Menjenguk Ibu Beda: Rasanya Kayak di Depok

Rencana sukses, menjenguk Ibu Bedawati berjalan mulus. Tapi, semua itu ada ceritanya. Inilah hidup, setiap di balik peristiwa pasti ada cerita. Dan untuk kali ini, cerita itu terukir bersama teman sekelas. Ya, kelas yang berisi kepala-kepala yang lahir dari ibu yang berbeda-beda, watak yang berbeda dan pola pikir yang jelas-jelas tidak sama.
Ada yang suka kebebasan mutlak, ada yang suka mengatur tapi tidak mau diatur. Ahk, pokoknya macam-macamlah watak teman sekelas itu. Mereka menggemaskan!
***
Begini ceritanya,
Pagi itu tepat pada Hari Pendidikan Nasional, 02 Mei 2015, kami, anak SMK N 11 Jakarta kelas XI Jurusan Adm. Perkantoran bertolak ke Depok.
Walau tidak semua ikut, tapi pagi itu kami berjalan bisa memenuhi jalanan umum. Pada itu juga, saya tidak membawa uang lebih, sedangkan sekarang pembelian tiket kereta commuterline dihitung dengan per-Km dan jaminan tiket itu sendiri naik harga.
Namun, jangan khawatir, ada teman yang membantu.
Saya meminjam uang ke Ucup (panggilan akrab Ahmadi Yusup), dan tanpa babibu dia meminjamkan uang kepada saya. Btw, saya tidak membawa uang lebih karena tidak dikasih uang jajan sama Abang, tas saya juga dipakai sama dia.
Sampainya di stasiun Kota, kami berembug di dekat loket pembelian tiket. Uang dikumpulkan, dan memakan waktu amat panjang untuk itu. Ada yang sok tau masalah hargalah, sok tau turun yang lebih cepat sampailah, dan ada yang menahan kentut.
Saya hanya berdiam di dekat tiang besar stasiun melihat mereka. Susah memang mengatur anak-anak yang sudah besar. Belajar dari pengalaman menjadi ketua kelas mereka tahun lalu, benar, susah, mereka itu inginnya bebas, tidak mau diatur, dan jika diperintah akan mentah-mentah memberontak. Diatur? Tidak akan mempan!
Lama tiket terbeli, kemudian kami masuk kereta jurusan Bogor yang melewati Bekasi Baru. Di kereta, kami sempatkan untuk berfoto ria.
Lihat aksi kami!











Masih jam 8 pagi lewat, di dalam kereta amat dingin menembus kulit saya, ditambah lagi ac dan kipas angin di dalam kereta ini terus bekerja. Belum sarapan, dingin, ah, calon-calon bakal masuk angin ini, batin saya.
Wajah-wajah teman saya terlihat gembira sekali. Dan saya bisa merasakan bagaimana semangatnya mereka untuk menjenguk wali kelasnya yang sudah sepuh itu. Mereka penyemangat saya :’) *maksudnya?*
Saya duduk di samping Argi, saya pasang headshet dan menyetel lagu keras-keras sambil menikmati perjalanan. Tak terasa, sampailah kami di stasiun Depok Baru, kira-kira perjalanan memakan waktu satu jam-an.
Selepas kereta henti di stasiun Depok Baru, kami naik angkot. Satu angkot kami paksa untuk memenuhi bangku-bangku dan tempat yang ada. Alhasil, kami berdempet-dempetan. SESAK!
Rafika, teman saya yang paling tua itu tampak akan memuntahkan amunisi dari mulutnya, sudah mulai huek huek dia. Sedangkan yang lain asyik bertukar canda, dan saya mendokumentasikan itu semua. Lihat…








Bayangkan, di dalam agkot yang sempit, dipaksa dimasuki banyak orang. Ditambah lagi Steven dan Erika yang berpostur dan tubuh besar. Ihihi…, ngeri juga kalau sampai-sampai angkot ini guling atau pecah ban.
Tapi hal itu tidak terjadi. Kami sampai di gang menuju rumah Ibu Beda dengan selamat!







Segera kami turun satu persatu dan tak lama jalan memasuki gang, kami disambut oleh seorang Bapak yang agak tua, sepantar Ibu Beda, dan saya bisa menebak, pasti beliau ini suami Ibu Beda.
Kami memasuki rumah Bu Beda yang tampak mewah tapi minimalis.
Peluh bercucuran di kening saya juga teman-teman. Bu Beda segera menjamu kami dengan membuatkan sirup es, lezat, apalagi diminum siang-siang begini. Sebenarnya tidak usah repot-repot, Bu, kami tidak haus, hanya saja lapar, jadi?
***
Anak didik dan orang tua di sekolah kini bertemu dalam suatu ruangan yang beranama rumah. Rumah seorang Ibu tua yang sudah senja usianya. Bu Beda memang sebentar lagi akan pensiun.  Cara mengajarnya saja sudah sulit dipahami, suaranya tak jelas didengar oleh semua khalayak kelas.

