Kisah Cinta Pertama Rahwana yang Njelimet (Buku Cinta Mati Dasamuka)

Seorang anak kecil yang dibawa oleh kedua orang tuanya menghindar dari pengejaran. Melewati hutan, berpindah-pindah, penuh ketakutan. Selama itu pula ia harus menjaga ibu dan adiknya. Dalam pada itu, ia juga mendengarkan rahasia-rahasia kehidupan yang seharusnya tidak ia dengar: Sastrajendra.


 
“Sastrajendra mungkin mudah diucap, tapi tanpa kedalaman dan kelapangan seseorang dalam memahami hakikat hidupnya, ilmu itu akan dengan mudah menjadi racun yang menguasai kepala dan menebar kematian di mana-mana.” (Hal. 51)

Adalah Rahwana yang kemudian menjelma manjadi remaja raksasa. Ia memang keturunan Bangsa Raksasa yang di kemudian hari memimpin negeri bangsanya yang bernama Alengka penuh keserakahan.

Melalui buku ini, Cinta Mati Dasamuka (Rahwana), kita akan dibawa untuk menyusuri kehidupan Rahwana sejak kecil. Di mana ia adalah hasil dari perkawinan yang tidak semestinya. Bapaknyaknya adalah Wisrawa, yang harusnya melamar Sukesi untuk anaknya, malah ia sendiri yang menikahi calon isteri anaknya.

Itu karena Wisrawa menjabarkan tentang Sastrajendra kepada Sukesi sebagai syarat pernikahan, Sukesi adalah putri raja yang selalu haus akan ilmu. Sastrajendra sendiri adalah rahasia Tuhan yang menyingkap rahasia-rahasia kehidupan. Di mana ia tidak sembarangan untuk dituturkan dan diajarkan. Dan barangsiapa yang menjabarkan, maka ia akan kena hukuman dari Dewa.

Dalam menjabarkan Sastrajendra, Wisrawa meminta untuk ditempatkan di tempat tertutup, tidak ada siapapun selain dia dan Sukesi. Karena keadaan tersebut, ia tergoda oleh bisikan-bisikan yang kemudian membuat mereka berdua bercinta sepanjang malam, alih-alih menjabarkan Sastrajendra.


Tak ada guru dan murid. Itu semua runtuh. Menjadi sekadar seorang laki-laki dan perempuan. Yang tergoda oleh kebetuhan paling dasar. Terbius berahi. (hal. 57)
***
Di dunia wayang, setidaknya ada 3 bangsa yang selalu masuk ke cerita: Bangsa Manusia, Bangsa Dewa, Bangsa Raksasa. Berbeda dari Bangsa Manusia dan Raksasa, Bangsa Dewa memiliki keistimewaan layaknya malaikat. Mereka bahkan bisa membaca pikiran satu sama lain hingga akhirnya tidak ada salah paham sedikit pun.

Berbeda dengan Bangsa Dewa—Bangsa Raksasa dan Bangsa Manusia memiliki kekurangan dan hawa napsu. Dan dunia wayang, setidaknya menurutku, adalah sedang bercerita tentang sifat-sifat manusia itu sendiri.

Di mana kita terkadang bisa sebaik Dewa, sejahat Raksasa, atau seperti Manusia yang tidak pernah cukup. Ia sedang membicarakan kita. Dan untuk kali ini, lewat buku ini, Rahwana adalah aktor utamanya.

Rahwana diceritakan tumbuh dan memiliki ajian di mana ia bisa terbang dan jika bagian tubuhnya terpotong (termasuk kepalanya) itu akan tumbuh lagi. Manjadikan Rahwana seorang Raksasa yang sombong, tak terkalahkan.

Kendati ia sombong dan kasar, ia juga menginginkan wanita sebagai pendamping hidupnya. Pertama kali ia jatuh cinta adalah ketika ia bertemu dengan Widyawati di sebuah hutan. Tentu saja gadis ini ketakutan melihat Rahwana. Dan Rahwana berencana meminang gadis ini. Maka Rahwana meminta agar dibawa ke kedua orangtua si gadis.

“Siapa namamu, Nduk..? Bicaralah. Aku tak bermaksud jahat, justru aku ingin membawamu ke tempat yang lebih beradab. Hutan dan gunung bukan tempatmu, Cah Ayu. Istanalah tempatmu, duduk di indahnya singgasana.” (Hal. 113) 


Segala kesombongan, kepongkahan, dan segala sifat buruk Rahwana seakan rontok ketika duduk di depan bapak si gadis. Tapi wajahnya masih wajah raksasa, mengerikan, bertaring, rambut acak-acakan.

Si bapak gadis tidak setuju jika anaknya dipersunting raksasa, maka ia, walau sudah tua renta,  masih berani melawan Rahwana yang tinggi besar. Namun naas, ia malah dibunuh oleh Rahwana, juga ibu dari si gadis karena keduanya melawan untuk melindung anak satu-satunya itu.

Melihat kejadian itu, si gadis malah membakar dirinya sendiri. Rahwana berteriak kencang, dan itu adalah patah hati terhebatnya yang di kemudian hari menjadi petaka terhadap hidupnya dan negerinya.

Setelah patah hati terhebatnya tersebut, itu malah membuatnya semakin semangat untuk mencaplok negeri tetangga yang semua adalah Bangsa Manusia hingga menyebrang benua dan samudera.

Karena perbuatannya itu, Rahwana beserta adik-adiknya dihukum dan diasingkan. Dalam pengasingan tersebut, mereka dituntut untuk merenung dan mencari apa keinginan mereka yang sebenarnya.

