KE UBUD SENDIRIAN: MOTOR-MOTORAN DI BALI #2





Ketika aku masih kecil (kamu bisa membayangkan bocah ingusan dengan rambut gondrong tak terawat), jika ada pesawat lewat, aku dan teman-temanku akan bernyayi bersama sambil lari-larian. Bunyi nyayian itu begini.


''Motor mabur ndaluk duite, ora ulih sogok silite!''


Ya, itu cukup menggelikan memang (jika kamu tahu artinya). Dan ketika aku menanyayikan itu dengan teriakan lantang, aku juga berharap dari pantat pesawat itu mengeluarkan duit. Entahlah, itu yang aku pikirkan dan sampai sekarang aku ndak pernah dapati pantat pesawat mengeluarkan duit.
Saat itu juga, aku kepengin naik pesawat. Bagaimana rasanya terbang bersama burung besi itu, ya? Ya, itu sangat membuat aku penasaran. Dan akhirnya rasa penasaran itu sudah lunas ketika aku terbang ke Bali. Dan sebenernya aku juga penasaran dengan Bali itu sendiri, terutama hal itu muncul ketika saya ketagihan nonton FTV.
Jadi, waktu itu malam hari, aku take off dari bandara Soekarno-Hatta. Aku sendirian, dan aku sudah terlatih dalam kondisi seperti ini. Aku take off jam sembilan lewat. Ketika aku sudah masuk pesawat dan disambut mb pramugari yang cantik itu lalu menemukan tempat duduk yang ternyata berada di samping jedela, aku mulai deg-degan.

di Bandara..

Ternyata, ketika pesawat akan terbang, di sebelahku tidak ada yang menempati, kosong, dan di sebelahnya lagi ada bule, cowok sih. Selama perjalanan aku ndak ngobrol sama si bule ini, andai aku ngobrol, pasti paragraf ini jadi lebih panjang :3
Oya, ternyata dengan menggunakan surat keterangan bahwa KTP sedang diproses bisa untuk naik pesawat terbang. Setelah aku baca-baca, yang penting tuh bukti identitas yang ada fotomu di sana. Dan surat keterangan itu memenuhi kriteria itu, walau aku sangat deg-degan-parah pas dicek petugas. 
 
Duduk anteng-penuh-tegang


aku baca ginian di pesawat, tentang hantu-hantu di asia tengara. hooo~



***

Satu hal yang terpenting katika kamu akan pergi ke Bali adalah transportasi apa yang akan kamu gunakan selama di sana. Bali terkenal dengan minimnya angkutan umum, dan banyak rental kendaraan. Dan tentu saja aku memikirkan hal itu sebelum berangkat ke Bali. Aku berselancar di internet dan menemukan rekomendasi rental motor yang pas.
          Rental motor Mas Bayu, itulah namanya. Sesampainya aku di Bandara Ngurah Rai Bali, aku langsung menghubungi Mas Bayu untuk mengkonfirmasi penyewaan kendaraannya. Sebelumnya aku harus nyari colokan karena batrai hpku lowbet. Mencari colokan tidaklah mudah, aku sempat diberi tahu satpam untuk cas hp di colokan di pojokan sana, tapi ternyata ketika aku hampiri, sudah ada Mas-mas asyik dengan handphone-nya (yang lagi dicas) sambil tiduran, sudah seperti di kontrakan saja.
          “Mas, colokannya bisa ya di situ?” kataku basa-basi.
          “Eh, iya, bisa,” jawabnya setelah bangun dari posisi tidurnya.
          “Sudah penuh, Mas?”
          “Belum, baru aja ngecas.”
          Dan aku langsung berpikir untuk pergi dari situ segera.
          Akhirnya aku balik ke satpam, di sana aku melihat kabel rool yang ada beberapa colokan nganggur. Aku memberikan kode agar bisa ngecas di sana, dan satpam-muda itu mengerti, akhirnya aku mengecas hpku di sana dan menunggunya di tempat duduk sambil tiduran. 

Di sini~


          Ini sudah jam 2 pagi, aku ndak menyewa hotel dan semacamnya. Aku berpikir bahwa waktu efektifku di Bali hanya sehari, jadi untuk apa menyewa hotel, tidur di bandara bukan pilihan buruk. Bilang aja ndak punya duit buat nyewa hotel, Ki..
          Setelah kiranya hpku cukup batrai, aku mengambilnya dan berterima kasih pada sang satpam-muda. Setelah itu aku pergi ke mushola dan berniat tidur di sana. Tapi aku urungkan niatku itu ketika aku baru saja sampai pintu mushola, aku melihat beberapa tentara tidur di sana. Mereka tidur dengan masing-masing memeluk senjata laras panjang. Itu cukup membuatku begidik. Bagaimana nanti jika tentara itu ndak sadar mengeluarkan peluru dari senjata mereka dan mengenai aku? Bisa mati dong. Aku belum kawin nikah~

btw ini di bandara ngurah rai pas aku mau pulang ke jakarta. bandaranya keren, deket banget sama laut.

