365 DNI: Adegan Seks Juara, Cerita Biasa Saja




film ini bercerita tentang penculikan wanita (Laura) oleh bos mafia (Massimo) yang bergelimpang harta dan seolah bisa melakukan apa saja, tapi hidupnya selalu dalam bahaya. 

motif penculikan dan bagaimana cara ia menculik cukup kurang jelas dan kurang kuat menurutku. ada beberapa 'kekosongan' yang membuat cerita seolah timpang.

akhirnya Laura sampai di tempat si bos mafia, dan wanita itu memiliki 365 hari untuk memutuskan untuk mau menjadi kekasih Massimo atau tidak. selama itu pula, Massimo tidak akan berbuat 'macam-macam' tanpa seizin Laura. 

film ini sempat dihujat oleh beberapa orang karena menampilkan adegan seks antara penculik dan korban. mereka mempermasalahkan sindrom stockholm: respon psikologis sandera penculikan menunjukkan tanda-tanda kesetiaan kepada penyanderanya tanpa memperdulikan bahaya atau risiko yang telah dialami oleh sandera itu. padahal di Money Heist juga ada adegan ini, malah lebih ketara bahwa si sandra benar-benar dalam ketakutan. 

kalau yang ini, si Laura pada saat pertemuan pertama memang terlihat sudah suka dengan Massimo, apalagi selama ini ia pacaran dengan pria homo, yang tidak bisa memuaskan nafsunya. 

adegan ranjang di film ini diambil dengan bagus, namun ceritanya sungguh klise dan tidak ada yang baru. seolah memang film ini diperuntukan untuk dibuat dengan mengunggulkan adegan hubungan seksnya ketimbang cerita sepanjang film.

tentu saja itu sangat disayangkan. 

oh ya, omong-omong film ini diangkat dari novel erotis.***

Extracurricular: Perpaduan Antara Bad Genius dan Money Heist




bagaimana jika seorang siswa paling pintar di kelasmu dengan nilai yang sempurna, pendiam, bahkan keberadaannya di kelas antara ada dan tiada--ternyata adalah otak dari perdagangan seks online dengan penghasilan luar biasa. 

adalah Oh Ji-soo, murid kelas akhir di salah satu SMA Korea. kedua orang tuanya pergi karena pertikaian, dan membuatnya tinggal sendirian di sebuah apartemen seperti lelaki tua yang menyedihkan. 

kehidupannya mulai berubah ketika ia dekat dengan Gyu-ri, gadis populer di sekolah yang ternyata tertarik dengannya, dan petualangan keduanya semakin menjadi gila ketika Gyu-ri tahu bahwa siswa paling terlihat polos di kelasnya ternyata muncikari. 

aku menonton serial ini secara beruntun, maksudku aku tidak bisa berhenti ketika 1 episode selesai. cerita yang begitu seru dan mungkin karena saking terlihat 'nyata', di awal episode ditulis bahwa cerita ini bukan diambil dari orang atau kejadian nyata, dan di akhir episode, selalu ada pesan jika kita menemukan remaja yang kesulitan, kita harus membantunya atau menelepon konselor terdekat. 

menonton serial ini bagiku adalah perpaduan antara Bad Genius dan Money Heist. aku tidak menemukan aroma drakor dalam serial ini, bahkan secara visual pun aku malah lebih melihat bahwa ini film Thailand, dan vibe 'sekolahnya' sangat mirip dengan Bad Genius. 

dan dari segi bagaimana Jisoo menjalankan pekerjaan kotornya dari jarak jauh, mengingatkanku pada Profesor di Money Heist, keduanya sama-sama memiliki kecerdasan tinggi tapi pengecut ketika di depan wanita.

ada beberapa adegan surealis dan filosofis yang bisa kita artikan sendiri. sebenarnya kita bisa saja mengabaikan itu, tapi jika kamu sudah sering menonton film pasti akan menemukan nilai-nilai tersendiri yang tidak dikatakan secara langsung atau ditampilkan secara gamblang. 

secara keseluruhan, serial ini sangat menghibur dan mampu membawamu ke masa-masa kenakalan (atau kejahatan?) SMA yang sangat gelap dan sulit ditebak.***




Culture Shock di Industri Photo/Videography

Beberapa bulan yang lalu, seorang teman pernah bertanya kepadaku, kenapa aku masih terus konsisten membuat konten di media sosial walau respon yang ada (dilihat dari jumlah like dan komentar) sedikit. Aku hanya menjawab bahwa aku melakukan itu karena suka, mau ada yang lihat atau nggak ya bodo amat. Tidak ada harapan muluk dari setiap konten yang aku buat. Atau bila disebut konten pun masih terlalu berlebihan.

