Berangkat ke Yogyakarta, Demi Kampus Fiksi Emas!

“KERETA GAJAH WONG, TUJUAN AKHIR LAMPUYANGAN YOGYAKARTA, SEGERA DIBERANGKATKAN!”
Suara itu menggema, memantul ke segala arah dan masuk ke telinga saya.
“Kereta itu?! Akan berangkat?! Arght!” gerutu saya.
Saya baru sampai di stasiun Pasar Senen, Jakarta pada jam 06:40 dan di tiket yang saya beli, kereta akan berangkat jam 06:45.
Mendengat suara itu, saya segera lari menuju pintu masuk yang membingunkan (sebelumnya saya belum pernah ke sini). Ketika sudah mengantre agak panjang dan sampai di meja pemeriksaan, bapak petugas berkata, “Pintu masuknya sebelah sana, Mas,” katanya sembari menunjuk pintu yang agak jauh. Spontan saya lari, tas yang saya bawa anjluk-anjlukan, napas saya tersengal-sengal, beruntung, pintu masuk itu tidak terlalu ramai. Dan di sini yang kedua kalinya saya berpamitan kepada seorang yang mengatar saya. Dia repot-repot, susah-susah, mengantar saya ke stasiun Senen. Terima kasih yah, jadi tambah sayang... *ini kok curcol woy!* 
Cepat saya masuk, dan menuju kereta Gajah Wong yang siap diberangkatkan. Bersama seorang ibu-ibu dan anaknya yang masih kecil (yang kebetulan bertemu dalam keadaan seperti ini), kami menaiki dan turun anak tangga bersama, dan sampailah di rangakian kereta Gajah Wong, jika telat sepersekian detik saja, saya akan ditinggal.
“Permisi yah…,” kata saya ketika sampai di bangku 11c gerbong 2. Ada ibu-ibu dan mas-mas dengan istrinya yang manatap saya dengan tatapan kosong, tak lama kemudian mereka tersenyum, dan mempersilakan saya untuk bergabung.
Tas saya taruh di atas, di tempat yang sudah disediakan, sudah penuh juga. Selepas itu, saya duduk dan menghela napas panjang.
“Kirain tadi nggak ada orang,” kata ibu-ibu di samping saya. Saya tersenyum dan membalas, “Iyah, Bu, hampir tadi telat.” Saya lap keringat yang menyumbul di kening dan mulai menenangkan napas yang tak beraturan. Kereta pun berangkat.
***
Perjuangan banget emang buat ke Yogyakarta ikut acara Kampus Fiksi Emas. Selain kejadian di atas, untuk membeli tiket kereta pun saya harus meminjam uang teman dahulu, dan akan dilunasi ketika Abang mengirimi saya uang bulan depan, heheh…
Di dalam kereta saya terus termenung ditemani sebuah buku tebal karya Herman Praktikno: Hamba Sebut Paduka Ramadewa. Sambil membayangkan apa yang akan terjadi di Yogyakarta nanti.
Setengah jam kemudian, pemandangan di jendela kerta yang tadinya gedung-gedung dan rumah yang tak beraturan, kini berganti pesawahan, pohon, dan para petani yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.                                                                                        

 
***
Selama perjalanan kereta, saya habiskan untuk tidur dan sesekali ke resotarsi untuk makan. Dan tak berasa sudah sampai di Yogyakarta. Deg, saya tidak menyangka, sudah sampai? Yogya? Aw, semoga ini bukan mimpi! Jam di hape saya menunjukan 15.05.


Setelah turun dari kereta Gajah Wong, saya duduk di tepian ruang tunggu yang sudah penuh, tepatnya di gundukan. Menunggu jemputan. Tak ada yang saya pikirkan saat ini, orang-orang hilir mudik di depan muka. Dan entah ekspresi apa yang tampil di wajah saya saat ini, mungkin kalau ada yang melihat saya, pasti akan terlihat seperti bocah hilang yang habis diculik dan kabur karena disuruh ngamen, hiks.
Lama saya menunggu, hape pun hampa, saya mencoba menyibukan diri dengan mondar-mandir di stasiun sambil mengecek hape berkali-kali. Karena itu, saya menelepon Kak Vie. Pulsa saya tinggal dua ribu.
“Nanti, tunggu aja, dihubungi kok,” kata Kak Vie di ujung sana.
Saya pun kembali duduk, termenung, menatap hape dengan tatapan kosong, “Apakah saya akan terdampar di sini, selamanya…?” batin saya, lebay :3
                                                                   ***
Lama kemudian, sms masuk ke hape saya, oh, yeah, ini jemputan! Mas Kiki namanya, dan dia menyuruh saya untuk ke perempatan Malioboro, dan memberikan ciri-ciri diri saya kepadanya.
“Saya pakai baju abu-abu, jacket hitam, celana panjang dan tas hitam, orangnya ganteng.”  Begitu diskripsi yang saya berikan kepada Mas Kiki.
Segera saya berjalan menuju perempatan Malioboro. Tak usah tanya kenapa saya tahu perempetan itu, sebab saya bertanya, oke? *iyain ajalah*


