Kenalan Sama Kewirausahaan (Catatan Kelas 10 SMK)

Sebenarnya, istilah kewirausahaan mulai dipolulerkan tahun 90-an dengan istilah kewiraswastaan. Namun, istilah kewiraswastaan lebih condong diartikan kepengusahaan/bisinis dengan segala aktivitas non pemerintah atau, swasta.

Kewiraswastaan juga lebih cenderung ke bidang usaha skala besar.

Beralih ke kewirausahaan, kewirausahaan berasal dari kata 'wirausaha' yang mendapat imbuhan ke- dan -an yang membedakan kata wira dan usaha, 'wira' dapat diartikan berani dan utama. Sedangkan 'usaha' dapat diartikan: berbagai aktivitas yang bersifat komersial/non komersial. Dengan demikian, wirausaha 'adalah' seseorang yang memberanikan diri dengan kemampuan sendiri; dengan menggunakan kemampuan yang ada dengan tujuan memberikan pengaruh komersial atau non komersial dengan tujuan tertentu.


Tujuan Kewirausahaan:

Pendidikan kewirausahaan benyak diterapkan untuk generasi muda di karenakan beberapa hal dasar berikut:

1. Kewirausahaan membuat generasi muda tidak menggantung pekerjaan kepada orang lain.
2. Pendidikan kewirausahaan dapat dibina dan dilatih dengan berbagai aspek keterampilan yang ada.
3. Kewirausahaan adalah sumber mutu kemanusiaan dan kepribadian seseorang.
4. Tenaga wirausaha pada dasarnya merupakan tenaga kerja yang handal--yang dapat dijadikan contoh 'suri tauladan' dalam arti dapat hidup secara mandiri.

Sumber-sumber kewirausahaan Meliputi:

1. Lulusan perguruan tinggi
2. Tenaga-tenaga profesi
3. Pengusaha-pengusaha besar
4. Pejabat pemerintah.

Nah, demikian tulisan saya mengenai kewirausahaan. Semoga, banyak jiwa wirausaha yang tumbuh di benak genarasi muda Indonesia! Sebagai bentuk cinta tanah air, tidak bergantung kepada orang lain, namun usaha untuk membuat lapangan pekerjaan untuk orang lain. Selain itu, dengan jiwa kewirausahaan, kita akan siap menghadapi MEA. Jangan sampai kita menjadi budak di negara sendiri!***

Afsokhi Abdullah
Di kelas yang tak beruguru, Jakarta, 04 Maret 2015

Ulang Tahun Terngenes Tapi Berkah: Rayain Ultah Gue Dong!





Buat gue, ulang-tahun adalah hal yang paling istimewa. Ulang-tahun berarti umur kita menambah secara bilangan tapi, di sisi lain berkurang dan, mendekati pada sebuah kematian... *Astaghfirullah*. Selama kita hidup, untuk apa kita gunakan mata, kaki, tangan, dan seluruh tubuh kita. Semuanya itu, nanti akan dipertanggungjawabkan. Semua milik Tuhan. Ingat itu.

***

Umur gue sekarang enam belas tahun. Selama kehidupan gue yang bisa dibilang masuk di ranah labil ini..., tentu banyak kejadian-kejadian yang seru gue alami. Ya namanya juga remaja, masa mencoba-coba. Begitulah singkatnya.

Gue terkadang iri sama temen yang ulang tahunnya dirayain mulu. Diceplokinlah, dilemparin tepunglah, siram air got sampe air kencinglah, dikasih kejutan sama pacarnyalah, dan semua itu..., gue pengin...! Hu..., kasian yah jadi anak kuper. Ya, gue anak kuper, gue nggak punya banyak temen dan, sekali punya temen ya begitu, nggak gaul, sama kupernya kayak gue. Kuper ketemu kuper, hu....

Pernah nih ya, ulang-tahun gue dirayain ketika kemah Persami (Pramuka Sabtu Minggu) di SMP, waktu itu umur gue empat belas tahun. Ketika itu malam hari, nyala api unggun masih membara. Tiba-tiba, kakak senior memanggil gue dan juga beberapa yang lain, jadi, ada lima orang yang dipanggil lalu baris di depan api unggun. Kami yang dipanggil adalah, peserta yang paling nggak serius selama Persami. Tapi, sebenarnya gue sih serius mengikuti Persami. Mungkin ini akal-akalan aja kali yah.