          Jadi aku tidur di ruang tunggu, ada beberapa orang yang senasib denganku. Dan ini ndak terlalu buruk, cuacanya enak, dan tempatnya bersih. Aku tidur nyenyak, waktu itu sekira jam 3 aku baru bisa tidur dan bangun jam 5.
          Setelah menunaikan kewajiban, aku bersiap keluar bandara menuju tempat perjanjian aku dan Mas Bayu prihal penyewaan motor. Kami memutuskan bertemu di gazebo parkiran, masih di komplek bandara. Mas Bayu mengutus temannya bernama Mas Fajar. Ia memberitahuku lewat whatsapp.
          Setelah menunggu agak lama di gazebo, dan agak merinding karena ada anjing berkeliaran, akhirnya aku bertemu Mas Fajar. Ia sangat ramah kepadaku.
          “Mas yang nyewa motor?”
          “Iya.”
          “Ikut saya, Mas.”
          Dan aku mengikutinya, ternyata motor-motor sewaannya ada di parkiran itu, tapi tempatnya di pojokan sana dan sepi. Aku di bawa ke tempat pojokan dan sepi sama Mas Fajar. Aku ndak mau berpikir buruk.
          “Masnya sendirian?” tanyanya.
          “Iya sendiri.”
          Ia seperti ndak percaya bahwa lelaki jantan ini datang ke Bali sendirian. Ndak mengapa, ia mungkin meragukanku, ia belum tahu saja siapa aku. Hahaha..

motor yang kusewa~


          Setelah tanda tangan dan memberikan foto kopi identitas, dan pastinya kasih duit buat penyewaan, aku diberi kunci motor, jas hujan dan STNK. Aku sempat bertanya padanya di mana itu  Sangginan, ia jawab ndak tahu. Dari sini aku tahu bahwa Sanggingan bukan tempat yang dekat dari bandara. Hm..
          Sekira jam 7 lewat aku membawa si metik beat ini ke jalan raya. Jangan kautanya keahilanku naik motor, walau aku ndak punya motor, aku bisa naik motor. Tapi satu hal, aku sama sekali ndak tahu kemana harus pergi. Ini Bali, cuy~
          Aku percaya instingku begitu kuat, sebagaimana aku bisa tahu bahwa perempuan itu jodohku. Aku mengebut si metik melewati jalan raya dan mampir ke pom bensin sebentar untuk mengisi bensin untuk jaga-jaga nantinya. Ndak jauh dari pom bensin itu, ada yang jualan susu. Kebetulan, siapa tahu tukang susu itu tahu tempat di mana tujuanku.
          Aku memesan susunya (kumohon jangan salah paham), ia Mas-mas dan logat bicara kental banget, ia orang jawa. Ia ndak tahu di mana tempat tujuanku, maka aku bertanya ke orang lain di sekitar situ. Aku bertanya pada seorang om-om di mobil, ia sedang makan, aku ndak enak mengganggunya.

