Belum lama ini aku
datang ke SMK untuk mengurus beberapa hal. Guru-guru yang kujumpai masih kenal
denganku layaknya aku masih sekolah di sana. Aku bisa datang ke sini pun karena
ada salah satu guru yang mengingat bahwa aku adalah alumni yang (anggapnya)
bisa menulis. Jadi kasusnya adalah, kepala sekolah ingin mengaktifkan web
sekolah, dan guru ini menyarankan kepada beliau bahwa ada salah satu alumni
yang barangkali bisa membantu.
Tentu saja aku bertemu dengan kepsek berbincang banyak hal.
Kebetulan ketika kami sudah di ruangan kepsek, ada satu guru yang mengingatku
juga.
“Ini lho, Pak,
dulu dia punya blog mau ditutup karena menulis tentang sekolah.”
Benar, waktu aku masih sekolah, kepseknya bukan yang
sekarang, aku menulis banyak hal. Dan salah satunya menulis tentang sekolah itu
sendiri. Aku hanya mencoba menjadi siswa keren yang dapat mengkritisi keadaan
pada waktu itu. Sebab kala itu teman-temanku hanya berbicara di belakang saja,
tak mau bersuara.
aku pas SMK, gini amat :3 |
Alhasil, tulisan yang baru kupost semalam, besoknya
terbaca oleh salah satu guru. Aku sempat ditelpon oleh salah satu guru karena
postingan itu. Dan guru itu langsung memintaku untuk menghapus postingan itu
atau jika tidak, blogku akan ditutup.
Kejadian ini tidak hanya terjadi sekali. Dan pihak sekolah tampak
semacam ketakutan jika tulisanku dibaca oleh banyak orang.
Padalah tulisanku waktu itu tidak mengandung unsur SARA
dan sebagainya. Aku hanya menulis fakta, bahkan aku sempat mewawancarai salah
satu guru untuk keperluan tulisanku ini. Tapi guru yang memintaku menghapus
postingan itu memiliki alasan tersendiri.
Karena aku tidak mau pusing dengan urusan seperti itu,
maka kuhapus saja postingan itu dan kembali mengkritisi sekolah dengan cara
yang lain: menulis cerpen.
Cerpen, bagaimanapun ia adalah fiksi, tapi cerpen yang
kubuat waktu itu berbeda. Cerpen yang kubuat mirip dengan keadaan sekolah pada
waktu itu. Dan jika aku disuruh untuk kelmbali menghapus postingan itu, aku
bilang saja: “Itu kan fiksi, Pak, tidak nyata, masa Bapak tidak tahu bedanya
fiksi dan nonfiksi.”
Tapi beruntungnya tak ada lagi teguran setelah aku
mengkritisi sekolah dengan membuat cerpen. Lagi pula ini lebih mengasyikan, dan
membuatku tidak pusing lagi berurusan dengan sekolah.
Dari sini aku belajar betapa kuatnya sebuah tulisan. Karena
hal itu, aku menjadi lebih semangat lagi untuk menulis, bukannya malah down karena tekanan. Dan setelah lulus,
akhirnya aku dipanggil lagi ke sekolah, tentu saja bukan untuk urusan postingan
yang harus dihapus, tetapi tentang
urusan memposting tulisan untuk sekolah.
aku dan adik2 kelas calon pengisi web sekolah. |