Saya sudah sampai di perempatan, dan ketika saya ingin beranjak menyebrang rel kereta, suara tin nong ting nong berbunyi, padahal saya sudah berapa langkah ke depan. Pintu otomatis tertutup, saya panik, “Apa hidup saya akan berakhir di sini?” batin saya melas.
Tapi tidak, saya berjalan mundur, (Nggak penting yah?).
Nah, selepas kereta lewat, saya berjalan ke lampu merah perempatan. Saya berjalan pelan, pelan sekali.
“Kamu peserta Ka-Ef?!” tiba-tiba seorang Mas-mas menyambangi saya, dengan memakai kaus, celana pendek dan sandal; saya bisa menebak pasti ini Mas Kiki! Sedikit ada curiga juga: kalau ini bukan Mas Kiki…, dia pasti penculik! Tolongg…!
Ah tidak, benar, ini Mas Kiki. Dia menyuruh saya berjalan di belakangnya, cepat dia berjalan, dan sampailah di parkiran di tepi jalan. Mobil hitam pribadi yang sering saya lihat di jalan tapi nggak tahu mereknya apa, saya buka pintunya, dan…, ada tiga orang cowok, setelah saya berkenalan, ternyata mereka bernama: Mas Heru dari Cirebon, Mas Reza dari Jakarta (yang saya curigai sebegai admin twitter Kampus Fiksi), dan Mas Kiki itu sendiri.
Di dalam mobil, beberapa pertanyaan dilontarkan Mas Kiki, seperti nama.
“Siapa tadi namanya?” tanya Mas Kiki.
“Afsokhi. Sokhi ajah, Mas.”
“Sopi?”
“Sokhi! S-O-K-H-I. Soo kkhhii….”
“Sogi? Sohi?”
“Sokhi, Mas…,” jawab saya agak kesal. Entah kenapa orang yang baru kenal sama saya, pasti kesusahan dalam menyebut nama itu. Ya biarlah, nanti juga bakal biasa.

Ini di dalam mobil. Tapi bukan ketika menjemput saya, tapi ketika berangkat dari gedung KF ke Resto De Nany.

Mobil dilaju Mas Kiki menyisir jalanan Yogyakarta, terpampang plang-plang berkejaran di luar sana. Borobudur, Malioboro, Yogyakarta Kembali, Tugu, Titik Nol, dan masih banyak lagi.
Saya duduk di dekat jendela, saya rapatkan wajah saya ke jendela, dan mengagumi apa-apa yang terlintas di luar sana.
INI YOGYAKARTA….!
                                                ***   
Setelah menjemput satu peserta, namanya Fahri, di terminal, akhirnya kami menuju gedung Kampus Fiksi, hari sudah senja.
Tapi, Mas Heru yang di samping saya menggeliat ingin buang air kencing. Lalu Mas Kiki pun mengebutkan mobilnya, lama, kami sampai di POM bensin. Sebetulnya saya juga kebelet sih.
Segera saya berlari, dan sampai di toilet, ngantre, beberapa menit kemudian, baru giliran saya melepaskan kenikmatan yang luar biasa, seperti terlahir kembali kalau kata Mas Reza.
                                                          ***
Selepas semua itu terlepas, kami menuju gedung Kampus Fiksi, melewati jalan raya yang agak ramai, dan pedesaan yang asri. Gedung KF itu sendiri berada di sekitaran pesewahan, pokoknya, perkampungan, deh. Keren!
Kira-kira jam 18.30, kami sampai di depan gedung KF. Turun dari mobil dan menaiki tangga. Saya, Mas Reza, Mas Heru, dan Mas Fahri masuk. Dan lalu disambut peserta yang lain. Kami menyalami satu-persatu sambil mengucapkan nama masing-masing.
“Yang baru datang…, silakan makan, makan…,” perintah Kak Vie. Dan malu-malu saya mengambil makanan itu yang ternyata berisi ayam goreng dan nasi.
Satu kendala, yaitu ketika ingin mengambil air. Segelas air sudah di tangan, dan sampainya di dispenser, “Ini gimana caranya…?” saya pencet-pencet bagian dispenser, tapi tidak keluar juga isinya. Setelah agak lama, dan merasa malu juga kerena dispenser berada tepat di balakang ruang utama, akhirnya keluar juga airnya, ternyata tinggal pencet bagian depan itu, ya itu…
                                                ***
Tak lupa kami sholat.
Dan setelah itu, kamar dibagi, sudah ada beberapa tertata di kamar yang saya masuki. Saya tergeletak di kamar bersama Mas Fahri yang agak jauh di sana. Dan di ruangan tengah, sedang ada permainan poker berlangsung.
Saya buka notebook saya, ya, saya sudah tahu, pasti bakal begini. Saya bakal sendirian.
Tapi, “Sokhi! Fahri! Sini, main poker, bisa, kan?!” kata Mas Sayfulan penulis Imaji Dua Sisi yang spektakuler itu.
Saya tercekak, “Hah?! Iyah?!” jawab saya, dan lalu mematikan notebook. Melenggang ke ruang tengah bersama Mas Fahri, masuk ke dalam lingkaran, lalu Kak Sayfulan menjelaskan permainannya kepada saya.
“Oh.., cuma begitu…,” batin saya.
Dan, dua permainan berlangsung, saya bisa memenangkan keduanya sekaligus. Hahah…, lagi hoki 0.09
Setelah selesai bermain poker dan juga sekaligus mempererat saya kepada teman-teman yang sudah datang, saya dengar akan ada acara ke Malioboro.
Mendengar itu, saya merasa: harus ikut! 

Bersambung ~> Dolan Ming Malioboro


Hari Pendidikan Nasional Bukan Sekedar Nostalgia Semata (Jurnalis Pelajar 11)

Hari Pendidikan Nasional Bukan Ajang Nostalgia Semata

JURNALIS PELAJAR11, JAKARTA. Kepala SMK N 11 Jakarta, Edyson Jumaedi dalam kesempatan upacara memperingati Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada hari ini menyatakan, ''Pada tahun ini. Tonggak sejarah pendidikan di Indonesia ada yang baru. Yaitu, peningkatan mutu pendidikan. Sebelumnya, pada pemerintahan SBY, pemerataan pendidikan dikedepankan. Namun tahun ini, peningkatan pendidikan diperhatikan. Sebab kemakmuran Indonesia sudah mulai berkembang,'' kata beliau di mimbar upacara, tegas.