Photo by Markus Lompa on Unsplash

Ia heran kenapa aku melakukan ini, bahkan aku tidak mendapat uang dari sana. Tapi ya mau gimana lagi, namanya juga suka, aku buatnya juga suka-suka, tidak ada target khusus dan berjalan begitu saja.

Hingga akhirnya seorang teman sedang mencari editor video, aku tertarik, lalu kuberikan contoh video yang pernah kubuat, kami mengobrol, dan aku langsung bekerja. Ini adalah pekerjaan sampingan. Temanku yang mengambil video, aku yang mengeditnya sampai begadang. Bayarannya tidak seberapa memang.

Jika aku tidak pernah membuat video yang suka-suka itu, barangkali aku tidak berani untuk menawarkan diri untuk job itu. (1) karena aku tidak pede, (2) karena aku tidak punya portofolio. Ya, tentu saja media sosial adalah senjata ampuh untuk membuat branding dan portofolio, dan aku melakukan itu tanpa sadar.

Seminggu setelah mendapat pekerjaan pertama, aku dipercaya untuk mengambil video sendiri dan mengedit sendiri. Job pertama ini datang dari acara ulang tahun di Hotel Mulia, hotel bintang lima yang sebelumnya tidak pernah kupikir aku bisa menginjakkan kaki di sini. Awoakwokao

Tentu bayaran kali ini lebih besar dari sekadar mengedit video, dan itu lebih dari cukup jika disebut sebagai pekerjaan sampingan. Dan aku melakukan ini juga karena suka, kadang aku tidak memikirkan bayaran saking menikmati pekerjaan seperti ini.

Semua berjalan hingga aku bertemu dengan banyak orang di industri ini. Aku bertemu dengan Danny, seorang fotografer muda yang sekali ‘terjun’ ia dibayar tiga juta. Bayangkan, TIGA JUTA! Jika seminggu saja ada 4 job, mungkin dia sudah bisa hidup nyaman di bulan itu.

Danny mempelajari ilmu fotografi secara ototidak, ia putus kuliah pada SEMESTER 7! Kendati demikian, ia terus merintis karirnya, dimulai dari kamera yang murah hingga kamera kelas atas. Katanya, fotografi adalah tentang praktik, kalau tidak praktik ya tidak akan bisa.

Ia juga memamerkan akun instagram tim fotografinya: Sandigo Studio. Di mana tim ini pernah memotret artis, pernah dipercaya membuat video komunitas mobil mewah, memotret di luar negeri, dan sebagainya. Dan yang membuatku salut adalah tim ini diisi oleh anak-anak muda usia 21-24 tahun!

Selanjutnya aku bertemu dengan Mas Agung, ketua tim di tempatku bekerja. Kami mengobrol di kantin apartemennya. Ia bercerita tentang bagaimana ia merintis pekerjaannya ini, pekerjaan yang tidak main-main, omset perbulannya bisa puluhan juta! Ya, dengan memotret!

Ia lulus S1 dan S2 tidak ada hubungannya dengan dengan dunia fotografi, malah ilmu fotografi ia dapatkan di ‘jalan’. Tapi karena ia lulusan marketing, ia bisa melihat pangsa pasar. Dari sana ia membuat koneksi dan berjejaring dengan klien yang hingga sekarang sudah bisa dibilang banyak. Bagaimana tidak, dalam sehari bisa ada 3 job yang datang padanya.

Dan di dalam tim tersebut terdapat para fotografer muda yang, menurut penuturan temanku, dalam seminggu omset mereka bisa mencapai 7 juta seminggu!

