Ke Situgunung Suspension Bridge bareng Explorer.id!


5 Januari 2020 kemarin, aku pergi ke sukabumi, di sukabumi pasti kamu tau kalau ada tempat wisata yang baru-baru ini cukup hits, yang juga jembatan gantung kayu terpanjang yang berada di tengah hutan di Asia Tengara. Selamat datang di Situ Gunung Suspension Bridge!



Dilansir dari situgunungbridge.com, jembatan ini membentang sepanjang 243 meter, dengan lebar 1,8 meter, dan ketinggian 121 meter di atas permukaan tanah. Jembatan ini berlokasi di Taman Wisata Alam Situ Gunung, Sukabumi – Jawa Barat, yang telah menjadi salah satu tempat tujuan wisata selama bertahun-tahun dan merupakan bagian dari Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

Tanggal 9 Maret 2019, tepatnya di hari Sabtu, Situgunung Suspension Bridge diresmikan oleh Menko Bidang Kemaritiman yaitu Bapak Luhut Binsar Pandjaitan dengan acara pemotongan pita dan penandatanganan prasasti.

Untuk kesana, aku menggunakan travel trip dari explorer.id, saat itu lagi ada diskon, dari harga 200k, menjadi 120k saja. Pemesanannya juga gampang, tinggal lewat aplikasi. Ini kali kedua aku jalan-jalan bareng explorer, btw. Yang pertama aku pergi ke Ranca Upas, tulisanya bisa kamu baca di sini: Ke Ranca Upas Bareng Explorer.id

Rombongan kami sekitar  20 orang, termasuk 2 pemandu. Kami berangkat dari Jakarta, Central Park, jam setengah 6 pagi dan sampai tujuan sekitar jam setengah 10-an, padahal estimasi sampai di dinasti adalah jam 11 siang. Selama perjalanan, bus cukup nyaman dan kami diberikan satu botol air mineral. Sempat satu kali berhenti di sebuah SPBU untuk istirahat singkat.

Perjalanan agak macet ketika sampai di jalan Cibadak (pas jalan pulang lebih parah), tapi pagi itu tidak terlalu parah sih, jadi kami masih bisa menghirup udara pagi di tempat wisata yang asri itu.
Sampai di sebuah stasiun, rombongan kami lanjut naik angkot ke tempat wisata. Jalannya memang naik turun, sepertinya memang tidak cocok untuk kendaraan besar. Perjalanan menggunakan angkot tidak terlalu lama, sekitar 7 menit sudah sampai di depan gerbang.

Di depan gerbang, kami diberikan gelang yang adalah tiket masuk ke tempat wisata. Sambil nunggu masuk, ada jajanan di depan yang bisa kamu cobain, seperti cilok dan makanan ringan lainnya.
Kami sangat beruntung, sebab sepanjang hari itu cuaca sangat cerah. Padahal baru-baru ini hujan cukup sering turun.

Pertama kali masuk, kami disambut welcome drink. Welcome drink ini kamu bisa ambil sendiri singkong rebus dan pisang rebus sesukamu dengan alas daun pisang. Minumannya kamu bisa pilih teh atau kopi hangat. Setelah itu kamu berjalan ke teater dan menikmati pagi yang asri ditemani live music khas daerah.

dokumen pribadi

dokumen pribadi

Sebentar di teater, pemandu bilang acara selanjutnya adalah acara bebas, kamu bisa explore tempat wisata ini sesukamu, tapi dengan catatan, jam 3 sore sudah di titik kumpul. Tempat yang cukup terkenal di sini adalah: jembatan gantung, curug sawer, danau situ gunung.

Tak jauh dari teater, aku berjalan ke jembatan panjang ini. Kamu melewati pintu yang harus discan barcode yang ada di gelang, baru bisa terbuka. Kami diberi pengaman dan selanjutnya berjalan di jembatan yang panjang, tinggi, dan bergoyang ini.

Di langkah-langkah awal memang rasanya jembatan begitu tidak seimbang, goyang sana sini. Itu karena banyak wisatawan yang juga berjalan di atas jembatan, namun sampai di tengah, goyangan itu lumayan reda dan kami bisa foto-foto ria.



Pemandu dari explorer dengan senang hati membantumu untuk foto-foto. Dan ya, mereka juga ramah dan menyenangkan. Pemandu di explorer ramah-ramah dan masih muda, btw.
Setelah puas di jembatan, perjalanana selanjutnya adalah curug sawer. Perjalanan dari jembatan tadi agak jauh ya, sekitar 15-20 menit baru sampai di tempat. Jalan yang naik-turun dan terjal cukup menguras tenaga. Tapi semua itu terbayar ketika suara air terjun mulai terdengar dan membasuh muka dengan air dingin itu.