Selanjutnya, Bapak Edyson menyinggung pula mengenai PPDB di sekolah yang dikepalainya, ''Katakan pada teman kalian yang masih SMP. Kalau mereka ragu masuk SMK 11, mending tidak usah mendaftar. Jadi, harus sepenuh hati dan dengan semangat membangun dirilah yang mendaftar di SMK 11,'' ungkap beliau sungguh-sungguh.

Melihat hasil UN tahun lalu, SMK 11 Jakarta berada di nomor dua terendah di Jakarta Barat, ''Semoga, hasil UN tahun ini, kita bisa di papan tengah. Dan semoga untuk kelas 11 yang sedang upacara, pada gilirannya, bisa masuk di papan atas hasil UN-nya.''

''Melihat pemetaan Nem kalian. Ditargetkan 5 tahun lagi, SMK 11 bisa berkibar di DKI,'' tutur beliau yakin.

Selain itu, Pak Edyson menegaskan bahwa adanya Hari Pendidikan Nasional ini bukan ajang nostalgia semata, ''Sejarah itu bukan untuk dibanggakan, namun untuk dipelajari agar sejarah yang buruk tidak terulang lagi. Seharusnya dengan mempelajari sejarah, kita bisa menyongsong masa depan yang lebih baik,'' tungkasnya. (AAB)

Cerita Naik Bis Tingkat City Tour Jakarta

Saya belum pernah naik bis tingkat city tour di Jakarta sebelumnya. Lantaran sibuk dan tidak ada waktu, maka keinginan itu terwujud agak lama.

Sabtu, 4 April 2015 saya mengambil nilai Olahraga di Lapangan Banteng. Di sana saya berlari 5 putaran dan sah mendapat nilai UTS nantinya yang entah berapa. Kalau tidak B, pasti A. Begitulah.

Selepas dari lari yang mengakibatkan banjiran keringat di baju saya, saya beristirahat di tribun lapangan, menghela napas, dan menandaskan lelah. Sejurus kemudian, barulah saya bangkit dan entah ke mana bersama teman-teman.




 LAPANGAN BANTENG ^_^


''Naik bis tingkat?''
''Ragunan?''
''Galeri Nasional?
Bla bla bla bla...

Begitulah perbincangan kala itu di tepi lapangan. Yeah, biasanya memang kalau sehabis lari seperti ini dan esok juga Minggu, kami akan jalan-jalan. Ya entah ke mana, yang penting jalan-jalan. Waktu seperti ini langka kami temukan.

Dari perbincangan itu, saya tertarik dengan Bis Tingkat.

''Naik bis tingkat ajah...,'' usulku kepada teman-teman yang mayoritas perempuan, maklum saya sekolah di SMK (SMEA).

''Belum pernah naik bis tingkat?'' salah seorang temanku bertanya sambil menahan tawa.

Apa yang lucu?!

Ternyata di antara kami ada dua orang yang belum pernah naik bis tingkat, ya, baiklah, akhirnya kami naik bis tingkat dari halte Pasar Baru, lalu turun di Sarinah sehabis itu menuju Ragunan.

Saya paling depan memimpin rombongan ketika akan naik bis tingkat di tempat pemberhentian. Benar saja, tak lama kemudian bis tingkat yang berwarna mayoritas biru itu, datang.

Wah..., saya langsung naik paling awal. Kesan pertama saya masuk: dingin, sepi, dan terawat pula ini bis. Saya berdecak kagum lalu kami berfoto ria di dalam bus, mumpung masih sepi, kan nanti kalau ramai nggak asyik doung...




Di dalam bus, kamu akan menemukan kursi-kursi yang rata kanan-kiri dengan hitungan dua-dua, dan ada enam bangku di bagian paling belakang berderet.

Saya duduk di barisan tiga dari depan setelah berpindah dari tempat duduk di paling belakang sebab ada banyak penumpang yang mau naik juga.

Pokoknya, di sini tidak boleh ada yang berdiri, semua duduk.



Nah, dari bis ini, saya bisa melempar pandangan ke arah gedung-gedung Jakarta nian pencakar langit. Saya menikmati pemandangan itu sebisa mungkin. Selang beberapa menit kemudian, bis ramai dan penuh, dan kami turun tepat di halte Sarinah...


Begitulah pengalaman saya naik bis tingkat, jika kamu belum pernah? Cobalah! Hehehe....


TAMBAHAN:






Aksi #AYOKEPERPUS #MEMBACAITUHEBAT

Saya pernah mengikuti seminar yang diadakan di Walikota Jakarta Barat. Di sana kami membahas tentang keperpustakaan dan minat baca. Dan, ternyata minat baca di Indonesia sungguh amat rendah. Jika dibandingkan dengan negara ASEAN, indonesia paling rendah, paling bawah minat bacanya.

Minat baca diukur dari seseorang datang ke perpus dan toko buku. Untuk lebih jelasnya silakan baca artikel ini ~> Pemahaman Perpustakaan dan Minat Baca


Selain itu, saya pernah mendapat tugas, di mana tugas itu adalah menyalin data. Di data itu, ada biodata lengkap para siswa/siswi SMK N 11 Jakarta. Pada kolom hoby, rata-rata saya perhatikan adalah: membaca novel dan mendengar musik.

Nah, berarti minat baca sebenarnya sudah ada, hanya saja tidak ada buku yang 'srek' yang diadakan di perpus sekolah.

Aksi #AYOKEPERPUS #MEMBACAITUHEBAT juga berusaha menyadarkan siswa/siswi untuk mendatangi perpus tidak hanya ketika peminjaman buku paket pejaran dan pengembalian. Melainkan, perpus adalah gudang untuk menambah ilmu, menambah materi pelajaran yang tidak didapat di kelas, secara gratis dan nyaman.



Kini perpus di sekolah kita sudah nyaman. Ada ac-nya dan beberapa pc. Nah, kalau tidak dimanfaatkan, untuk apalagi? Manfaatkanlah...! Nikmat mana lagi yang kaudustakan ngoahh….

