CINTA PENUH CURIGA

sumber gambar: goggle


Kau kembali menaruh curiga di kepalamu
kepala sebesar biji cabai,
kau begitu sidiknya mencari-cari
segala hal yang barbau tidak pasti.

Kau terlau sering menaruh curiga,
kadang pula lupa menaruhnya di mana
kepalamu terlalu kecil, 
untuk tempatnya.

Curiga adalah biang semua masalah
dan kau memelihara masalah,
tak ada cinta tanpa curiga, Sayangku
cinta kalangan minor sekalipun pasti tahu itu.

Kepalamu bagai mintakulburuj
percaya itu, Sayangku
bukan biji cabai atau apa itu
kau hanya perlu membuka jendela kamarmu.

Berhentilah berkata bahwa itu maumu
berhenti berkata bahwa cinta memang begitu,
Sayangku, percayalah
cinta itu misbah
ia memberi cahaya bagi mereka yang sering merayakannya.


-2016

SIASAT


Kau memintaku untuk menjemput rindu
yang katamu berada di pelupuk mata itu
aku sungguh-sungguh mencari
tapi yang kutemukan hanya tai dan tai.

Aku tidak bohong, itu memang terjadi
percayalah dan berhenti memberi harapan
mau serindu apa pun jika itu hanya untuk menuntaskan dendam
sama saja tai di tanah gersang.

Air hujan mengalir,
bukan urusan kita untuk ikut mencair
kau mencumbuku dan berkata,
“Tuntaskan rindu seperti hujan, setuntas hujan.”

Kau itu air sisa hujan di pohon-pohon
akan mencipta guyur jika digoyang saja
tanpa atas dasar apa-apa.

Benar-benar siasat yang rapi.


-2016

MENANTI KEMATIANNYA

Aku memberimu pena agar kau bisa mengabadikan suaramu
aku memberimu langit untuk melukiskan karya senimu
bahkan kuberikan suaraku untuk lagu ciptaanmu

Tapi, kau menolak semuanya
kau berkata,
“Jika itu atas dasar cinta, jauhkanlah.”

Kau terbang, mencari suara-suara itu
pena-pena itu dan langit putih itu, sendiri ditemani
bayang-bayang mati

Kau menemukan semua itu jelang kematianmu,sosok lelaki di pinggir kali kesepian
kau pun jatuh cinta begitu saja padanya
dan beralasan bahwa cinta mempunyai jalannya sendiri

Kau pergi, terbang dan menemukan
aku masih di sini, di sebuah rindu yang hampir mencapai tepi.


-2016

Taik

Kau adalah bunga yang kusimpan jauh di relung hati
lalu dengan rutin kupetik dan kusimpan kembali
kamu adalah segalanya
segalanya adalah kamu
aku hanya taik yang kaubuang pagi itu di hari Minggu.

-2016

BERHENTILAH MENJADI PELAJAR YANG APATIS

Pasti kalian tahu dong apa itu apatis? Yeah bener banget, apatis seperti yang pernah kita pelajari di PKN, adalah suatu sikap acuh tak acuh, ndak peduli pada suatu hal. Nah, sekarang kamu itu masuk katagori pelajar yang apatis atau aktivis? *kasih kaca *piss..
            Cara mengetahuinya cukup mudah, biasanya pelajar yang apatis itu ndak pernah ikut ekskul dan jarang menyuarakan pendapat di kelas sekalipun. Pelajar aktivis sebaliknya, ia adalah yang mempunyai segudang kesibukan, mengikui ekskul dan sering bersuara di kelas atau antar kelas bahkan antar sekolah.