Kamu bisa foto-foto di curug sawer dan bermain di dekat air terjun. Airnya tentu saja jernih dan ya, serasi dengan lingkungan yang masih sangat asri. Aku menghabiskan waktu cukup lama di sini. Sampai sekitar jam 12-an, aku makan siang di sebuah warung yang tidak jauh dari curug. Tentu di suasana seperti ini, makanan apa yang sangat cocok? Ya!Indomie!

curug sawer..

Aku lupa berapa harganya, tapi nanti aku lampirkan di bawah ya.

Setelah dari curug, aku berniat untuk ke danau. Sebenarnya ada ojek yang bisa kamu sewa untuk pergi ke sana. Harga sewa sekitar 15-30k permotor. Tapi karena ini adalah liburan, jadi aku memutuskan untuk jalan kaki saja. Hehe..

Dan ternyata, untuk ke danau, kamu harus jalan kaki ke titik awal! Ya, kamu harus balik lagi ke pintu masuk. Dari pintu masuk ke danau perjalanan sekitar 20 menit. Jalanan cukup sepi dan ada beberapa ekor anjing yang berkeliaran. Tapi sekali lagi, semua itu terbayar ketika kita sampai di danau. Danau yang sekali lagi, asri, dan pemandangan yang memanjakan mata. Ini spot foto yang bagus, tapi sialnya baterai kameraku habis, jadi foto pakai kamera hp saja.



Tak terasa, sudah menjelang jam 3 sore. Kami harus sampai di titik kumpul. Dari titik kumpul kami naik angkot menuju terminal, dari terminal langsung deh ke Jakarta. Dan ya, Cibadak sangat macet! Sangat amat macet! Kami tertahan di sini hampir 2 jam, untuk selanjutnya berhenti di tempat oleh-oleh yang kalau nggak salah ingat namanya Asrgas.

Di sini kami bisa beli oleh-oleh, sholat maghrib, atau makan malam. Di sini ada yang jual bakso murah dan enak. Hanya 12k sudah paket komplit.

Dan setelah itu kami kembali masuk ke bus, perjalanan sangat lancar, dan sampai Jakarta, Central Park, sekitar jam 9 malam.

Kalau boleh aku simpulkan, perjalanan kali ini cukup menyanangkan, dari travel tripnya maupun tempat wisatanya. Tempat wisatanya dikelola dengan baik, terbukti dengan adanya gelang yang ada barcode, dan barcode itu untuk membuka pintu otomatis. Wisatawan juga sudah mulai sadar dengan tidak membuang sampah sembarangan. Kamar mandi di tempat wisata ini juga bersih. Pokoknya tidak ada yang mengecewakan.

Dari pihak explorer juga cukup memuaskan. Hanya dalam 1 aplikasi, kamu bisa chat dengan pemandu dan peserta lain, jadi informasi bisa lebih gampang, tidak usah pakai grup wa yang kadang malah membuat tidak nyaman.

Jadi, ya, kalau kamu tertarik pergi ke tempat wisata ini dengan travel trip explorer, bukan pilihan yang buruk. Dan jika sudah sampai di sana, jangan buang sampah sembarangan ya.. hehe..


Nah ini rincian keuangannya:



Video saya:



BETAPA NIKMATNYA BERKATA KOTOR DAN KASAR

Hampir setiap hari, aku selalu menemukan orang berkata kotor dan kasar. Entah itu secara oral, atau malaui teks. Entah itu kudengar secara langsung, atau di sebuah taks tempur sebuah game. Sampai akhirnya aku berpikir: apa sih yang membuat mereka berkata seperti itu?



Kata-kata kotor dan kasar itu lebih sering datang dari anak-anak dan remaja, apalagi jika mereka sedang bergerembol dengan taman-teman. Seolah kata-kata kotor dan kasar tersebut adalah bumbu dari percakapan mereka yang harus ada. Jika tanpa berkata kotor dan kasar, seperti ada yang hilang dan rasanya hampa.  

Karena penasaran bagaimana rasanya berkata kotor dan kasar yang hampir tiap hari kudengar itu,  aku mencoba untuk berlatih berkata seperti itu, atau setidaknya coba-coba untuk mencari tahu apa sensasinya. Aku mencoba di teks pertempuran game, hasilnya? Aku merasa seperti anak kecil yang masih melihat dunia ini hanya sekadar kembang gula, aku terlihat bodoh, dan seperti tidak punya otak.