Rahwana ingin menguasi dunia, Kumbakarna adiknya yang pertama ingin bisa makan dan tidur sepuasnya, Wabisana ingin tahu segala ilmu, dan Shurpanaka tidak jelas apa keinginannya karena selama ini ia berbuat semaunya, kebutuhan batinnya tak pernah cukup.

Bahwa hidup sejati hanyalah upaya menelisik membawa diri sehingga mampu merasakan nikmatnya makan dan minum. (Hal. 287) - Kumbakarna
*
Cerita tentang Rahwana menculik Sinta sepertinya sudah begitu tenar. Tapi motivasi Rahwana menculik Sinta barangkali masih sedikit orang yang tahu. Dan melalui buku ini, akhirnya aku bisa tahu kenapa Rahwana menculik Sinta.

Bahwa Sinta sangat mirip dengan isterinya ketika muda, dan ia menggap bahwa Sinta adalah anaknya yang hilang. Isteri Rahwana merupakan Bangsa Dewa. Bangsa Dewa mengutus Dewi Tari untuk menjadi isteri Rahwana untuk menyeimbangkan kehidupan karena Rahwana yang sudah meresahkan bahkan sampai kahyangan.

Sebelumnya, Rahwana terus mencari gadis yang mirip seperti cinta pertamanya. Mulai dari isteri raja hingga puteri kerajaan, ia ingin mendapatkan gadis itu dengan cara apapun. Awalnya Rahwana datang baik-baik. Namun akhirnya ia akan memberontak ketika tahu gadisnya disembunyikan darinya. Banyak orang mati karena pencarian cinta Rahwana.

Begitulah, namun sudah sifat Rahwana tidak pernah cukup, ia menculik Sinta dan mengakibatkan kekacauan. Rama dan para kera akhirnya menyerang istana Alengka untuk membebaskan Sinta. Pasukan Rama membuat daratan antar-benua berbulan-bulan, tentara mereka adalah kera yang tak kenal takut.



Akhirnya negeri Alengka hancur setelah peperangan berhari-hari, berdarah, dan penuh emosi.


**

Secara keseluruhan, aku sangat menikmati buku ini, ia begitu menghibur dengan ciri khas dongeng. Membaca kisah wayang tentu saja berbeda dengan membaca novel. Yang mencolok menurutku adalah dari penuturan antartokoh dan gaya bercerita.

Antartokoh di dalam buku ini begitu sopan dan menghargai, dan gaya bercerita penulis seolah sedang membacakan dongeng yang penuh keseruan dan kita tidak ingin segera tamat.

Bagaimana Saya Akhirnya Bisa Suka K-pop


Di suatu malam di Jogja, aku pernah ‘terjabak’ di kerumunan yang isinya adalah cewek-cewek penyuka K-pop. Salah satu dari mereka mengenalku, yang lainnya tidak.
“Ini lho, namanya Sokhi, dia suka K-pop juga,” katanya.
Lalu yang lain bertanya, “Ohya, suka denger apa?”
Aku berpikir lama, “Sejauh ini ini sih saya suka denger ost drama korea.”
Kemudian hening.

***

Sebelum aku suka K-pop, aku sudah suka nonton drama korea (drakor). Drakor pertama yang kutonton adalah Pinochio, kemudian ketagihan dan menonton Solomon Pejury, W, Goblin, dan yang teranyar: Radio Romance. Aku pernah menuliskannya kenapa aku bisa suka drama korea di sini:  Kenapa akhirnya saya jadi suka drama korea juga

Sebagai minoritas (baca: cowok yang suka drakor dan kpop) awalnya memang kumerasa ini perlu disembunyikan. Karena (1) Anggapan orang lain terhadap cowok yang suka drakor dan kpop sejauh yang kutahu, agak sedikit miring. (2) Tidak wajar seorang cowok menyukai drakor dan kpop sebab akan terkesan kemayu.

Bahkan, teman dekatku yang seorang cewek, sangat tidak menyukaiku ketika aku menonton Twice, Blackpink di youtube. Ia merasa risih ketika aku menonton mereka. Padahal kan aku merasa senang, musik mereka bagus, pengambilan gambar, dan dancenya juga asik.

“Bisa nggak sih kalau lagi nonton jangan di sampingku,” katanya.

Dan awal kenapa aku suka K-pop adalah ketika kegabutan itu datang, dan nggak sengaja mencet video Blacpink yang As If It’s Your Last. Dan ya aku langsung jatuh cinta dengan Girlband ini, terutama penampilan Lalisa. Kemudian aku menonton video yang lain, seperti Twice, Red Velvet, SNSD, kemudian Gfriend dan seterusnya, dan seterusnya.

Ternyata, video mereka sangat menarik hatiku. Dan saat itulah aku berikrar sebagai fansboy. Jika ditanya siapa biasku, maka aku akan menjawab Jihyoo Twice. Entah kenapa mbak yang satu ini sangat menarik hatiku, dan selalu membuatku bahagia ketika melihat senyumnya.


***

Setelah kutelusuri diriku sendiri kenapa aku bisa menyukai K-pop dan Drakor, adalah ketika aku tidak bisa menemukan hiburan di layar kaca kita. Layar kaca kita menurutku agaknya gagal menjadi media hiburan. Maka dari itu, aku mencari jalan lain yang akhirnya menemukan oasis itu: Drakor dan K-pop.

Sejauh ini, aku memang masih bisa dibilang awam, tidak terlalu meniak, ya sewajarnya saja. Tapi jika salah satu dari mereka datang ke Indonesia, aku merasa perlu untuk bertemu dengannya. Apalagi ada kabar nanti di Agustus, Twice mau ke Jakarta. Hati kecilku berkata bahwa aku harus wajib datang bertemu mereka. Jadi, apakah ini wajar?

