MENYAMBUT RAMADHAN ALA ANAK KOSAN

Bulan yang penuh berkah ini, pastilah sangat berarti bagi semua umat manusia, khususnya umat Islam. Yang mana kita harus menahan lapar dan haus, dan yang lebih penting daripada itu yakni menahan hawa nafsu. Sehingga, setelah melewati bulan ini, kita menjadi manusia yang lebih baik. Dan yang lebih berat, kita kudu konsisten di bulan-bulan selanjutnya.

Sebagai anak rantau dan jauh dari keluarga, aku punya cara sendiri untuk menyambut ramadhan. Ceritanya tahun kemarin aku berpuasa dan lebaran di Jakarta, ndak pulang kampung. Itu hal yang menyakitkan bagiku.

Jadi, pas berbuka ya sendiri, sahur pun sendiri. Beli makan sendiri, pokoknya apa-apa sendiri. Waktu itu aku kelas 2 SMK dan sedang dalam PKL. Kadang aku nelangsa ketika berbuka sendirian di kosan, juga pas sahur, kendati sering kelewat itu sahur karena ndak ada yang ngebangunin. Hiks.

Akan tetapi, dari situ, aku mendapat satu kesimpulan bahwa inilah cara Allah menguji umatNya. Aku merasa disayang olehNya, bisa mendapat bulan suci Ramadhan di saat-saat yang seperti itu tadi, penuh dengan kesendirian dan kesepian. Menurutku, kita hanya perlu mengganti sudut pandang untuk melihat sesuatu yang tampaknya begitu menyedihkan. Sehingga apa-apa yang tadinya terlihat negatif, bisa menjadi positif. Menurutku sebaik-baiknya manusia salah satunya ya yang bisa berprasangka baik dengan segala takdirNya.

Terkadang, di saat-saat seperti itu, aku mendapat acara buka bersama, buka di rumah teman dan sebagainya. Itu menyenangkan. Jadi aku ndak melulu sendirian di kosan menyantap buka dan sahur. Itu juga sekaligus bisa menjalin silaturahim.

Sebelumnya aku sudah tahu bulan ramadhan tahun lalu bakal begini. Jadi caraku menyambutnya ya dengan mengganti sudut pandang tadi, yang tadinya tampak menyedihkan karena selalu sendiri pas buka dan sahur juga idul fitri, jika dilihat lagi, Allah begitu perhatian padaku. Bulan ramadhanku ndak biasa..

Tapi jangan sampai lupa, akhir dari semua ini adalah bertujuan agar kita menjadi manusia yang bertaqwa. Dan perlu diingat, Allah melihat kita bukan dari rupa atau apa, Allah melihat kita dari ketaqwaan kita, dari hati kita. Jadi jangan sedih kalau dalam beribadah kepadaNya, kita mengalami suatu cobaan.***
Comments
0 Comments

Posting Komentar