Tentu aku shock, kok bisa hanya dengan memotret bisa mendapat uang segitu banyak.
“Bahkan 30 juta sekali motret pun bisa,” kata Mas Agung yang kutaksir berusia 40 tahun-an itu.
Sialnya aku menjadi tertarik untuk serius di dunia ini, di samping memang aku memang menyukainya. Pekerjaan sampingan ini tentu bukan sekadar mendapat uang tambahan, tapi bisa bertemu orang-orang hebat dan sebagai asupan motivasi bagiku.

Pada akhirnya, industri yang biasanya dipadang sebelah mata ini, ternyata sangat menjanjikan. Kamu bisa memulainya dengan menawarkan diri untuk memotret atau membuat video mereka, awalnya gratis dulu aja, kemudian namamu menjadi lebih dikenal dan mulai mematok harga.

Ah, aku harus menabung untuk membeli peralatan yang memadai untuk kemudian berdikari di industri ini. Semoga. Hehe.. 

Ke Situgunung Suspension Bridge bareng Explorer.id!


5 Januari 2020 kemarin, aku pergi ke sukabumi, di sukabumi pasti kamu tau kalau ada tempat wisata yang baru-baru ini cukup hits, yang juga jembatan gantung kayu terpanjang yang berada di tengah hutan di Asia Tengara. Selamat datang di Situ Gunung Suspension Bridge!



Dilansir dari situgunungbridge.com, jembatan ini membentang sepanjang 243 meter, dengan lebar 1,8 meter, dan ketinggian 121 meter di atas permukaan tanah. Jembatan ini berlokasi di Taman Wisata Alam Situ Gunung, Sukabumi – Jawa Barat, yang telah menjadi salah satu tempat tujuan wisata selama bertahun-tahun dan merupakan bagian dari Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

Tanggal 9 Maret 2019, tepatnya di hari Sabtu, Situgunung Suspension Bridge diresmikan oleh Menko Bidang Kemaritiman yaitu Bapak Luhut Binsar Pandjaitan dengan acara pemotongan pita dan penandatanganan prasasti.

Untuk kesana, aku menggunakan travel trip dari explorer.id, saat itu lagi ada diskon, dari harga 200k, menjadi 120k saja. Pemesanannya juga gampang, tinggal lewat aplikasi. Ini kali kedua aku jalan-jalan bareng explorer, btw. Yang pertama aku pergi ke Ranca Upas, tulisanya bisa kamu baca di sini: Ke Ranca Upas Bareng Explorer.id

Rombongan kami sekitar  20 orang, termasuk 2 pemandu. Kami berangkat dari Jakarta, Central Park, jam setengah 6 pagi dan sampai tujuan sekitar jam setengah 10-an, padahal estimasi sampai di dinasti adalah jam 11 siang. Selama perjalanan, bus cukup nyaman dan kami diberikan satu botol air mineral. Sempat satu kali berhenti di sebuah SPBU untuk istirahat singkat.

Perjalanan agak macet ketika sampai di jalan Cibadak (pas jalan pulang lebih parah), tapi pagi itu tidak terlalu parah sih, jadi kami masih bisa menghirup udara pagi di tempat wisata yang asri itu.
Sampai di sebuah stasiun, rombongan kami lanjut naik angkot ke tempat wisata. Jalannya memang naik turun, sepertinya memang tidak cocok untuk kendaraan besar. Perjalanan menggunakan angkot tidak terlalu lama, sekitar 7 menit sudah sampai di depan gerbang.

Di depan gerbang, kami diberikan gelang yang adalah tiket masuk ke tempat wisata. Sambil nunggu masuk, ada jajanan di depan yang bisa kamu cobain, seperti cilok dan makanan ringan lainnya.
Kami sangat beruntung, sebab sepanjang hari itu cuaca sangat cerah. Padahal baru-baru ini hujan cukup sering turun.

Pertama kali masuk, kami disambut welcome drink. Welcome drink ini kamu bisa ambil sendiri singkong rebus dan pisang rebus sesukamu dengan alas daun pisang. Minumannya kamu bisa pilih teh atau kopi hangat. Setelah itu kamu berjalan ke teater dan menikmati pagi yang asri ditemani live music khas daerah.

dokumen pribadi

dokumen pribadi

Sebentar di teater, pemandu bilang acara selanjutnya adalah acara bebas, kamu bisa explore tempat wisata ini sesukamu, tapi dengan catatan, jam 3 sore sudah di titik kumpul. Tempat yang cukup terkenal di sini adalah: jembatan gantung, curug sawer, danau situ gunung.