Lalu aku mencoba untuk mengucapkannya secara oral, tentu saja tidak di tempat umum. Hasilnya? Itu cukup menyenangkan, malah membuatku merasa lebih dekat dengan orang yang kuajak berkata kasar, kata-kata itu seperti: anjing, bangsat, sialan, kontol, dsb, dsb..

Tentu saja kata-kata itu tidak diambil hati olehnya, juga olehku. Aku hanya sedang mencoba berkata kasar dan mencari sensasi di baliknya. Dan ya, ternyata memang cukup menyenangkan dan nikmat. Seolah segala rasa yang ada di dada bisa diwakilkan oleh kata-kata kasar itu.

Hal itu malah membuatku sadar bahwa aku ternyata mempunyai hati yang cukup kotor. Karena jika memang hati yang bersih, pasti kata-kata yang keluar adalah kata-kata yang baik.

Dan menurutku orang yang doyan berkata kasar sepertinya mereka adalah orang-orang yang bermasalah. Orang yang mempunyai hati yang kotor, berpikir bahwa dunia begitu sempit dan pilihan kata-katanya juga sempit. Jika memang ia sudah dewasa dan berpikir dunia ini lebih luas, maka pilihan kata yang dipilih tentu lebih santun dan enak didengar. Walau tidak semuanya begitu, sih..

Ya, walau di sisi lain, dalam berkomunikasi secara personal di lingkungan, berkata kasar seperti itu cukup membantu dalam hal pertemanan. Terkesan lebih akrab dan saling memahami (mungkin?).

Tapi ya tentu sebagai manusia yang berinteraksi sesama individu setiap harinya, kita seharusnya menghargai lawan bicara kita, lebih dari itu, kita juga harus menghargai orang yang memungkinkan mendengar suara kita. Kita diajari bertahun-tahun tentang sopan santun dan etika. Kita punya norma, punya malu, dan sewajarnya begitu.

Pada akhirnya, berkata kasar hanyalah pilihan bagi mereka yang melihat dunia seolah seperti sebatang sumpit--mereka yang dadanya sempit, sehingga pilihan kata-kata yang keluar adalah kata-kata kasar dan kotor. Yang tidak enak didengar.

Semoga kita terus belajar tentang bagaimana menghargai orang lain, jika sudah, coba kita belajar menghargai perasannya. Begitulah seharusnya manusia. Mungkin.***

MEMBACA 'DAWUK' (MAHFUD IKHWAN)

Pada sebuah pagi di warung kopi, Warto Kemplung terus mengoceh tentang kejadian yang belum lama terjadi. Tentang tentara Jepang yang mengepung Pesantren. Dan kemudian ia bercerita tentang Mat Dawuk, seorang pria buruk rupa yang beristri gadis cantik anak seorang ustad, tapi nakal, ialah Inayah.

Karena terlalu nakal, Inayah memutuskan pergi ke Malaysia untuk merantau, di sana ia bertemu dengan laki-laki yang hanya mau diajaknya kawin, tidak menikah. Hingga akhirnya ia berkekasihkan seorang laki-laki yang posesif, laki-laki itu tidak mau diputuskan oleh Inayah, dan ia sudah terlalu sering menyiksa gadis itu.

Dalam keadaan kabur dari lelaki posesif itu, ia bertemu Mat Dawuk, pemuda yang satu desa dengannya di Rembuk Randu. Ia menyelamatkan Inayah dari lelaki posesif itu dan menampungnya di sebuah gubuk di mana Mat Dawuk tinggal. Di sebuah pinggiran hutan di Malaysia. Mat bekerja sebagai pembunuh bayaran, tapi ia berjanji pada Inayah, jika mereka menikah, ia akan berhenti dari pekerjaannya itu. Dari sini, Mat mulai memikirkan masa depan--yang tak pernah dipikirkan sebelumnya.


Rumbuk Randu adalah sebuah desa fiktif yang dikarang penulis. Ia digambarkan berada di tengah hutan di pulau jawa, jauh dari laut dan pertanian. Orang-orang Rumbuk Randu kebanyakan bergantung pada hasil tani di hutan, sebagaian lagi menjadi TKI di Malaysia.

Novel ini sangat kental dengan budaya Jawa. Karakter-karakter yang muncul dengan segala hal magisnya juga sangat berkaitan dengan budaya Jawa.

Alur menuju konflik dalam novel ini dibawa dengan tidak biasa. Pembaca akan terus bertanya-tanya, apakah Mat Dawuk yang diceritakan oleh Warto Kemplung di kedai kopi benar-benar nyata? Atau sebenarnya Warto Kemplung adalah Mat Dawuk?

