MIMPI BESAR IRGI

Sudah dua hari saya di sini. Di sekolah gratis amal center Kebun Jeruk. Sebenarnya sekolah ini dibawah naungan yayasan amal center. Selain sekolah, yayasan ini juga membuka panti asuhan, panti asuhan non-panti, panti jompo, dan banyak lagi.
            Kemarin malam saya sampai di sekolah ini kira-kira jam 8, dijamu dengan hangat dan diperbolehkan untuk menginap beberapa hari ke depan. Kebetulan saya di sini ada beberapa urusan, termasuk untuk riset membuat buku biografi sang pendiri yayasan.
            Malam itu saya tidur di kelas, bersama seorang anak bernama Irgi. Irgi ini sudah beberapa tahun menetap di sini. Irgi masih sekolah di jenjang sekolah dasar kelas enam, persis seperti adik saya Fahmi.
            Kesan pertama bertemu dengan Irgi, ia tampak sebagai bocah yang kritis, pengetahuannya luas, dan sedikit sombong.
Malam itu kami terlibat perbincangan lumayan panjang. Posisinya (secara harfiah) saya tiduran dan dia sedang mengotak-atik notebook saya ini. Santai.

Irgi..


            “Selain belajar, mengaji, di sini juga belajar komputer, seperti mengetik,” katanya ketika saya tanya kesehariannya, “waktu itu komputer ada sebelas, tapi sekarang tinggal satu,” tambah bocah kelahiran 2003 ini.
            Dia juga bocah yang asyik, nyambung kalau diajak ngobrol. Ketika saya tanya cita-citanya, dia menjawab dengan sangat antusias khas seorang bocah. “Abis dari SD mau masuk SMP Khairul Umam, SMK juga di sana, ambil jurusan tekhnik robotik.”
            “Kenapa mau ngambil jurusan itu?” sela saya.
            “Karena robot bisa membantu kita,” katanya polos. Katanya lagi, ia mempunyai mimpi besar bisa melanjutkan pendidikan perguruan tinggi di kairo, mesir! Saya tertegun mendengarnya. Bocah ini mempunyai pemikiran panjang..
            Setiap dua Minggu sekali, Irgi akan dijenguk oleh bapaknya. Irgi juga berbicara kepada saya bahwa kedua orangtuanya sudah lama bercerai. Tujuh tahun ia tak bertemu dengan Ibunya.
            “Apa salahnya kita bersama lagi? Menjaga anaknya ini,” katanya ketika saya bertanya apa harapannya untuk kedua orangtuanya itu.
            Seorang bocah seperti Irgi, secara umum seharusnya tinggal bersama keluarganya. Dikasihi oleh Ibunya, juga saudara-saudaranya. Hidup di lingkungan yang semestinya. Tapi Irgi kurang beruntung dalam hal itu. Irgi pun mengaku tak mempunyai kakak, ia hanya mempunyai satu adik. "Adik ikut ibu," katanya.
            Mungkin karena hal di atas, Irgi tumbuh menjadi bocah yang pemberani, yang kritis, yang cekatan, yang ingin menang, yang selalu berguna bagi masyarakat.
            “Kalau bukan kita, yang harus berguna dan melindungi masyarakat siapa lagi? belum tentu ‘orang luar’ sana mau melindungi kita,” ucap bocah yang juga suka membaca majalah anak ini.
            Irgi mempunyai hobi otak-atik komputer, hal ini pun begitu tampak jelas ketika saya ijinkan untuk bermain di notebook saya. Dia menyebut tentang windows lah, smadav notebook saya kenapa tak diperbarui lah, photo shop lah, king soft lah, banyak lagi. Bahkan bocah SD ini suka bekerjasama dengan teman-temannya untuk membuat video di youtube.
            Selain hobi otak-atik komputer, ia juga suka menulis dan bermain basket.
            “Ketika kita menulis, kita bisa memancarkan semua yang ada di hati,” katanya bijak.
          Ia sangat berharap mempunyai laptop untuk mengetik, selama ini ia menulis manual di buku tulis untuk menyalurkan hasrat menulisnya itu.
           
*

Melihat Irgi, saya jadi ingat masa kecil saya. Di mana sejak kecil saya jarang bertemu orangtua. Kedua orangtua saya bekerja di Jakarta dan saya di hidup kampung, sekalinya pulang kampung mereka ya hanya sebentar. Lalu berangkat lagi, diiringi tangis keras saya (tak terima ditinggal), selalu begitu.  
          Dan ketika saya ‘menjemput’ kedua orangtua saya ke Jakarta karena di kampung tak ada yang mengurusi saya, beberapa tahun kemudian kedua orangtua saya memilih untuk menetap di kampung. Saya tidak mengikuti kedua orangtua saya, saya melanjutkan pendidikan di Jakarta. Pilihan yang berat.

Detik ini, ketika saya menulis ini, saya sedang di kelas yang disulap menjadi tempat tidur. Saya menggunakan meja kecil untuk menaruh notebook dan posisi kaki duduk sila. Sedang Irgi sudah pulas tertidur di samping saya. Meringkuk.

difoto sama Irgi. entah kenapa dia menaruh buku bacaan saya begitu,  sehingga berkeesan apalah2..


