengan pekerjaannya. Pasti itu pak haji Nurhidin!

Kami menghampiri, dan menyapa,

''Pak.''

''Iya?''

''Pak haji Nurhidin?'' tanyaku, dan bapak tua itu mengangguk, ''kami dari pramuka, ingin meminta data-data ini,'' lanjutku dan mempersilahkan pak haji Nurhidin membaca kertas dari pak Adi.

''Em..., oke. Ini, kalian lihat di sini,'' pak haji Nurhidin mengasihkan kami sehelai kertas dan, betul, ini datanya, segera kami salin.

''Duduk di sana aja,'' tawar pak haji. Lalu aku dan Ratna menuju yang dimaksud pak haji. Kami duduk berdua dan menyalin data.

''Enak yah jadi PNS,'' kataku di sela  sedang menyalin data. Terlihat memang karyawan yand bekerja di sini santai, tentram, dan diiringi lagu-lagu jadul. Setelah beberapa lagu, ah..., terdengarlah lagu iwan fals - kemesraan. Mendengar syair-syair itu, aku ikut menyanyi di depan Ratna. Dan Ratna masih asyik menyalin data. Em..., biarlah. Lagu yang cocok untuk kami....

kemesraan ini....
Janganlah cepat berlalu....
Kemesraan ini....
Ingin kukenang selalu....
Hatiku damai....
Jiwaku tentram di sampingmu....
Hatiku damai....
Jiwaku tentram bersamamu....

***

''Terima kasih pak,'' kata kami berdua.

''Ya, sama-sama, untuk data yang itu, nggak ada di sini, kamu ke gedung Fatahila sana, nggak jauh dari sini,'' jelas pak Haji, menyikapi data mengenai museum Fatahila yang tidak ada di kantor ini. Lalu aku dan Ratna pun turun tangga, jalan menuju gedung Fatahila yang tak jauh jaraknya.

Kami harus menyebrang lebih dahulu. Arus lalu-lintas amat ramai, sampai tak ada celah untuk menyebrang. Terlihat di ujung sana pun ada dua ibu-ibu kesulitan menyebrang.

''Ah... Harus nekat ini mah...,'' kataku sembari menyebrang dengan rasa melindungi Ratna dan ibu-ibu di sana. Sampainya di ujung, segara aku menyebrangkan ibu-ibu itu, lalu mereka mengatakan terima kasih dengan nada yang bergetar....

Setelah itu, kami masuk ke museum yang amat megah. Belum masuk gedungnya. Sampai di depan gedung, kami bertemu penjaga.

''Kak, kantor fatahila itu di mana yah?'' tanyaku, Ratna masih setia di belakangku sedari tadi.

''Em..., nanti kalian lewat pintu samping aja. Di sana pintu masuk ke kantornya.''

''Terima kasih kak...''

Kami mencari pintu samping. Tak jua berjumpa. Kerena itu, kulihat ada es selendang mayang yang menggoda. Kudekati pedagang yang sarat akan Betawinya, dan memesan,

''Bang, dua yah.''

Lalu kami berdua duduk di bawah pohon, menunggu pesanan, setelah siap, kami santap bersama sembari mengobrol. Kendaraan berlarian di belakang kami, pedagang pun banyak berjajaran di depan sana, terhempas tanah luas yang megah dan sarat akan sejarah. Semua itu menjadi pemandangan kami berdua.

''Nggak Bantara de!?'' kata salah seorang pedagang kopi kepadaku, tiba-tiba.

''Udah Bantara, bu, cuma nggak dipake aja,'' jawabku, ''ibu tau aja, Bantara?''

''Gini-gini ibu Bantara juga...,'' katanya dengan bangga.

''Wehhh... Keren...,'' heranku.

***

Aku dan Ratna masih asyik dengan selendang mayang yang manis rasanya. Di samping itu, Ratna tak lepas dari ponselnya. Dilihat dan ditaruh lagi. Terus begitu. Setelah usai beristirahat, segera kami menuju pintu samping gedung museum yang sudah kami ketahui begitu bertanya kepada pedagang selendang mayang tadi.

Kami berjalan di trotoar. Melihat pintu, kami masuk. Ada penjaga di sana, dan ia bertanya,

''Ada apa?''

''Kami dari Pramuka, kak, ada tugas dari pembina kami. Kami ingin ke kantor museum ini.''

Tanpa panjang-lebar, penjaga itu mengantar kami masuk ke dalam gedung. Mengganti sepatu dengan sandal dan sampai di pintu depan, bertemu salah seorang pemandu yang sudi kami wawancarai.