Dengan cara bercerita yang tidak biasa itu, sebagai pembaca aku merasa tidak bosan. Aku seperti tokoh ‘aku’ di novel ini yang mendengarkan cerita Warto Kampung di sebuah kedai kopi. Cerita dalam buku ini bergaya 1001 malam. Di mana kita merasa didongengi oleh penulis melalui tokoh Warto. Dan itu cukup mengasyikan. Saking asyiknya, kita sampai hampir lupa bahwa cerita yang sedang kita baca adalah sebuah dongeng dari tokoh fiktif juga.

Warto juga terkadang menghentikan ceritanya dan meminta kepada para pendengarnya untuk memberikan kopi dan rokok agar ia melanjutkan ceritanya. Cerita yang begitu detail dan seperti seolah-olah Warto berada di dalam cerita tersebut, membuat para pendengar ceritanya curiga bahwa itu hanya kisah bualan saja, atau memang Warto adalah Mat Dawuk?

Novel ini berfokus kepada emosi mat Dawuk yang seburuk rupa apapun, ia memiliki cinta dan belas kasih kepada istri dan calon anaknya. Namun orang-orang jahat terus berdatangan dalam hidupnya, dan membuatnya murka. Satu sisi kita akan bersimpati kepada Mat Dawuk, sisi lain kita bisa memaafkannya sebagai tokoh yang penuh dosa di masa lalu, sekarang ia adalah lelaki baik-baik.

Masalah dalam novel ini muncul ketika orang-orang tidak setuju dengan pernikahan Mat Dawuk dengan Inayah alias buruk rupa dengan cantik menawan. Keluarga Mat terus terusik dan kita bisa merasakan emosi Mat yang bergejolak. Cerita berhasil dibawa ke tensi yang paling tinggi untuk kemudian turun kembali perlahan. Seru sekali.

Tidak diragukan lagi bagaimana Mahfud Ikhwan menulis, novel pemenang Kasula Sastra Khatulistiwa 2017 ini memang salah satu karya penting dalam perjalanan sastra Indonesia. Setidaknya menurutku.

Saya Mewawancarai 3 Teman Mahasiswa yang Terlibat Demo 24-25 September

Peristiwa turunnya mahasiswa untuk berdemo terkait penolakan RUU KUHP dan revisi UU KPK, tentu akan menjadi suatu peristiwa bersejarah yang akan tercatat. Karena sejak 1998, mahasiswa baru kali ini kembali turun ke jalan untuk menyampaikan aspirasinya dalam gelombang besar. Tentu, mereka mendapat dukungan dari lingkungan sekitar seperti pedagang, pekerja, dan elemen lainnya. Ini menandakan bahwa masyarakat mempercayai mahasiswa sepenuhnya sebagai wakil mereka untuk menyuarakan aspirasi di depan kantor DPR/MPR. Mahasiswa tentu mempunyai waktu dan tenaga yang membara. Berbeda dengan kami para pekerja dan pedagang, waktu kami terbatas, dan harapan kami adalah mahasiswa yang lantang menyuarakan suara rakyat—ketika perwakilan kita yang duduk di Senayan sudah tidak lagi bisa dipercaya.

Saya adalah pekerja, dan teman-teman saya ada yang mahasiswa dan turun ke jalan untuk mewakili saya dan masyarakat lain yang tidak bisa terjun langsung ke lapangan.

sumber gambar: twitter @piokharisma


Khalif merupakan mahasiswa BSI Serpong, ketika ia berangkat dari kampusnya, ia dan teman-temannya sudah didukung oleh para pedagang yang memberi mereka makanan dan minuman secara cuma-cuma. Perjalanan dari kampusnya ke kantor DPR/MPR bukanlah perjalanan pendek, ia dan teman-temannya harus menempuh perjalanan lumayan panjang untuk sampai di tempat tujuan dan panas-panasan hingga bentrok dengan aparat kepolisian.

Mahasiswa semester 4 ini, sudah diwanti-wanti oleh orangtuanya untuk tidak ikut bentrok dan rusuh. Namun Khalif tidak bisa untuk tinggal diam ketika ia benar-benar terjebak pada situasi yang tidak menguntungkan.

“Bukannya mau ikut (rusuh). Tapi ya kejebak gimana. Lari susah,” katanya.