            Sedari tadi ia meminta ijin untuk diperbolehlan mengotak-atik lagi di notebook saya. Tapi saya bilang, “Nanti ya, Kakak mau ngeblog dulu. Kalau mau, nungguin, hehe..”
            Mungkin karena lama menunggu, dia tertidur pulas sekarang. 
           Dan, berikut adalah tulisannya yang ditulis kemarin malam, hasil dari otak-atiknya tanpa saya campur-tangan-i:

Motivasi tak terduga
Hari libur ini mungkin tersa aneh bagiku karena cuaca tadi malam hujan dan sekarang panas tak terasa hari mulai sore sekitar pukul 4 aku bermain.
 bermain disekeliling pohon memang menyenangkan merasakan kekuatan alam yang sejuk dan ditengah terik nya matahari ada kesejukan dari terpaan angin ke pohon yang hijau   nan asri.
Aku pun pulang dengan tubuh lelah dan kaku,di tengah perjalanan aku pun berfikir melihat segerombolan semut yang berbaris rapi,seandainya aku seperti semut yang selalu bergotong royong pasti semua pekerjaan yang berat akan terasa ringan karena gotong royong ,dan aku melihat sebuah kupu-kupu  yang melakukan hubungan mutualisme dengan bunga “memberi apa yang berguna bagi yang lain dan berguna bagi diri sendiri”
Hingga saat aku sampai dirumah aku pun sadar apa yang aku lihat tadi adalah sebuah motivasi yang berguna untuk kehidupan, mulai dari semut  yang selalu bergotong royong dan kupu-kupu yang membantu proses penyerbukan dan ia pun mengambil nektar dari bunga sebagai imbalan.
“Karena semua makluk  saling membutuhkan satu sama lain”
Nama: irgi hilman abdillah   
Tempat: jl.cendrawasih
Waktu mengarang: 23.25-00.18        

semoga kisah ini menginspirasi kita, khususnya bagi saya sendiri dan umumnya pembaca budiman sekalian.***      
                                                                          






BISA BELAJAR ILMU EKONOMI LEWAT NOVEL TERE LIYE: NEGERI PADA BEDEBAH

Di sebuah negeri, sebut saja negeri bedebah (baca: celaka, sebuah umpatan), hidup seorang konsultan keuangan professional. Namanya Thomas. Ia pemuda yang cerdas. Bisa menggerakan, memengeruhi orang banyak dan mengkondisikan suasana yang tadinya mencekam menjadi mencair. Thomas mempunyai masa lalu yang kelam. Ketika masih kecil, ia ditinggal oleh kedua orangtunya. Ndak tanggung-tanggung, sebabnya adalah kebakaran rumah mereka mengakibatkan kedua orangtua Thomas hangus terbakar.
            Itu semua karena bisnis arisan yang dijalankan oleh Liem dan ayah Thomas. Hari itu bisnis itu bangkrut. Orang-orang yang menginvestasikan uangnya, meminta untuk dikembalikan segera. Hari itu rumah mereka sudah dikepung massa.
            Parahnya, ada yang melihat ini suatu celah untuk mencari uang. Tersebutlah seorang polisi dan jaksa. Kedua orang ini yang menjanjikan perlindungan bagi bisnis Liem dan ayah Thomas. Tapi nahas, ketika kedua orang ini sudah diberi harta yang tersisa dari keluarga itu, malah kedua orang ini pergi entah kemana. Bukannya melindungi.
            Di luar sudah banyak massa. Karena sudah tersulut amarah, hancur dan terbakarlah rumah keluarga ini. Beruntung Thomas sedang berada di luar. Dan ketika ia kembali ke rumah, yang dilihatnya hanya rumah rata dengan tanah. Juga abu kedua orangtuanya, yang ndak terselamatkan.

aku ini suka bau buku, btw.. 

            Berawal dari masa lalu itu, Thomas tumbuh menjadi pemuda yang cerdas. Ia sangat cekatan dan boleh dibilang di atas rata-rata orang normal. Ia sekolah di sekolah bisnis.

*

Novel ini dibuka dengan Pesawat berbadan besar yang kutumpangi melaju cepat meninggalkan London. Penerbangan ini nonstop menuju Singapura.
            Kesan pertama membaca paragraf pembuka ini, aku langsung berimajinasi, hm, pasti tokoh utamanya orang kaya nih. Dan yeah benar. Di cerita-cerita selanjutnya, walaupun si tokoh utama dalam keadaan genting sekalipun, ia masih punya uang banyak.
            Selanjutnya, aku menemukan banyak sekali si tokoh utama ini berceramah tantang ekonomi. Iya, si Thomas ini sangat pandai sekali berceramah. Di depan orang luar atau dalam negeri.
            “Ya, ya, saya tahu di pojok sana keberatan.” Aku pura-pura memasang wajah serius. “Tetapi di dunia dengan sistem ekonomi saling bertaut, tidak ada batas pasar modal dan pasar uang, krisis seperti ini lebih menakutkan dibandin teror dadri ekstern kanan atau ekstern kiri. Kita tiak pernah melihat indeks saham terjun bebas seperti hari ini ketika dulu menara WTC dihancurkan, bukan? Bahkan indeks tidak berkedut ketika kapal salam nuklis Soviet memasuki perairan Amerika di era perang dingin. Hari ini, semua orang panic, satu per satu seperti anak kecil menunggu jatah permen, perusahaan raksasa mendaftar perlindungan keberangkutan, dan harga surat berharga menjadi sampah, tidak lebih dari harga selembar kartas folio kosong.” Hlm. 13
            Memang, di awal-awal novel kita seperti dijajali ilmu ekonomi. Banyak sekali istilah perbankan yang tidak semua (terutama orang awam) tahu artinya. Sedikit agak monoton. Tapi, di bab-bab selanjutnya, semua itu berubah dengan aksi-aksi mendebarkan Thomas.
            Permasalahan ini membawa Thomas terlibat di dalamnya berawal ketika Bank Semesta, punya Om-nya yang bernama Liem bangkrut. Persis seperti kejadian ketika bisnis arisan Liem yang sampai menghanguskan kedua orangtua Thomas. Maka dari itu, Thomas mencoba menolong Bank Semesta agar dibantu oleh pemerintah, memberi talangan dana. Thomas menjadi orang yang sangat dicari ketika ia berusaha menyembunyikan Liem, yang menjadi buronan, bertanggung jawab akan bank-nya yang bangkurt, tertutama nasabahnya yang ingin uangnya kembali, uang yang mereka tabung di bank semesta milik Liem.
            Thomas bisa mengelabui banyak pasukan polisi, bahkan bandara bisa diterobosnya dengan pengamanan yang super ketat.
            Sayang, kisah percintaan Thomas yang super sibuk ini ndak terlalu diekspos. Selama cerita, ia dekat dengan Julia (wartawan) dan sekretasisnya, bernama Maggie.
Menurutku Tere Liye berhasil membuat jantungku berdebar di setiap akhir babnya, membuat aku terus ingin melanjutkan ke lembar selanjutnya. Paragraf yang singkat dan ndak terlalu gemuk pun menjadi pembantu pembaca agar ndak lelah membaca. Ditambah gaya penulisan Tere Liye yang ndak usah diragukan lagi.
             Kebijakan bukanlah ilmu pasti, sepintar apa pun kau. Hlm. 172
 
