Kado untuk Nawang Wulan


Kado untuk Nawang Wulan
(Cerpen untuk Tantangan nulis @KampusFiksi #FiksiBeruang)


Sedikit demi sedikit, berharap kian banyak uang yang kukumpulan. Aku punya sebab besar kenapa ingin berkorban sedemikian ini. Saban hari, aku tidak menghabiskan uang jajan, kusisihkan untuknya, untuk hari spesialnya.

Ini yang pertama kali dalam hidupku: mengorbankan apa yang kupunya. Semua berawal sejak mengenal wanita itu, Nawang Wulan. Semua yang ada pada dirinya, manarik di mataku; di hatiku dia tumbuh begitu saja, dengan cepatnya. 

Di ulang tahunnya  ke-16, aku harus punya kejutan. Ya entahlah apa yang akan kudapat dari uang yang kukumpulkan ini. Sekarang, yang harus kuperjuangkan adalah untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, agar dia... tahu, bahwa... aku cinta dia. Ya, begitu.

Setiap hari, uang jajan sekolahku selalu kusisihkan tanpa terkecuali. Kumasukan celengan. Terkadang pula, dalam satu hari, aku hanya makan satu kali. Yang terpenting adalah, kado untuknya, hanya itu tekadku untuk kali ini, Nawang.

       ***


Pagi ini sepertinya matahari tidak bersahabat, awan hitam menghalangi langit biru. Pagi yang biasanya cerah, kini murung mengiringi perjalananku menuju sekolah. 

Selama perjalanan, aku selalu membayangkan wajah cantik Nawang. Mungkin aku sudah gila. Ya, cinta itu gila kalau tidak gila, namanya bukan cinta. Padahal, baru beberapa hari aku mengenalnya. Tapi, entah kenapa perhatianku menitikberat kepadanya. Dengan cepatnya. 

Aku tidak suka tatapanya waktu itu, kerena membuatku tak berkutik dibuatnya. Ketika itu, Nawang melewati kelasku (awalnya aku tidak melihatnya). Begitu aku keluar kelas teburu-buru, tak sengaja tanganku mengenai tanganya –yang berada tepat di depan kelas, dia sendirian.
“Huh, hampir saja ketabrak,” batinku kala itu.
 Lalu, tersedialah tatapan tajam di hadapanku. Tapi, dia nampak cantik sekali, sangat cantik. Ya, itu dia, Nawang.

Bergemuruh di hati, seisi dada pun sesak. Tatapanya seperti mempunyai maghnet yang enggan dilepaskan. Kita berpandangan. Bibir tipisnya mulai bergerak, dia berkata, “Hati, hati ya, kak,” anggun sekali ucapan adik kelas ini.
“E, iya, maaf.”

Lalu dia pergi meninggalkanku yang terpaku dan, terperanga.

                                  ***

Sejak itulah, aku tertarik padanya. Dan tak lama kemudian, kudapati ia tinggal tak jauh dari rumahku. Dia adik kelas, dan memang baru di Jakarta, ia melanjutkan SMP dari Jogja ke Jakarta.

Dan kutahu segala tentangnya dengan begitu mudahnya. Kutanya teman-tamanya mengenainya, Nawang Wulan. Asal-asulnya, sebab-sebabnya, segalanya tentangnya sudah kutahu dengan mudahnya (aku) sebagai kakak kelas.

Begitu aku pulang sekolah, kuniatkan untuk membelikan kado untuknya – yang satu hari lagi akan berulangtahun. Kulihat sebuah boneka di sebuah pasar dekat sekolah, nampaknya itu bagus. Lalu kuterawang isi uang sakuku. Hanya ada beberapa lembar uang dan recehan. Sepertinya tidak cukup. Aku harus pulang membongkar celengan, lalu kembali ke sini. 

Sampainya di kamar, kucongkel isi celengen milikku; kuhitung isinya. 
“Hmm..., sepertinya cukup.”
Sore itu juga aku datang kembali ke pasar dekat sekolah. Akh, ternyata sudah tutup, sedangkan ulang tahun Nawang... adalah esok. Kucari-cari lagi tempat yang menjual barang untuk dijadikan kado.

Segara aku bertolak ke mal, tak lama kemudian, kutemukan deratan boneka. 
“Em..., ini, ini, ini, semuanya bagus,” kataku sambil menunjuk boneka-boneka itu. Kudekati jejeran boneka itu, terlihat ada bandrol harga di bawahnya. 
“Hah?! Gila, mahal, mana cukup uangku untuk membeli ini, sialan!” murkaku kepada diriku sendiri. 

Tak habis akal, kubuat sendiri boneka dari kain. Ibuku bisa membuatnya, malam ini juga aku belajar membuat boneka itu. Semalaman suntuk kuhabiskan untuk membuat kado untuk nawang. Uang yang tadinya kubelikan boneka, sekarang sudah menjadi serenceng bungkus kopi untuk menemani malam. Ya, hanya cukup untuk membeli serenceng bungkus kopi.

                                       ***

Hingga pada akhirnya, kutemui Nawang untuk memberikan kado ini. Tapi, tapi, tapi..., sampai sekarang ini aku tak berani memberikannya. Melihatnya dari kejauhan saja, seluruh tubuhku bergetaran, apalagi..., akh, sudahlah. Biarkan ini menjadi cerita yang terlupakan.



Afsokhi Abdullah
Jakarta, 07 Desember 2014. 

Comments
2 Comments

2 komentar

Posting Komentar