Membaca Ketika Lampu Berwarna Merah (Hamsad Rangkuti)

“Bagus! Jakarta kota keras. Kota tempat orang berdusta. Bapak tinggal di sekitar para pendusta. Semua orang tinggal di Jakarta akan menjadi orang pendusta. Jakarta tempat semua pendusta!” 

Ketika lampu berwarna merah, semua kendaraan berhenti, kecuali mereka para pengemis yang memanfakatkannya untuk berkeliling kesana dan kemari. Memasang wajah paling iba dan meminta-minta. Pemandangan seperti itu tentu saja sudah tidak asing lagi di kota-kota besar, apalagi Jakarta.

Novel ini berkisah tentang itu, orang-orang yang hidup di pinggir Jakarta, rumah dengan karton, hidup di pinggir rel dan kali, hidup dengan mengemis dan menipu. Terkadang kita berpikir bagaimana kehidupan mereka, bagaimana mereka tidur, makan, mandi, bahkan menikah? Apakah mereka mempunyai masa depan?

***

Diceritakan Kartijo—yang tinggal di sebuah desa yang terancam digusur karena ada proyek waduk—mempunyai anak yang kabur ke Jakarta karena kagum dengan monas yang menjulang tinggi. Nama anak itu Basri, ia masih anak-anak, tapi karena mendengar cerita hebat dan gemerlapnya Jakarta, ia mempunyai tekad untuk pergi ke sana.

Ketika sudah sampai Jakarta dan melihat monas, ia bingung, ia akhirnya bergabung dengan anak-anak jalanan. Hidupnya berubah, kini hari-harinya hanya mengemis dan mengemis.

Orangtua Basri tentu terus mencari anaknya,  Jakarta luas, dan membutuhkan tenaga untuk menemukannya. Tetangga Kartijo yang pernah ke Jakarta mengaku mengaku pernah melihat Basri di suatu perempatan.




Bertahun-tahun, hingga anaknya kini nyaman dengan hidup dengan mengemis, dan bertemu dengan teman-teman barunya. Sedang Kartijo terus mencari anaknya di setiap perempatan Jakarta. Yang ia tahu: anaknya terlihat di perempatan, yang ia tidak tahu: anaknya hidup dengan hasil mengemis.

“Apa dia yakin kita membeli martabak?”
“Kita membawa uang untuk membelinya.”
“Dia lihat kita sering mengemis di restoran itu. Dia tahu kita pengemis. Bukan pembeli.”
“Apakah pengemis tidak pernah membeli martabak?”
“Aku kira tidak. Pengemis hanya akan memakan martabak dari sisa-sisa orang yang makan di restoran.” (halaman 51)

Novel ini membawa kita untuk mendekati dunia yang terpinggirkan. Melihat mereka yang tidak beruntung hidup di gubuk-gubuk. Melihat mereka hidup hingga mati.

Ia juga mengangkat bagaimana hubungan seorang ayah dengan anaknya, serta arti persahabatan yang tulus yang terjalin antara Basri dan teman-teman barunya.

Hamsad Rangkuti dikenal sebagai penulis yang hyper-realis, ia menggambarkan seolah begitu nyata
dan sangat dekat dengan mata kepala kita. Ia menulis dengan cara yang (sangat) sederhana, namun apa yang ditulisnya mengandung banyak makna. Tak heran jika novel ini merupakan salah satu pemenang sayembara penulisan roman Dewan Kesenian Jakarta (DKJ, 1981).

Membacanya membuatku haru sekaligus bersyukur diberi kehidupan yang layak, karena terpinggirkan tentu saja bukan pilihan tiap manusia.


Membaca 'Cinta Tak Pernah Mati' (Eka Kurniawan)

Mendengar nama Eka Kurniawan, di kepalaku langsung menuju ke sebuah tulisan yang vulgar, cabul,  jenaka, dan kasar. Namun hal itu kemudian menjadi runtuh ketika membaca kumpulan cerpen Cinta Tak Ada Mati pada cerpen pembuka.

 Eka mengutip ayat Alquran di awal cerpen. Pikiranku refleks: apa Eka akan menulis religi? Ditambah lagi ada cerpen yang berjudul Surau ketika kubaca daftar isi buku. Apakah aku akan menemukan ‘Eka’ yang sebelumnya aku kenal dari novel-novelnya? Atau dari buku ini aku akan menemukan sisi lain Eka?