Dalang
Tapi, menurutku ada beberapa kekurangan di novel ini. Di antaranya adalah dialog tokoh. Ada kata-kata yang biasa dipakai Thomas, terkadang pula dipakai tokoh lain. Ada kata-kata yang biasa dipakai oleh Opa-nya, juga dipakai tokoh lain. Kata-kata itu berupa: boleh jadi, orang tua ini. Jadi rasanya, terlihat banget dalang si penulis dalam novel ini.
            Juga ketika Thomas diintrogasi. Ditanya siapanya Liem. Thomas mejawab dengan sebutan ‘Om Liem’. Itu jelas-jelas menandakan bahwa Thomas mempunyai ikatan suadara dengan si buron Liem. Tapi pengintrogasi tarus-terus menyetrum Thomas untuk mengaku siapanya Liem. Dan Thomas hanya menjawab seorang konsultan keuangan perofesional yang diperkejakan Om Liem.
           
Kritikan pedas
Ya, di beberapa situasi, tokoh buatan Tere Liye, Thomas, seperti menampar keadan di Indonesia. Contohnya adalah ketika Thomas dipenjara, dan ia bisa kabur dengan mudah dengan menyogok.
            “Dua M, Bos. Kau terlalu menganggpku rendah. Jangan dibandingkan aku dengan pegawai pajak yang kalian tahan dan cukup ratusan juta saja untuk membiarkan dia pergi pelesir, atau orang-orang tua pesakitan yang post power syndrome setalah tidak berkuasa lagi, dikejar-kejar penyidik komisi pemberantasan korupsi, hanya puluhan juta  sudah kalian biarkan berobat  ke manalah. Dua M, Bos. Tertarik?” (hlm. 198)
            Begitu kata Thomas kepada sipir, dan akhirnya Thomas bisa kabur, bahkan dengan membawa serta hp salah satu sipir dan sepeda motor. Edan emang!
           
Ending
Ending novel ini benar-benar ndak terduga. Semua berakhir di sebuah kapal. Ternyata, selama ini ada penghianat, ia adalah Ram. Bab terakhir ini diberi judul Penghianatan di atas penghianatan dan Sepotong Laut yang Hilang dari Peta. Sempat menduga sih sebenarnya dan curiga sama tokoh Ram ini, tapi ya tetap, aku terkecoh dan ndak bisa dengan tapat menebak ending.
            Menurutku, cara penulisan Tere Liye agaknya sama dengan penulisan novel karya Maggie Shayne. Di mana di setiap akhir babnya, pembaca pasti dibuat mati-matian penasaran. Di di bab selanjutnya, lain lagi perkarannya, bukan membahas bab yang tadi itu. Jadi ya, bikin greget deh.
            Semakin percaya kalau Tere Liye terpengaruhi tulisannya oleh Maggie, tokoh-tokoh di novel ini mempunyai kemiripan nama dengan novel karya Maggie Shayne yang Twilight Hunger. Bahkan si penulisnya, Maggie, mirip sama salah satu tokoh sekretaris Thomas. Juga tokoh bernama Erik.
            Tapi ya aku ndak tahu pasti.

            Yang aku tahu pasti, novel ini sangat menghiburk. Bahkan sampai-sampai ndak mau beranjak lagi kalau udah duduk baca novel ini. Pokoknya matap deh. Bisa belajar ekononi juga, hehehe.. 

MENCARI FAEDAH CORET-CORETAN DI KALANGAN PELAJAR

Coret-coretan, sudah menjadi rahasia umum bahwa tindakan ini biasa dilakukan oleh mereka, para pelajar yang baru aja selesai UN. Bahkan, orang-orang yang kenal dengan kita akan bertanya, “Kok nggak coret-coretan? Sekolah onoh udah coret-coreten kamaren.”
            “Itumah sekolah yang lagi praktek seni budaya, bang, praktek menggambar, sekolah TK itumah!”
            Krik.
            Lanjut. Fokus!
sumber gambar: google