Kadang ada beberapa siswa/siswi yang datang ke perpus hanya ingin 'ngadem' dan ngobrol-ngobrol saja. Ah, mungkin mereka belum kepincut dengan buku bagus, mereka belum sadar manfaat membaca.

Karenanya, yo kita sumbang buku yang kita punya (yang kiranya sudah tak kita perlukan lagi) ke perpus. Siapa tahu buku itu dapat mempengaruhi teman kita, membuatnya minat baca, dan menjadikan amal untuk kita. Saling berbagi itu indah, bukan?

Tidak melulu buku pelajaran yang disumbangkan, apa sajalah, mau novel, komik, dan apa pun itu. Yang penting kita ramaikan perpus dengan buku-buku bagus. Biar perpus berwarna. Kalau hanya buku non fiksi kan jadi berkesan monoton, kalau mampir ke perpus: itu lagi-lagi itu....



Nah, sekali lagi, yo kita warnai perpus dengan buku-buku bagus, bisa buku fiksi dan sebagainya. Kita dongkrak minat baca di negeri kita lewat hal yang kecil dahulu saja. Siapa tahu di antara kita akan terlahir para cendakiawan hebat masa depan karena gila membaca.

***

Kita mulai membaca untuk berekreasi, kita mulai membaca untuk senang-senang. Niscaya untuk kedepannya minat baca: khususnya di sekolah kita dan umumnya di Indonesia, akan meningkat.

Beberapa buku yang sudah disumbangkan ke perpus:
















 Dan Insya Allah akan terus bertambah ^_^




#AYOKEPERPUS #MEMBACAITUHEBAT

Jika ada yang ingin ditanyakan, silakan SMS: 08978754632 (Afsokhi Abdulloh)
Twitter: @madingnya11__




Racun dari Bintang

Hatiku berasa DICAMBUK dan dicabik-cabik jika melihat mereka bersama. Tidak hanya sekali cambukan itu berlaku, namun berkali-kali adanya, perih.

Aku adalah laki-laki pendiam, tidak seperti Bara yang supel, dengan siapa saja dia cepat akrab, termasuk dengan Bulan, perempuan yang kutaksir sejak awal semester kuliah.
Sesuai namanya, Bulan, dia perempuan anggun, ayu, manis, dan tentram hati ini jika mata menangkap sosoknya. Selain itu, dia juga tampak cerdas jika diukur dari penglihatan, intuisi dan, asumsiku. Belum terlalu dekat aku dengannya.

Sebagai sahabat, menurutku Bara berlaku amat keji, hatinya CULAS! Bagaimana tidak? Aku sudah beritahu dia bahwa aku suka dengan Bulan, dan katanya Bara akan mencomblangkanku dengan Bulan. Halah, itu hanya omong kosong, sekarang aku tahu watakmu Bara! Bedebah kau, Bara!

Sekarang aku berdiri di koordinat yang kurasa paling tepat. Dari sini aku bisa melihat Bara dan Bulan sedang makan malam, ini yang kesekian kalinya aku melihat mereka berdua, mesra. Dengan cara apa saja, aku berusaha agar tak terlihat oleh mereka, dan untung-untung aku bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, tapi kurasa tidak, cafe ini sedang ramai pengunjung hilir mudik yang, kebanyakan berpasangan.

Bara dengan jaket hitam, topi cokelat dan celana jeans panjangnya tampak asyik mengobrol dengan Bulan, juara memang si Bara ini kalau diadu basa-basi. Sedangkan Bulan, rok mininya, baju seksinya, rambut yang bergelombangnya, dengan serius dan antusias menanggapi Bara. Kadang Bulan sesekali membenarkan kacamatanya yang agak tebal.

Kembali cambukan perih menyayat hatiku. Amat perih. Jantungku berdekup cepat, dan rasanya ingin jatuh dari tempatnya dan menggelinding di lantai cafe yang kecokelatan, mengkilap.

***

Bara adalah sahabatku, sahabat dekatku. Apa saja kuberitahu dia, sedari SMP kami selalu bersama, sampai-sampai dicap sebagai homo oleh mereka yang melihat kedekatan kami. Bagiku itu tidak masalah, Bara-lah yang mengerti hatiku, dia juga yang memberiku banyak nasehat hidup.

Tapi masalah perempuan, aku tidak terima jika dibeginikan. Bara sekarang terkuak watak aslinya. Dia busuk, dan bacin. Mulai detik ini, persahabatan kita putus, Bara.

Dengan cara apa pun, akan kuakusisi Bulan dari tanganmu!

Melihat mereka yang semakin mesra di cafe ini, akhirnya aku putuskan untuk pulang ke kos. Sebelum itu, akan kubuatkan Bara racun, yeah, biar mati dia nanti! Hahahah!

***

''Bintang, kamu belum tidur?'' Sok basa-basi Bara yang baru pulang kencan dengan Bulan, menyapaku. Dia kira aku tak tahu dari mana saja dia semalaman?

Aku menggeleng.

Bara duduk di sampingku, di sofa yang sudah lawas tidak diganti-ganti. Anehnya anak muda seperti Bara sangat suka dengan batu CINCIN. Entahlah. Apa mungkin itu adalah jimatnya agar bisa dekat dengan semua orang? Ah, tak percaya aku sama begituan.

Tivi di depan kami menjadi tontonan yang utama. Sekarang sudah tengah malam, jarum pendek jam dinding bergelantung di angka 1 dan yang panjang tidak jauh dari situ.

Acara tivi kali ini adalah film action yang banyak adegan anunya, seru aku menonton.

''Bintang, saya tidur dulu yah.'' Bara menguap lebar sekali.