''Kalian ini! Nggak ada serius-seriusnya! Sekarang, ambil tas kalian! Pulang!'' teriak kakak senior yang kribo itu. Kakak senior yang lain juga ngga mau ketinggalan,

''Udah..., pulangin aja..., pulanginlah, buat apa ada di sini!''

''Nggak ada guna!''

''Pulang!''

Suasana semakin mencekam. Api unggun bentar lagi padam sedangkan kami yang baris di depannya masih saja mematung seperti batu nisan dan hampir saja gue mau mimisan. Terdengar isak tangis tertahan-tahan. Idih, ada yang nangis....

''Cengeng kamu!'' bentak kakak senior yang lebih tua. Dia buncit dan ngeselin mukanya!

''Udah..., nunggu apalagi, pulang!''

Kami pun mengambil tas kami masing-masing. Dan baris seperti semula: di depan api unggun. Anak-anak yang lain, tetap membisu melingkari api unggun. Kami jadi tontonan. Gue mulai 'nelangsa' dibentak-bentak mulu.

''Bakar aja bakar...!'' teriak kakak senior cewek yang jutek.

Apa, dibakar? Gue mau dibakar?

''Bakar aja tasnya,'' sambung kakak itu lagi. Huu..., kaget gue!

Kali ini gue mulai mau nangis, dan ketika berjalan keluar gerbang, gue bener-bener nangis. Kampret, cowok masa nangis sih. Pas gue berjalan menuju jalan pulang yang gelap, ada yang memanggil gue,

''Woi!'' dia kakak senior. Apalagi dakh nih? Batin gue.

''Masuk lagi,'' lanjutnya.

Kami yang tadi disuruh keluar pun masuk. Hei! Ternyata ketika kami masuk, lagu selamat ulang tahun ala anak Pramuka dinyayikan. Semua bernyayi ria, hati gue seneng dan gembira, gue disaram air, basah, aaaa... Gue seneng.

Ulang-tahun gue tepat pada tanggal enam belas November. Dan ketika Persami hanya berselang dua hari saja, jadi, mungkin ada yang merencanakan ini semua untuk mengerjai anak yang ulang-tahunnya mendekati hari Persami itu. Ya mungkin kalau gue nggak ikut Persami dan nggak ekskul Pramuka juga nggak bakal dirayain nih ulang-tahun.

Gue bersyukur ulang-tahun bisa dirayain setelah ikut Pramuka. Setahun setelah itu, gue mengikuti perkemahan tingkat Daerah DKI Jakarta. Dan, hari kedua kemah itu adalah bertepatan dengan hari lahir gue. Gue berharap ada kejutan apa di pagi hari sampai malam harinya. Gue nunggu dan nggak ada apa-apa. Sumpah ini ngenes banget. Semua pada sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, teman barunya masing-masing. Padahal nih ya, banyak anggota Pramuka sebelumnya yang dirayain secara meriah gitu. Nggak adil...!

Huuu..., menurut gue sih, ulang-tahun adalah patut dirayakan untuk mereka orang yang memang mempunyai andil besar dalam suatu organisasi dan kelompok. Dengan itu, maka akan banyak anggota yang memperhatikannya, dari hari ulang-tahun dan sebagainya. Dan gue adalah orang yang biasa-biasa aja. Nggak ikut andil dalam sebuah organisasi atau kelompok. Apalagi selama gue sekolah, sumpe deh, nggak pernah dirayain! Yang lain mah dirayain. Tapi ada aja yang ngasih gue kado, satu-dua orang secara diam-diam. Nah, di sini gue jadi tahu, yang mana temen beneran dan yang mana temen imitasi!***

Afsokhi Abdullah
Kosan, 01 Maret 2015

Tulisan ini diikutsertakan dalam giveaway Blogger Energy: Ultah Terngenes http://www.bloggerenergy.com/2015/02/giveaway-blogger-energy-ultah-terngenes.html

Dan selamat ulang tahun yah untuk kak #MahfudCowokBaik ^_^ 

Tulisan untuk Sahabat



Bagiku, tidak ada sahabat lama. Semua sahabatku adalah baru, mengikuti waktu yang terus baru pula. Sahabat selalu ada dalam ingatan, dan ingatanku kuat karena sahabat. Aku suka mengingat, dan mengingat adalah kusakaanku. Apalagi mengingat tentang sahabat. Hem.... Beginilah ingatanku mengenai sahabat. Tak perlu bermeditasi untuk mengingatkannya. Semua ada di batok kepala, utuh, bersama beribu-ribu cerita.