            Bagai lepas dari penjara, pelajar seperti sangat bahagia-sekali bisa lulus sekolah (walau belum pasti). Seolah sekolah adalah penjara yang isinya penuh kungkungan, tata tertib mengingkat, tidak bisa bebas berekspresi. Sehingga semua itu rasanya perlu kita rayakan, jika bisa keluar dari tempat itu. Dengan cara: konvoi, coret-coretan atau apalah itu yang intinya bebas berekspresi. Bahagia!
            Di sekolah gue, pas hari terakhir UN, tas diperiksa semua. Takut ada barang-barang semacam pilok, spidol atau apalah yang bisa untuk coret-coretan. Tapi, kami, pelajar, lebih lihai ketimbang guru yang memeriksa itu. ‘Barang-barang’ itu sudah ditempatkan di tempat yang aman.
            Kendati begitu, ternyata di depan gerbang sekolah ketika sesi pertama UN selesai, sudah ada pak polisi. Pak polisi ini pun memeriksa tas kami. Sekali lagi, kami, pelajar, lebih lihai ketimbang yang memeriksa. Kami melemparkan barang-barang itu lewat belakang sekolah dan dilanjutkan di tempat yang sudah dirancanakan bersama, untuk perayaan.
            Ketika sudah cukup ramai, kami pun segera melaksanakan tradisi itu. Tanda tangan di baju, celana, atau manalah yang bisa digunakan untuk media coret-coretan. Seolah kami ndak takut bahwa bisa jadi ndak diluluskan jika ketahuan coret-coretan begini. Padahal sebelumnya pihak sekolah sudah menghimbau, kira-kira begini, “Barangsiapa yang kedapatan coret-coretan dan ada barang buktinya, kelulusan akan tarancam.”
            Kami ndak takut.
            Tapi nyatanya, di luar sana, banyak pelajar yang masih melakukan coret-coretan, konvoi dan sebagainya.
            Dan gue? Gue juga ikut-ikutan, jadi juru kamera. Seragam gue bersih, ndak ternodai, tapi kalau ada sesi tanda tangan, gue ikutan nimbrung. Hehe..
            Bukan apa-apa, sebenernya gue ndak mau ikutan, tapi ya untuk sekadar tahu, apa salahnya? Seru juga sih untuk memacu adrenalin. Dan juga, gue meneliti di sana. Garis besar penelitian gue adalah, sebenernya tujuan mereka itu apa sih?

gue juga coret-coretan ding, tapi bentuknya gini. Insya Allah akan terbit bulan ini ^_^

            Setalah meneliti agak jauh. Mendengar percakapan mereka. Gue mendapat satu fakta bahwa tujuan mereka coret-coretan adalah untuk pamer di media sosial!
            “Buat ngisi galeri Instagram,” kata seorang teman.
            Yeah. Begitu. Dan alasan lain, seorang teman menulis di twitter begini, “Ya kapan lagi? Coba-coba. Entar nyesel kalau ndak nyoba. Bisa-bisa uring-uringan kalau ndak nyoba.”

*         

            Bisa dibilang, ‘ingin dianggap’ yang menjadi sifat dasar remaja adalah motivasi besar untuk mereka melakukan hal ini. Mereka ingin dibilang, “Wah, dia udah lulus. Keren..” atau ndak, mereka ingin berkata, “Ini lho gue, bahagia, bebas!”
            Keesokan harinya, sekolah ricuh. Ada beberapa alasan. Yang pertama ada yang bocorin ke pihak sekolah bahwa kami coret-coretan. Yang kedua, pada berebutan blutut foto. Entah itu cewek atau cowok, pada ngebet banget saling transfer foto coret-coretan mereka, seolah makanan: basi kalau ndak segera diupload!
            Dalam hati gue berkata, “Oh.. ini faedahnya dari coret-coretan, hanya untuk foto.”
            Alasan lain mungkin banyak. Ada yang merasa ingin keren, loyalitas kepada teman, dan semacamnya. Remaja yang mudah dipengaruhi, adalah salah satu faktor tindakan coret-coretan terus terjadi.
            Sepertinya seruan “Daripada coret-coretan, mending disumbangin untuk yang membutuhkan” seperti ndak sampai di telinga mereka. Mereka berdalih:
“Kan gue masih ada seragam dua.”
“Seragam gue kecil, mana ada yang muat sama mereka?”
“Mending buat kenang-kenangan.”

            Bila ditinjau lebih dalam lagi, tindakan di atas seolah adalah ‘pemberontkan’ dari sistem pembelajaran di sekolah yang kurang maksimal. Sistem yang masih bersifat ‘terbatas’, ruang berekspresi kurang, sehingga kami ingin bebas sebebas-bebasnya dari ‘penjara itu’. Rasanya sekolah bukan lagi taman (seperti yang dikatakan bapak pendidikan Indonesia), semakin ke sini, sekolah jauh dari kesan 'taman' itu.
            Sampai kapan pun, gue yakin hal ini akan terus terjadi. Kecuali sistem pendidikan di sekolah akan lebih baik lagi. Di samping kesadaran kita semua akan hal ini, berpikir lebih dewasa lagi.***


RASANYA 'RASAIN' UNBK 2016

Yeah, akhirnya gue udah selesai UN. Tapi gue belum benar-benar bisa bernapas lega, gue harus menunggu pengumuman apakah gue lulus apa ndak, apakah nilai gue terpuaskan memuaskan apa ndak. Sampai saat ini, gue tetap optimis, hasil itu semua pasti ndak mengecewakan. Bagaimanapun, gue udah semaksimal mungkin untuk mendapatkan nilai bagus di UN, dan—selama tiga tahun sekolah—gue berusaha memantaskan diri untuk bisa lulus.


ini pemandangan pas gue belajar di atas kosan gitu... 