Tak jauh dari teater, aku berjalan ke jembatan panjang ini. Kamu melewati pintu yang harus discan barcode yang ada di gelang, baru bisa terbuka. Kami diberi pengaman dan selanjutnya berjalan di jembatan yang panjang, tinggi, dan bergoyang ini.

Di langkah-langkah awal memang rasanya jembatan begitu tidak seimbang, goyang sana sini. Itu karena banyak wisatawan yang juga berjalan di atas jembatan, namun sampai di tengah, goyangan itu lumayan reda dan kami bisa foto-foto ria.



Pemandu dari explorer dengan senang hati membantumu untuk foto-foto. Dan ya, mereka juga ramah dan menyenangkan. Pemandu di explorer ramah-ramah dan masih muda, btw.
Setelah puas di jembatan, perjalanana selanjutnya adalah curug sawer. Perjalanan dari jembatan tadi agak jauh ya, sekitar 15-20 menit baru sampai di tempat. Jalan yang naik-turun dan terjal cukup menguras tenaga. Tapi semua itu terbayar ketika suara air terjun mulai terdengar dan membasuh muka dengan air dingin itu.

Kamu bisa foto-foto di curug sawer dan bermain di dekat air terjun. Airnya tentu saja jernih dan ya, serasi dengan lingkungan yang masih sangat asri. Aku menghabiskan waktu cukup lama di sini. Sampai sekitar jam 12-an, aku makan siang di sebuah warung yang tidak jauh dari curug. Tentu di suasana seperti ini, makanan apa yang sangat cocok? Ya!Indomie!

curug sawer..

Aku lupa berapa harganya, tapi nanti aku lampirkan di bawah ya.

Setelah dari curug, aku berniat untuk ke danau. Sebenarnya ada ojek yang bisa kamu sewa untuk pergi ke sana. Harga sewa sekitar 15-30k permotor. Tapi karena ini adalah liburan, jadi aku memutuskan untuk jalan kaki saja. Hehe..

Dan ternyata, untuk ke danau, kamu harus jalan kaki ke titik awal! Ya, kamu harus balik lagi ke pintu masuk. Dari pintu masuk ke danau perjalanan sekitar 20 menit. Jalanan cukup sepi dan ada beberapa ekor anjing yang berkeliaran. Tapi sekali lagi, semua itu terbayar ketika kita sampai di danau. Danau yang sekali lagi, asri, dan pemandangan yang memanjakan mata. Ini spot foto yang bagus, tapi sialnya baterai kameraku habis, jadi foto pakai kamera hp saja.



Tak terasa, sudah menjelang jam 3 sore. Kami harus sampai di titik kumpul. Dari titik kumpul kami naik angkot menuju terminal, dari terminal langsung deh ke Jakarta. Dan ya, Cibadak sangat macet! Sangat amat macet! Kami tertahan di sini hampir 2 jam, untuk selanjutnya berhenti di tempat oleh-oleh yang kalau nggak salah ingat namanya Asrgas.

Di sini kami bisa beli oleh-oleh, sholat maghrib, atau makan malam. Di sini ada yang jual bakso murah dan enak. Hanya 12k sudah paket komplit.

Dan setelah itu kami kembali masuk ke bus, perjalanan sangat lancar, dan sampai Jakarta, Central Park, sekitar jam 9 malam.

Kalau boleh aku simpulkan, perjalanan kali ini cukup menyanangkan, dari travel tripnya maupun tempat wisatanya. Tempat wisatanya dikelola dengan baik, terbukti dengan adanya gelang yang ada barcode, dan barcode itu untuk membuka pintu otomatis. Wisatawan juga sudah mulai sadar dengan tidak membuang sampah sembarangan. Kamar mandi di tempat wisata ini juga bersih. Pokoknya tidak ada yang mengecewakan.