Namanya kak Yosen. Awalnya kami hanya ingin bertanya mengenai ketua museum ini, namun, tertekan keadaan, dan kadung kak Yosen yang sudah siap sedia ditanya banyak hal. Maka, kami bertanya lumayan banyak.

Selepas itu, kami berjalan-jalan menyusuri museum sebab kadung membeli tiket.

''Na, belum pernah ke dalam sini yah?'' tanyaku kepada Ratna yang setia bersamaku.

''Em..., kayaknya sudah, apa belum yah? Ya, waktu SD, sudah.''

''Hem..., yuk masuk ke sana,'' ajakku dan kami berdua berjalan menyusuri museum dengan suasana gembira, dibarengi juga pengunjung yang lainnya.

***

Lama kami berputar-putar menyusuri museum. Tiba saatnya kami kembali ke sekolah. Berjalan melewati trotoar, menyebrang jalan, melewati stasiun kota yang sarat sejarah lalu sampai di sekolah.

Hari ini tak pernah kulupakan. Banyak juga yang tidak kuceritakan di sini. Teramat banyak tentang kami berdua jika dilukiskan dengan tulisan. Ratna, wanita itu, ah..., aku sudah diambil hatinya olehnya. Biar dia rawat hatiku, biar dibawa ke mana saja, tak keberatan aku.

Dan, setiap melihat buku panduan museum, pasti aku tak lepas dari cerita ini. Semua tertata rapi di batok kepala dan di dalamnya.

Perempuanku

Perempuanku. Mengertilah, aku tak pandai berbicara. Gelagatku tak luwes. Semua kaku dan beku ketika mata mengarahku. Perempuanku, aku mohon kau mengerti akan hal ini. Aku tak pandai berbicara. Tidak seperti pada film dan sinetron yang sudah disekenario. Mereka berakting dalam memerankan cinta, mereka membuatnya sedemikian rupa, sehingga kita terpukau, bagiku, itu bukan cinta, itu imitasi! Mereka tidak tulus seperti kita.

Apa kauingini aku seperti pada film dan senetron kesukaanmu? Jujur, aku tidak bisa! Cara berbicaraku lamban, tak semulus aktor. Caraku mencintaimu..., ya dengan caraku, bukan dengan cara aktor. Perempuanku, mengertilah, lihat jalan untuk kita berdua. Lihat, hai, itu jalan yang luas. Jalan yang cukup untuk kita berjalan lebih jauh! Ya, lebih jauh!

Aku ingin kausadar, dan kauingin aku sadar. Aku, hanya laki-laki bodoh pendiam tak banyak akal. Sedang kau..., kau perempuan yang suka dengan sinonimku, mungkin begitu, bukan?

Perempuanku. Aku tak ingin hubungan kita putus. Aku tak ingin keindahan menjadi buram, seburam abu-abu seragam bawah kita ketika Selasa. Atau seburam Rabu, ketika kita mengenakan serba cokelat. Aku ingin kita selalu di hari baru, yaitu hari Senin. Di hari Senin kita memakai seragam putih-putih, seputih rasa cinta dan semacamnya.

Walau, perempuanku, warna putihku terkadang ada corak hitam dan kotoran. Sedangkan engkau, aku yakin, putihmu seputih awan ketika musim kemarau datang.

Hai perempuanku. Ingat, aku tak pandai berbicara dan gelagatku tak luwes. Aku pria bodoh pendiam dan tak banyak akal.***


Afsokhi Abdullah
01 Maret 2015

Beberapa Angkatan di Dalam Sastra (Catatan Kelas 10 SMK)

Kata kebanyakan orang, pelajaran Bahasa Indonesia tuh' mudah. Wong bahasa yang biasa kita pakai sehari-hari, kenapa harus dipelajari? Begitu pikir mereka.

Hai! Bahasa Indonesia tak semudah itu. Nyatanya, ketika saya UAS dan duduk bersama anak kelas 10 (saya kelas 11), kerena saat itu tempat duduk diseting sedemikian rupa. Ketika itu pelajaran Bahasa Indonesia untuk kelas 10 dan Bahasa Inggris untuk kelas 11. Kebetulan di samping saya wanita begitu pula di belakang saya. Mereka berdua saling bekerja sama dan sama-sama kesulitan. Melihat itu, saya geram, dan mengasih jawaban yang benar kepada mereka tanpa sepengatahuan pengawas. Awalnya saya berdalih agar mereka tidak brisik--membuat saya tidak konsen, malah lama-kelamaan banyak jawaban yang saya berikan. Tidak apa, sebut saja ini membantu. Dan pada akhirnya saya dahulu yang menumpulkan kertas jawaban.