***

Bertahun-tahun yang lalu. Seragam putih-merah kukenakan sedemikian rupa. Dasi, topi, yang kukenakan petanda bahwa aku anak SD. Dulu, aku sekolah siang, ya jadi aku harus mandi siang, juga otomatis tidak mandi pagi, ckckck.

E tetapi aku terlihat tampan lho..., itu terbukti ketika aku melihat rapotku, ada fotoku di sana. Rasanya ingin kembali aku ke masa-masa itu. Bebas, dan tak memikirkan banyak tugas!

Ah..., aku ingin bercerita mengenai sahabat. Begini ceritanya. Sore itu, kebanyakan anak laki-laki bermain bola dan anak perempuan bermain bola bekel' yang kecil dan suka memantul itu.

Berbeda dengan anak laki-laki, bola yang dimainkan adalah bola plastik cap Panda. Warnanya putih dan empuk bila ditendang. Bola cap Panda, berbeda dengan bola jenis lainnya. Untuk itu, temanku, Andre, adalah langganan pembawa bola cap Panda, kala itu. Dialah pemilik bola itu, walau... Em, maaf, dia sendiri tidak pandai bermain bola. Aku ingat betul sepatu yang ia kenakan, berwarna hitam, agak runcing dan bertali.

Demikianlah. Aku? Aku ketika itu adalah anak baru, aku pindahan dari kampung, sebab orangtuaku berada di Jakarta, dua-duanya. Kelas 4 SD, tepatnya semester 2, aku pindah ke Jakarta, sekolah di sana dan mendapat teman baru. Perbendaharaan bahasa Indonesiaku cukup baik, hanya saja, bahasa 'gaul' banyak yang tidak kumengerti kala itu. Hu..., begitulah nasibku.

Aku jadi ingat Denis. Dia adalah temanku, perempuan, perawakannya besar dan suka bermain dengan Ibat. Mereka berdua suka sekali mengerjaiku. Huh.Terlebih lagi kala itu, hem..., ketika aku bermain bekel' bersama teman-temanku di kelas. Bu Yuli sedang tidak masuk hari ini.

Dalam permainan, pasti ada yang kalah dan ada yang menang, sedangkan aku tidak suka kecurangan. Melihat Syahrul, temanku, curang, segera aku menyerunya.

''Hai. Curang kamu!''

Begitu seruku, Syahrul tetap mengelak, tak mau menerima kecurangannya sendiri. Karena itu, kami bertengkar dan ribut!

***

Selepas keributan itu. Aku dipojokan oleh Denis dan yang lainnya. Aku menangis sedu-sedan. Tapi, tak lama kami kembali berteman. Hahaha..., maklum, anak SD. Aku ingat betul ketika kami kembali berteman. Waktu itu aku keluar kelas sehabis menangis, lalu, ada Syahrul, Maulid, dan yang lainnya dari lawan arah. Mereka memberhetikanku lalu kami bersalaman dan berjanji tak boleh lagi mengulang keributan tadi.

***

Selama SD, aku duduk sebangku dengan Andre, selalu, ya, selalu. Sebab, dia itu pintar, dan mengerti segala hal. Aku sering berdiskusi dengannya walau dia yang dominan. Andre memang seperti keturunan China, kulitnya putih, rambutnya lancip, dan matanya agak sipit, kalau tertawa matanya akan hilang dimakan kerutannya. Selain itu, ia juga agak gendut. Ah, pokoknya seperti anak-anak China pada umumnya.

Kadang aku suka bermain ke rumah kosannya. Sekedar bermain PS atau juga layangan. Kalau bermain PS, selalu aku kalah olehnya. Apalagi PS bola, huuu... Dia rajanya. Kadang-kadang, aku bermain di 'daerah' Andre hingga sampai senja malam. Soalnya, di lapangan luas tak terasa hari akan gelap.