Dan ketika kau suka K-pop dan drakor, kau bisa mempunyai bahan obrolan ketika bertemu teman. Dan ini cukup ada baiknya daripada kamu diam saja ketika teman-temanmu asyik ngobrol.

Terkait anggapan orang tentang cowok yang suka K-pop dan Drakor, menurutku terlalu berlebihan. Mereka tidak bisa menganggap sifat seseorang hanya dengan apa yang seseorang tonton.

Dengan menyukai Drakor dan K-pop, aku tidak otomatis menjadi ‘drama’, tidak otomatis jadi kemayu. Jadi ya, biasa-biasa aja, kita hanya sedang mencari pelampiaskan ketika media hiburan kita miskin bahan-bahan untuk membuat kita terhibur.


Ngapain ke Big Bad Wolf (BBW)?

Seorang pegiat buku, aku lupa siapa, pernah bilang begini: saya tidak setuju dengan rendahnya minat baca di Indonesia jika penyebaran buku di negera kita masih bermasalah. Akses untuk membaca buku masih susah, minim perpustakaan, minim buku murah. Kita baru bisa menilai negara kita rendah atau tidak dalam minat membaca buku ketika buku itu sendiri bisa dengan mudah didapat.

Kurang lebih begitu katanya.


Big Bad Wolf (BBW) merupakan pameran buku yang menjual buku-buku murah. Kita bisa mendapatkan buku dengan harga ‘tidak wajar’ di sini. Tapi tunggu dulu, bisa saja buku seleramu tidak ada di sini. Jadi jangan senang dulu.

Ketika aku datang ke BBW pada Jumat (30/03) aku menemukan banyak buku-anak di sana, kemudian nomor selanjutnya ditempati oleh buku-buku import berbahasa Inggris. BBW tahun ini diadakan di ICE BSD City. Walau namanya BBW Jakarta, tapi ia diadakan di Tangerang, ajaib memang. Ohya, acara ini diselenggarakan sampai tanggal 9 April.

Untuk mencapai ke tempat tersebut, dari tempatku, Mangga besar untuk sampai ke sana memerlukan banyak waktu dan ongkos. Aku belum pernah kesana sebelumnya, maka aku cari-cari informasi tentang bagaimana bisa mencapai ke tempat itu.

Maka aku naik shuttle bus dari ITC Mangga Dua, biaya perorangnya Rp. 20.000. Bus ini membawamu ke terminal BSD, kemudian transit 2 kali untuk akhirnya sampai di lobi ICE. Kamu tidak perlu membayar lagi, cukup Rp. 20.000 kamu sudah diantar hingga lobi ICE.

berasa pulang kampung

Masuk ke dalam gedung, aku menemukan orang berlalu-lalang dengan membawa plastik berisi penuh buku. Seketika darahku mengalir begitu deras, napasku satu-satu, begitu napsu. Itu semakin menjadi-jadi ketika aku masuk ke ruangan yang begitu besar, berisi banyak buku dan orang-orang. Belum sembuh dari pusing perjalanan, aku sudah dibuat pusing di tempat ini.

Hal pertama yang harus kamu lakukan adalah mencari keranjang. Dan sialnya ketika aku datang, keranjang sudah habis. Sedangkan buku belanjaanku sudah tidak mungkin untuk ditenteng tangan. Maka aku menemukan keranjang di sebuah pojokan yang ada tulisan: Buku yang tidak jadi dibeli.
Aku bereskan buku-buku itu dan mengambil keranjangnya. Keranjang adalah elemen penting dalam BBW, percayalah.

buku tidak jadi dibeli

Sangat disayangkan banyak sekali buku berserakan di sana-sini, terutama di bagian ‘buku yang tidak jadi dibeli’. Entahlah apa yang mereka pikirkan ketika tidak membeli buku sebanyak itu.

Di ruangan sebesar ini, ada 1 tempat yang memusatkanku yaitu bagian: Buku Indonesia. Di sinilah buku-buku terbitan penerbit mainstream diobral abis-abisan. Ada penerbit Gagas Media, Divapress, Mizan, dan sebagainya.

Dan entah kebetulan atau bagaimana, buku yang aku beli semua dari penerbit Divapress, sebuah penerbit di Jogja yang pada masanya pernah konsesten menerbitkan kembali buku-buku sastra dari penulis-penulis senior seperti Danarto, Hamsad Rangkuti, Umar Kayam dan sebagainya. Dan selanjutnya penerbit ini membuka lini baru bernama Basabasi.


Tak terasa siang sudah datang, perutku sudah memberontak. Di sini memang disediakan foodcourt. Agak ribet memang untuk jajan di sini, kamu harus top up di kartu khusus minimal 100 ribu, dan dari kartu itu kamu bisa menukarkan saldonya dengan makanan. Jadi, tidak ada uang cash di antara kita. Hal ini juga berlaku di kasir pembayaran buku, untung aku ada E-Money dan temanku mempunyai debit Mandiri.
harus punya kartu ini buat bisa makan di foodcourt

Memang acara ini ada banyak spanduk Mandiri, mungkin ia sponsor utama acara ini dan mengimplementasikan nontunai dengan caranya. Cukup efektif sih, dan terkesan modern.

Aku sempat membagikan momen ketika di BBW ke instastory. Beberapa ada yang nanya itu dimana, nitip dong, gue mau kesana sebenernya, dan lain-lain.

Dan jika memang mereka ingin ke sini, mereka mau ngapain?

Paling mereka bakal bingung, banyak buku di sini, dan mereka mencari buku incaran mereka dan tidak ketemu. Memang di BBW ada banyak buku murah, tapi jangan salah, itu tidak memastikan bahwa di sini juga banyak buku seleramu.