''Ya, tapi kamu sudah aku siapkan minuman. Ambil saja itu di kulkas,'' kataku tanpa nada ragu. Kulkas sedang kosong, jadi hanya ada minuman yang kubeli tadi, minuman itu digdaya menguasai kulkas.

''Oh ya? Baiklah. Terima kasih, 'man.''' Bara menepuk pahaku kamudian berlalu ke tempat di mana kulkas itu berada sendirian, tidak ada lagi selain kulkas perabotan yang lain di sini. Cukup tivi, kasur, lemari, kipas, dan kulkas. Begitulah fasilitas di kosan ini.

''Besok pagi akan saya ceritakan padamu tentang Bulan,'' kata Bara sambil memegang sebotol air yang sudah kuracik sebelumnya. Racun.

''Oh ya?'' gelagatku sok kaget.

Bara mengangguk yakin. Sejurus kemudian dia tepar di kasur.

Aku masih seru menonton tivi, sambil berharap racun itu akan bereaksi cepat, secepat-cepatnya, biar dia mati! Dan Bulan akan jadi miliku! Hahaha!

***

Mentari menengok dari jendela kos. Kualihkan mataku ke arah Bara yang tidur di sampingku. Kugoyang-goyangkan badanya, tak bergerak juga, tak ada tanda-tanda dia bangun. Mati? Oh yeah! Berhasil!

Lalu setelah ini. Apa?

Bulan! Yeah, Bulan, akan kuakusisi dari tangan Bara si busuk itu! Cuih!

***

Bara sudah tiada, dia sudah manunggal dengan tanah. Keluarganya berdatangan, dan kukabarkan pada mereka, selaku sahabat dekat, pasti aku yang pertama dan paling utama berkaitan dengan Bara.

Gampang, aku jawab saja si Bara itu over dosis. Dia pulang larut malam dan terlalu banyak menenggak minuman keras oplosan. Yeah! Beres.

Bara tidak bisa menyaingi Bintang!

***

Penguburan baru saja selesai pagi ini. Bulan menangis di atas kuburan Bara, aku dekati dia. Pakaiannya serba hitam, mengenakan krudung sekenanya, buah dadanya keliahatan jelas menyumbul. Percuma dia pakai krudung jika seperti itu, gumamku.

''Bulan, sudah, Bara sudah tidak ada. Sekarang ada aku. Aku bisa menggantikan Bara, oke?'' Kataku lancar. Sebab, sudah kurencanakan ini semua, sebelumnya. Komplek kuburan sudah sepi, hanya ada pohon-pohon, dan angin-angin yang magis.

Kemudian, tak kusangka-sangka, Bintang memeluku erat. Kurasakan kehangatan bercampur kenyaman. Lama Bulan memeluku, air matanya banjir di bahuku. Kurasakan badanya mengalir kesedihan. Namun aku merasa tidak sedih sama sekali. Ini adalah kemenangan, ya, kemenangan!

''Padahal, Bara itu orangnya baik,'' kata Bulan sedu-sedan masih di pelukanku.

''Iya, aku juga tahu, Bulan.'' Kuusap rambut gelombangnya, berharap dia merasakan kenyamanan yang kualirkan lewat jemariku.

Dia lepas pelukan ini. Matanya menatapku, lekat, lengket sekali. Aku tak bisa bergerak, terpaku.

''Padahal malam itu adalah malam aku bertemu dengannya. Ketika itu dia asyik membicarakanmu, Bintang, dia bilang, kamu suka denganku. Bara berusaha mencomblangkanku denganmu.'' Bibir tipis Bulan amat menggoda. Suaranya renyah, aroma tubuhnya aduhai.

''Begitu? Lalu?'' tanyaku ingin tahu lebih dalam.

''Aku cinta kamu, Bintang. Kamu laki-laki yang aku suka. Entah bagaimana menjelaskannya. Aku suka laki-laki seperti kamu. Dengan itu, pasti kamu dan aku akan melengkapi.''

Aku terperenga. Diam. Bisu. Kutelan ludah, pahit rasanya, gabungan dari kekecewaan dan kesenangan yang entah apa jika ini dinamkan.

''Kamu cinta aku? A, aku juga cinta kamu, Bulan. Cinta sekali!'' Gundukan kuburan Bara masih perawan. Aku jadi merasa bersalah. Kenapa aku membunuh Bara yang jelas-jelas membantuku dekat dengan Bulan? Apa salah Bara?

Kepalaku pusing, pening, dan penglihatanku kabur. Semua menjadi gelap, gelap tak ada sesuatu yang dinamkan cahaya tertangkap oleh mata. Semua hilang.***

Afsokhi Abdullah
Hape nokia e63, 19 April 2015

Cerita di ASEAN LITERARY FESTIVAL 2015 (HAUS SASTRA)


Saya tahu bahwa ada ASEAN LITERARY FESTIVAL, berawal dari twitter. Ternyata festival ini sudah dilaksanakan pada tahun kemarin (2014). Dan ini kali kedua dilaksanakan.




Ada 20 negara ASEAN dan non ASEAN yang ikut serta. Wuah. Pasti keren kan?

Ketika saya tahu festival ini diikuti oleh negara luar, saya langsung berdecak kagum. Hebat juga Indonesia...

Saya kepoin twitter @aseanlitfet sampai beberapa hari. Dari sana saya menemukan beberapa acara yang dilaksanakan seperti di taman, kampus, yang akhirnya bermuara jua di Taman Izmail Marzuki, Cikini.

Namun saya hanya bisa datang pada festival itu pada tanggal 21 dan 22 Maret (acara ini dimulai pada 16 Maret).

Pagi itu, Sabtu 21 Maret, saya berangkat naik kereta dari stasiun Kota. Bersama seorang perempuan, sekelas dengan saya, namanya Ratna, kami turun di stasiun Cikini. Dari stasiun Cikini, kami sempat kesasar menuju arah TIM, tapi tak lama kemudian, kami menemukan jalan yang tepat dan benar, diberitahu oleh Kang Ojek di pertigaan.