Selain itu, Andre juga pernah bermain ke kontrakanku. Kontrakan di bawah jalan kereta Jayakarta. Kami bermain berempat, ada Syahrul, Maulid, Andre dan aku. Kadang kita makan bersama, dan bermain apa saja. Pernah suatu hari, ketika kami berangkat ke kontrakanku, Andre, kakinya terkena kawat sampai berdarah. Terpaksa ia sulit untuk berjalan. Sampai di kontrakan, ia diobati oleh Bapakku. Bapakku sudah tua, kala itu aku ingat betul, beliau sedang membuat adonan untuk dagangannya.

***

Sekarang, hari telah berlalu menjadi tahun. Selepas lulus SD, kami berpisah, dan jarang bertemu. Terakhir, aku ingat betul, aku bertemu Andre di SMK N 11 Jakarta untuk mendaftar di sana juga. Namun, naasnya, Andre tidak diterima sedang aku, Alhamdulilah, diterima.

Aku 'pangling' ketika melihat Andre kala itu. Dia tampak agak kurusan, wajahnya sudah tidak seperti anak China lagi, pokoknya berbeda..., ketika pendaftaran di SMK 11, terlebih dahulu aku bertemu Reza, anak kecil itu, aku bertemu dengannya dan bertanya,

''Di mana Andre?''

''Itu, di sana.''

Aku menghampiri, menembus keramaian, dan terlihatlah sosok Andre, benar, dia itu berbeda. Selain itu, kini ia pun menjadi agak 'alay'. Eksis di media sosial, meng-upload foto-fotonya sampai banyak. Hohohho, itulah Andre yang sekarang.

Sebenarnya ada banyak yang belum kuceritakan mengenai sahabat di sini. Namun, semua sahabatku terpatri di dalam hati, mereka tak akan kulupakan, mereka ada beserta cerita yang kita buat. Oh..., terima kasih sahabat, aku yakin, suatu hari nanti pasti ada suatu waktu untuk kita bercerita banyak.***

Afsokhi Abdullah
Kosan, 01 Januari 2015

Hari Yang Indah






Aku tidak akan melupakan semua kejadian hari ini. Sayang untuk aku lupakan, maka semua itu akan aku ikat dengan aksara lewat untaian jari-jemari yang kupunya.

Malam ini, yang juga petanda hari akan menjadi hari yang lain, aku berusaha agar 'hari ini' tidak terlupakan. Kenapa demikian? Hai! Siapa orang yang akan mudah sahaja melupakan sebuah keindahan, kenyamanan, cinta, kasih dan seribu rasa lainnya? Aku juga manusia, mempunyai kealpaan dan suka lupa. Ya maka dari itu aku menulis untuk mengingatnya, serta mengabadikannya dalam sebuah karya....

***

Pagi hari, matahari penuh menyinari hari Rabu-ku. Aku berangkat sekolah dengan mengenakan seragam Pramuka lengkap. Sampai di sekolah, ternyata benar asumsiku semalam: lapangan digunakan untuk bazar, maka tidak bisa digunakan untuk olahraga. Ya, pelajaran pertamaku adalah olahraga dan aku tidak membawa bajunya. Wong aku udah tahu bahwa hari ini bakal ada bazar.

Alhasil pelajaran pertama kosong mblong. Tidak ada guru masuk dan semua temanku asyik dengan gadgetnya masing-masing di kelas. Seperti biasa, setiap pagi aku menulis di buku jurnal, tiga lembar, ya harus tiga lembar. Hal ini aku dapati dari sebuah buku yang menganjurkan agar melepaskan pikiran lebih kreatif dalam kehidupan maka, menulis tanganlah tiga lembar setiap pagi. Kalau tidak salah..., penulis buku yang menganjurkan hal ini adalah Julia Cameron.

***

Sedang asyik menulis, ada yang memanggilku untuk mengahdap Pak Adi, beliau adalah pembina Pramuka-ku.
Tak lama.
Aku sampai di hadapannya,

''Iya, pak?''

''Ah..., Sokhi. Bapak mau minta tolong. Em..., boleh berdua, temen kamu ajak satu lagi, anak Pramuka, ajak. Siapa aja.''

''Ratna?''

''Ah..., iya Ratna juga ngga apa-apa.''