Jawabannya adalah tidak, Eka tidak kehilangan ciri khasnya. Hanya saja aku lebih suka cerpen-cerpennya yang panjang dibanding cerpen yang pendek di buku ini. Entahlah, menurutku Eka mempunyai kodrat-nafas-cerita-yang-panjang ketimbang cerita singkat.

Mungkin ini hanya masalah selera, kamu perlu membacanya langsung untuk membuktikannya.

Cerpen favoritku adalah cerpen yang juga sebagai judul buku ini: Cinta Tak Ada Mati. Bercerita tentang pria tua yang mencintai gadis muda. Bisa dikatakan ini cinta yang aneh, begitu juga fantasi-fantasi si tua.

Pada umur tujuh puluh empat tahun, Mardio masih seorang bujangan yang sama sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Tak seorang perempuan pun di dunia pernah ditidurinya, dan semua itu hanya karena cinta sucinya kepada seorang perempuan yang tampaknya tak perrnah dilahirkan untuk menjadi milikinya. (halaman 19)

Hingga akhirnya si pria tua jatuh cinta dengan salah satu gadis dan bermaksud untuk memperistrinya. Tentu saja ia menolak dan lebih memilih pria yang lebih baik. Namun si tua tetap bersikeras terhadap pendiriannya hingga semua berakhir sia-sia belaka (sebenarnya tak sesederhana itu).



Kemudian cerpen favoritku berjudul Surau. Berkisah tentang pria yang bergelut dengan hatinya sendiri ingin salat atau tidak ketika ia terjebak di Surau ketika di luar hujan deras. Ia merasa harus salat karena segan sudah datang ke tempat itu, namun di sisi lain ia sudah lama tidak menjalankan perintah agama.

Kemudian muncul masa lalu kecilnya, di mana ia selalu disuruh ayahnya untuk rajin salat dan berdoa. Nemun menjelang dewasa, semua itu ia lupakan begitu saja.

Barangkali aku tidak sungguh-sungguh kehilangan iman. Entah dengan cara apa, aku masih percaya kepada Tuhan. Kubayakan Tuhan memandangku dari atas sana, sia-sia masa lalu ketika ayah dan guru mengaji menanamkan-Nya di kepalaku. (halaman 70) 

Cerpen-cerpen di dalam buku ini cukup berwarna, ada cerita yang berbau romantis, horor, religi, hingga pewayangan. Tidak semua cerpen di buku ini melekat di kepalaku, hanya beberapa saja. Nilai plus dari buku adalah ia mempunyai kekuatan ending yang kuat dan menggelitik.
 
Sebelumnya buku ini pernah terbit pada 2005, perbedannya ada 3 cerpen baru di edisi 2018 di antara 13 cerpen lainnya.

Secara keseluruhan aku menyukai buku ini, kendati kuakui ini bukan karya Eka terbaik yang pernah kubaca.

Menyelami dunia jurnalistik yang kelam bersama Cak Rusdi

Sekitar sebulan lalu aku bertemu dengan anggota ekskul jurnalis SMK-ku dulu. Di tiap tahun diadakan sebuah pertemuan untuk memperkenalkan anggota baru kepada dunia jurnalis.

Aku tidak menyiapkan materi untuk berbicara di depan mereka (karena ini mendadak). Untungnya aku belum lama ini sudah menyelesaikan buku karya Rusdi Mathari: ‘Karena Jurnalisme Bukan Monopoli Wartawan’ yang membuatku kagum.



Jadi aku bisa mengutip sedikit-banyak yang Cak Rusdi tulis di buku ini ketika aku di depan anggota jurnalis baru itu. Aku menyampaikan kepada mereka tentang blog salah satu warga Mesir yang  mengambil peran dari arus media utama, aku cerita tentang wartawan yang menulis berita tapi fiksi, tentang wartawan bodoh karena menanyakan saksi yang melihat mayat dan menanyakan hal bodoh, dan banyak lagi.

Artinya sebagian besar yang ada di dalam buku itu menempel di kepalaku, setidaknya begitu menurutku.

Melalui buku ini aku dapat menyelami dunia jurnalistik khususnya di Indonesia. Cak Rusdi dalam buku ini seperti bercerita dengan gaya santai kepada pembaca. Tapi dalam kesantaian itu, sebenarnya ia sedang membawa isu dan kasus yang tidaklah kecil.