Dari pihak explorer juga cukup memuaskan. Hanya dalam 1 aplikasi, kamu bisa chat dengan pemandu dan peserta lain, jadi informasi bisa lebih gampang, tidak usah pakai grup wa yang kadang malah membuat tidak nyaman.

Jadi, ya, kalau kamu tertarik pergi ke tempat wisata ini dengan travel trip explorer, bukan pilihan yang buruk. Dan jika sudah sampai di sana, jangan buang sampah sembarangan ya.. hehe..


Nah ini rincian keuangannya:



Video saya:



BETAPA NIKMATNYA BERKATA KOTOR DAN KASAR

Hampir setiap hari, aku selalu menemukan orang berkata kotor dan kasar. Entah itu secara oral, atau malaui teks. Entah itu kudengar secara langsung, atau di sebuah taks tempur sebuah game. Sampai akhirnya aku berpikir: apa sih yang membuat mereka berkata seperti itu?



Kata-kata kotor dan kasar itu lebih sering datang dari anak-anak dan remaja, apalagi jika mereka sedang bergerembol dengan taman-teman. Seolah kata-kata kotor dan kasar tersebut adalah bumbu dari percakapan mereka yang harus ada. Jika tanpa berkata kotor dan kasar, seperti ada yang hilang dan rasanya hampa.  

Karena penasaran bagaimana rasanya berkata kotor dan kasar yang hampir tiap hari kudengar itu,  aku mencoba untuk berlatih berkata seperti itu, atau setidaknya coba-coba untuk mencari tahu apa sensasinya. Aku mencoba di teks pertempuran game, hasilnya? Aku merasa seperti anak kecil yang masih melihat dunia ini hanya sekadar kembang gula, aku terlihat bodoh, dan seperti tidak punya otak.

Lalu aku mencoba untuk mengucapkannya secara oral, tentu saja tidak di tempat umum. Hasilnya? Itu cukup menyenangkan, malah membuatku merasa lebih dekat dengan orang yang kuajak berkata kasar, kata-kata itu seperti: anjing, bangsat, sialan, kontol, dsb, dsb..

Tentu saja kata-kata itu tidak diambil hati olehnya, juga olehku. Aku hanya sedang mencoba berkata kasar dan mencari sensasi di baliknya. Dan ya, ternyata memang cukup menyenangkan dan nikmat. Seolah segala rasa yang ada di dada bisa diwakilkan oleh kata-kata kasar itu.

Hal itu malah membuatku sadar bahwa aku ternyata mempunyai hati yang cukup kotor. Karena jika memang hati yang bersih, pasti kata-kata yang keluar adalah kata-kata yang baik.

Dan menurutku orang yang doyan berkata kasar sepertinya mereka adalah orang-orang yang bermasalah. Orang yang mempunyai hati yang kotor, berpikir bahwa dunia begitu sempit dan pilihan kata-katanya juga sempit. Jika memang ia sudah dewasa dan berpikir dunia ini lebih luas, maka pilihan kata yang dipilih tentu lebih santun dan enak didengar. Walau tidak semuanya begitu, sih..

Ya, walau di sisi lain, dalam berkomunikasi secara personal di lingkungan, berkata kasar seperti itu cukup membantu dalam hal pertemanan. Terkesan lebih akrab dan saling memahami (mungkin?).

Tapi ya tentu sebagai manusia yang berinteraksi sesama individu setiap harinya, kita seharusnya menghargai lawan bicara kita, lebih dari itu, kita juga harus menghargai orang yang memungkinkan mendengar suara kita. Kita diajari bertahun-tahun tentang sopan santun dan etika. Kita punya norma, punya malu, dan sewajarnya begitu.

Pada akhirnya, berkata kasar hanyalah pilihan bagi mereka yang melihat dunia seolah seperti sebatang sumpit--mereka yang dadanya sempit, sehingga pilihan kata-kata yang keluar adalah kata-kata kasar dan kotor. Yang tidak enak didengar.