Segera aku menuju kelas dan memanggil Ratna yang ternyata sedang berada di depan kelas, bersandar, dengan teman-temannya, ia sedang bermain ponsel besar yang marauk tangan munyilnya itu.

''Na!'' panggilku.

Dia mengangguk, artinya mungkin, ''Apa?''

''Dipanggil Pak Adi, sekarang....''

Tanpa menunggu lama, segera aku dan Ratna menuju keberadaan Pak Adi di ruang guru.

''Nah,'' kata Pak Adi, ''saya punya tugas untuk kalian berdua. Kan kita mau pelantikan de ka er Tamansari nih. Ini ada beberapa data yang belum lengkap dan, data itu, tolong, kalian ke kecamatan Tamansari, tanya di sana yah.''

Aku dan Ratna mengangguk.

Setelah memperjelas tugas dari Pak Adi yang perawakannya agak gendut itu..., kami kemudian pergi ke kantor Kecamatan Tamansari, berjalan berdua. Terlebih dahulu kami izin di meja piket. Lalu kami keluar dari gerbang sekolah.

''Tau tempatnya, na?'' tanyaku.

Ratna menggeleng.

''Itu lho lagi pas mau berangkat Raida, kita ke sana dulu....''

Ratna diam lalu senyum kecil menyungging di bibirnya yang manis itu. Aku pun ikut tersenyum lalu berkisah,

''Terkadang aku mengingat yang nggak penting gitu....''

''Beginilah jadi Pramuka, harus selalu siap,'' sambungku dengan membuat kepalan di tangan dan menhunuskan ke udara.

Ratna masih diam dan memandang mantap ke depan sembari berjalan di sisi kiriku.

Kami sampai di penyebrangan. Di ujung sana kami akan naik angkot lalu turun tepat di kantor kecamatan. Ada pula mbak-mbak sendiri yang ikut serta akan menyebrang. Dia mungkin tak sabar-an, dia menyebrang ketika arus lalu-lintas ramai.

''Wah..., parah mbak ini, wah..., parah...,'' kataku sembari ikut menyebrang, lalu sampailah di ujung sana.

Tak lama kemudian, angkot bersandar tepat di muka kami setelah kurayu dengan lambaian tangan. Kemudian kami masuk dan duduk di bagian belakang, bersebelahan. Suasana angkot lumayan penuh tapi tetap tertib. Ratna diam dan aku diam, hanya memandangi segala apa yang ada berlari di kaca angkot ini. Rasanya berbeda dengan naik angkot seperti biasanya, entah apa yang membuat beda untuk kali ini..., tapi, yang kurasakan adalah rasa nyaman dan tentram, ah,...

***

Kami turun di depan kantor kecamatan Taman sari. Masuk dan bertanya salah seorang petugas,

''Ka, kantor Tamansari di mana, yah?'' tanyaku karena banyak gedung di dalam ketika kami melangkah masuk, bukan kantor kecamatan saja ternyata!

''Itu, di sana. Masuk aja,'' jawab petugas tadi.

''Oh... Makasih kak...,'' ucapku dan Ratna, bersautan.

Kami masuk, dan sampai di satu meja dengan tulisan di atasnya,

''TAMU HARAP LAPOR.''

Melihat itu, aku mengarahkan kaki ke meja itu, ternyata ada seorang laki-laki yang kutaksir dia adalah penjaga di sini,

''Ada apa?'' tanyaya.

''Ini, kak, kami dari Pramuka SMK11. Ingin meminta data-data ini,'' jawabku sembari menjolorkan kertas dari Pak Adi tadi.

''Em..., silakan ke sana. Itu yang lagi duduk.''

''Terima kasih, kak...,'' kembali suara aku dan Ratna beradu.

Orang yang ditunjuk oleh penjaga tadi tak jauh dari pandangan mata, beberapa langkah, kami sampai, lalu kembali bertanya seperti tadi dan mendapat jawaban,

''Kalian nanti ke lantai dua. Terus belok ke kanan, ada tulisan ruangan staf, pak haji Nurhidin, bilang aja begitu.''

Lalu kami kembali mengucap terima kasih, dan kemudian berlalu ke lantai atas. Langkah kakiku hampir salah ingin masuk ke sebuah ruangan yang entah apa itu, kantor sepi, dan ketika hampir masuk rangan itu, segara kubelokan lagi arah kaki dan hampir menabrak Ratna. Ah... Hampir saja....