Dari stasiun Cikini, sebenarnya tinggal jalan lurus saja dan taraa..., sampai di TIM. Tepat jam 10 pagi lebih sedikit, ternyata masih sepi di sana. Dan saya menjadi pengunjung pertama di booth Kampus Fiksi.










Setelah mendapat buku silabus dari Kampus Fiksi gratis dan melihat keadaan sepi. Ya, hanya ada beberapa orang yang masih mempersiapkan booth-nya, panggung, dan segelintir entah itu pengunjung atau panitia, hilir mudik di depan kami.

Jadi, kami memutuskan untuk ke 7 eleven yang tidak jauh dari TIM. Tak jauh dari 7 eleven ini, ada penginapan yang saya berani taruhan pasti itu tempat di mana Kak Vie, Kak Ayun dan Mbak Rina menginap. *abaikan*





Menunggu jam 12 di 7 eleven, akhirnya kami putuskan untuk shalat Duhur. Jalannya berkelok-kelok menuju masjid yang ada di komplek TIM. Tepatnya di lobi parkiran.







Selepas sholat, kami kembali ke festival. Bermain di booth 'Nulis Buku' dan, mendapat satu buku gratis. Gampang, cuma dengan foto lalu twitpic ke twitter terus mention deh ke @nulisbuku.


Beneran, saya sudah mandi!


Selanjutnya kami berjalan menuju panggung utama. Saya kasih tahu ya, di sini ada dua panggung; kalau panggung di dalam itu kebanyakan memakai bahasa Inggris, maklum, pembicaranya adalah tamu dari luar Indonesia. Karena itu, saya tidak berani masuk ke dalam, tidak ngerti apa yang diomongin lebih tepatnya begitu.

Di panggung yang satu lagi, di luar, kini sedang ada diskusi. Saya terlebih dulu tertarik dengan tumpukan buku yang tak jauh dari panggung. Ada dari penerbit Gagas Media. Di sana terpampang buku 'Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri' (karya Bernard Batu Bara), saya tertarik, dan membelinya.

Nah, ini bukunya, saya baca di kelas dan banyak yang pinjem :3



Sebelumnya saya sudah tahu penulisnya, yaitu Bernard Batu Bara, sudah saya follow twitternya juga. Dan kebetulan juga sekarang dia sedang di panggung, menjadi bintang tamu pembicara gitu.

Saya dan Ratna duduk, dan mengikuti diskusi. Kebanyakan, saya lihat yang datang di acara ini adalah para mahasiswa. Saya perhatikan, tidak ada yang seusia saya. Huh. Mungkin remaja seusia saya tidak suka sastra ya? Mungkin....






Yeah. Sekarang saya duduk ikut disukusi. Seru. Dan beberapa lama kemudian, langit mendung, gerimis, dan bertanda akan hujan. Saya dan Ratna memutuskan untuk pulang. Sebab dia juga ada acara.

Sampai di stasiun Cikini, segera kereta jurusan Kota melintas dan berhenti di hadapan kami, secepatnya kami masuk lalu sampailah di Kota. Hari yang lumayan melelahkan juga mengasyikan!

***

Esoknya, saya kembali ke festival itu. Bersama keempat teman saya: Fitria, Melna, Fany, dan Argi, mereka seusia saya. Jadi kami berlima, dua laki-laki dan tiga perempuan. Argi adalah teman sekalas saya, dan tiga perempuan itu berbeda sekolah dengan saya. Bahkan saya baru kenal dengan Melna dan Fany. Kalau Fitria? Dia sudah saya kenal jauh sebelum ini.

Lucunya, si Argi ini tidak mau kenalan sama ketiga perempuan itu. Entah dia gerogi atau apalah-apalah. Dasar #Argicowokgerogian:3


Kami berangkat dari stasiun Kota jam 2 siang lewat, dan sampai di Cikini jam setengah 3-an. Sebelumnya kami janjian berangkat jam setengah 2, tapi ya ada saja kendalanya, macet di jalan. Sempat juga saya beli air mineral di mini market ketika menungga ketiga perempuan itu di stasiun Kota bersama Argi. Dan tanpa saya sadari, ternyata uang saya tidak ada di kantung celana, wah malu sekali saya ketika pembayaran di kasir. Ada-ada saja... *garingwoy*

Tak lama kemudian (agak lama juga sih) tiga perempuan itu datang. Ya, saya tahu orangnya dan Argi tidak tahu. Yang saya tahu hanya Fitria saja. Saya melihat wajah Fitria di depan saya, di kerumunan orang. Lalu saya menuju ke arahnya dan segera naik ke kereta secepatnya.

''Yang mana orangnya?'' tanya Argi.
''Itu yang pake baju ijo,'' jawab saya.
''Emm...'' Argi bergumam. Entah apa yang dia pikirkan. Wajahnya tampak kebingunan. Di dalam kereta, kami sibuk masing-masing.

Seperti kemarin, kami berjalan menuju TIM, dan bersua dengan para pengunjung yang mayoritas para mahasiswa.

Acaranya pun sama seperti kemarin, tapi tampaknya kini agaknya lebih ramai, mungkin karena hari terakhir..., tadinya saya ingin ikut penutupan acara ini di malam hari. Mengingat saya membawa teman, ya saya urungkan, mungkin tahun depan ada kesempatan.

Bagi saya, acara ini tampaknya tidak terlalu meriah. Booth-booth-nya sedikit, buku-buku murah pun langka (saya jujur :3), tidak ada game dan monoton begitu saja, datar.

Saya kira acaranya akan lebih meriah, atau kerena saya salah datang di jam yang kurang tepat atau gimana, saya tidak tahu pasti.