mari nyusu~



          Aku mengeluarkan buku kecil yang sedari awal aku selipkan di ‘saku’ motor dekat stang, dan bertanya tempat tujuanku. Di buku itu memang sudah ada ‘tutorial’ untuk mencapai tujuanku, tapi bagaimanapun teori ndak semudah itu jika dipraktikan di lapangan.
          Aku mulai bertanya dan ia menjelaskan panjang lebar. Aku ndak bisa mengingat semua apa yang dikatakannya.
          “Kira-kira makan waktu 2 jam-anlah kalo lancar,” katanya. Dua jam? Ah itu ndak terlalu buruk, aku bisa sampai di tempat dalam waktu satu jam, hahaha..
          Tapi nyatanya, setelah keluar dari komplek pom bensin itu, aku kembali ling-lung, aku bertanya dan bertanya. Pantatku mulai panas dan matahari di atas sana juga sudah mulai membara.
          Aku melewati jalan di Bali rasanya ndak seperti di Jakarta atau di kampungku Cilacap. Di Bali, aku sering mencium wangi bunga yang khas, dan itu membuatku rindu untuk balik lagi ke sana. Wangi bunga itu semakin diperindah dengan pemandangan sekitar. Orang-orang jalan kaki dengan tenang, pakaian adat banyak digunakan warga, dan bule-bule dengan pakaian mini yang menyegarkan mata. Amat khas, ini Bali!
          Aku terus melaju si metik, aku juga terus bertanya hampir di setiap pengkolan. Aku bertanya pada satpam, penjual bunga, mas-mas ketemu di alfamart, dan banyak lagi. Ada banyak orang yang aku tanyai, dan hal yang aku sadar, bahwa logat mereka sangat asing di kepalaku.
          Ini logat orang Bali, Oh Tuhan, makin terasa saja rasa cintaku pada negeri ini. Sungguh merugi orang Indonesia yang belum pernah ke Bali. Tiba-tiba aku memikirkan itu.
          Seseorang yang kutanya tempat tujuanku menjawab seperti ini,
          “Ini masih jauh, Mas, Ubud itu tengah-tengahnya Bali, Denpasar itu pinggiran Bali. Masih jauh, Mas hati-hati saja ya.” Lalu terlihat di wajahnya sebuah keraguan bahwa lelaki ini akan sampa di tujuan. Huh.
          Tapi nyatanya aku bisa sampai di tempat tujuan. Aku terus melaju si metik tanpa ampun, aku melewati jalan besar dan jalan kecil. Semuanya aku lewati dan harus tetap fokus supaya ndak jatuh. 

aku sempat mampir ke taman ini, luas banget dan suasananya enyak~

          Akhirnya aku sampai juga di Ubud, aku melewati pasar Sukawati dan beberapa tempat terkenal lainnya. Tapi ya itu, hanya melewati, mungkin suatu saat nanti aku bisa mampir ke sana.
          Aku sampai di pasar Ubud dan banyak orang di sini, ndak seramai di Denpasar, pikirku. Bule-bule makin banyak, dan orang-orang terlihat begitu sibuk dengan kesibukannya masing-masing.
          Aku melewati jalan monkey forest, aku sempat kaget karena banyaknya monyet di jalanan. Aku harus hati-hati supaya ndak menabrak mereka.
          Sampailah aku di Sanggingan, Ubud. Agak telat, aku ndak sempat melihat SGA di pembukaan, tapi sebagai gantinya, aku sempat datang di sesi Eka Kurniawan dan Desy Anwar.
          Setelah sampai di Sanggingan, aku ke museum Neka. Di Sanggingan ini, Taman Baca, aku mendapatkan id card dan buku program. Aku sempat keliling di situ dan menemukan banyak orang dan pemandangan indah. Aku masih belum percaya bahwa aku sampai juga di tempat tujuanku. Hahaha..

foto-foto

 Bersambung ~> BERTEMU EKA KURNIAWAN

KE UBUD SENDIRIAN: IDENTITAS #1


Seorang teman facebook pernah mengira bahwa aku ini berumur 23 tahun. Padahal aku masih 17. Aku dengan teman facebook itu belum pernah bertemu. Barangkali anggapannya itu timbul karena melihat profil facebook-ku dan segala isinya, kontennya yang, mungkin berbau dewasa. Mungkin…



 
          Salah satu hal yang mungkin berbau dewasa, adalah bepergian jauh sendirian. Aku belum lama ini, 26 Oktober, pergi ke Ubud sendirian, tidak ada teman dan dengan membawa uang seadanya.
          Itu juga kali pertama bagiku naik pesawat, dan sebelum naik pesawat, aku mempelajari bagaimana caranya untuk masuk bandara dan sebagainya yang, kalau kulihat di televisi, begitu ketat.
          Sialnya, untuk masuk bandara harus memiliki KTP, dan aku sudah bikin KTP tapi belum jadi, aku hanya punya surat pernyataan bahwa KTP lagi diproses. Jadi aku menggunakan itu untuk masuk bandara. Sebelumnya aku agak ragu bisa masuk bandara hanya menggunakan itu. Jadi, sebelum berangkat, aku membawa akta, KK, ijazah, sampai SKCK. Serius. Aku lakukan ini untuk mencegah hal yang tidak dinginginkan tentu saja. 

sebuah persiapan.