Kami menaiki anak tangga, dan sampai lantai dua bertemu penjaga yang ramah, kami menanyakan pak haji Nurhidin lalu diarahkannya masuk ke dalam. Sampai masuk ke dalam, kami disapa oleh ibu-ibu, lalu kami bertanya lagi mengenai pak haji Nurhidin itu, dan mendapat jawaban bahasa tangan yang mempersilakan kami menuju meja Bapak Tua yang sedang sibuk dengan pekerjaannya. Pasti itu pak haji Nurhidin!

Kami menghampiri, dan menyapa,

''Pak.''

''Iya?''

''Pak haji Nurhidin?'' tanyaku, dan bapak tua itu mengangguk, ''kami dari pramuka, ingin meminta data-data ini,'' lanjutku dan mempersilahkan pak haji Nurhidin membaca kertas dari pak Adi.

''Em..., oke. Ini, kalian lihat di sini,'' pak haji Nurhidin mengasihkan kami sehelai kertas dan, betul, ini datanya, segera kami salin.

''Duduk di sana aja,'' tawar pak haji. Lalu aku dan Ratna menuju yang dimaksud pak haji. Kami duduk berdua dan menyalin data.

''Enak yah jadi PNS,'' kataku di sela  sedang menyalin data. Terlihat memang karyawan yand bekerja di sini santai, tentram, dan diiringi lagu-lagu jadul. Setelah beberapa lagu, ah..., terdengarlah lagu iwan fals - kemesraan. Mendengar syair-syair itu, aku ikut menyanyi di depan Ratna. Dan Ratna masih asyik menyalin data. Em..., biarlah. Lagu yang cocok untuk kami....

kemesraan ini....
Janganlah cepat berlalu....
Kemesraan ini....
Ingin kukenang selalu....
Hatiku damai....
Jiwaku tentram di sampingmu....
Hatiku damai....
Jiwaku tentram bersamamu....

***

''Terima kasih pak,'' kata kami berdua.

''Ya, sama-sama, untuk data yang itu, nggak ada di sini, kamu ke gedung Fatahila sana, nggak jauh dari sini,'' jelas pak Haji, menyikapi data mengenai museum Fatahila yang tidak ada di kantor ini. Lalu aku dan Ratna pun turun tangga, jalan menuju gedung Fatahila yang tak jauh jaraknya.

Kami harus menyebrang lebih dahulu. Arus lalu-lintas amat ramai, sampai tak ada celah untuk menyebrang. Terlihat di ujung sana pun ada dua ibu-ibu kesulitan menyebrang.

''Ah... Harus nekat ini mah...,'' kataku sembari menyebrang dengan rasa melindungi Ratna dan ibu-ibu di sana. Sampainya di ujung, segara aku menyebrangkan ibu-ibu itu, lalu mereka mengatakan terima kasih dengan nada yang bergetar....

Setelah itu, kami masuk ke museum yang amat megah. Belum masuk gedungnya. Sampai di depan gedung, kami bertemu penjaga.

''Kak, kantor fatahila itu di mana yah?'' tanyaku, Ratna masih setia di belakangku sedari tadi.

''Em..., nanti kalian lewat pintu samping aja. Di sana pintu masuk ke kantornya.''

''Terima kasih kak...''

Kami mencari pintu samping. Tak jua berjumpa. Kerena itu, kulihat ada es selendang mayang yang menggoda. Kudekati pedagang yang sarat akan Betawinya, dan memesan,

''Bang, dua yah.''

Lalu kami berdua duduk di bawah pohon, menunggu pesanan, setelah siap, kami santap bersama sembari mengobrol. Kendaraan berlarian di belakang kami, pedagang pun banyak berjajaran di depan sana, terhempas tanah luas yang megah dan sarat akan sejarah. Semua itu menjadi pemandangan kami berdua.

''Nggak Bantara de!?'' kata salah seorang pedagang kopi kepadaku, tiba-tiba.

''Udah Bantara, bu, cuma nggak dipake aja,'' jawabku, ''ibu tau aja, Bantara?''

''Gini-gini ibu Bantara juga...,'' katanya dengan bangga.

''Wehhh... Keren...,'' heranku.