            Asal kalian tahu, di tahun 2016, kelulusan itu ndak tergantung pada nilai UN, tapi pihak sekolah yang menentukan. Jadi ya, jangan serius-serius gitu bacanya… #krik
            Nah, selian fakta di atas, pada tahun ini UN-nya sebagian besar menggunakan apa yang dijeluki oleh orang-orang dengan CBT atau UNBK. Penjelasanya, maksud dari CBT atau UNBK intinya kita mengerjakan soal UN yang tadinya di kertas, eh pindah ke layar monitor komputer. Canggih deh!
            Fakta lain, sebelumnya, tahun lalu, CBT atau UNBK ini sudah ‘diuji coba’ di sekolah-sekolah yang menurut pemerintah layak untuk menerapkan sistem ini. Dan menurut berita yang gue baca, tahun ini dibanding tahun lalu, banyak sekolah yang menerapkan sistem ini, naik drastis. Ini manandakan bahwa gaung kemajuan pendidikan Indonesia, semakin terdengar keras.
            Tapi, eh tetapi, jangan harap 100% dengan sistem baru ini ndak ada kesalahan atau eror atau apalah itu. Karena bagaimanapun pasti semua bisa salah. Dan dengan adanya sistem ini, menurut gue pribadi, kemungkinan-bisa-menurunkan kesalahan-kesalahan UN di tahun lalu.
            Bagaimana ndak?
            Kita ndak usah repot-repot ‘mbuletin’ LJK, kita hanya log in lewat komputer, mirip banget kayak kita mau maen warnet gitu. Abis itu tinggal masukin token, dan boom dimulailah UN itu.
            Yang tadinya boleh jadi ada kesalahan ‘mbuletin’ di angka atau huruf yang salah di LJK, di sistem CBT angka kesalahan itu menurut gue diminimalisir. Kerena memang di sistem baru ini, ndak usah mbuletin LJK. Jadi ndak usah lagi pakai pensil 2B dan dengan gugupnya, dengan hati-hatinya, dengan sayangnya menjaga LJK agar ndak lecek. Sekarang, kita hanya perlu jangan sekali-sekali mengotak-atik komputer aja.
            Di sekolah gue, sebelumnya ada uji coba CBT. Sungguh, waktu itu gue merinding. Bukan apa-apa, si penjaga lab komputer bilang gini pas uji coba mau dimulai.
            “Kalian harus jaga komputer yang ada di depan kalian. Jangan sekali-kali membuka yang tidak-tidak. Kalau sampai ada kerusakan di komputer yang sedang kalian pakai, maka sampai lulus dan kemana pun akan kami kejar untuk bertanggung jawab atas kerusakan itu.”
            Deg. Waktu itu yang bilang guru cewek. Kenapa gue bilang guru cewek? Kerena memang guru satu ini masih muda sih. Walau gue ndak pernah diajar sama guru ini. Tapi kata-katanya pedas. Dengar-dengar, beliau ini terkenal galak dan suka makan orang. Hiii.
             
*

Hari ujian nasional pun tiba. Hari pertama pelajaran bahasa Indonesia. Orang-orang reme di media sosial. Dan anehnya, banyak di antara mereka yang membuat surat wasiat gitu. Jadi isinya tentang permintaan maaf, do’anya, hartanya akan diserahkan kepada siapa, pembagian warisan sampai nanti kalau mati dikubur di samping makam siapa. Ngeri juga sih gue bacanya. #krik2
            Pelajaran favorit yang satu ini, bahasa Indonesia, hm, sungguh menguras tenaga. Seperti biasa, ia memang terkenal sebagai pelajaran koran. Iya, jadi mengerjakannya seperti baca koran, kata teman-teman sih gitu. Tapi menurut gue? Ya gitu juga..
            Hari pertama sukses parah. Gue optimis dapet nilai memuaskan!
            Hari berikutnya adalah matematika. Gue belajar keras untuk pelajaran yang satu ini. Belajar arit, geo, persentil, desil, rata-rata baku, harmonis, dan apalah itu. Dari perhitungan gue, dengan waktu mengerjakan butuh 5 lembar coret-coretan, maka gue yakin bisa dapat nilai memuaskan di mata pelajaran satu ini! Dari tadi memuaskan mulu, Mz…
            Di hari kedua ini, kartu ujian gue ketinggalan! Gue baru sadar pas udah di kelas. Harap-harap cemas, apakah bakal diusir karena ndak bawa kartu itu, apakah akan disuruh pulang buat ambil kartu itu. Tapi, entah pengawasnya yang emang ndak terlalu niat apa alasan lain, gue masih bisa mengikuti ujian tanpa kartu itu.
            Nah, di hari ini nih, hari ketiga, sial, komputer gue mati! Dan hampir gue ndak bawa kartu lagi, inget di tengah jalan gue balik lagi ke kos, ambil kartu dan agak telat masuk kelas.
            Hari ketiga pelajaran bahasa Inggris, ada listening. Pertama-tama headshet gue ndak bunyi, terus diperbaiki oleh teknisi. Kedua, komputer gue mati mendadak. Windows-nya urged sendiri gitu. Gue panik. Melihat teknisi memperbaiki komputer, gue dengan harap-harap cemas, ditambah teknisi itu mukanya ndak meyakinkan, tapi, ya, sudahlah, berapa menit kemudian, boom gue bisa lanjut walau tertinggal dengan yang lain.
            Bahasa Inggris oh bahasa Inggris. Menurut perhitungan gue, di pelajaran ini, nilai gue bakal memuaskan!
            Hari terakhir ada teori kejuruan, administrasi perkantoran. Gue udah belajar sebelumnya—jangan ditanya—gue baca-baca soal UN teori kejuruan di tahun-tahun sebelumnya. Dan sial, di hari itu (atau hari ini, pas gue nulis ini) sedikit banget yang keluar di UN. Kebanyakan tentang PNS. Apalagi ada pasal-pasalnya segala.
            Gue sedikit banyak inget (maksudnya gimana?) tentang itu untungnya. Dan yeah, nilai gue, gue harap memuaskan di mata pelajaran ini!

*

            Pas pulang, ternyata ada pak polisi menghadang di gerbang sekolah. Sebelumnya, pas di ruangan UN, ada penggeledahan di tas-tas kami. Untung gue ndak bawa macem-macem, cuma bawa buku bacaan doang. Emang, kalau gue bawa tas, pasti di dalemnya ada buku, entah novel atau apa, dibaca? Kadang-kadang ==”
            Setiap yang mau melewati gerbang sekolah, akan diperiksa. Ada yang kedapatan membawa karter, baju ganti, dan lain-lain. Memang, dalam pemeriksaan itu ndak diketemukan pilok, tapi pasti di luar sana ada yang coret-coretan. Maksud pemeriksaan ini memang untuk itu, mencegah adanya coret-coretan. Karena hari ini, hari terakhir UN, Boss…
            Pas gue mau keluar gerbang, ndilalah pak polisinya minta foto. Gue jadi modelnya, diapit dua pak polisi seolah menggeledah tas, dan jok motor. Mereka jago banget gayanya. Gue curiga, jangan-jangan selain polisi, kedua bapak ini adalah… stop, sudah!
            “Buat laporan ya, pak?” tanya gue.
            “Iya,” jawab pak polisi datar. Udah gitu aja.