          Aku take off jam 9 malam lewat, sempat aku mau berangkat jam 8 pagi dari kosan. Tapi aku pikir itu terlalu dini, tapi di sisi lain aku takut nanti ada masalah dengan identitasku dan harus melakukan beberapa proses untuk itu—karena aku tidak punya KTP. Akhirnya aku putuskan berangkat jam 12 siang, setelah duhur, setelah makan siang di warteg. Naik grab dan turun di Manggadua Square, di sana ada shulter bus bandara. Aku baru tahu bahwa di tempat ini bus bandara.
          Dari Mangga Dua menuju bandara soekarno-hatta memakan waktu 40-an menit. Itu cukup cepat, karena biasanya harus memakan waktu 1 jam-an bahkan lebih. Untung sebelum terbang, aku sudah searching banyak-banyak di internet, termasuk di mana terminal maskapai yang aku pakai nanti. Jadi aku turun terakhir dari bus, tanya sana-sini dan masuk di ruang tunggu. 

Di mangga dua~

          Sebelum itu, aku ceck-in secara mandiri. Jadi kaya disediain mesin gitu untuk ceck-in, jadi bisa pake scane atau memasukan kode booking untuk mencetak tiket boarding pass. Dan ketika aku ceck-in, ada seorang bapak di sampingku tampak kesulitan di depan mesin ceck-in. Aku  membantunya, tapi tidak bisa, sepertinya ada masalah yang aku tidak tahu.
          “Bapak tanya petugas saja.”
          “Oh iya, terima kasih.”
          Logatnya begitu asing di telingaku, di tiket yang dia pegang, dia akan terbang ke Malaysia.
          “Bapak dari Malaysia?” tanyaku sebelum kami berpisah.
          “Iya.”
          Perkiraanku benar.    

***
Sial, mungkin karena terlalu panik atau apa, aku tidak membawa air minum. Jadi aku membeli air minum di bandara, dan harganya 11 ribu, iya 11 ribu! Padahal itu cuma air putih dalam kemasan, tapi mungkin karena ini di bandara jadi harganya mahal ya. Saya sempat kaget ketika aku bertanya harga air ini berapa dan masnya bilang sebelas ribu, ketika itu aku kelimpungan dan seketika mual. Ndak nyangka aja, yang biasanya cuma tiga ribu, jadi sebelas ribu, berapa kali lipat tuh..
          Ditambah ketika aku memberikan uangnya berupa ceban dan dua ribuan, dan masnya nanya apa aku punya seribuan, aku jawab ndak punya, firasatku mulai ndak enak, lama kemudian aku bilang,
          “Yaudah, ngga apa-apa.” Sambil senyum, dan aku curiga apa yang masnya lihat ketika aku senyum, mungkin itu sebuah wajah yang penuh dendam.
          Jadi intinya kukatakan padamu bahwa aku masih berumur 17 tahun, bukan 23 tahun, dan 16 November nanti aku berumur 18, aku berharap nanti ada yang memberi kado satu pak beng-beng. Serius.

Bersambung~> MOTOR-MOTORAN DI BALI


KAMPUS FIKSI ROADSHOW JAKARTA YANG SAYA SANGAT TUNGGU





Sejauh yang saya tahu, Kampus Fiksi adalah  komunitas kepenulisan paling konsisten dan terus memberikan kontribusi nyata terhadap dunia literasi Indonesia. Lebih jauh, penerbit Diva Press yang menaungi Kampus Fiksi, adalah sebuah penerbit yang tak ada habisnya memberikan bukti cinta nyatanya terhadap orang-orang yang mencintai baca-tulis di Indonesia.
          Bahkan kabar terakhir, Penerbit Diva Prees membuka penerbit indienya, dan di samping itu, ada juga media online yang memuat karya dengan honor yang bersaing.
          Pak Edi Mulyono adalah orang di balik semua ini. Saya sangat kagum dengan beliau. Beliau melakukan ini semua didasari cintanya terhadap dunia literasi. Ia berani merugi, dan mungkin tak terlalu berharap keuntungan.
          Selama ini juga saya memantau komunitas, penerbit, media online dan orang di balik semua itu, lewat internet. Maka ketika ada info bahwa ada roadshow kampus fiksi di Jakarta, saya langsung girang. Apalagi acaranya digelar di Gramedia Matraman, toko buku paling besar dan yang paling sering saya kunjungi. 
 
Semua peserta yang hadir mendapatkan tas, buku, dan snack, gratis!