***

Aku dan Ratna masih asyik dengan selendang mayang yang manis rasanya. Di samping itu, Ratna tak lepas dari ponselnya. Dilihat dan ditaruh lagi. Terus begitu. Setelah usai beristirahat, segera kami menuju pintu samping gedung museum yang sudah kami ketahui begitu bertanya kepada pedagang selendang mayang tadi.

Kami berjalan di trotoar. Melihat pintu, kami masuk. Ada penjaga di sana, dan ia bertanya,

''Ada apa?''

''Kami dari Pramuka, kak, ada tugas dari pembina kami. Kami ingin ke kantor museum ini.''

Tanpa panjang-lebar, penjaga itu mengantar kami masuk ke dalam gedung. Mengganti sepatu dengan sandal dan sampai di pintu depan, bertemu salah seorang pemandu yang sudi kami wawancarai.

Namanya kak Yosen. Awalnya kami hanya ingin bertanya mengenai ketua museum ini, namun, tertekan keadaan, dan kadung kak Yosen yang sudah siap sedia ditanya banyak hal. Maka, kami bertanya lumayan banyak.

Selepas itu, kami berjalan-jalan menyusuri museum sebab kadung membeli tiket.

''Na, belum pernah ke dalam sini yah?'' tanyaku kepada Ratna yang setia bersamaku.

''Em..., kayaknya sudah, apa belum yah? Ya, waktu SD, sudah.''

''Hem..., yuk masuk ke sana,'' ajakku dan kami berdua berjalan menyusuri museum dengan suasana gembira, dibarengi juga pengunjung yang lainnya.

***

Lama kami berputar-putar menyusuri museum. Tiba saatnya kami kembali ke sekolah. Berjalan melewati trotoar, menyebrang jalan, melewati stasiun kota yang sarat sejarah lalu sampai di sekolah.

Hari ini tak pernah kulupakan. Banyak juga yang tidak kuceritakan di sini. Teramat banyak tentang kami berdua jika dilukiskan dengan tulisan. Ratna, wanita itu, ah..., aku sudah diambil hatinya olehnya. Biar dia rawat hatiku, biar dibawa ke mana saja, tak keberatan aku.

Dan, setiap melihat buku panduan museum, pasti aku tak lepas dari cerita ini. Semua tertata rapi di batok kepala dan di dalamnya.

Perempuanku

Perempuanku. Mengertilah, aku tak pandai berbicara. Gelagatku tak luwes. Semua kaku dan beku ketika mata mengarahku. Perempuanku, aku mohon kau mengerti akan hal ini. Aku tak pandai berbicara. Tidak seperti pada film dan sinetron yang sudah disekenario. Mereka berakting dalam memerankan cinta, mereka membuatnya sedemikian rupa, sehingga kita terpukau, bagiku, itu bukan cinta, itu imitasi! Mereka tidak tulus seperti kita.

Apa kauingini aku seperti pada film dan senetron kesukaanmu? Jujur, aku tidak bisa! Cara berbicaraku lamban, tak semulus aktor. Caraku mencintaimu..., ya dengan caraku, bukan dengan cara aktor. Perempuanku, mengertilah, lihat jalan untuk kita berdua. Lihat, hai, itu jalan yang luas. Jalan yang cukup untuk kita berjalan lebih jauh! Ya, lebih jauh!

Aku ingin kausadar, dan kauingin aku sadar. Aku, hanya laki-laki bodoh pendiam tak banyak akal. Sedang kau..., kau perempuan yang suka dengan sinonimku, mungkin begitu, bukan?

Perempuanku. Aku tak ingin hubungan kita putus. Aku tak ingin keindahan menjadi buram, seburam abu-abu seragam bawah kita ketika Selasa. Atau seburam Rabu, ketika kita mengenakan serba cokelat. Aku ingin kita selalu di hari baru, yaitu hari Senin. Di hari Senin kita memakai seragam putih-putih, seputih rasa cinta dan semacamnya.

Walau, perempuanku, warna putihku terkadang ada corak hitam dan kotoran. Sedangkan engkau, aku yakin, putihmu seputih awan ketika musim kemarau datang.

Hai perempuanku. Ingat, aku tak pandai berbicara dan gelagatku tak luwes. Aku pria bodoh pendiam dan tak banyak akal.***


Afsokhi Abdullah
01 Maret 2015