Nah, saya juga pernah merasakan kelas 10 SMK. Untuk kali ini, saya akan membahas mengenai....

BEBERAPA ANGKATAN DI DALAM SASTRA, kalau begitu, langsung saja kita simak.

1. Angkatan 20 (Angkatan Balai Pustaka).
Pelopor: Mara Rusli
Tema: Terikat akan adat-istiadat yang karyanya berupa Roman (cerita dari lahir sampai meninggal).

2. Angkatan 30 (Angkatan Pujangga Baru).
Pelopor: STA (Sutan Tabir Alisyabana).
Tema: Emansipasi Terhadap Wanita.
Karya yang dihasilkan berupa Novel, Cerpen dan sebagainya.

3. Angkatan 45
Pelopor: Chairul Anwar dan WS. Rendra.
Tema: Kepahlawanan (Heroistis)
Kerya yang dihasilkan adalah berupa Puisi.

4. Angkatan 66
Pelopor: Taufik Ismail
Tema: Menumpas Kebohongan.
Kaya yang dihasilkan sama seperti angkatan 45, puisi.


Demikianlah BEBERAPA ANGKATAN DI DALAM SASTRA yang penulis ambil dari buku catatan kelas 10 SMK. Semoga dapat bermanfaat dan membuka wawasan mengenai pembendaharaan ilmu Bahasa Indonesia.***

Afsokhi Abdullah
Kosan, 28 Februari 2015

Kata Siapa Kamu Tidak Punya Jiwa Kepramukaan?

Hari Rabu adalah hari di mana pelajar (pada umumnya) mengenakan seragam Pramuka. Nah di situ akan terlihat mana yang Pramuka Asli dan Mana yang Karbitan, ckckckc, bisa dilihat dari seragamnya :3
Baik, hari Rabu seperti ini saya jadi ingat suatu hari di mana ada yang berujar kepada saya:

Aku tidak punya jiwa pramuka seperti kamu?

''Khi, aku tidak mempunyai jiwa kepramukaan seperti kamu.''

Sontak saya kaget. Tapi kenapa dia berujar demikian?
Segera saya menjawab pesan itu yang kebetulan di pesan singkat (SMS), seperti ini:

''Pada dasarnya, semua orang itu mempunyai jiwa kepramukaan. Modalnya hanya cinta pada tanah air. Kamu tahu kan? Arti dari Pramuka? Ya, Praja Muda Karana, itu dari dari bahasa sansekerta yang artinya pemuda yang suka berkarnya. Jadi intinya, pramuka itu adalah pemuda yang suka berkarya untuk mengisi kemerdekaan indonesia. Emang kamu nggak cinta sama negara kita ini?'' balik tanya saya. Lalu dia menjawab,

''Ya cintalah, khi.''

''Tarus kenapa bilang nggak punya jiwa kepramukaan?''

''Hem..., yaudah deh.''

Dia sudah sadar dengan jawaban saya tadi. Di sisi lain, banyak Pramuka yang tak mengerti arti Pramuka itu sendiri. Padahal Pramuka sangat berguna bagi bangsa dan negara. Di mana Pramuka ikut andil dalam mengajar kerakter pemuda Indonesia agar tidak 'lembek'. Di gerakan Pramuka, kita akan dilatih banyak hal. Ada mengenai kemandirian, kepemimpinan, kerja sama dan banyak lagi. Tapi, belakangan ini Pramuka mulai ciut kelihatannya. Ada pula yang malu mengakui dirinya Pramuka, sudah tidak zaman, katanya.

Hai, Pramuka itu tidak mungkin dimakan zaman, ia selalu ada dan teguh berdiri. Saya percaya itu, sebab Pramuka benar-benar nyata dalam hal membangun bangsa. Banyak orang-orang besar yang lahir melalui Pramuka.

Nah, bukan alasan lagi untuk kita tidak berpramuka, jangan malu jadi pramuka. Berbangga hatilah menjadi Pramuka, menjadi salah satu pembangun bangsa. Ayo maju Pramuka Indonesia.***

Afsokhi Abdullah
Kelas yang tak berguru, 25 Februari 2015

Apa Sebab Saya Ngeblog?

Hal yang paling menyedihkan bagi setiap orang, menurut saya, adalah, kehilangan. Kehilangan sangat sulit untuk dilupakan. Bahkan, dengan kehilangan, ada orang yang sampai rela mati atau bisa menjadi orang tidak waras. Ya tergantung apa yang hilang. Begitu.