Menurutnya terkait penolakan RUU KUHP, bahwa di RRU tersebut banyak yang mengindikasikan adanya pelanggaran HAM dan mengurusi privasi masyarakat (terlalu jauh) yang seharusnya tidak perlu diatur pemerintah.

Semua pihak dan semua elemen masyarakat dapat memberikan kritik, tapi isi dalam RUU tersebut malah sebaliknya,” katanya.

Saya juga menanyakan hal yang sama kepada Nandya, salah satu mahasiswi Universitas Islam Syekh Yusuf Tangerang. Sebagai seorang mahasiswi baru yang belum genap sebulan kuliah, ia berani turun ke jalan. Padahal kesehariannya ia akui lebih apatis jika sudah menyinggung tentang politik. Namun untuk kali ini, tidak.

“Soalnya ngerasa muak aja dengan segala janji pemerintah. Pas kemarin ngebaca tentang masalah RUU, entah hati ngerasa aneh, kesel, geram ya pokonnya ngerasa kaya sekarang tuh Indonesia engga baik-baik aja, jadi aku memutuskan untuk turun ke jalan,” kata wanita kelahiran 2001 tersebut.

Pengalamannya ketika berada di peristiwa tersebut memang agak membuatnya goyah. Sebab situasi seketika chaos dan para mahasiswi segera untuk dievakuasi menjauh dari depan gedung DPR/MPR. Walau sempat berpencar, akhirnya ia bisa menyatu lagi dengan kelompoknya.

“Banyak kating yang ikut, tapi maba paling ada 10 orang, mungkin,” katanya.  

Sebagai seorang wanita yang masih terbilang muda, ia sempat tidak diizinkan oleh ibunya untuk turun ke jalan, namun sebaliknya, bapaknya mendorongnya untuk turun ke jalan. “Kalau bukan mahasiswa yang turun, mau siapa lagi?” amanat bapaknya.

Nandya adalah adik dari Khalif. Mereka dibesarkan di keluarga yang sama dan mempunyai pandangan yang sama ketika melihat negara sedang tidak beres. Menurut Nandya, Khalif adalah sosok kakak yang sangat cuek dan tidak pernah menanyakan kabarnya. Namun pada hari itu, kakaknya seolah menjadi orang lain. Khalif terus khawatir tentang keberadaan adiknya di tempat kejadian. Ia terus menanyakan bagaimana keadaannya dan mewanti-wanti jangan melalui jalan tertentu karena sedang bentrok.

“Pas udah mulai chaos abangku memang perhatian sih. Selalu nanyain di mana. Keadaannya gimana.  Disuruh stay di situ aja, bareng-bareng sama anak kampus, jangan misah. Pulangnya nanti aja tunggu udah reda, terus dikasih tau kalau mau pulang lewat mana aja biar ngga ketemu polisi,” ceritanya.

Nandya sempat terjebak di komplek GBK bersama teman yang lain hingga malam tiba. Suaranya hampir habis, dan trauma ketika melihat orang beramai-ramai berlarian. Alhasil ia pulang dan sampai di rumah jam setengah 12 malam.

Irzha merupakan mahasiswa tingkat akhir Universitas Bung Karno Jakarta. Ia membagikan pengalamannya ketika kejadian 24-25 September kemarin.

“Pertama kali juga merasakan kena gas air mata berkali-kali dan itu sangat perih, sampai ada mahasiswa jatuh depan saya karena matanya perih sampai tidak bisa dibuka dan saya bantu suruh cuci mukanya dengan air, waktu itu saya ingat kena gas air mata pas nonton persija,” ceritanya.

Sebagai mahasiwa, ia geram ketika ada pihak yang mengatakan bahwa aksi ini ditunggangi atau dibayar. Irzha mengatakan bahwa untuk aksi ini sendiri pun ia harus mengeluarkan uang dari sakunya sendiri.

“Sampai saya sendiri mengeluarkan uang, habis dalam sehari itu dari jam 9 pagi sampai jam 10 malam di hari selasa itu, sekitar 150 ribu. Demo ini atas dasar hati nurani saya yang resah melihat negara ini dan membela bagaimana indonesia ke depannya. Jadi saya ikhlas menghabiskan uang berapa pun untuk membela negara ini,” pungkasnya.

Salah satu teman saya, Ihsan, yang dekat dengan beberapa tokoh politik, memberikan pandangannya terkait situasi saat ini. Pada suatu waktu ia pernah mendapat kesempatan untuk mewawancarai politisi dan masuk ke gedung DPR/MPR untuk mengikuti beberapa acara.