Jadi, dari fakta di BBW, banyaknya orang yang mencari buku untuk dibaca, kita masih percaya bahwa minat baca kita rendah? Kalau aku sih tidak, aku lebih percaya bahwa pemerataan buku di negara kita belum baik dan perlu diperhatikan lagi.

Pada awalnya, pendiri BBW memang resah terhadap minat baca orang Melayu. Adalah Andrey Yap dan istrinya Jacqueline Ng. Dan mereka untuk pertama kalinya membuka BBW di Malaysia yang 50% pengunjungnya adalah orang Melayu. Mereka mendapat ide ini karena ketika pergi ke luar negeri, ada banyak toko buku menjual sisa yang tidak terjual. Buku sisa itu bisa juga kelebihan produksi lalu dijual dengan potongan harga supaya memikat pembeli.

Jadi, bisa dikatakan bahwa faktor kenapa orang jarang membeli buku karena buku itu mahal. Dan ketika ada buku murah, mereka akan berbondong-bondong membeli. Dari sini, masih percaya bahwa minat baca kita rendah?

Semoga ke depan pameran seperti BBW akan bermunculan, dan menarik mereka yang tadinya merasa membaca itu tidak perlu, mulai berpikir ulang bahwa membaca itu adalah sebuah keperluan sama seperti makan dan minum. Semoga saja.***

Referensi bacaan: https://gaya.tempo.co/read/769193/ini-sejarah-dan-rahasia-big-bad-wolf-menjual-buku-murah

Ke Pulau Seribu Bareng Medsos Travel

Minggu kemarin, 18 Maret, aku pergi ke Pulau Seribu, lebih tepatnya ke tiga pulau ini: Kelor, Onrust, dan Cipir. Aku dan yang lainnya, berangkat menggunakan kapal nelayan di dermaga Muara Kamal. Kemudian kami berkeliling ke tiga pulau tersebut, dan pulang malam jam 7 dengan ombak yang lumayan besar, saat itu gelap, dan kami di perahu nelayan yang kecil. Begitulah singkatnya. Jika kutulis lebih detailnya lagi, mungkin akan begini:

Pagi jam 6 aku berangkat dari kosan menuju stasiun Mangga Besar, bertemu seseorang dan melanjutkan ke stasiun Kota, membeli makanan ringan dan dilanjutkan naik angkot ke Jalan Kopi, dan ya, dilanjutkan lagi naik angkot ke Muara Kamal.



Pagi yang cerah dengan sopir angkot yang super bawel. Sudah lama aku tidak menemukan situasi seperti ini, di mana penumpang dan sopir yang tidak saling kenal, akhirnya saling mengobrol, tentang apa saja. Tentu saja itu tidak terjadi jika si sopir tidak genit ke penumpangnya yang meyoritas ibu-ibu.

“Saya belum punya anak lho,” aku si sopir kepada si ibu-ibu sebagai daya tarik, “iya saya tidak punya anak, tapi yang punya anak istri saya.”

Dan ibu-ibu itu hanya menerima kegenitan si sopir, mereka tampaknya juga terhibur, melupakan anak atau suaminya di rumah. Mungkin jika suaminya di rumah tahu tingkahnya di angkot pagi ini, ia bakal cemburu. Pria humoris dan genit memang beda-beda tipis kalau sudah di angkot.

Situasi angkot B06

Baiklah, kami (aku dan seseorang yang kutemui di stasiun), akhirnya sampai di Muara Kamal. Orang-orang di sini begitu paham, bahkan sebelum kami bertanya arah ke Muara Kamal, mereka sudah menunjukan arahnya.

Ohya, harga angkot dari Kota menuju Muara Kamal itu Rp. 10.000 perorang, lumayan mahal pikirku. Dan di perjalanan pulang naik angkot yang sama, harga menjadi lebih mahal: Rp. 15.000 perorang.
Sampai di Muara Kamal, aku menemukan air yang begitu hitam, banyak sampah, perahu dan kapal tertambat di dermaga layaknya parkiran di pinggir mal.

Di Dermaga, aku bertemu dengan orang-orang yang juga mempunyai tujuan yang sama: ke Pulang Seribu bersama Medsos Travel. Mereka ada yang berkelompok 5 sampai 15 orang, ada juga yang berdua saja sepertiku. Kami harus registrasi ulang, dan menunggu dipanggil satu-satu untuk menuju perahu. Untuk ini, agak lama dan menyebalkan memang.


menunggu

perahu dan kapal dan air hitam dan sampah

Sekitar jam 10, aku berangkat, agak deg-degan memang menyebrangi lautan dengan perahu seperti ini. Tapi tidak, tidak seburuk yang kubayangkan, semua berjalan dengan lancar walau sesekali kami dibuat bergoyang ke kanan-kiri karena ombak yang menerjang. Abang yang mengendarai perahu yang tepat di belakangku, bilang: “Hari ini lumayan bagus, nggak kayak kemarin, banyak angin, hujan pula.”

Perjalanan

Semua berjalan normal, perjalanan sekitar 40 menit, dan kami sampai di pulang pertama: Kelor.
Di sini, airnya begitu jernih, sangat kontras dengan air di muara. Tapi tetap saja, ada beberapa sampah plastik. Agak disayangkan memang.

Kami berfoto di sini, tempatnya memang bagus untuk foto, pasir putih, cuaca cerah. Di pulau ini, aku sempat mengobrol dengan penjaga pantai, katanya:
“Kalau kemarin yang kesini banyak, ada sekitar 800 orang. Biasanya juga banyak yang ketinggalan, apalagi di pulau Onrust.”