Semoga kita terus belajar tentang bagaimana menghargai orang lain, jika sudah, coba kita belajar menghargai perasannya. Begitulah seharusnya manusia. Mungkin.***

MEMBACA 'DAWUK' (MAHFUD IKHWAN)

Pada sebuah pagi di warung kopi, Warto Kemplung terus mengoceh tentang kejadian yang belum lama terjadi. Tentang tentara Jepang yang mengepung Pesantren. Dan kemudian ia bercerita tentang Mat Dawuk, seorang pria buruk rupa yang beristri gadis cantik anak seorang ustad, tapi nakal, ialah Inayah.

Karena terlalu nakal, Inayah memutuskan pergi ke Malaysia untuk merantau, di sana ia bertemu dengan laki-laki yang hanya mau diajaknya kawin, tidak menikah. Hingga akhirnya ia berkekasihkan seorang laki-laki yang posesif, laki-laki itu tidak mau diputuskan oleh Inayah, dan ia sudah terlalu sering menyiksa gadis itu.

Dalam keadaan kabur dari lelaki posesif itu, ia bertemu Mat Dawuk, pemuda yang satu desa dengannya di Rembuk Randu. Ia menyelamatkan Inayah dari lelaki posesif itu dan menampungnya di sebuah gubuk di mana Mat Dawuk tinggal. Di sebuah pinggiran hutan di Malaysia. Mat bekerja sebagai pembunuh bayaran, tapi ia berjanji pada Inayah, jika mereka menikah, ia akan berhenti dari pekerjaannya itu. Dari sini, Mat mulai memikirkan masa depan--yang tak pernah dipikirkan sebelumnya.


Rumbuk Randu adalah sebuah desa fiktif yang dikarang penulis. Ia digambarkan berada di tengah hutan di pulau jawa, jauh dari laut dan pertanian. Orang-orang Rumbuk Randu kebanyakan bergantung pada hasil tani di hutan, sebagaian lagi menjadi TKI di Malaysia.

Novel ini sangat kental dengan budaya Jawa. Karakter-karakter yang muncul dengan segala hal magisnya juga sangat berkaitan dengan budaya Jawa.

Alur menuju konflik dalam novel ini dibawa dengan tidak biasa. Pembaca akan terus bertanya-tanya, apakah Mat Dawuk yang diceritakan oleh Warto Kemplung di kedai kopi benar-benar nyata? Atau sebenarnya Warto Kemplung adalah Mat Dawuk?

Dengan cara bercerita yang tidak biasa itu, sebagai pembaca aku merasa tidak bosan. Aku seperti tokoh ‘aku’ di novel ini yang mendengarkan cerita Warto Kampung di sebuah kedai kopi. Cerita dalam buku ini bergaya 1001 malam. Di mana kita merasa didongengi oleh penulis melalui tokoh Warto. Dan itu cukup mengasyikan. Saking asyiknya, kita sampai hampir lupa bahwa cerita yang sedang kita baca adalah sebuah dongeng dari tokoh fiktif juga.

Warto juga terkadang menghentikan ceritanya dan meminta kepada para pendengarnya untuk memberikan kopi dan rokok agar ia melanjutkan ceritanya. Cerita yang begitu detail dan seperti seolah-olah Warto berada di dalam cerita tersebut, membuat para pendengar ceritanya curiga bahwa itu hanya kisah bualan saja, atau memang Warto adalah Mat Dawuk?

Novel ini berfokus kepada emosi mat Dawuk yang seburuk rupa apapun, ia memiliki cinta dan belas kasih kepada istri dan calon anaknya. Namun orang-orang jahat terus berdatangan dalam hidupnya, dan membuatnya murka. Satu sisi kita akan bersimpati kepada Mat Dawuk, sisi lain kita bisa memaafkannya sebagai tokoh yang penuh dosa di masa lalu, sekarang ia adalah lelaki baik-baik.

Masalah dalam novel ini muncul ketika orang-orang tidak setuju dengan pernikahan Mat Dawuk dengan Inayah alias buruk rupa dengan cantik menawan. Keluarga Mat terus terusik dan kita bisa merasakan emosi Mat yang bergejolak. Cerita berhasil dibawa ke tensi yang paling tinggi untuk kemudian turun kembali perlahan. Seru sekali.

Tidak diragukan lagi bagaimana Mahfud Ikhwan menulis, novel pemenang Kasula Sastra Khatulistiwa 2017 ini memang salah satu karya penting dalam perjalanan sastra Indonesia. Setidaknya menurutku.