Ia sangat menyayangkan ketika aksi mahasiswa tersebut dibilang oleh beberapa elit sebagai aksi agar kepala negara mundur/turun. Padahal aksi tersebut murni dari keresahan mahasiswa.

Terlepas dari itu semua, di dalam perancangan UU memang tidak mudah, DPR selalu berdebat, untuk menyatukan satu suara memang sulit. Politik itu sendiri memang sulit.

Memang sudah seharusnya politisi muda muncul untuk menetralisir orang-orang tua yang membuat kebijakan dengan tidak mendengarkan rakyat.

“Berpolitik itu bukan hanya menjadi tugas/tanggung jawab orang tua-tua saja, anak muda seperti kita juga harus terlibat di dalamnya,” ungkap Ihsan.
****
Tulisan ini memang tidak sebanding dengan perjuangan para mahasiswa hingga pelajar di lapangan. Jarak tempat tinggal saya menuju kantor DPR/MPR memang tidak terlalu jauh, tapi ada kewajiban yang harus saya kerjakan. Namun saya yakin dan percaya, di pundak-pundak para mahasiswa asa saya berada. Saya bersama kalian, dan suarakan suara kami dengan lantang dan sepenuh hati.

Banggalah kalian menjadi salah satu dari sejarah negeri ini. Karena mendiamkan suatu kesalahan adalah sebuah tindak kejahatan. Begitulah kata pemuda aktivis bernama Soe Hok Gie.***

Membaca 'Riwayat Hidup Sebuah Pistol di Kawasan Mulholland Drive' (Aris Rahman P. Putra)


Pernah aku berpikir, jika suatu saat nanti penulis Indonesia yang namanya sudah besar saat ini,  pada suatu saat nanti meninggal dunia, siapa yang menggantikan posisi mereka? Apakah ada seseorang pada saat ini yang mempunyai kriteria yang setidaknya mendekati bagaimana penulis besar tersebut berkarya? Apakah nama-nama itu akan terus ajeg di sana dan tak tergantikan?

Tentu saja ini masalah karya, karya penulis besar di atas tentu saja tidak akan mati. Namun, pertanyaannya adalah, apakah di masa depan nanti ada karya yang bisa menggeser itu dari karya penulis masa sekarang?  

Belakangan ini aku kenal dan membaca karya-karya teman yang masih berusia muda. Mereka menulis dan berdedikasi tinggi akan itu. Dan aku kembali bertanya, apakah suatu saat nama mereka akan besar dan menggeser nama yang sudah ada?



Aku baru saja membaca sebuah buku kumpulan cerpen seorang teman. Kami satu almamater di Kampus Fiksi walau berbeda angkatan. Namanya Aris. Dilihat dari akun media sosialnya dapat kita simpulkan bahwa orang ini agak nyeleneh. Ia menulis kontol, peju, meracap, dan sebagainya  sebagai sebuah puisi. Tapi di sisi lain, karyanya juga sering dimuat di media online ataupun koran.
Dan beberapa karyanya itu dikumpulkan dalam sebuah buku yang berjudul ‘Riwayat Hidup Sebuah Pistol di Kawasan Mulholland Drive’. Judul tersebut diambil dari salah satu cerpen yang mungkin menjadi kebanggan si penulis.

Tulisan Aris di buku ini tentu saja sangat berbeda dengan tulisannya di akun media sosialnya. Di sini ia tampak serius dan dengan lihai merangkai cerita. Beberapa kali kamu akan menemukan sebuah kota fiksi, raja fiksi, dan segala hal fiksi lainnya. Ia agaknya ogah menulis karya fiksi yang mengambil latar belakang dari tempat yang nyata. Fiksi pokoknya harus fiksi!

Ia menulis tentang Pangeran Airlangga yang bukan Pangeran Airlangga. Ia mengarang sendiri tentang Pangeran tersebut, di mana sebuah Kerajaan Mengkudu Sepet akhirnya disebut, Ratu Sri Bhuwana Tunggal Tangga Mlaku, Pati Gajah Mungkur. Nama-nama itu dibuatnya menjadi sebuah fiksi yang, tentu saja kita tahu diambil dari kisah serius namun di sini ia selewengkan menjadi sebuah lelucon. Mengawinkan dua hal tersebut memang bukan hal mudah.