*


            Hm.. ndak tarasa udah panjang banget ini postingan. Kerena itu, gue akhiri saja ya. Mari kita do’akan yang terbaik untuk teman-teman kita kelas 12 yang sedang harap-harap cemas menunggu pengumuman. ^_^

DI HADAPAN RAHASIA ADIMAS IMANUEL


Puisi, secara utuh hanya diketahui artinya oleh penulis. Ketika kalian membacanya, maka akan ada pendapat-pendapat yang berbeda. Tiap kata, tiap kalimat, tiap bait, mempunyai makna yang berbeda jika kalian meminjamkan buku ini ke seorang teman dan tanya, bagaimana pendapatmu tentang puisi ini? Mereka pasti akan berpendapat yang boleh jadi berlawanan dengan pendapat kalian.
            Kendati demikian, menurutku puisi bukanlah untuk dihindari. Ya, puisi memang penuh teka-teki, di sana kita akan menemukan bahasa yang jarang kita temui, bahkan kita harus membuka kembali KBBI untuk mengetahui maksud kata yang ada di puisi. Menurutku ini keseruannya. Kita bisa menemukan kata-kata baru, dan berguman, selama ini aku ke mana saja, ini ada di KBBI! Dan mencoba kata-kata baru itu digunakan untuk menulis karya kita, boleh saja, bukan? Tapi jangan keseringan :p
            Buku kumpulan puisi Di Hadapan Rahasia karya Adimas Imanuel ini, aku rasa buku puisi yang keren. Dibuka dengan puisi berjudul Menanam Rahasia lalu ditutup dengan apik oleh Di Hadapan Rahasia.

            Kauhidupi rahasia layaknya bayangan sendiri            ia melekat di usia, getah menanti disadap            ingatan-ingatan yang ingin diungkap. (hlm. 9)

            Puisi-puisi selanjutnya, penulis menulis puisi yang terinspirasi oleh lukisan-lukisan. Menurutku, agar lebih terasa puisi tersebut, kalian bisa mencari lukisannya di goggle.
            Aku membaca puisi-puisi di buku ini secara acak, dan terkadang pula membacakannya di kelas keras-keras seperti pujangga-pujangga. Aku cukup pede, karena memang puisi-puisi ini bagus. Ada tentang kekasih, sakit hati, tuhan, kehidupan, rahasia-rahasia. Aku rasa puisi-puisi di buku ini berkesan murung, jarang sekali aku temukan puisi yang bernada bahagia, atau memang ndak ada?
           
Kemudian cuaca membatu, kabut luruh seperti awal huruf dipagut imbuh.meninggalkan kita: kepastian-kepastian yang saling membatalkan. Sejak hidupkehilangan kilau dan tinggal silau, tak bisa memenuhi kita dengan seluruh: hidup yang kekurangan nanti. (hlm. 25)

           
            Membaca buku ini, aku merasa sedang ada di depan (atau di hadapan?) rahasia-rahasia. Yang mana mereka berupa puisi-puisi penuh taka-teki. Adimas Imanuel telah berhasil memukau aku selaku pembaca buku ini. Ada pesan-pesan yang begitu gamblang terbaca, ada yang penuh rahasia, dan ada pula yang harus dibaca berulang-ulang agar mengerti maksudnya. 
di sela-sela buku, akan ada gambar potongan-potongan seperti ini. penyatuannya ada di halaman 'mau di akhir'

            Secara keseluruhan, aku suka buku ini. Dan yang paling favorit, puisi yang berjudul Etudes-Tableaux juaranya!

            Aku alirkan tubuhku ke tubuhmu agar tahu seperti apa            wajah dunia jika tak mengenal cakrawala, agar rasa laparku            kehilangan nafsu karena telah tuntas pegembaraannya:            ia tak bersekat darimu.             namun angin yang bersarang dalam paru-paruku gamang            memilih akan menuju pembuluhmu yang mana. Sungguh,            ia hanya ingin berkunjung dan menanyakan kabarmu,            siapa tahu rindu yang purba berpapasan di pernapasan. (hlm. 43)

Setelah membaca buku ini, aku membayangkan, bagaimana rasanya menulis buku puisi? Pastinya seru, bukan? Penulis akan benar-benar memilih diksi yang tepat, dibalut tema yang mantap, dan bertutur yang akurat. Aku jadi ingin menulis buku puisi, ya mungkin ndak sebagus Adimas. Tunggu saja, mungkin (lagi) suatu saat nanti buku itu jadi.

            Aku rasa, ndak ada salahnya kalian membaca buku ini. Harganya ndak terlalu mahal, enak dibaca dan ndak terlalu tebal (apa semua buku puisi seperti ini, ya?). Pesanku, ketika membaca buku ini, jangan kesusu untuk beralih ke puisi selanjutnya. Coba rasakan puisi yang baru saja dibaca, kerena puisi seperti perempuan, mereka sangat ingin dimengerti walau terlihat angkuh di depan kalian.*** 