          Acara ini digelar pada Minggu 6 November pagi sampai sore, saya merasakan atmosfer hangat ketika sampai di ruangan acara. Saya melihat orang-orang di sini kebanyakan mereka anak kuliahan, dan mereka begitu antusias dalam mengikuti acara, bahkan ada yang datang dari luar daerah.
          Dan Pak Edi, selaku pemateri bilang bahwa orang yang datang ke acara ini (setidaknya) adalah orang yang ingin belajar indah dalam berbahasa, dan itu tepat sekali. Berbahasa dengan indah adalah idaman banyak orang. Dan untuk mendapatkan keahlian itu, saya kira sangat sulit, butuh latihan dan menghadiri acara seperti ini, tentu saja.
          Ada banyak hal yang disampaikan oleh Pak Edi dalam presentasinya yang panjang. Dan yang paling melekat di kepala saya adalah pernyataannya tentang kedalaman batin seseorang sangat berpengaruh dalam karyanya. Dan itu membuat saya berpikir, sedalam apa saya bisa merasakan batin saya sendiri?

sepatu, sandal para peserta yang hadir. ramai~

          Orang-orang yang mencapai kedalaman batin yang baik, adalah orang-orang yang memilik waktu untuk merenung, bergaul, membaca, dan menulis dengan porsi yang baik pula. Dan untuk mengatur itu semua bukanlah hal mudah. Saya percaya karya yang baik diciptakan dengan kedalaman batin yang baik pula. Tanpa itu, sebuah karya akan terasa hambar.
          Karena menurut saya, ketika seseorang sudah mengenal dengan batinnya sendiri, semua yang dilakukan orang itu akan berjalan dengan baik dan mulus. Karena ketika ia melakukan sesuatu, ia mengerti kata batinnya. Ia tidak bisa berbohong.
          Dan orang yang belum bisa mengenal batinnya sendiri, akan kesulitan dalam melakukan apa saja, terlebih menulis yang memerlukan banyak imajinasi. Tentu saja hal ini harus diperhatikan, kerena ia adalah kunci dalam berkarya.
          Terkait tekhnik menulis, Pak Edi membocorkan tekhnik menulis yang sering dipakai SGA. Iya, SGA, penulis favorit saya yang sering saya baca karyanya, tapi saya sampai sekarang belum terlalu mengerti tekhnik apa yang dipakai  SGA dalam menulis.
          Ternyata, SGA menulis sebuah diskripsi kadang memasukan hal yang tidak ada kaitannya dengan hal sebelumnya. Dan itu malah membuat diskripsi lebih hidup. Saya harap kamu paham maksud saya di sini. Dan silakan kamu coba.
          Sebenarnya, apa-apa yang disampaikan Pak Edi di roadhow kemarin itu ada yang pernah saya baca di blog dan bukunya. Tapi tentu saja, diberi tahu langsung dengan membaca tanpa langsung bertemu penulisnya akan berbeda. Lebih menyenangkan.
          Saya melihat bahwa inti dari presentasi Pak Edi adalah ajakan melakukan hal baik. Yang mana beliau katakan jika hidup kita terlalu menoton, maka akan kesulitan dalam menulis. Cobalah bergaul, jangan hanya menulis. Ada sesi jalan-jalan, ngobrol-ngobrol, dan melakukan hal lain selain menulis. Karena sebenarnya menulis membutuhkan banyak pengetahuan. Bahkan penulis dituntut untuk berpengetahuan di atas rata-rata. Dan tentu saja, untuk memperoleh itu kita harus berteman dengan banyak orang dan melakukan banyak hal. Hal itu tidak bisa didapat hanya dengan mendekam di kamar dan seharian menulis.
          “Jika siklus hidupmu hanya kost-kampus, kamu akan kesulitan menulis tentang potongan rambut yang bisa membuat seseorang putus cinta.”
          Jadi, dengan banyaknya kita jalan-jalan, bergaul dengan banyak orang, akan memperkaya sudut pandang kita terhadap sesuatu. Yang mana sudut pandang ini sangat berarti dalam menulis. Sudut pandang yang unik dalam sebuah tulisan, sangat memuaskan pembaca, menurut saya begitu.
          Dan sebenarnya, ide tau gagasan itu tidak ada yang baru, semuanya sudah ada sebelumnya. Yang baru hanyalah sudut pandang kita terhadap sesuatu. Tugas penulis adalah mengungkapkan hal-hal yang sulit diungkapkan oleh orang-orang pada umumnya. Yang ketika dilihat dari sudut pandang yang baru, akan membuat orang-orang itu semakin mengerti apa yang selama ini ia rasakan atau pertanyakan.***

Di bawah ini beberapa twit saya yang mungkin ada baiknya kamu baca :) 




Foto:

saya bersama mz reza nufa, alumni kapus fiksi 1, saya menulis tentangnya secara khusus di sini

 
saya datang ke roadshow bersama dia, jangan tebak dia siapa, hahaha.. :D