Cerpen yang menjad favoritku di sini adalah ‘Pada Malam Hari, Hal-Hal Ini Terjadi.’ Ia bercerita tentang pemuda yang bangun dari tidur karena mendangar sebuah alarm. Kata si narator, jika hal itu terjadi (bunyi alarm itu), maka ada dua kemungkinan. Kemudian kedua kemungkinan itu dijabarkan narator sehingga kita lupa bahwa itu hanya ‘kemungkinan’, bukan apa-apa. Padahal pembaca sudah dibawa kepada suasana seakan itu cerita yang berjalan. Dengan entangnya penulis menulis begini di akhir cerpen: Dan memang pada kenyataannya itu hanyalah sebuah alarm dan bukan yang lain-lain. Kurang ajar!

Cara bercerita seperti ini, yang membuat pembaca tersentak merupakan hal yang dicari kenapa kita membaca sebuah buku. Selain untuk menghibur diri, hal-hal yang tidak pernah kita temukan sebelumnya seperti tekhnik bercerita, cerita itu sendiri, dan pengolahan emosi merupakan sisi lain dari alasan kenapa kita mau meluangkan waktu untuk membaca.

Aris melalui buku ini tentu saja bisa dibilang mampu membuat napsu membacaku terpenuhi. Bobot tulisannya juga perlu diperhitungkan dan disejajarkan dengan penulis lain. Karena ketika aku membaca tulisannya, aku seperti belum mengenal orang ini. Benar kata orang, karya dan sosok penulisnya adalah dua hal yang berbeda. Jika kita menyukai karyanya, belum tentu kita menyukasi penulisnya, begitu juga sebaliknya. Dan memang, sebelum membaca sebuah buku, alangkah baiknya kita tak perlu mengenal lebih dekat dengan si penulis. Biarkan karya tersebut berdiri sendiri.***

Pengalaman Beli Buku Murah di Pasar Kenari


Ini kali pertama buatku datang ke Jakbook yang berada di lantai 3 pasar Kenari Jakarta. Setelah peresmian, tempat ini sepi pengunjung. Hingga akhirnya ada seorang yang mengupload bagaimana situasi di Jakbook tersebut yang, ada ruang baca yang bagus, tempat ngopi, dan buku-buku murah—kemudian mulai banyak orang yang berdatangan.

Aku datang pada hari Minggu sekitar jam 3 sore. Ya, ini adalah sebuah pasar, ketika aku masuk, situasi begitu sepi, semua kios tutup. Menaiki eskalator yang mirip seperti di film horor, akhirnya aku sampai di lantai 3 dan mencium aroma-aroma kertas yang khas.

Ruangan ber-ac, ada petugas kebersihan dan keamanan yang terlihat di sana-sini. Tujuanku kemudian tertuju pada ruang baca yang berada di samping (semacam) coffee corner. Di sana tempatnya nyaman dan cocok banget untuk anak-anak muda nongkrong. Setelah melihat-lihat sekitar, aku tidak bisa menahan napsu untuk berkeliling mencari buku, yang siapa tahu cocok.

Selamat datang di lantai 3 pasar kenari..

Baru pertama mampir, aku sudah dikejutkan begitu saja. Aku melihat buku-buku novel dan nonfiksi terjejer meninggi di tembok-tembok. Mataku mencari-cari di bagian sastra dan akhirnya aku menemukan buku yang sudah lama kuidamkan: One Hundred Years of Solitude, Gabriel Garcia Marquez.

Hal itu semakin membuatku terkejut ketika penjual berkata: dijual setengah harga aja. Wah, kebetulan dong! Maka tak kusia-siakan untuk mengobrak-ngabrik lapak jual buku ini. Dan kutemukan buku lainnya yang tidak kalah menarik karya kepala suku Mojok: Seorang Pria yang Keluar dari Rumah, Phutut EA.

Yang membuatku agak sedih adalah, di sini juga menjual buku bajakan, buku ini dijual sangat murah. Ketika aku bertanya darimana buku-buku ini ia dapat, si penjual menjawab bahwa ia membeli dari satu orang ke orang lain, jadi tidak  hanya dari 1 distributor, ketika aku tanya apakah orang ini adalah orang dalam di sebuah penerbit, ia jawab tidak tahu. Kok bisa ya buku bagus ini dijual setengah harga saja! Gila emang.



Jadi, di tempat ini ada kios-kios yang menjual buku bekas dan baru. Ketika kulihat sekilas, buku-buku ada yang berbau politik, buku tutorial, panduan membuat apa, dan sebagainya.

Menilik ke bagian lain, aku menemukan toko semacam Gramedia. Di sini buku-buku sangat lengkap, dari agama, hobi, fiksi, dan sebagainya. Ini toko buku mengadopsi Gramedia, tapi bukan Gramedia. Di sini, aku menemukan beberapa buku bagus juga, walau ya.. di bagian novel bisa dibilang tidak terlalu update.