MENYUSURI SISI KELAM CINTA BERSAMA BUKU BERNARD BATUBARA

Sebenarnya saya sudah lama menamatkan buku ini. Tapi ya, saya merasa belum menjadi pembaca yang kaffah kalau belum menceritakan kepada orang-orang bahwa buku yang kita baca itu bagus, sarat amanat, banyak faedahnya, enak dibaca. Maka untuk beberapa hari ke depan (dan seterusnya) saya akan menuliskan buku-buku yang sudah saya baca, di blog.
            Untuk buku ini, Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri, saya dapatkan ketika ada festival ASEAN LITERARY di TIM. Kebetulan, waktu itu si penulis, Bernard Batubara sedang berbicara di panggung. Waktu itu sore hari. Barangkali bang Bara juga sudah lupa. Tapi entah juga.
            Saya melihat buku itu di booth Gagas Media yang dijaga oleh muda-mudi yang ramah.
            “Ini penulisnya Bernard Batubara yah?” tanya saya.
            “Iya, tuh orangnya lagi di sana,” jawab Mas-masnya sambil menunjukan panggung. Saya membeli buku itu, dan mendapat satu buku catatan kecil sebagai bonus, bergambar Koala Kumal. Kemudian, saya ikut nimbrung di kursi penonton, nonton talks show itu.
            Ndak membutuhkan waktu lama untuk menamatkan buku ini. Bukan apa-apa, itu karena memang buku ini ‘sangat nikmat’. Isinya cerpen-cerpen bertemakan cinta. Dan di sini bang Bara mengangkat kesuraman cinta.
            Diawali dengan kisah Hamidah. Seorang gadis buruk rupa yang kemudian menjadi cantik jelita ketika didatangi oleh kunang-kunang, yang ternyata adalah Ibunya.
Aku telah menunggu saat-saat ini, untuk bicara kepadamu Hamidah. Maafkan aku harus menunggu dua puluh satu tahun lamanya sampai akhirnya bisa memiliki wujud kunang-kunang. Butuh usaha keras untuk menjadi kunang-kunang setelah mati, Hamidah. Lebih mudah menjadi kecoak atau lipan, tapi kau pasti tak mau bicara dengan kecoak dan lipan. (hm. 7)
            Ketika membaca ini, saya jadi ingat Si Cantik dalam novel Cantik Itu Luka. Dalam hal ini, kita belajar bahwa ndak butuh cantik untuk hidup yang lebih baik. Cantik bukan jaminan, bahkan wanita cantik itu malah rawan disakiti. Karena cantik itu luka. Maka, berkekasihlah dengan wanita buruk rupa, mereka cenderung tidak akan menyakiti hatimu.
            Cerita selanjutnya tentang asal-usul Pontianak yang dikemas begitu ciamik. Bahkan di sini bang Bara seperti begitu menikmati menjadi si kuntilak.
            … sesuatu itulah yang hendak kuceritakan kepada kalian lewat tangan cerpenis yang tenah kupinjam ini. Maka begini ceritanya. (hlm. 15)
            Saya jadi berimajinasi, jangan-jangan bang Bara harus melakukan ritual agar ia bisa kesurupan kuntilanak lalu menuliskan cerpen ini. Hahaha..
            Cerpen ini berkisah tantang kuntilanak yang menyukai seorang sultan tampan yang sedang melakukan perjalanan. Kuntilanak itu mengganggu rombongan sultan karena ia tertawa keras setelah bercanda gurau dengan daun, ranting dan akar.
            Sembarangan, ha. Begini-begini, biar kuntilanak begini, aku punya hati. Lebih tak punya hati para koruptor di gedung dewan itu! (hlm. 19)
            Selanjutnya cerita tentang kesetiaan wanita kepada kekasihnya. Sampai pada cerpen ini, kita disuguhkan cerita-cerita surealis. Dan itu cukup memikat pembaca untuk melanjutkan cerita-cerita selanjutnya. Ilustrasi-ilustrasi bergambar tiap cerpennya pun sangat apik. Terkesan begitu tampak suramnya cinta itu.
            Selanjutnya kita akan membaca cerpen yang seolah ditulis oleh anak kecil yang masih duduk di SD. Judulnya Seribu Matahari untuk Ariyani. Bukan apa-apa, menurut saya bang Bara seperti memburamkan dalangnya menjadi penulis untuk membuat tokoh yang begitu kuat. Jadi tidak menoton. Kan kadang kita membaca cerita ada yang tokoh satu dengan tokoh lainnya tuh cara pengucapannya sama, padahahal setiap tokoh memiliki cara berbicara yang berbeda seharusnya. Ya seperti kita saja, pasti cara bicaranya berbeda-beda.
Bangun tidur aku melihat foto. Sebelum tidur, aku melihat foto lagi. Dua kali sehari. Setiap hari. Kadang, Abang masuk kamar. Abang menempeleng kepalaku. Abang menempeleng kepalaku satu kali sehari. Kadang-kadang dua kali atau tiga kali. Kadang, saat aku sedang menulis nama Ariyani. (hlm. 86)
            Total cerpen di buku ini ada 15. Dari keseluruhan, saya sangat suka dengen cerpen berjudul Menjelang Kematian Mustafa. Itu karena di cerpen ini saya sebagai pembaca begitu merasa tegang. Ceritanya pun penuh lika-liku.
            Namun, Mustafa, mengingat pelajaran yang diberikan oleh Maman Kampang, segera menusukkan pisau lebih dalam ke jantung korban, membelokkannya ke kiri, ke atas, mencabutnya, lalu menusuk lagi. Juga membelokan pisau ke kanan, menekannya dengan kuat hingga si korban tak bisa melakukan hal lain selain terkulai, mengerang sebentar, dan akhirnya ambruk. (234)
            Ketika saya membaca narasi di atas, saya merasa nyeri sendiri. Sungguh. Saya merasa seperti korban yang dibunuh oleh Mustafa. Cerpen ini dari awal cerita memang seru, bisa menaikan adrenalin kita selaku pembaca. Dari halaman pertama yang mellow-melow, sampai cerpen ini semua diputarbalikan habis menjadi sadis!
            Buku ini ditutup dengan cerpen yang berjudul sama dengan judul buku. Adalah cerita tantang malaikat yang jatuh cinta pada perempuan di bumi yang bernama Rahayu.
            Aku bahkan tak merasa yang kubawa adalah wahyu, melainkan lebih ke pesan burung yang tak penting-penting amat untuk diketahui. Wahyu-wahyu yang kubawa itu seperti SMS nyasar dari orang tak dikenal… (hlm. 269)
            Jujur, saya ndak terlalu suka sama cerpen ini sebagai penutup. Awalnya, saya kira dengan judul seperti itu, isi cerpennya adalah tantang cinta yang amat hebat sehingga diakhiri dengan bunuh diri. Dalam artian di sini mereka adalah manusia bukan malaikat. Tapi ya, pendiskripsian tantang si malaikat di cerpen ini cukup membingungkan, asal-usulnya ndak begitu jelas.
            Entah disengaja atau ndak, di halaman 146 itu paragraf awalnya ndak dikasih ‘huruf besar’ tapi biarkan normal saja. Sedangkan di paragraf serupa, selalu bertuliskan besar.


