Film Aladdin (2019): Nostalgia yang menyenangkan



sebenarnya kita semua sudah tahu jalan cerita a-z kisah aladdin. namun manusia memang sangat suka bernostalgia. aku sendiri kenal kisah ini ketika aku masih sd dan belum benar-benar mengerti apa arti dari cerita tersebut sebenarnya.
.
tentu saja aladin versi modern yang sedang tayang di bioskop ini adalah tontonan yang sama di satu sisi, tapi kita bisa menontonnya dengan pemahaman yang berbeda di sisi lain.
.
seperti bagaimana princes jasmine yang mempunyai sifat melawan petriaki, bagaimana ia begitu teguh terhadap pendiriannya. tapi bagaimanapun wanita mempunyai titik lemah. juga bagaimana aladdin yang bergelud dengan pendiriannya: ingin menjadi orang lain atau dirinya sendiri--yang membuatnya takut tidak dicintai princes jasmine.


sumber gambar: IMDB


aku menonton film aladdin (2019) lebih seperti drama musikal, yang  mengingatkanku pada beauty and the beast dan atau the greatest showman. drama musikal menurutku mempunyai resiko besar dalam membangun cerita: bagaimana cara menyisipkan musikal itu namun cerita masih bisa dinikmati seolah tidak ada 'jeda iklan'?
.
the greatest showman menurutku masih yang terbaik dalam hal itu. dan film aladdin, masih belum bisa mengalahkan dari segi vital tersebut, ia terlihat seperti masih ada ruang kosong yang seharusnya masih bisa dikembangkan.
.
namun film aladdin mempunyai keunggulan dalam dapertemen efect CGI yang lebih canggih dan menyenangkan untuk ditonton. tentu saja untuk menghilangkan kesan monoton, ada beberapa set komedi yang diselipkan dan cukup berhasil membuat gelak tawa seisi bioskop.
.
pada akhirnya, film aladdin adalah media nostalgia bagi kita untuk mengenang masa-masa kecil yang menyenangkan. aku bisa saja menilai lebih dari ini, jika saja kemistri antara aladdin dan jasmine yang telihat tidak terbangun dengan baik dan terkesan canggung itu tidak terjadi.***
Comments
0 Comments

Posting Komentar