sumber: goggle


            Kalau gue amati, banyak banget lho pelajar apatis di sekitar kita. Jadi, mereka ini hanya masa bodoh dengan segala hal yang terjadi. Ndak mau ambil pusing masalah uang kas, uang fotocopy, masalah pengurus kelas, dan sebagainya. Padahal kelasnya itu butuh suaranya, siapa tahu pendapatnya bagus dan dapat dipertimbangkan?
            Pernah ndak sih ketemu pelajar yang apatis seperti itu? Terus apa yang kamu pikirkan? Mungkin sebagian dari kita akan jengkel dan merasa gondok liat mereka si apatis. Rasanya pengin ngapain gitu agar mereka ikut bersuara. Tapi kita tahu, itu hak-hak dia. Setiap orang mempunyai hak untuk memilih.
            Tapi (lagi), menjadi pelajar yang apatis bukan pilihan yang tepat. Karena, menjadi pelajar, jika apatis, itu akan disesali ketika tua nanti. Kamu akan berpikir, “Coba ketika menjadi pelajar dulu, gue melakukan ini, melakukan itu.” Dan gue ini bukan orang tipe penyesal seperti itu.
            Tapi (lagi) tetap saja, menjelang kelulusan, gue merasa masih ada hal-hal mengganjal yang belum gue raih. Walaupun gue cukup bisa dibilang pelajar aktif. *pedebanget
            Sebelumnya gue ini juga pelajar apatis kok. Gue baru marasa bukan apatis ketika kelas 8 SMP. Lanjut ketika SMK, gue sungguh getol banget pengin melakukan banyak hal. Tapi itu semua terkendala oleh orang-orang ‘sepemikiran’ yang langka, bahkan ndak ada. Percuma membuat ‘aliansi’ tapi ndak cukup orang. Hingga akhirnya gue cuma bisa melakukan segala hal yang bisa gue lakukan sendiri.

            Menurut gue, pelajar yang acuh tak acuh, bukan warga negara yang baik. Negara ini butuh suara-suara anak-anak muda, negara ini butuh suara beranimu, negara ini butuh pemimpin muda sepertimu, negara ini butuh kita yang peduli terhadap bangsa. Tapi apa boleh buat, gue yakin kok di dalam diri si apatis pasti memiliki rasa peduli, pasti memiliki rasa berani, hanya saja ia ndak mau membuka mulutnya atau mencoba mengisi tinta dari penanya yang cukup lama telah habis.***