Awalnya saya kira akan banyak pengunjung dan booth, lalu diadakan game. Tapi ternyata tidak, hanya booth yang memperkenalkan produknya dan komunitasnya saja, juga pembicaraan yang tak lepas dari dunia sastra.

Mungkin sebab ini pungunjung mudanya tidak terlalu banyak. Jadi, tampaknya sastra hanya dinikmati oleh kalangan tertentu saja. Ya saya tidak tahu pasti sih ya, tapi tampaknya begitu. Apa minat sastra di negeri ini sedikit? Ya mungkin saja...

***

Sempat kami berlima mengikuti diskusi di panggung yang di luar. Ada pembicaraan tentang komunitas. Ada dari Kampus Fiksi, Stomata, Fakta Bahasa dan Buku Jalanan (dari Malaysia).



Lucunya, adalah ketika dari komunitas Buku Jalanan dipersilakan berbicara. Menggunakan bahasa Malaysia, kadang saya tidak mengerti apa yang mereka katakan. Tapi sikit-sikit mengerti sih...

Asyik saya mengikuti diskusi ini, dan tepat pukul jam 5 sore, kami pulang. Saya melihat para perempuan itu, tampaknya mereka kelelahan, berkeringat, dan tak enak saya melihatnya.




Sampai di stasiun Cikini, kami menunggu kereta lewat. Tak lama kemudian kereta datang dengan gagahnya. Kami masuk, dan tak terasa sampai di Kota.

Akhirnya kami berpisah dengan membawa sekian pengalaman yang kami buat. Yeah, tak sampai di sini saja, kami juga menjadi akrab di medsos, termasuk Argi. Dia baru mulai melancarkan perkenalannya di twitter, dasar #ArgicowokADM :3

Nah, begitulah cerita saya di festival ini. Saya harap tahun depan akan lebih meriah lagi, lebih-lebih-lebih..., banyak pengunjung, banyak booth, dan pokoknya bakal bermanfaat bagi banyak orang, khususnya pencinta sastra yang, haus akan sastra itu sendiri.***

Afsokhi Abdullah
Barat Jakarta, 14 April 2015


 Tambahan:




Mukanya ngajak ribut kan yah?

Keren-keren pembicaranya...!



Suasana festival


Ini saya.
Dari depan TIM


Jalan menuju pulang

Kelakuan :3
  Sehabis dari festival ini, saya langsung ke toko buku, dan ini yang saya dapat! Yeee...!



Terima kasih sudah meluangkan untuk membaca cerita saya ^_^

Cerita Gue di O2SN Cabang Basket

Gue suka basket sejak SMP, dan baru-baru ini aja gue serius di basket. Apalagi pas nonton anime Kuroko No Basuke, wuah, setelah nonton anime ini, gue rasanya pen langsung ke lapangan basket terus joget-joget di ring. #apasih

Oke, sebenernya, ekhm, gue nggak jago-jago amat main basket. Tapi kata temen-temen gue yang satu tim sih gue ini berbakat. Layaknya Kise Kun di Kuroko No Basuke, dia berbakat dan bisa meniru gerakan lawan-main basketnya dengan sekejap, malah lebih bagus. Selain itu Kise tuh model, ganteng, nggak jauh lah sama gue. *nyisir ketek*


Ini Kise Kun :3




Tim basket gue terdiri dari cewek-cowok yang rata-rata di SMP-nya sudah ekskul basket dan sudah di luar kepala mengenai gerak dasar basket. Sebut saja Oky, Niko, Ricky, Adrian, dan Ucup. Mereka adalah sebagian yang ikut O2SN yang di selenggarakan di sekolah Yadika 2 Jakarta.

Dari tim kami, yang bener-bener bisa main basket cuma si Oky, Niko dan RIcky. Jadi gue, Adrian dan Ucup adalah pelengkap saja. Etapi kalo nggak ada kita-kita juga nggak bakal jalan. Kan kami satu tim, bukan perorangan, nggak ada yang sia-sia jika bagian dari tim itu berbuat untuk tim. Begitulah.

Nah, perjalanan menuju Yadika 2 agak lama sebab muter-muter dulu. Pertama, kami, tim kece basket, mempersiapkan diri di sekolah. Padahal sedang ada UTS semester 1, tapi kami tetap diutus untuk mengikuti O2SN ini, hebaat!

Di sisi lain enak bisa nyusul ulangannya, di satu sisi nggak bisa ketemu la'u hari ini, eh.

***

Di mobil kepala sekolah kami diangkut. Bersama anak futsal juga yang ikut O2SN. Sekolah gue emang gini, nggak ada persiapan sama sekali. Udah hari H, baru latihan gabungan se-Tamansari. Sebenarnya ini adalah perwakilan per-kecamatan, jadi seharusnya ada seleksi dulu di kecamatan tersebut. Namun, bersebab minimnya persiapan, ya jadi kamilah tim basket dari SMK11 Jakarta yang diutus. Kalau futsal ada beberapa, gabungan dari SMK11 dan STM 35.


Ini pas di dalem mobilnya Pak Kepala sekolah






Yeah!

Gue semangat! Setelah sampai di SMK Yadika 2, kami disambut riuh para penonton di sekolah itu. Terlebih dulu kami mampir ke kamar mandi buat ganti baju, selepas itu, kami baris di lapangan bersama tim yang lain.

Kami pakai kostum biru, ada lambang spartan di dada, selayaknya baju basket, pasti bagian ketek bolong dan celana pendek. Awalnya sih gue kikuk, ya orang angin sepoi-sepoi mampir ke bulu ketek gue. Takutnya lagi, ada yang ngeliat ketek gue ini. Ih.

Etapi gue semangat nih!

Sebelum kami tanding. Kami duduk di pinggir lapangan dan menonton yang lagi tanding. Ada tim cewek dan cowok. Kalo ngeliat cewek lagi maen basket tuh ya..., aw, keren. Gue terpanah, tapi kalo yang cantik-cantik aja sih....