Sebab musabab kenapa saya ngeblog adalah sebuah kehilangan jua. Data notebook saya, yang isinya karya tulis saya, hilang. Sebab kehilangan itu, rasa sakit terus terparti dalam hati. Membuat saya dongkol dan serasa ingin meledak meratapi keadaan ini. Saya kehilangan karya saya. Di sana banyak karya yang sengaja tidak saya publikasikan. Sebab juga nih ya, jika dipublikasikan, pihak penerbit terkadang enggan menerbitkan karya saya itu.

Karya saya sebagian besar adalah tulisan. Ada novel yang hampir selesai, kumpulan cerpen yang saya banggakan, dan masih banyak lagi data penting yang hilang di notebook saya. Alangkah sakitnya kehilangan. Bagi saya, saya senang ketika melahirkan sebuah karya, mbok manusia hakekatnya diciptakan untuk berkarya, bukan?

Nah, maka dari itu, saya tidak mau larut-larut dalam kesedihan akan kehilangan. Rasanya sakit sekali jika mengingatnya memang. Namun, dengan cara saya ngeblog, itu bisa membuat saya agak lega. Di mana karya saya menempel di internet, dan suatu saat bisa saya baca dengan mudahnya atau terlebih lagi bermanfaat bagi khalayak umum.

Sebenarnya saya sudah mulai ngeblog sejak lama, tepatnya tahun 2014 silam *emang udah termasuk lama yah!*. Namun hanya karya yang kiranya untuk lomba, curhatan dan beberapa artikel edukasi-lah yang saya publikasikan di sana. Saya sadar betul akan sifat penerbit. Jelas penerbit tidak mau menerbitkan karya yang sudah dibaca banyak orang. Ya kan minat pembeli (jika karya kita terbit), akan turun. Maksudnya, karya kita sudah dahulu ada sebelum lahir (dari penerbit) dan ini tidak diinginkan oleh penerbit. Begitulah.

Namun saya sudah mengubur dalam-dalam untuk menerbitkan buku dalam waktu singkat ini. Saya ingin menulis lepas di blog, selepas-mungkin, sampai lautan terpenuhi oleh air *abaikan*.
Belakangan, saya menemui forum blog yang anggotanya (member) yang cukup banyak. Forum blog itu bernama Warung Blogger. Di sana kita bisa Blogwalking, ya, di mana kita saling mampir sesama member lalu memberikan komentar akan post-an kita di blog. Di sisi lain, itu bisa menambah teman kita juga, ilmu juga, dan trafic (pengunjung) blog akan ikutan naik.

Belum lama ini saya berkelana di internet mencari seluk-beluk blogger sebenarnya. Saya tercengang ketika mampir di sebuah blog yang menuliskan mengenai survei-nya. Nah, di sana dikatakan bahwa hampir 70% blogger, membuat blog untuk mencari uang tambahan bahkan pekerjaan pokok, ya, bekerja di depan monitor dan mengoprasikan blognya sedemikian rupa.

Sontak saya tertarik jua untuk ikutan dalam 70% blogger itu. Bukan karena saya mata duitan? Lebih tepatnya adalah mencoba jiwa enterpener' atau kewirausahaan saya. Kendalanya adalah, trafic blog-nya, yang harus dipunyai oleh blogger yang bisa menghasilkan uang, rata-ratanya harus 10.000 per-bulan. Nah, sedangkan trafic blog saya baru sampai 3-ribuan. Belum lama ini, saya mendapatkan ide cemerlang, caelah, di mana ide itu adalah saya akan membuat iklan mengenai dagangan Abang dan Paman saya. Mbok ya ada orang yang nyasar di blog saya karena apa yang dia cari tertulis di blog saya, lalu dia membutuhkan apa yang ada di Abang dan Paman saya, selepas itu dia klik itu iklan yang saya buat. Setidaknya itu usaha saya untuk membantu beban orang yang dekat sama saya walau jarang jumpa di kosan, ckckckc.

Intinya adalah, nge-blog membuat saya melepas urat nadi kesengsaraan. Semua hanyut dalam tulisan dan menempel di internet. Harapan lain, semoga apa yang saya posting di blog ada manfaatnya sebab, manusia yang baik, menurut ajaran agama, adalah manusia yang bermanfaat sesama manusia, begitu kiranya.***

Afsokhi Abdullah
23 Februari 2015

Aku Mencintai Wanita Berhijab. Bagaimana Caranya?