Saya Mewawancarai 3 Teman Mahasiswa yang Terlibat Demo 24-25 September

Peristiwa turunnya mahasiswa untuk berdemo terkait penolakan RUU KUHP dan revisi UU KPK, tentu akan menjadi suatu peristiwa bersejarah yang akan tercatat. Karena sejak 1998, mahasiswa baru kali ini kembali turun ke jalan untuk menyampaikan aspirasinya dalam gelombang besar. Tentu, mereka mendapat dukungan dari lingkungan sekitar seperti pedagang, pekerja, dan elemen lainnya. Ini menandakan bahwa masyarakat mempercayai mahasiswa sepenuhnya sebagai wakil mereka untuk menyuarakan aspirasi di depan kantor DPR/MPR. Mahasiswa tentu mempunyai waktu dan tenaga yang membara. Berbeda dengan kami para pekerja dan pedagang, waktu kami terbatas, dan harapan kami adalah mahasiswa yang lantang menyuarakan suara rakyat—ketika perwakilan kita yang duduk di Senayan sudah tidak lagi bisa dipercaya.

Saya adalah pekerja, dan teman-teman saya ada yang mahasiswa dan turun ke jalan untuk mewakili saya dan masyarakat lain yang tidak bisa terjun langsung ke lapangan.

sumber gambar: twitter @piokharisma


Khalif merupakan mahasiswa BSI Serpong, ketika ia berangkat dari kampusnya, ia dan teman-temannya sudah didukung oleh para pedagang yang memberi mereka makanan dan minuman secara cuma-cuma. Perjalanan dari kampusnya ke kantor DPR/MPR bukanlah perjalanan pendek, ia dan teman-temannya harus menempuh perjalanan lumayan panjang untuk sampai di tempat tujuan dan panas-panasan hingga bentrok dengan aparat kepolisian.

Mahasiswa semester 4 ini, sudah diwanti-wanti oleh orangtuanya untuk tidak ikut bentrok dan rusuh. Namun Khalif tidak bisa untuk tinggal diam ketika ia benar-benar terjebak pada situasi yang tidak menguntungkan.

“Bukannya mau ikut (rusuh). Tapi ya kejebak gimana. Lari susah,” katanya.

Menurutnya terkait penolakan RUU KUHP, bahwa di RRU tersebut banyak yang mengindikasikan adanya pelanggaran HAM dan mengurusi privasi masyarakat (terlalu jauh) yang seharusnya tidak perlu diatur pemerintah.

Semua pihak dan semua elemen masyarakat dapat memberikan kritik, tapi isi dalam RUU tersebut malah sebaliknya,” katanya.

Saya juga menanyakan hal yang sama kepada Nandya, salah satu mahasiswi Universitas Islam Syekh Yusuf Tangerang. Sebagai seorang mahasiswi baru yang belum genap sebulan kuliah, ia berani turun ke jalan. Padahal kesehariannya ia akui lebih apatis jika sudah menyinggung tentang politik. Namun untuk kali ini, tidak.

“Soalnya ngerasa muak aja dengan segala janji pemerintah. Pas kemarin ngebaca tentang masalah RUU, entah hati ngerasa aneh, kesel, geram ya pokonnya ngerasa kaya sekarang tuh Indonesia engga baik-baik aja, jadi aku memutuskan untuk turun ke jalan,” kata wanita kelahiran 2001 tersebut.

Pengalamannya ketika berada di peristiwa tersebut memang agak membuatnya goyah. Sebab situasi seketika chaos dan para mahasiswi segera untuk dievakuasi menjauh dari depan gedung DPR/MPR. Walau sempat berpencar, akhirnya ia bisa menyatu lagi dengan kelompoknya.

“Banyak kating yang ikut, tapi maba paling ada 10 orang, mungkin,” katanya.  

Sebagai seorang wanita yang masih terbilang muda, ia sempat tidak diizinkan oleh ibunya untuk turun ke jalan, namun sebaliknya, bapaknya mendorongnya untuk turun ke jalan. “Kalau bukan mahasiswa yang turun, mau siapa lagi?” amanat bapaknya.