Wajar saja jika kemarin banyak pengunjung, karena kemarin itu hari libur nasional, dan orang-orang memanfaatkan hari libur di hari Sabtu itu, dan Minggunya bisa beristirahat di rumah.

pulau kelor
Aku tidak bisa membayangkan banyaknya orang di pulau sekecil ini. Bisa dibilang aku cukup beruntung, karena pulau tidak begitu ramai ketika aku sampai di sini. Terkait orang yang ketinggalan rombongan, membuatku was-was.
“Hafalin nama perahunya aja,” lanjut si penjaga.
Dan kupalingkan wajahku ke seseorang yang menamaniku, “Kamu hafal nama perahunya? Pokoknya depannya huruf I.”
“Irithel.”
“Ah itu, nama dari mana coba itu, hahaha.”
Krik.

Kami sempat membeli popmie, satunya dibandrol Rp. 10.000 dan sukro di sini dijual dengan harga Rp. 5000. Jadi ketika aku memutuskan untuk membeli 2 popmie dan 1 sukro, aku harus merogoh kocek sebesar Rp. 25.000. Cukup mahal dan wajar.

***

Tidak banyak pohon, gersang, tapi indah. Begitulah yang kurasakan di pulau Kelor ini. 1 setengah jam kami di sini, dan melanjutkan perjalanan ke pulau Onrust.

Tidak memerlukan banyak waktu untuk menuju ke pulau Onrust. Di sana, banyak pepohonan dan situs bersejarah. Sampai di pulau tersebut, kami dikumpulkan di suatu tempat dan mendapatkan makan siang.
ngantre ambil makan
lauknya

Dilihat dari lauknya, kalau beli ini bisa Rp. 15.000, dan kami mendapatkannya gratis, lebih tepatnya ini sudah termasuk ke dalam paket wisata Rp. 95.000,- yang kami bayar di awal.

Selepas itu, kami diajak berjalan-jalan mengenal pulau ini. Dari penjelasan sang pemandu, pulau ini mempunyai peran penting dari zaman ke zaman. Pulau ini pernah menjadi pertistirahatan Pangeran Jayakarta, karantina haji, penjara, pengasingan orang dengan penyakit menular, dan entah apa lagi aku lupa.

Yang menarik di kepalaku adalah ketika pulau ini menjadi salah satu saksi sejarah perang dunia kedua. Di mana tentara Nazi pernah ditahan di sini. Dan tempat yang paling berkesan adalah suatu yang berbentuk mirip dengan sumur, di sana difungsikan untuk mengurangi tehanan dengan gladiator.
Ada juga mitos tentang lubang yang bisa digunakan untuk berpindah pulau satu dengan yang lainnya. Ternyata pemandu ini tidak hanya menjelaskan arkeologi, tetapi juga mitos-mitos yang ada di tempat ini, dan sialnya, aku malah tertarik dengan mitos itu ketimbang yang lain. Hahaha…

dipandu untuk mengenal pulau onrust lebih jauh

Cukup lama menghabiskan waktu di pulau ini sebelum ke pulau terakhir: Cipir. Di pulau Cipir kami habiskan waktu untuk berenang, dan bermain air seperti bananaboath dan semacamnya. Aku sempat mencoba bananaboath, harganya Rp. 40.000 per orang. Awalnya agak ragu untuk melakukannya, karena (1) jika ada kesalahan, aku tidak bisa berenang, (2) pahalaku sepertinya belum terlalu banyak untuk mengantarkanku ke surga.

Tapi akhirnya aku memutuskan juga untuk melakukannya, bananaboath yang harusnya diisi oleh 6 orang, akhirnya hanya diisi 2 orang saja karena tidak ada lagi yang mau naik. Kami dibawa dengan kecepatan penuh ke tengah laut, dan menceburkannya di sana. Sialnya, abang yang ditugaskan untuk merekam momen ini yang ada di perahu, tidak terlalu pandai mengabadikan momen ini, beberapa kali ia merakam namun kehalangan abang yang mengontrol speed both.

Cukup dapat sensasinya bermain bananaboath di sini, dan mungkin jika aku tidak mencobanya, liburan kali ini kurang lengkap.

sesaat sebelum bananaboath

Menunggu senja, aku menyewa karpet untuk beristirahat karena lelah berkeliling di pulau Onrust. Harga sewa karpet Rp. 20.000. Tentu saja pergi ke pantai tidak lengkap rasanya untuk meminum air kelapa, di sini harganya Rp. 15.000.

Kami juga mendapatkan sesi foto di floating, semacam pelampung dengan beground pelangi. Secara harfiahnya aku tidak tahu bagaimana menjelaskan benda ini. Yang pasti kami hanya naik ke sana, dan difoto, dan sudah.




Senja pun tiba, kali ini kami kurang beruntung karena senja tertutup awan tebal. Tapi cuaca di pulau begitu sempurna, duduk di pantai dan merasai senja di sini, cukup membuat hari-hari kerjamu ke depan seolah berubah menjadi buih-buih ombak yang mengenai kakimu di tepi pantai saat ini: receh!
Sekitar jam setengah 7 kami ke dermaga, dibagikan oleh ‘orang medsos travel’ itu lampion. Omong-omong tentang 'orang medsos travel', mereka itu masih muda, semangat, dan ramah.

senja dan sepotong bayangan
Dan ya, sekarang saatnya menerbangkan lampion bersama! Tidak yang kubayangkan sebelumnya, ternyata pekerjaan yang satu ini cukup sulit, hampir saja lampionku terbakar sebelum akhirnya benar-benar terbang.