Kebanyakan tulisan yang ada di buku ini pernah dimuat di blog Cak Rusdi dan akun Facebooknya. Jadi wajar jika buku ini terbilang ringan karena maksud dari penulisnya adalah menulis di blog dan status Facebook, bukan dimaksudkan untuk menjadi buku.

Dengan tulisan yang terbilang ringan tersebut, pembaca jadi bisa lebih akrab ketika menyelami pikiran-pikiran Cak Rusdi. Poin penting dalam buku ini adalah kritiknya terhadap media hingga profesi jurnalis itu sendiri. Ia secara blak-blakan membicarakan itu, tentu saja dibalut dengan pengalamannya yang terbilang senior di kancah kejurnalistikan nasional.

Ia berbicara tentang profesinya sendiri, di mana kebanyakan jurnalis tidak mau disandingkan dengan pekerjaan buruh lainnya. Seolah pekerjaan jurnalis kebal PHK atau dipecat. Padahal pekerjaan jurnalis sama seperti pekerja buruh lainnya, hanya saja kebanyakan orang yang bekerja di media seperti ini terlalu banyak gengsi dan menggagap dirinya lebih cerdas dari orang yang bekerja lain.

Hal itulah yang membuat pekerja media sedikit untuk membuat serikat pekerja. Padahal dengan membuat serikat pekerja, hak-hak mereka menjadi lebih diperhatikan. Gaji jurnalis juga tidak besar-besar amat, bahkan bisa dibilang miris.

Cak Rusdi juga menyebutkan pekerjaan jurnalis dewasa ini sudah mulai runtuh wibawanya di mata  masyarakat. Ia bersanding dengan politikus yang suka korup dan tebar janji. Wajar saja, karena media dewasa ini memang sudah semrawut. Dosa jurnalis, dosa media.

Jadi, masihkah jurnalis menjadi pekerjaan idaman?

Tidak hanya tulisan kritiknya tentang media, di buku ini juga ada rangkuman dari seminar Cak Rusdi. Seperti bagaimana memerlakukan sumber berita, melakukan wawancara, verifikasi, dan sebagainya. Hal itu bisa menambah wawasan pembaca di dunia jurnalis.

Buku yang mengangkat kritik terhadap media seperti ini sepertinya harus dibaca oleh banyak orang. Karena dengan membacanya kita dapat berpikir ulang tentang bagaimana menerima informasi yang terus kita terima sehari-sehari.

Terbitnya buku ini di ‘tahun panas politik’ agaknya memang tepat. Ia seperti oase di tengah keriuhan media yang tidak karuan. Kita sepertinya perlu berhenti sejenak untuk berkata-kata yang tidak berguna, dan mencoba menundukan kepala sambil membaca buku-buku penuh manfaat seperti buku ini.



Film Peppermint: Dendam Edan-edan Seorang Ibu

Peppermint bercerita tentang dendam seorang Ibu (sekaligus seorang isteri) karena anak dan suaminya terbunuh tepat di depan matanya. Ketika di pengadilan, keadilan sema sekali tidak memihak kepadanya.

Tepat di tanggal kematian anak dan suaminya--setalah 5 tahun menghilang, ia membunuh orang-orang yang telah 'melukainya' dengan cara paling sadis. Mulai dari orang-orang di badan pemerintahan hingga gembong narkoba.




Tokoh utama di film ini adalah Riley Nort (Jennifer Garner), ia digambarkan secara edan-edanan sebagai seorang perempuan malang yang kehilangan orang tersayang. Ia seperti mempunyai nyawa seribu, pandai menggunakan pisau, senjata api, dan berkelahi.

Film ini mengingatkanku dengan The Foreigner (2017), sama-sama tentang seorang yang mencari keadilan karena aggota keluarganya terbunuh.




Bedanya, The Foreigner diperanutamakan oleh Jackie Chan, adegan aksinya jelas berbeda kelas, latar belakang bagaimana ia bisa mahir berkelahi dan--menggunakan senjata api untuk membunuh orang-orang di balik kematian keluarganya--jelas digambarkan di dalam film. Berbeda dengan Peppermint, tidak jelas bagaimana Riley Nort mendapat keahlian membunuh orang.


Yang aku sukai dari film ini:
Selain aksi, Peppermint juga menyajikan drama. Keluarga memang harta paling berharga, melihat seorang Ibu yang berusaha mencari keadilan di sebuah layar lebar memang menguras emosi. Terkadang ia berada di puncak dendamnya, lain waktu berada di kesedihan paling mengerikan.