Gue berdecak kagum ketika ada dari sekolah islam bermain dan tanding melawan sekolah yang nggak tau islam atau bukan. Soalnya, ini tanding antara cewek berjilbab dan cewek tak berjilbab. Seru!

Gue perhatikan satu dari tim yang berjilbab. Ada satu! Ada satu yang jago, dia pake krudung hitam sampai menutup dadanya, celana panjang, dan wajah mempesona, ada embun di jidatnya, ah, itu keringat. #gajelas

Gue geleng-geleng kuping, eh, telinga deh ketika dia drible dengan lincahnya dan menerobos pertahanan lawan. Dan gol! Ring bergoyang.

''Dia mainnya kayak gu khi!'' kata Oky yang memperhatikan tanpa kedip. Ya, permainannya mirip sama Oky tuh cewek. Gue menganggguk miring. #artinyapa?

Di tim yang melawan si hijabers ini. Ada satu cewek yang membuat gue nggak kedip ketika menatap matahari #ihapaan! Oke fokus!

Di tim yang melawan hijabers ini, ada satu cewek yang menarik perhatain gue. Kalo nggak salah namanya Nabila. Ya, itu ada namanya di belakang kostumnya, berbeda sama para hibers, tertutup krudungnya.

Si Nabila ini mainnya keren, lay up-nya bikin merinding. Drible-nya menakjubkan cepatnya, cut-nya aw, keren deh! Ketika dia mendapat bola, didibrel-nya dengan cepat ke jala ring lawan. Kebetulan itu adalah serangan balik. Si Nabila lari dengan kencangnya sambil drible bolanya. Samping dekat ring di sebelah kanan, dia malah melengos ke kiri. Sampi di kiri, dia lay-up muter gitu. Anjirt!!

''Dia mainnya sama kayak lu khi!'' kata Oky berpendapat. Ah masak? Batin gue.

***

Setelah mendapat makan, minum dan tontonan para cewek seksi di sekolah ini. Ngomongin cewe seksi, eh, bener deh, cewek-cewek di sini seksi parah. Dengkulnya secelana dan pantatnya serambut. Ckckc...

Kan gue duduk di bawah, lapangan, sedangkan sejauh mata memandang tuh lantai dua. Dari sini, gue bisa melihat rok-rok mini itu, ya dari bawah. Gila! Gue berniat untuk tidak melihatnya, tapi semua itu tersedia di depan mata. Gguuee harruss gimanaa????

''Khi, khi, liat noh,'' Ucup goyang-goyangin bahu gue.

''Paan, Cup?'' sahut gue.

''Itu,'' dia menunjuk rok mini di lantai dua.

''Weh, jangan nunjuk-nunjuk!'' gue sambit tanganya pake tangan gue. Gue tau, dia akan menunjukan sesuatu. Tapi, nggak, gue nggak mau ngeliat, itu dosa. Ya walau sekelibat terlintas itu gue tangkap. Ah, ampuni dosa hamba-MU ini Ya Allah, aku tak sengaja...!

***

Kini, tibalah gue untuk bertanding! Wuah! Gue semangat!

Pertama lawan kami adalah dari Kali Deres! Tak ada perlawanan berarti, kami menang telak! Lalu kami melawan SMK Telkom, kami kalah. Seterusnya gue lupa :3


Ini pas maennya, gitulah.




Sebenernya kami nggak mengharapkan juara. Untung-untungan doang sih. Juara ya ngonoh ora juara ya ngonoh. Begitulah slogannya.

Namun, ketika O2SN ini berakhir dan ditutup dengan upacara, tak disangka-sangka kami mendapatkan juara! Juara tiga! Uuhuhuh..., nggak nyangka gue. Beneran!

Lalu kami pulang dengan langkah tegap. Para tim anggota basket kami pada nanyain via apa aja. Ada yang nanya ke gue via sms, dan ada yang via bbm walau gue nggak punya bbm.

Dengan cepat gue menjawab. ''Juara tiga.''

Ea...

Pengambilan piala emang nggak hari itu juga. Tapi di hari apa gue lupa. Ketika kami para juara dikumpulkan, kami disuruh menuliskan sebuah data mengenai:

Nama
Alamat
Ukuran sepatu
Ukuran baju
Ukuruan celana
No. Hape sampai ukuruan sempak, eh, nggak ding.

Hari yang ditunggu tiba, beberapa dari kami menuju tempat yang sudah diberitakan sebelumnya. Gue nggak ikut. Namun, ketika para temen gue yang ke sana, pas pulangnya bawa piala!!! Horeee!!

Gue seneng.

Setelah itu, kami tak luput juga untuk ulangan susulan. MTK, ya, MTK, pelajaran paling logis di dunia. Kami sususan di BC (Bisnis Canter) sekolah kami. Sebab gurunya emang penjaga BC, semacam koperasi gitulah.

Nah, di BC, kan gurunya sibuk ngelayanin para pembeli tuh. Untungya, di antara kami ada yang pinter MTK, yaitu Niko dan Oky, mereka juga adalah pengajar di Bimbel. Mantap. Contek, contek, ea...

Ya walau gue nggak seluruhnya menyontek sih ya. Tapi kalo kepepet ya nyontek dong....

Ah.

Begitulah cerita gue. Sedikit bumbu kehidupan yang tak pernah gue lupakan. Semoga basket membawa gue menjadi pribadi yang berjiwa pemenang, belajar berorganisasi, dan membontotkan emosi serta ego.

Sebab, jika di suatu tim masih saja mengedepankan ego, emosi, dan nggak mau ngalah. Dijamin tim itu tidak akan maju.

Oke, sekian cerita gue, terima kasih udah rela meluangkan waktu. Salam Pramuka!




Afsokhi Abdullah
Barat Jakarta, 14 April 2015