Beberapa kali banyak lampion yang nyasar dan sangat berbahaya, bisa saja mengenai kepala orang dan terbakar.

Dan inilah bagian paling mengesankan dari perjalanan ini:

Belum lama ini aku menonton film Dunkrik, bercerita tentang penyelamatan sekutu Inggris di tengah perang melawan NAZI Jerman. Tentara harus dievakuasi karena mereka semakin terdesak. Perahu dikerahkan untuk misi ini, tapi beberapa kali gagal karena bom dari tentara Jerman dari pesawat.
Dan ya, aku mendapatkan situasi yang hampir sama dengan film tersebut. Kami naik perahu nelayan malam hari, gelap, ombok yang tidak terlalu tenang, dan di atas kami ada pesawat yang berlalu-lalang, cukup dekat.

Aku tidak bisa untuk tidak tenang, apalagi ketika ombak menabrak perahu kami dan kami hampir terguling.

“Ini lebih menyeramkan dari bananaboath,” bisiku ke seseorang di sampingku yang memegang tanganku erat, atau aku yang memegang tangannya erat? Namun ia begitu tenang, seolah siap mati kapan pun, malah menyandarkan kepalanya ke bahuku, “Aku ngantuk,” katanya. Sial!

Akhirnya kami sampai juga di muara, hatiku mulai tenang. Tak jauh dari dermaga, sudah ada angkot yang siap membawa kami ke daerah Kota. Kami menaikinya, perjalanan pulang terasa melelahkan, namun kenangan seharian di pulau itu, tak bisa kami lupakan.***

Follow medsos travel di sini
Ingin tau lebih lanjut tenang pulau Onrust, klik di sini


Setelah Membaca ‘Pacarku Memintaku Jadi Matahari’

Seperti lahir dari kepala yang rumit, penuh tanda tanya, dan semrawut, cerita di buku Pacarku Memintaku Jadi Matahari memang perlu dibaca oleh mereka yang sedang kesepian, depresi, tak ada tujuan, bingung, dan semacamnya.

Reza Nufa, dalam menulis buku ini, setidaknya menurutku, menargetkan pembaca yang suka galau, bermasalah dengan kekasih, keluarga, dan masalah-masalah khas remaja umur 19-an. Dan, sialnya, itu sangat dekat denganku.




Tulisan Reza Nufa memang tidak terlalu banyak kita temukan di media massa. Namun, ia aktif di media sosial dan mungkin dari sana, ia memupuk pembacanya. Dan buku ini, adalah buku yang sudah ia persiapkan untuk itu.

Penggunakan ‘pacar’ pada judul menurutku sudah ketara mau ke arah mana buku ini. Mungkin akan lain jika ‘pacar’ di sini diubah menjadi ‘kekasih’ atau semacamnya.

Sebagai cerpen pembuka, ‘Cara Terbaik Menjadi Anjing’, menurutku agak terlalu berat. Tapi selanjutnya, pembaca seolah dibuat lega karena cerpen-cerpen selanjutnya tarasa lebih ringan dan bersahabat, dalam artian cerpen tersebut tidak terlalu njelimet dan tidak membutuhkan konsentrasi penuh.

Cerpen ‘Suropati Menuju Sore’, terasa sangat dekat dengaku, sebab aku sendiri sering main ke taman yang satu ini. Pemandangan umum yang terjadi di taman suropati: merpati, anak kecil, orang tua, pasangan kekasih, ia gambarkan begini:

Merpati pintar bertingkah seola-olah mereka hampir takluk, bisa digenggam, tapi di saat-saat terakhir mereka dengan licik melompat, bahkan menghilang di rumbun daun-daun(…). Dulu dia pernah ada cinta dengan seekor merpati. Sampai saat ini masih membuatnya sakit meski sama sekali tidak disesali. ( 25-26)

Ternyata tidak hanya masalah pacar dan keluarga yang diangkat di buku ini. Agama pun turut menjadi cerita yang menggelitik. Sebut saja di cerpen ‘Dua Pemabuk Mengazani Mayat’. Diawali dengan dua laki-laki yang menemukan mayat, dan mereka merasa perlu untuk mengurusi mayat tersebut walau mereka sedang mabuk. Ada pertimbangan-pertimbangan yang lucu sekaligus menyedihkan yang dipikirkan dua laki-laki ini.

“Tetep aja nggak ada untungnya nolongin orang mati(…)”
“Tapi siapa tahu dia itu orang alim yang dibunuh. Nanti gantian, di akhirat kita ditolong sama dia, Yud. Bisa aja ‘kan?”
“Pede banget bakal masuk neraka.”
“Firasatku bilang begitu.” (hal. 31)

Tidak hanya itu, bahkan di buku ini, ia dengan entengnya menghujat tuhan, walau aku tidak tahu pasti tuhan mana yang ia maksud. Eh sebentar, emang ada tuhan selain tuhan?

Apa besaran dosa dan bagaimana cara menghitungnya? Hanya tuhan yang tahu. Dan kalaupun tuhan curang, kita tidak akan pernah tahu. Lama-lama tuhan ini tai juga, jelas kau setuju. 

Banyak narasi-narasi nyeleneh tentang tuhan di buku ini dan, itu lucu buatku. Mungkin bagi mereka yang berurat tegang, pasti akan melempar buku ini sesegera mungkin. Tapi di sinilah titik  keseruannya, ia membuat dunianya sendiri dan membuat tokoh yang menyedihkan, kesepian, tak tahu apa-apa, merasa bersalah, putus asa, seolah tidak ada yang bisa menolongnya dari semua itu, tuhan sekalipun.