Yang tidak aku sukai: 
Tokoh utama yang terlalu sempurna, ia hampir tidak mempunyai cacat sedikit pun, dan bisa melakukan apa aja semaunya. Padahal aku berharap di tengah-tengah cerita si tokoh utama akan bertemu dengan ‘lawan yang sepadan’. Namun nyatanya tidak, dan itu membuatku kecawa. Ia terlalu mudah melakukan aksinya!




Terlepas dari itu semua, film ini masih bisa dinikmati untuk mengisi akhir pekanmu dengan penuh ‘darah’ dan emosi yang teraduk-aduk.***


*gambar dari berbagai sumber

Internet dan Literasi Kita

Baru-baru ini santer kabar tentang mantan finalis suatu pencarian bakat—membobol mobil, ia mempelajari hal itu dari internet. Kita tahu itu merupakan salah satu contoh kasus dari ‘manfaat’ internet yang kurang baik. Internet ibarat pisau tajam bermata dua, dan kitalah yang menentukan sisi mana yang ingin digunakan.

Mungkin di suatu tempat ada orang sedang belajar membobol mobil dari internet, tapi di lain tempat ada seorang yang sedang belajar membuat kue yang nikmat untuk dihidangkan pada saudara-saudaranya yang akan hadir ke rumah di akhir pekan.




Dunia maya bagai sebuah rimba, seseorang yang tidak mempunyai ‘kompas’, maka ia akan dengan mudah tersesat. Internet juga bisa memengaruhi seseorang dengan informasi yang sangat mudah dan cepat didapat oleh siapa saja yang berselancar di sana. Pertanyaannya adalah, sejauh mana kita dipengaruhi internet? Apa itu pengaruh baik atau buruk?
 
Melihat banyaknya konten negatif di internet yang merugikan, pemerintah ambil andil. Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika tercatata telah memblokir 850 ribu situs berbau pornografi, perjudian, dan konten negatif serupa. Namun seolah tidak pernah habis, diblokir 1 situs, muncul 10 situs lagi. 

Akhirnya semua kembali ke diri masing-masing, ‘pemblokiran’ terbaik adalah kesadaran diri sendiri. Dan pemerintah sadar akan hal itu, pemerintah mengatakan bahwa literasi adalah kuncinya.

Namun agaknya kita perlu kembali menelaah apa itu sejatinya literasi. Iqbal Aji Daryono menulis di detik.com dengan judul ‘Menggugat Lagi Makna Literasi’, mangatakan bahwa literasi adalah sebuah sikap mental yang membawa diri memiliki daya kritis, refleksi, dan skeptisme, ia tidak dapat dibangun sekadar dengan sekolah, bahkan tidak juga sekadar dengan buku-buku. Literasi adalah tradisi permenungan berjarak yang membantu penelaahan secara sabar, runtut, mendalam, dan reflektif. Dari sanalah akan terbuka menuju masyarakat yang matang dan dewasa.

Kita tahu hampir mustahil untuk mengatur seseorang untuk berselancar di internet, tidak bisa dinafikan lagi bahwa di internet sendiri banyak tutorial untuk membuka situs yang diblokir.

Dan pada akhirnya, semua itu kembali pada diri masing-masing, kita selaku pengguna internet, ingin menggunakannya pada sisi negatif atau postif, ingin menggunakannya untuk mengakses konten seperti pornografi, judi, dan membagikan berita bohong atau menggunakannya untuk mengakses konten postif dan membuat konten kreatif.

Melihat masalah di atas, Telkomsel melalui #InternetBAIK (Bertanggung Jawab, Aman, Inspiratif, dan Kreatif), rajin mempromosikan bagaimana memanfaatkan internet untuk perbaikan, kontribusi positif kepada masyarakat luas dalam rangka meningkatkan kualitas hidup bersama. Dengan cita-cita membuat ekosistem digital yang sehat.

sumber: internetbaik.web.id


Tidak hanya memblokir situs negatif ketika berselancar dengan Telkomsel di internet, Telkomsel juga giat untuk membuat aksi nyata seperti mengadakan seminar. Dalam seminar ini akan lebih membahas peran orang tua, pendidik, pengajar dan guru dalam membimbing dan mendampingi anak dan generasi muda agar dapat memanfaatkan kemajuan teknologi informasi secara bertanggung jawab, aman inspiratif dan kreatif.

