Angkot (kisah seorang anak sekolah yang terkena dampak Ekonomi Negera) untuk tugas kelas 9 SMP


Pagi ini, seperti biasa, aku terbangunkan oleh jam wekerku yang ku-setting untuk berteriak sekencang mungkin tepat jam 5 pagi. Setahun yang lalu, biasanya yang membangunkan tidurku adalah Ibu, namun.... dia.... sudah tiada, aku hanya hidup bersama Ayah dan seorang pembantu di rumah ini.

Nyawaku sudah terkumpul, lalu kuberjalan keluar rumah untuk menghirup udara segar. Tetapi, ketika sampainya di ruang tamu, aku sudah disuapi dengan berita di TV tentang; Korupsi, BBM naik, dan masih banyak lagi, lalu kuterdiam sejenak. Sepertinya menarik.
"Korupsi? Itu mah biasa, eh, tapi padahal para kuruptor itu adalah orang-orang yang berpendidikan tinggi, 'kok pada korupsi yah...? Entahlah" gerutuku yang sedang berdiri di perbatasan ruang tamu, agak jauh dari Ayah yang sedang duduk di bangku favoritnya.
 "BBM naik? Ekonomi turun, uang jajan juga akan turun... ahh...! ngapain Aku mikirin ini" jengkelku yang masih dengan baju tidur Spongebob, di ruangan ini hanya ada Ayah yang duduk di bangku favoritnya menyaksikan berita menjijikan itu, ditemai dengan segelas kopi hangat, sehangat emosiku yang tersulut pagi ini!!

Kubatalkan untuk menghirup udara segar di luar rumah, aku sudah enekg' setelah melihat berita seperti itu setiap pagi.

Segera kupersiapkan diri untuk berangkat sekolah; mandi, sholat Subuh, lalu memakai seragam Putih-Biru kebangganku. Terukir di dasi miliku (SMP Negeri 32 Jakarta). Dengan bangganya, kuikat dasi itu di leherku dengan rapih.  Setengah jam kemudian. Semua, siap...!!!

Saat kumulai berangkat sekolah, Ayah yang biasa mengantarkanku dengan motornya, sekarang entah kenapa, tidak!?
"Ocha, hari ini Kamu berangkat sekolah naik Angkot yahh..." kata Ayah, mungkin jika ada Ibu, Ibu akan melarang Ayah yang tega anak perempuannya ini disuruh naik Angkot.
"Hah? Yang benar, yah?" tanyaku, setelah beberapa detik membeku karena tiupan kata Ayah tadi.
"Iya... Sekarang kan BBM naik, Kamu tahu sendiri bagaimana borosnya motor Ayah, kan?" aku hanya menganggukan kepala. "Yasudah!" batinku.
"Begitu dong, Anak Ayah harus belajar mandiri..." lanjut Ayah.


                                       
                                       ****



Setelah sarapan, dan siap tempur, kugendong tas miliku, kuperkuat lagi tali sepatu hitamku,lalu berpamitan dengan Ayah.
"Ayah, aku berangkat...!!"
"Hati-hati yaahh...." aku berpura-pura tidak mendengar apa kata Ayah tadi. Tidak menjawabnya, mungkin karena ada rasa sebal di hati.

Jalan raya tak jauh dari komplek rumahku, dengan cepat, aku sudah berdiri di pinggir jalan menunggu Angkot yang bersedia berlabuh di hadapanku. Ada!! Segera kunaiki dia, begitu aku masuk -belum duduk - angkot pun sudah melaju dengan cepatnya, alhasil aku terjatuh di pangkuan ibu-ibu. "karma!" batinku.
"Hati-hati, Nak" kata Ibu itu, dan membantuku untuk bangkit kembali.
"Terimakasih, Bu" kataku, dan kuberikan senyum pertamaku hari ini kepada Ibu itu. huhh kakiku sakit...

Tas, masih kupangku,  dan tepat di depanku, dua Bapak-bapak, aku tahu mereka adalah pedagang, karena obrolannya yang tanpa sengaja kucerna.
"BBM naik lagi, aduhh, gimana mau naikin harga barang kita!?" gerutunya kepada seseorang di sampingnya. Mungkin dia teman seperjuangannya -pedagang.

Tanpa sengaja kudengar lagi percakapan mereka, begitukah kejam sang BBM? Sehingga Ekonomi mereka bak merosok ke jurang? Terbahas juga oleh mereka tentang menteri ESDM yang korupsi. Hancurkah sudah Negeri kita ini?

Belum! Masih ada harapan, jangan pesimis, sebagai pelajar seharusnya kita bisa memilah-milah apa yang harus kita contoh, tidak menelan mentah-mentah yang disuapkan di TV dan sebagainya.


****


Tak lama, Angkot pun berlabuh ke tepi jalan,tapi, masih ada perjalanan yang cukup jauh untuk sampai benar ke sekolahku.
"Biasanya, jam segini aku udah di kelas" gerutuku. Matahari mulai mengeluarkan seluruh cahayanya. Pagi juga sudah memanas. Tanda bahwa hari ini akan segara dimulai. Bukan segara, tapi sudah dimulai.

Teett...!! ~

Bunyi bel sekolah, padahal aku masih di luar gerbang, segera kupacu langkahku dengan seluruh kekuatan yang kupunya, kutembus gerbang  yang masih terbuka sedikit. Guru penjaga gerbang sedang baik hati, alhasil kumemasuki gerbang setelah berneogisasi sebentar dengannya.Akhirnya aku bisa memasuki gerbang itu. Oh akhirnya...

Lalu, kuberlari menuju kelas. Disana sudah berkumpul teman-teman kelasku.
"Aih.... sudah jam segini!!" lalu kuhela nafas panjang, dan mulai duduk di bangkuku.
"Apakah setiap hari akan seperti ini? Aih...!!"

Guru pengajar pertama pun terlihat sedang berjalan menuju kelas ini.



#untuk Serly SMP N 32 Jakarta.

Comments
0 Comments

Posting Komentar