PELAJARAN HIDUP SETELAH BACA NOVEL CANTIK ITU LUKA



Ketika malam itu gue baru aja habis mengkhatamkan novel Cantik Itu Luka, entah secara kebetulan atau ada kaitannya, besoknya si penulis masuk nominasi penghargaan internasional: longlist the man booker prize bersama bukunya Lelaki Harimau, ia bersanding dengan penulis sekaliber Orhan Pamuk (pemenang nobel sastra). Dan gue yakin, penulis yang bisa masuk ke nomine ini adalah penulis-penulis hebat. Faktanya, Eka Kurniawan penulis Indonesia yang partama kali bisa mendapat nomine ini. Btw, sengaja gue kasih judul tulisan ini bukan resensi, karena pasti banyak resensi novel ini di luar sana.
            Iya, malam itu gue baru aja melumat habis  novel Cantik Itu Luka. Lumayan lama gue baca buku ini, mungkin bisa sebulan lebih. Gue ndak mau beralasan kenapa bisa selama itu, tapi yang harus kamu ketahui tentang buku ini, halamannya ada banyak, tebel, tulisannya kecil-kecil dan dempet-dempet begitu.
            Tapi, itu semua ndak menganggu gue selaku pembaca. Itu karena memang gaya kepenulisan Eka Kurniawan ndak perlu diragukan lagi. Setiap tutur ia di buku ini, sunggulah berisi, ada nasnya, dan ndak bertele-tele. Jos banget dah.
            Gue baca buku ini kadang sampai larut malam, dan kadang hanya dua menit saja. Faktor ngantuk adalah yang utama. Bukan karena bukunya yang bikin ngantuk, emang guenya aja yang kecapean hari itu. Buku ini sungguh membuat gue takjub, ada banyak pelajaran yang kita dapat dari buku ini. Tegangnya dapet, ngerinya dapet, si anu berdiri juga dapet. Memang ada beberapa adegan nganu di buku ini, tapi gue bisa menilai bahwa si penulis ndak bermaksud untuk fokus pada nganu itu. Nganu hanya pelengkap cerita menurut gue, ya kan tokoh utamanya aja seorang pelacur.
            Ketika dalam perjalanan membaca buku ini, terkadang gue jatuh cinta pada tokohnya. Gue jatuh cinta pada Dewi Ayu, Maya Dewi, Adinda, Alamanda, Nurul Aini, Renganis, dan entah kenapa ndak sama si Cantik. Terkadang pula gue pasang PM atau status dengan nama-nama di atas. Dan beberapa orang akan bertanya, “Alamanda siapa?”
“Dewi Ayu pacar baru lu yah? Yang itu mau dikemanain?”
“Oh.. sekarang sama Adinda…”
Mereka kira yang gue pasang namanya itu adalah orang beneran, padahal itu hanya tokoh fiksi. Sama saja lu masang nama Naruto, ya gitulah. Dan untuk menjawab pertanyaan di atas gue akan menjawab, “Dia seorang pelacur. Adinda anak seorang pelacur.” Dan mereka diam beberapa saat, dan akan sadar, “Oh.. buku ya?”
“Iya, buku, baca deh, seru.”
Akhirnya gue bisa mempromosikan budaya baca. Ngohaha..
Kalian semua pasti sudah tahu, bahwa novel ini sudah diterjemahkan dalam bahasa Malaysia, Jepang dan akan diterbitkan dalam bahasa Iggris. Kalau belum tau, ya harus tau lah. #apasih
            Pas gue baca buku ini, dalam hati gue penasaran sama buku-buku Eka yang lain: Lelaki Harimau, Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas, dan semua buku Eka. Gue sudah terlanjur jatuh cinta sama tulisannya. Tapi masalahnya, gue ndak bisa secepat itu membeli bukunya, perlu uang, dan uang ndak bisa gue dapatkan begitu saja.
*
Gue bisa belajar dari tokoh-tokoh yang Eka ciptakan. Gue belajar untuk mejadi manusia tegar seperti Dewi Ayu, cerdas seperti Kamared Kliwon, dan banyak lagi tokoh yang menginspirasi. Selain itu, gue juga bisa belajar sejarah lewat buku ini. Gue bisa tahu tentang peristiwa G30SPKI lebih detil dan diceritakan dengan enak. Gue bisa tahu masa-masa di penjajahan Jepang sampai agresi Belanda mencekamnya seperti apa, dan banyak lagi.
            Memanglah benar, jika ada orang berkata bahwa belajar ndak harus dari buku pelajaran. Ilmu bisa didapat dari buku-buku novel dan semacamnya.
            Dan berikut adalah kutipan dari novel Cantik Itu Luka yang gue suka banget:
“Aku menyukai laki-laki,” kata Alamanda suatu ketika, “tapi aku lebih suka melihat mereka menangis karena cinta.”
“Patah hati karena kekasih yang cantik? Ha. Ha. Ha. Kuberi kau saran, Nak, carilah kekasih yang buruk rupa. Mereka cenderung tak akan membuatmu terluka.”
“Apakah aku harus jadi anjing agar kau mau menemaniku?” tanya Krisan suatu ketika, di puncak kejengkelannya.“Tak perlu,” kata Ai, “jadilah lelaki sejati, maka aku menyukaimu.”Kalimatnya penuh taka-teki dan sulit dicerna secara langsung, maka Krisan mengeluh pada Rengganis Si Cantik.“Aku ingin menjadi anjing,” katanya.“Itu bagus,” kata Rengganis Si Cantik, “aku sering membayangkan anjing tanpa ekor.”Rengganis Si Cantik tak mungkin diajak serius.
“Seseorang mesti menodongkan senjata ke dahimu,” kata Adinda sebelum ia pulang. “Agar kau mau memikirkan dirimu sendiri.”
“Aku curiga kemaluanmu begitu panjangnya sehingga kau bahkan memerkosa lubang anusmu sendiri.”
“Kawin dengan orang yang tak pernah dicintai jauh lebih buruk dari hidup sebagai pelacur.”
Dunia tengah berubah, kata Kamared Salim. Jerman dan Jepang memiliki kekuatan yang sepadan dengan negara maju mana pun, dan mereka tengah menuntut bagian mereka sendiri.selama ratusan tahun, lebih dari separuh permukaan bumi dikuasai oleh negara-negara Eropa, menjadikannya koloni, mengisap apa pun yang mereka temukan untuk dbawa pulang dan menjadikan mereka kaya raya. Tapi tidak Jerman dan Jepang. Mereka tak kebagian, dan sekarang mereka menuntut bagian. Itulah awal mula semua perang ini, perang di antara negara-negara serakah.

Salah satu kenapa gue bisa baca buku ini adalah ‘rong-rongan’ dari penulis Bernard Batubara. Dia sering banget nulis tentang buku bagus. Mulai dari penulis dalam negeri tapi sering penulis luar negeri. Dan ketika dia bahas tentang buku ini, Cantik Itu Luka, seketika gue tartarik dan dalam hati berkata, “Gue harus baca buku itu! bagaimanapun.”