Cerpen-cerpen di buku ini memang tidak terlalu panjang, sehingga aku menemukan cerita begitu singkat dan kurang kokoh. Beberapa kali ada kalimat ‘jangan tanya aku begini/begitu….” untuk alternatif membangun sebuah sebab-akibat-cerita.



Memang banyak cerita yang tidak panjang di buku ini, namun aku tidak katakan bahwa tidak ada cerita yang panjang. Bacalah ‘Sani Belum Kembali’, di sana tokoh ‘aku’ tampak begitu bawel dan seperti orang linglung. Ia membahas banyak orang, mulai dari yang tidak penting hingga yang tidak penting amat, mulai dari gereja hingga susu perempuan.

Penulis muda seperti Reza Nufa, Asef Saiful Anwar, Eko Triono, Dea Anugrah, Sabda Armandio, menurutku adalah penulis dengan generasi yang ogah mematuhi aturan. Mereka jengah dengan hal yang sudah ada sejak dulu dan mencoba membuat hal baru. Dan sepertinya kita sedang menuju dunia itu: menulis tanpa aturan yang mengikat.

Secara keseluruhan, aku menikmati buku ini, covernya pun keren, suka. Kisah hidup penulis yang berliku tampaknya menjadi tabungan rasa dalam mengeksekusi tiap cerpen. Melalui buku ini, setidaknya menurutku, penulis sedang menunjukan bahwa ia serius dalam menulis sastra, ini baru permulaan, ke depannya kuyakin ia menulis lebih banyak dan lebih baik dari ini.

Pengalaman Pertama Kali ke Museum Kebangkitan Nasional (Muskitnas)



Museum Kebangkitan Nasional (Muskitnas) memang tidak sepopuler Museum Fatahila, Museum Gajah, atau Museum Bank Indonesia. Dalam sebuah wawancara di chanel youtube lihatjakarta official, Sujiman, kepala seksi palayanan dan penyajianMukitnas mengakui bahwa faktor letak museum sangat berpengaruh dalam hal ini.

Bahkan, aku sempat mengadakan survei kecil-kecilan di Instagram dengan pertanyaan: Apakah kamu pernah ke Museum Kebangkitan Nasional?. Hasilnya, 19 orang memilih opsi ‘dimana tuh’, dan 3 orang mengaku pernah ke Mukitnas.




Lihat Museum Fatahila yang berada di tempat karamaian, dekat dengan stasiun Kota dan permukiman. Jalan menuju ke sana pun mudah diakses dengan transportasi umum. Berbeda dengan Murkitnas, kau harus melewati perumahan untuk sampai kesana.

Minggu kemarin, aku ke Muskitnas, naik busway turun di Senen. Dan setelah itu berjalan cukup panjang untuk sampai di museum. Kami melewati gang-gang, dari sini aku bisa berkesimpulan bahwa benar, tempat museum yang satu ini kurang strategis.

Melewati perumahan

Padahal, museum yang dibangun pada 1908 ini memiliki koleksi yang cukup lengkap tentang dunia kedokteran, pers, dan keorganisasian. Aku tertarik  ke museum ini pun karena di internet aku melihat ada patung bapak Pers Indonesia, Tirto.

Tirto adalah pahwalan idolaku, ia menjadi orang Indonesia pertama yang mampu menggunakan media untuk propaganda dan mengkritik Belanda pada waktu itu.

Aku tidak bisa membayangkan apa yang beliau rasakan ketika itu. Yang pasti, bertemu dengan patungnya sudah membuatku bahagia.

***

Biaya masuk ke museum yang dulunya sebagai tempat menimba ilmu Ki Hadjar Dewantara ini  bisa dibilang murah, hanya Rp. 2000 sudah mendapatkan buku panduan yang cukup lengkap. Dan tentu saja kita disajikan dengan koleksi museum yang juga lengkap.

tiket
isi data diri untuk mendapat buku panduan

Saat aku datang ke museum itu, suasana sangat sepi, hanya terlihat beberapa orang yang sedang berfoto dan melihat koleksi. Namun, ketika aku bertanya dengan ibu kantin di museum, dia bilang begini:

“Kalo Minggu memang sepi, Mas, rame itu kalau Sabtu, ada pertunjukan gemelan di aula. Ohya, kalau pagi di sini juga rame kok.”

kantin

Aku datang ke museum sekitar jam 12 siang, dan memang yang kudapatkan suasana yang sepi.
Tidak hanya sepi, kadang juga ada kesan horor ketika kau masuk ke ruangan yang berisi patung-patung. Selain itu, tempat yang paling berkesan di museum ini menurutku adalah ketika kau masuk ke ruang asrama.

Ruang asrama ini dulunya digunakan oleh para pelajar (dulunya gedung ini adalah gedung sekolah). Di asrama itu memang terkesan begitu menegangkan, ada kasur yang serba putih, dan ruangan yang besar dan kokoh menambah kesan magis ketika melewatinya.

merinding

***

Kantin di museum ini pun nyaman, ada wifi gratis juga, passwordnya muskitnas1908. Kau bisa membeli popmie dan sebagainya. Ibu kantinnya pun ramah, ohya, penjaganya juga ramah. Menambah kesan bahwa museum ini tempat yang nyaman bagi siapa saja.

Dari Mukitnas, kau bisa main ke Atrium yang jaraknya tidak terlalu jauh. Di sana kamu bisa jalan-jalan ke toko buku atau bioskop atau makan-makan—setelah puas menikmati koleksi  museum.
Jadi, begitulah cerita singkatku di Museum Kebangkitan Nasional. Yuk lestarikan budaya kita dan jangan lupakan sejarah!