Tidak hanya itu, ada juga workshop membuat konten kreatif seperti menulis blog atau membuat film pendek garapan sendiri. Sebuah kegemaran yang harusnya ada di anak muda zaman sekarang.

Dimulai dari tahun 2016, Telkomsel bersama ketiga mitra yaitu Yayasan Kita dan Buah Hati, Kakatu, dan ICT Watch hendak merajut serta meluaskan kampanye edukasi internet yang BAIK (Bertanggung Jawab, Aman, Inspiratif, dan Kreatif) dalam sebuah program dan gerakan yang lebih terpadu, terencana dan melibatkan banyak kalangan sehingga pada akhirnya pemahaman tentang #internetBAIK menjadi kebutuhan semua pihak.


sumber: youtube


Sejauh ini tercatat Telkomsel sudah melakukan edukasi di 27 kota, 84 sekolah, 6795 murid, 5897 orangtua dan komunitas serta 1613 duta #internetBAIK.

Telkomsel sadar bahwa untuk membentuk smart village dan smart country, maka yang perlu diwujudkan adalah smart people.telebih dahulu.***


Sumber bacaan:
https://news.detik.com/kolom/d-4207227/menggugat-lagi-makna-literasi
https://www.liputan6.com/showbiz/read/3648226/belajar-dari-youtube-begini-aksi-dede-richo-saat-mencuri
https://www.idntimes.com/news/indonesia/afrianisusanti/menkominfo-850-ribu-konten-negatif-diblokir
http://internetbaik.web.id/

Film Crazy Rich Asian: Romance-Comedy yang Pas


Film yang kutunggu-tunggu akhirnya tayang. Crazy Rich Asians bercerita tentang hubungan Nick (orang kaya raya) dan Rachel (profesor ekonomi) yang tidak disetujui oleh Eleanor (Ibu Nick) karena beberapa alasan. Keluarga Nick terkenal sebagai keluarga yang kaya raya, namun hal itu Nick sembunyikan kepada kekasihnya selama setahun mereka menjalin kasih.

Walhasil Rachel terkejut ketika mendapati fakta kekasihnya ternyata orang yang kaya sekaligus terkenal dan, tentu saja wanita di luar sana merebutkannya. Hal itu semakin jelas ketika Rachel diajak ke Singapura untuk diperkenalkan kepada keluarga Nick.

Sumber gambar:google


Film ini adalah buah adaptasi dari novel best seller internasional dengan judul yang sama, ditulis oleh Kevin Kwan, orang Singapura keturunan Tionghoa yang tinggal di Amerika. Ini adalah novel pertamanya dan langsung meledak. Salah satu alasan kenapa novel ini bisa laris adalah karena ia menyinggung budaya Tionghoa secara buka-bukaan.

Setting tempat di film ini juga tidak jauh dari dunia penulis, yakni Amerika dan Singapura.

Aku belum membaca novel tersebut sebelumnya, namun agaknya aku bisa menilai tokoh yang 'menempel' di film ini, juga alur cerita, adalah hasil dari novel tersebut. Rachel digambarkan sebagai wanita yang kuat dan pemberani. Kendati ia tidak direstui, namun itu tidak membuatnya gentar. Sedang Nick adalah pria yang dewasa dan cool.

Unsur komedi dalam film ini sangat apik dan begitu orisinil, ia tidak dibuat-buat dan sukses membuat penonton seisi bioskop tertawa. Komedi itu dikemas dengan sederhana baik berupa dialog maupun tingkah laku tokoh—walau hanya dalam beberapa detik saja.

Tentu saja hal itu membuat penonton merasa puas karena film ini mampu menyajikan hal romantis dan komedi sekaligus secara pas dan sempurna, hal yang tidak mudah ditemukan di film-film lain.

Film ini juga mampu menyajikan drama yang membuat penonton (termasuk aku) menangis. Aku tidak bisa menahan perasaan campur aduk di dada dari konflik yang ada di film tersebut. Aku merasa kasihan kepada Rachel, dan haru atas perjuangannya menghancurkan tembok besar.

Film dibuka dengan kegarangan Eleanor, ibu Nick yang membuat dalam berjalannya cerita, sifat itu dengan mudahnya menempel pada diri Eleanor. Peran Eleanor sangat sakral di film ini, ia adalah sosok ibu yang judes dan berpendirian, wajahnya tegas juga kata-katanya.

Jangan lupakan juga masalah yang diderita Astrid, sepupu Nick yang juga kaya raya. Astrid mempunyai masalah dengan suaminya yang bersumber dari kekayaan. ‘Kaya belum tentu bahagia’ menempel pada sosok Astrid.