Nandya adalah adik dari Khalif. Mereka dibesarkan di keluarga yang sama dan mempunyai pandangan yang sama ketika melihat negara sedang tidak beres. Menurut Nandya, Khalif adalah sosok kakak yang sangat cuek dan tidak pernah menanyakan kabarnya. Namun pada hari itu, kakaknya seolah menjadi orang lain. Khalif terus khawatir tentang keberadaan adiknya di tempat kejadian. Ia terus menanyakan bagaimana keadaannya dan mewanti-wanti jangan melalui jalan tertentu karena sedang bentrok.

“Pas udah mulai chaos abangku memang perhatian sih. Selalu nanyain di mana. Keadaannya gimana.  Disuruh stay di situ aja, bareng-bareng sama anak kampus, jangan misah. Pulangnya nanti aja tunggu udah reda, terus dikasih tau kalau mau pulang lewat mana aja biar ngga ketemu polisi,” ceritanya.

Nandya sempat terjebak di komplek GBK bersama teman yang lain hingga malam tiba. Suaranya hampir habis, dan trauma ketika melihat orang beramai-ramai berlarian. Alhasil ia pulang dan sampai di rumah jam setengah 12 malam.

Irzha merupakan mahasiswa tingkat akhir Universitas Bung Karno Jakarta. Ia membagikan pengalamannya ketika kejadian 24-25 September kemarin.

“Pertama kali juga merasakan kena gas air mata berkali-kali dan itu sangat perih, sampai ada mahasiswa jatuh depan saya karena matanya perih sampai tidak bisa dibuka dan saya bantu suruh cuci mukanya dengan air, waktu itu saya ingat kena gas air mata pas nonton persija,” ceritanya.

Sebagai mahasiwa, ia geram ketika ada pihak yang mengatakan bahwa aksi ini ditunggangi atau dibayar. Irzha mengatakan bahwa untuk aksi ini sendiri pun ia harus mengeluarkan uang dari sakunya sendiri.

“Sampai saya sendiri mengeluarkan uang, habis dalam sehari itu dari jam 9 pagi sampai jam 10 malam di hari selasa itu, sekitar 150 ribu. Demo ini atas dasar hati nurani saya yang resah melihat negara ini dan membela bagaimana indonesia ke depannya. Jadi saya ikhlas menghabiskan uang berapa pun untuk membela negara ini,” pungkasnya.

Salah satu teman saya, Ihsan, yang dekat dengan beberapa tokoh politik, memberikan pandangannya terkait situasi saat ini. Pada suatu waktu ia pernah mendapat kesempatan untuk mewawancarai politisi dan masuk ke gedung DPR/MPR untuk mengikuti beberapa acara.

Ia sangat menyayangkan ketika aksi mahasiswa tersebut dibilang oleh beberapa elit sebagai aksi agar kepala negara mundur/turun. Padahal aksi tersebut murni dari keresahan mahasiswa.

Terlepas dari itu semua, di dalam perancangan UU memang tidak mudah, DPR selalu berdebat, untuk menyatukan satu suara memang sulit. Politik itu sendiri memang sulit.

Memang sudah seharusnya politisi muda muncul untuk menetralisir orang-orang tua yang membuat kebijakan dengan tidak mendengarkan rakyat.

“Berpolitik itu bukan hanya menjadi tugas/tanggung jawab orang tua-tua saja, anak muda seperti kita juga harus terlibat di dalamnya,” ungkap Ihsan.
****
Tulisan ini memang tidak sebanding dengan perjuangan para mahasiswa hingga pelajar di lapangan. Jarak tempat tinggal saya menuju kantor DPR/MPR memang tidak terlalu jauh, tapi ada kewajiban yang harus saya kerjakan. Namun saya yakin dan percaya, di pundak-pundak para mahasiswa asa saya berada. Saya bersama kalian, dan suarakan suara kami dengan lantang dan sepenuh hati.

Banggalah kalian menjadi salah satu dari sejarah negeri ini. Karena mendiamkan suatu kesalahan adalah sebuah tindak kejahatan. Begitulah kata pemuda aktivis bernama Soe Hok Gie.***