Lebih lanjut tentang Muskitnas, silakan klik di sini 
Kunjungi websitenya di sini

foto-foto:









Kenapa Membaca Cerpen Eko Triono Membuatku Tidak Bisa Tenang?



Hatiku sudah lama berencana jadi lemari es. Biar suhu kecewa dan sedih bisa diatur.
(Hal. 149)

Mungkin aku sudah bisa dikatakan terlambat karena baru mengenal cerpen-cerpen Eko Triono belakangan ini. Sebelum membaca buku kumpulan cerpennya berjudul Agama Apa yang Pantas Bagi Pohon-Pohon, sebelumnya aku hanya sempat membaca satu cerpennya yang berjudul sama dengan judul buku kumpulan cerpen tersebut.

Membaca cerpen Eko Triono menurutku sangat asyik dan seolah membawaku bertamasya ke dunia tanpa batas. Satu hal yang kukhawatrikan ketika membaca buku kumpulan cerpen adalah ketika satu cerpen dengan cerpen selanjutnya mempunyai rasa yang sama. Dan itu sangat menyebalkan.

Namun, di buku kumpulan cerpen ini, Eko Triono seperti sudah menyiasati itu semua. Di setiap cerpennya mempunyai rasa sendiri-sendiri. Dan menurutku, penyisipan fiksimini di sela-sela cerpen yang panjang sangat bagus untuk membuat pembaca tidak bosan. Melalui fiksimini tersebut pembaca seolah dibawa beristirahat sebentar untuk kemudian melanjutkan perjalanan yang jauh, yang penuh warna dan, penuh tanda tanya.

Seperti yang dikatakan Tia Stiadi, kritikus sastra, di pengantar buku ini, bahwa Eko menghadirkan tamasya antah-berantah, suasana yang lahir dari keajaiaban fantasi dan penerbangan khayal edan-edanan. Dan aku setuju.

Menurutku, bahasa yang digunakan Eko dalam cerpen-cerpennya sangat sederhana namun berisi, lebih cenderung ke penghematan kata, kata-kata yang ia gunakan mempunyai kekuatan. Di tiap pembuka cerpennya, pun ia secara lugas langsung masuk ke inti cerita tanpa embel-embel deskripsi yang ‘disengaja’. Deskripsi itu, dalam cerpen-cerpennya, hadir dan terbayang di kepala pembaca dengan sendirinya ketika cerita terus berjalan.

Terkait pembuka cerpen, aku suka dengan cerpen yang berjudul Fantasmagoria Oligo:
Kita terhentak! Kereta Lumbrica berhenti mendadak. Padahal, baru saja melewati terowangan Pegunungan Rubella. Ada apa? (hal. 199)

Dalam buku kumpulan cerpen ini, Eko mengangkat cerita tentang cinta, kesepian, pembunuhan, politik, keluarga, bahkan kegilaan. Semuanya terkemas sangat apik menjadi cerita yang menggelitik dan kadang membuat pembaca tersentak.

Dengan tekhnik berceritanya, kadang pembaca dibawa bertanya-tanya sejak awal cerita hingga akhirnya semua terjelaskan di akhir cerita. Dan tekhnik ini sungguh membuat pembaca tanpa sadar ingin terus membuka halaman demi halaman karena penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya.

Seperti dalam cerpen Turi-Turi Tobong, berkisah tentang seorang bocah yang pergi ke dukun, kemudian ia melalui perjalanan panjang dengan truk besar. Sampai di suatu tempat, ia duduk di tepi jala gawang, dan ternyata ia (hanya) sedang menonton pertandingan sepak bola antar desa. Ketika pertandingan akan dimulai, ia keluarkan air kencingnya yang sudah ia wadahkan di plastik dari sang dukun itu dan kemudian menumpahkannya di tiang gawang. Dan itu menjadi sebab kanapa tim sepak bola desanya menang.

Ceritanya sangat sederhana, namun dikemas sangat apik oleh Eko dan membuat pembaca terus memperhatikan gerak-geraik apa yang akan dilakukan tokoh selanjutnya.

Favorit 

Cerpen favoritku di buku kumpulan cerpen ini berjudul Bunga Luar Angkasa. Bercerita tentang sepasang suami istri. Suami ini bekerja sebaga pebisnis dan pada pagi itu ia akan bertemu dengan alien. Sedang istrinya bekerja di sebuah toko bunga.

Dari awal cerita, ketika si suami berkata ingin bertemu dengan alien, aku sudah curiga, apa yang salah? Keganjilan apa ini?




Tulisan Eko seolah mendobrak pakem yang sudah ada di wajah umum, ia berkeliaran tak terkontrol, dan kita hanya perlu membuka kepala lebih luas lagi untuk bisa menikmati. Tanpa itu, kau tidak bisa menikmati cerpen-cerpennya, setidaknya menurutku.

Cerpen-cerpen Eko membuat pembaca ikut membangun cerita itu bersama. Seperti gunung es, penulis hanya menghadirkan permukaan kisahnya saja kepada pembaca dan seraya demikian memyembunyikan sebagian besar kisahnya. Begitulah yang dikatakan Tia Stiadi di pengantar.

Cerpen Eko di buku ini membuat kita terus bertanya-tanya dan tidak membuat kita tenang. Ia membawa kita bertamasya di dunia antah-berantah. Dengan gaya bahasa dan tekhik berceritanya, kita seolah tersihir dan ingin terus melanjutkan membaca sampai habis. Itulah yang kuyakini kenapa aku tidak perlu banyak waktu untuk menghabiskan buku ini.

Ini adalah salah satu buku favoritku yang kubaca di tahun 2017. Terima kasih, Mas Eko, sudah menulis cerpen-cerpen yang menakjubkan!