Durasi film ini 119 menit, termasuk durasi yang panjang, namun tidak terasa karena membuat siapa saja bakal larut dalam ceritanya.

Film ini disambut positif oleh penikmati film, terlihat di IMDB film ini mendapat skor 7,6 dan dan 93%  di Rottentomatoes.

Pertama kali membaca buku Agatha Christie: The Thirteen Problems

Sebelumnya aku tidak terlalu tertarik dengan novel genre detektif. Namun setelah dipikir lagi dan ada keingininan untuk keluar dari zona nyaman-membaca, maka aku putuskan untuk mencoba membaca novel genre satu ini. Dan buku yang kupilih untuk itu adalah ‘The Thirteen Problems’ karya Agatha Christie.

Nama ini tentu saja sudah tidak asing lagi, namun aku baru menaruh perhatian setelah aku dibuat terpesona tak berdaya dengan film ‘The Murder Orion Express’ yang adalah adaptasi dari salah satu novel Agatha.

Maka aku putuskan untuk membaca bukunya sebagai bentuk untuk mencari sensasi-sensasi film yang mungkin saja bisa aku dapatkan di bukunya yang lain.

Dan, ya, ternyata untuk mencari bukunya tidaklah mudah, butuh beberapa bulan untuk akhirnya bisa membacanya.


 ‘The Thirteen Problems’ bercerita tentang pengalaman misteri-misteri yang sulit dipecahkan, seperti judulnya, misteri tersebut ada 13 kasus. Jadi, pada suatu malam ada beberapa tamu berkumpul di rumah Miss Marple, seorang perawan tua yang hidup di sebuah desa.

Kemudian para tamu menceritakan pengalaman menarik mereka masing-masing. Di antara para tamu tersebut ada yang seorang penulis, model, dokter, bahkan pendeta. Hanya Miss Marple di antara mereka yang terlihat kuno dan tidak meyakinkan untuk memecahkan misteri.

Cerita para tamu di rumah Miss Marple kebanyakan bercerita tentang pembunuhan. Jadi, setiap orang yang bercerita sudah mempunyai jawaban dari kasus tersebut. Setiap tamu yang lain, juga Miss Marple, mendapat kesempatan untuk menganalisis kasus tersebut dan menebak apa motifnya hingga pelaku utama.

Namun, dari sekian analisis, hanya pandangan Miss Marple yang tepat sesuai jawaban. Padahal nenek tua perawan ini tidak terlalu meyakinkan.

Tiap memecahkan kasus, Miss Marple selalu mengaitkan dengan peristiwa yang terjadi padanya. Hanya peristiwa sederhana, namun dari situ ia bisa mengambil kesimpulan.

“Banyak kejadian yang mirip satu sama lain di dunia ini,” ujar Miss Marple, “misalnya Mrs. Green, dia mengubur lima anak dan masing-masing mereka diasuransikan. Yah akhirnya orang mulai curiga.”

Novel ini berhasil membawaku ke dalam perkumpulan di sebuah ruang tamu yang hangat: saling menyimak cerita, menganalisis, dan membuat kesimpulan. Walau pada akhirnya hanya Miss Murple yang tepat menjawabnya.

Kasus-kasus dalam cerita ini sangat menarik, mulai dari pembunuhan hingga pemalsuan identitas. Sebuah kasus yang hanya dilakukan oleh mereka yang sangat detail dan terencana, ribet seperti benang yang kusut.

Namun Miss Marple hadir sebagai tokoh yang selalu bisa meluruskan benang kusut itu melalui analisisnya yang tajam. Yang membuat siapa saja bakal terkagum-kagum dengan si perawan tua ini. Sebagai tokoh utama, ia memiliki karakter yang sangat nempel di kepalaku, dan kuyakin akan terus kuingat bertahun-tahun.



Novel ini tidak terlalu tebal, terjemahannya juga bagus, walau di beberapa ada bagian yang membuatku bingung dan harus membacanya ulang.

Perbedaan sensasi membaca novel detektif dengan novel lainnya adalah ia bisa membawa pembaca berpikir keras, dan selalu ada kejutan di akhir cerita yang bisa membuat geleng-geleng kepala.

Novel ini barangkali adalah jembatanku untuk mulai gemar membaca novel detektif, dan tentu saja sekarang aku sedang memburu buku-buku Agatha.