Entah bagaimana cara menyampaikan rasa sayang, cinta, kasih, amat suka kepada seorang wanita yang menarik hati. Dari sudut mana pun wanita itu menarik hatiku. Terlebih lagi, aku masih belum cukup umur untuk memikirkan: meminangnya atau melamarnya. Sungguh, aku cinta padanya..., rasanya, darahku mendidih, dadaku penuh ketika melihat wanita itu. Sayang, dia itu berhijab, ayu, pakaiannya elok, tertutup dan tak pamer aurat. Jelas ia tak mungkin bisa kudekati dan berharap kami pacaran seperti remaja umumnya.

Aku cinta pada wanita berhijab itu sudah lumayan lama, sejak kelas 1 SMA, dan setahun telah lalu. Kini aku kembali sekelas dengannya lagi. Pada usiaku yang rentan kobaran asmara seperti ini--belasan tahun--tak mungkin berjanji untuk ta'arufan dengannya. Tak mungkin, itu tak mungkin. Tapi, ah, rasa, iya, rasa, rasa yang lahir ketika melihatnya sungguh teramat menyakitkan, tak sanggup aku menahan gejolak asmara di usia muda. Ingin rasanya aku..., mendekatinya dan menyatakan cinta secara langsung. Kami sudah sering jumpa, hampir saban hari, atau jika sekolah tidak diliburkan. Aku selalu menyiasati bagaimana caranya menyampaikan rasa yang bergejolak di dada ini.

Untung saja cara itu telah kutemukan sekarang. Tulisan, ya, lewat tulisan sahaja. Aku percaya bahwa tulisan itu tidak tuli. Dengan tulisan aku bisa menuangkan rasa yang bergejolak di dada. Bila waktu itu tiba, waktu di mana aku akan mengasihkan tulisan padanya, aku akan menuliskan ini di sebuah kertas putih dengan pena yang menari ria, seperti ini tulisan itu nantinya:

''Wahai wanita elok, ayu nan cantik jelita. Ya, surat ini untukmu, jadi bacalah, bukan salah kirim atau sebuah gurauan. Lihat, sekarang di depanmu ada deretan aksara yang ditulis oleh seorang laki-laki penakut. Dia hanya bisa berbicara lewat tulisan denganmu. Tapi, jangan salah paham. Laki-laki itu atau tepatnya adalah aku, takut dosa. Aku tidak mau mendekatimu secara langsung, kamu kan wanita berhijab, pasti tidak sembarangan orang bisa menyentuhmu. Jujur, aku hanya ingin menulis yang isinya adalah rasa sayang, cinta, kasih dan suka padamu. Jadi bacalah sampai habis, kumohon..., masalah balasan darimu, itu urusan belakangan untukku, yang terpenting sekarang adalah, luangkan waktumu, ya, luangkan waktu.

Wanita, asal kautahu, aku selalu memikirkanmu setiap malam, setiap ada waktu luang untuk berkhayal, pasti di situ ada kamu. Wajahmu akan terukir dengan sendirinya di langit sana. Seyogianya aku tak harus mengirimkan tulisan ini pada wanita berhijab sepertimu, laiknya tak elok mungkin bagi remaja seperti kita. Tapi, aku yakin, aku yakin aku adalah laki-laki masa depanmu kelak. Jadi, akan kutunggu waktu yang tepat untuk kita bersama. Menjalin rasa cinta sebenarnya.

Kita akan bahagia. Aku akan menjagamu, menjaga semua yang ada padamu. Akan kucarikan nafkah yang halal untuk keluarga kita nanti. Anak kita akan tumbuh-kembang dengan sehat. Kamu tak usah bekerja, diam diri saja di rumah menjadi wanita yang baik-baik. Tenang, jika aku menjadi suamimu, aku akan bertanggung jawab, dan tak akan membuatmu sengsara.

Aku sedia menunggu saat-saat itu, saat di mana aku harus berhadapan dengan orangtuamu. Mau bagaimanapun cerita hidup ini nantinya, aku akan selalu berusaha, berusaha semampuku. Jadi, akulah laki-laki masa depanmu, dan kamu wanita masa depanku. Jangan bilang aku gila, aku tidak demikian, aku sadar menulis ini.

Mengertilah hai wanita berhijab....''

***

Ya, mungkin itu yang akan kutuliskan untuknya. Tapi, masalahnya adalah kapan? Cukupkah nyaliku sekedar mendekat dan mengasihkan surat!? Arght!***

Afsokhi Abdullah
Kosan, 22 Februari