           
            Buku ini cocok dibaca oleh remaja-remaja labil yang selalu memikirkan bahwa jatuh cinta hanya indah dan indah. Ndak memikirkan bahwa ketika jatuh cinta, ndak selamanya indah. Ada suram, gelap dan takut.
            Selain itu, buku ini pun nyaman untuk dibaca. Mulai font, margin, ukuran buku, semuanya apik. Cukup nikmat untuk dibaca sambil santai di kelas, di angkutan umum, atau di kamar sambil galau-galau.
            Jadi kalau kalian beranggapan bahwa ini novel berjudul jatuh cinta adalah cara terbaik untuk bunuh diri, kalian salah, ini adalah buku kumpulan cerita pendek. Ya itu saja, selamat membaca J

KEVIN ANGGARA LUCUNYA DI MANA?

Sekarang gue mau tanya, kenal Kevin Anggara ndak? Okay, mungkin sebagian dari kalian kenal dengan lelaki satu ini. Dia aktif di blog, youtube, nulis buku dan bidang kreativitas lainnya. Jujur, gue baru tau lelaki satu ini beberapa bulan yang lalu. Belum lama.


Sumber: youtube

            Sampai pada suatu hari. Gue berbincang sama temen gue di sekolah, dia adik kelas, kami sama-sama suka baca buku. Dia nanya gini, “Lu kenal Kevin Anggara nggak? Dia juga nulis buku kayak lu.” Gue menggeleng. Termotivasi penasaran yang cukup besar, maka keesokan harinya gue cari-cari info tentang lelaki satu ini.
            Gue buka blognya, saluran youtubenya, twitternya, sampai gue bela-balain ke toko buku buat nyari bukunya dia tapi, gue ndak beli. Gue nyari bukunya yang udah ‘terkelupas’ dan baca deh di tempat. Maklum anak kos. Jarang beli buku, sekalinya baca buku pun kebanyakan dari gratisan. Mulai dari menang kuis atau HM punya temen. Jadi jangan jadikan alasan anak kos (yang jarang pegang uang lebih) untuk ndak baca buku ya… #iyainaja ehm, mungkin aja karena gue ndak terlalu suka buku komedi remaja begitu kali ya, jadi ndak ngetemuin dia di list buku yang pengin gue beli. 
            Dari pencarian gue itu, gue menyimpulkan: pantas dia terkenal, lelaki ini kreatif dan lucu. Juga gue menemukan beberapa fakta:
1.      Dia nulis buku diterbitin di penerbit besar Bukune. Gue baca-baca, asal muasalnya dia nulis buku itu adalah ketika dimentions sama editor bukune. Kemudian ketemuan di sevel Manggabesar dan seterusnya sampai terbitlah bukunya itu. Gue pernah ikutan kuis di booth Bukune pas di festival pembaca Indonesia, di kuis itu gue disuruh nebak penulis gitu. Ada klunya. Dan waktu itu gue berhasil nebak karena dikasih klu: ia menulis kisah-kisah SMA-nya yang absurd, dan jago main rubik. Gue ndak inget kalau waktu itu gue jawab Kevin Anggara.
2.      Main film Ngenest. Gue baru tahu, poster film ngenest yang pernah gue liat di Senen ternyata ada lelaki ini. Dia berperan menjadi Ernest remaja. Dan, ketika si lelaki ini main film itu, dia harus buka kacamata dan ndak liat apa-apa, jadi dia main filmnya jadi semacaem merem gitu. Karena matanya minus udah keterlaluan (ditambah sipit). Belakangan dia menyabet penghargaan berkat main di film ini. Salud..!


Sumber: Youtube

3.      Jago main rubik. Gue akui bahwa permainan ini sangat sulit. Dan gue baru tahu ketika gue nonton video Youtube Rewind Indonesia 2015, ada lelaki ini main rubik. Awalnya gue ndak tahu siapa dia, dan ternyata si lelaki ini, Kevin Anggara!
4.      Sekolahnya di Santo Leo. Saban hari gue lewatin sekolah ini. Sekolahnya deket banget sama kosan gue. Dan mungkin rumahnya dia ndak jauh dari kosan gue. Tapi gue ndak tahu rumahnya di mana.


Waiki sekolah Santo Leo, sampingnya Sevel Manggabesar

Sekarang gue tahu di mana letak lucunya si lelaki ini. Gue akui dia kreatif, selain lucu, dia juga menginspirasi anak-anak muda macam gue ini. Gue dan lelaki ini terpaut satu tahun (umurnya). Dia sekarang sudah kuliah dan gue getar-getir ngadepin UN.
            Rasanya, lelaki ini mewakili gue. Maksudnya, ekspetasi gue hampir sama apa yang lelaki ini capai. Dan yeah, setiap orang mempunyai jalan hidupnya sendiri. Gue dengan hidup gue, dia dengan hidup dia. Gue seneng bisa temukan lelaki ini, setidaknya gue tahu ada lagu yang berjudul Jantung Berdebar-debar  yang gue setel berulang-ulang, berkat dia.***