Ketika menuju kasir, aku kembali terkejut, bahwa buku-buku yang kubeli ini ternyata mendapat diskon 20%. Aku tidak tahu dari mana diskon itu, tahu-tahu ada saja. Mau nanya ke kasir, malu.
Di bagian lain, kamu akan menemukan semacam kantin, katika aku lihat mereka sudah pada tutup, jadi kita skip aja. Selain kantin, juga ada semacam mini market. Mereka menjual makanan ringan dan minuman seperti mini market pada umumnya.


Di sampingnya, ada sebuah tempat yang digunakan untuk semacam kursus atau seminar. Tempatnya bagus banget, beneran deh. Sebelahnya lagi ada PAUD.

Menghabiskan waktu kurang lebih 2 jam di tempat ini, membuatku merasa senang. Senang karena mendapat buku murah, senang karena tempatnya nyaman dan keren.


Melihat bagaimana pemerintah dapat membangun literasi masyarakatnya dengan langkah seperti ini, membuatku optimis bahwa ke depan akan ada terobosan lain. Jika membuat tempat sekeren ini saja bisa, barangkali ke depan akan ada dobrakan baru di sektor litarasi.

Kita semua sadar bahwa literasi begitu penting bagi suatu bangsa, dan aku harap, pemerintah dapat lebih serius lagi melihat ke arah ini. Semoga.***


MEMBACA 'SEPERTI RODA BERPUTAR' (RUSDI MATHARI)

Buku kecil ini aku dapatkan gratis ketika membeli paket buku di penerbit Mojok. Walaupun kecil, isinya begitu menggugah. Salah satu kalimat yang terus teringat di kepalaku: Tidakkah selain kelahiran, salah satu perayaan terbesar manusia adalah kematian?

Pada dasarnya, tulisan ini adalah tentang bagaimana Cak Rusdi, wartawan dan penulis senior Indonesia, melawan kanker dalam tubuhnya. Ketika orang biasa menulis dengan duduk di depan layar laptop atau komputer, Cak Rusdi tidak. Karena dalam keadaan sakit, ia menulis dengan handphone, bahkan mengirimkan tulisannya ke Mojok melalui pesan whatsapp.


Saat itu ia, dia hanya bisa mengandalkan telepon genggam untuk menulis. Tangan kirinya memegang telepon genggam, jempol kanan dia gunakan untuk mengetik.

Walau dalam keadaan di mana nyawa dipertaruhkan, ia tetap ingin terus menulis, menyampaikan gagasan.

Saya belum akan mati dan mudah-mudahan bisa menebus semua kesalahan dan alpa saya kepada Anda semua. Dan memang saya belum akan mati. Saya hanya sedang merayakan pertemanan saya dengan kawan-kawan baru saya, yang rupanya selama ini begitu setia menunggu untuk mejadi kawan saya: tumor-tumor itu.

 Dari beberapa buku yang sudah aku baca, ini salah satu buku yang paling bisa merasuk hati dan membuat nelangsa. Kamu akan merasakan bagaimana seseorang bertahan dengan harapan masih bisa hidup esok dengan keadaan seadanya. Ia berusaha sebisanya, Cak Rusdi menggunakan BPJS dan melalui prosedur yang sangat lama. Bahkan untuk foto rontgen, ia harus menunggu beberapa minggu.
Hingga akhirnya ia terlambat tahu bahwa tumor di dalam tubuhnya sudah stadium akhir. Dalam proses itu, ia bertemu dengan orang-orang yang setia membantunya. Mulai dari perawatan rumah sakit hingga orang-orang yang menunggunya di ranjang.

Phutut Ea, ketua suku Mojok, di Epilog buku ini dalam tajuk ‘Siapakah kita jika suatu saat Sakit dalam waktu yang panjang?’ mengatakan bahwa coba kita pertanyakan kembali tabungan sosial apa yang sudah kita lakukan, sehingga orang-orang akan membantu kita ketika sakit? Mungkin, kita tak seberuntung Rusdi Mathari, yang dengan mudahnya mendapat uluran tangan dari berbagai penjuru.

Melalui buku yang menguras emosi ini—sebuah buku yang ditulis oleh orang yang mau meninggal memang mempunyai ‘aroma’ yang berbeda. Kalimat demi kalimat yang kita baca seakan adalah suara bisikan dari dimensi lain yang membuat kita berpikir ulang: bahwa kita suatu saat juga akan mati. Suatu hal yang sering manusia lupakan.

Semoga Cak Rusdi tenang di sana, karyanya selalu hidup di hati kita.