            Nah, bagi kamu yang belum pernah baca bukunya Eka, segeralah membaca! Dijamin ndak akan menyesal membaca karya yang luar biasa.***

KEBIASAAN DI MALAM MINGGU

Sekarang, detik ini, gue lagi di keramaian. Mereka yang ada di sekitar gue, pastinya mempunyai teman untuk mengobrol, untuk pacaran, untuk diskusi. Gue di antara mereka hanya menikmati suasana.

Di luar sana kendaraan berlalu-lalang, bajai bersuara lantang dan lampu-lampu menyala begitu kemerlapnya. Inilah Jakarta, di mana gue tinggal. Dan mau ndak mau, harus menikmatinya.

*

Dari kosan, gue bingung mau kemana. Hingga akhirnya gue beranikan diri untuk membuka pintu, memakai sandal swalaw dan melangkah pergi. Pergi entah kemana. Ini semacam kebiasaan gue, pergi-pergi ndak jelas begini. Tapi percayalah, ini sangat seru. Terkadang apa yang kita rencanakan pasti sudah terbayang di kepala. Beda jika ndak direncanakan, kita akan menemukan segala hal baru yang belum terbayangkan. Dan hal ini biasa gue lakukan di malam Minggu.

Gue berjalan di jalanan ramai, ada grimis rintik-rintik demikian manja. Tidak pengguna motor dan mobil, mereka begitu arogannya mengendarai. Hampir-hampir gue mau mati ditabrak. Dan itu sudah biasa. Kita hanya tinggal percaya atau tidak pada kematian itu sendiri.

Gue berjalan menuju ATM, dan dilanjutkan ke 7 eleven. Membeli beberapa makanan ringan dan duduk di lantai atas, sendiri dengan tatapan sunyi.

Sekarang di samping kiri gue ada mas-mas dan mbak-mbak ngobrol pake bahasa Jawa. Tampaknya mereka sedang PDKT, yang cowok tukang bangunan dan cewek pembantu rumah tangga. Betapa meriahnya hati mereka, pasti sangat bahagia bisa saling betemu, di samping seorang kesepian, gue.

Sebenernya gue menikmati ini dan sebenernya seperti itu. Gue pernah berpikir: barangkali diri ini memang ditakdirkan untuk sendiri dan sepi, untuk tak mempunyai teman dan apa pun itu. Karena memang orang yang terlalu sering sendiri akan berpikir seperti itu. Tapi sesegera mungkin gue sadar, bahwa gue ndak sendiri, masih banyak orang peduli di luar sana.

Sebelumnya, gue takut untuk keluar tanpa kejelasan-tempat-tujuan. Tapi ya gue berpikir lagi, dunia ini luas, dunia ini memiliki banyak takdir, setiap orang punya takdir, dan siapa tahu gue bisa bertemu dengan orang dalam satu takdir? Siapa tahu?

Rasanya gue pengen bertemu sama lu dan duduk berdua di beranda. Kita mengobrol tentang banyak hal. Mengobrol tentang manusia-manusia yang sudah sedemikian begininya. Dan berbagi pandangan: bagaimana cara hidup yang baik?

Setiap orang pasti bertanya seperti itu. Kita hidup, dan pasti bertanya yang baik seperti apa. Yang taat agama kah? Atau bijimana? Kita pasti punya pandangan yang berbeda, jika kita bertemu dalam satu waktu, pasti akan menemukan titik seru.

Tempat yang gue duduki ini tempat ramai, tempat di mana manusia mencari pembuang waktu. Kita akan temukan penjaja makanan di pinggir jalan putus asa karena ndak ada pembeli. Kita akan menemukan pengemis gaya lama. Kita akan menemukan manusia aneh, mulai dari pakaiannya hingga caranya membalas tatapan kita. Kita akan menemukan orangtua yang mencari nafkah dengan peluhnya bercucuran, entah ia orang baik atau jahat. Kita akan menemukan banyak hal, dan itu semua dimulai dengan keberanian kita membuka pintu dan mulai melangkah. Lihat dunia ini dengan mata dan rasakan hidup ini dengan hati dan mulailah berpikir diri ini di antara banyaknya manusia. Dengan itu kita akan menemukan titik di mana lebih mengenal Tuhan.***