Orang ini paling banyak masuk ke kamera saya nih :3


Ini Ibu Bedawati Siagian. Semoga lekas sembuh!


Udah keak lebaran :3 











Btw, Ibu Beda ini menderita penyakit kanker payudarah. Beliau akan diterapi, dan katanya juga akan dibotaki sebagai persyaratan terapi itu. Beliau sudah dioperasi, sudah meminum obat pencepat pengeringan bekas operasi dan sebagainya juga.
Ya, maklum saja beliau menderita penyakit seperti itu. Dilihat dari perjalanan pulang-pergi ke sekolah yang beliau ajar saja jauh. Saban hari beliau akan mengejar kereta, naik angkot, melewati pasar, jalan kaki atau dijemput anaknya di stasiun.
Anehnya, beliau tak pernah menampakan raut wajah mengeluh. Setiap hari beliau tampak semangat dan terus semangat. Itulah yang membuat kami bangga mempunyai guru seperti beliau: BEDAWATI SIAGIAN
Sebantar lagi akan UKK, wali kelas sedang sakit seperti ini. Entah bagaimana nantinya, apakah nanti wali kelas diwakili oleh guru yang lain atau bagaimana ya..? Entah.
***
Dzuhur telah naik ke permukaan atas.
“Mau Sholat? Mau di mana? Tetangga? Di sini? Apa di masjid?” tawar Bu Beda yang non muslim.
“Kalau di masjid jauh tidak, Bu?” tanya balik saya.
“Dekat kok,” jawab beliau, lalu menjelaskan rute ke arah masjid yang memang tidak jauh dari rumah Bu Beda.
Toleransi yang dimiliki Bu Beda tampak. Beliau menghargai kami yang muslim (kecuali Steven dan Vina). Bahkan beliau menawarkan kepada kami untuk sholat di rumahnya atau rumah tetangganya yang muslim.
Tapi tetap saja tidak enak, lebih baik kami ke masjid.
***
Menjenguk Ibu Beda dipenuhi dengan cerita. Terlihat kini kelas XI-AP1 mulai sangat solid. Teman-temanku kini sudah tampak mulai peka terhadap apa-apa di sekitarnya, lebih tepatnya adalah teman sekelasnya.
Dengan itu, kekeluargaan makin erat lahir di kelas. Sebab, dengan seringnya kami bersama, rasa bosan itu hinggap. Dan ini menurut saya adalah momen untuk mengenang dan melepaskan kebosanan dalam kelas yang terdiri dari meja dan bangku.
Mengenang makan bersama, panas-panasan bersama, kenyang bersama, haus bersama, desak-desakan bersama, dan banyak hal bersama lainnya pada hari itu: 02 MEI 2015.
Jam 14.00 kami pamit pulang. Kini angkot yang kami naiki agak besar dari sebelumnya. Jadi, akan sedikit ulah desak-desakan di sini, setidaknya tidak seperti berangkat tadi.




Kita berselfie ^,^~



Namun sialnya, kenapa saya duduk di sampingnya? Yeah, dia yang sedang marah dengan saya. Saya kikuk, dan menjaga agar tubuh ini tidak menyenggolnya kerena perjalanan angkot. Saya kaku.
Tapi tak lama kemudian, kami turun, melewati mal dan menuju stasiun yang agak jauh. Sampai di sana, kami kembali mengisi tiket. Lama, lalu kami naik kereta yang penuh.
Kasihan saya melihat teman perempuan saya yang duduk di bawah lantai kereta. Lihat, seperti ini…




Perjalanan pulang digelayuti rasa lelah. Jadi, selama di dalam kereta tidak ada canda yang lahir, yang ada hanyalah rasa ingin menyalurkan lelah di rebah kasur.
Sampai di stasiun Kota agak sore. Kami berpisah di depan pintu masuk stasiun Kota yang besar, saling berpamitan dan saling memberikan kata, “Hati-hati di jalan.”
***

Sekian. Begitulah cerita saya dengan teman sekelas saya. Solid bukan? Semoga saja teman sekelasmu lebih solid yah….? Teman sekelas adalah mereka yang menemani kita dalam banyak hal mengenai sekolah, komunitas kecil yang unik. Mereka memberikan saran, mereka bisa menjadi sahabat, penyemangat hidup atau bahkan pacar? Dan tidak bisa dipungkiri juga, teman sekelasmu bisa jadi teman hidupmu. Kelak.

Afsokhi Abdulloh
Minggu, 03 April 2015


Tambahan:

Reza Ricky dan Fadly.


Udah kayak mau tawuran :y



Ihsan :3 
Anak politik.
Stevenly. Besar, bukan?


Makan...!


Wudhu


Cie KALIAN...

KAYAK DI DEPOK!



Berikutnya adalah scren cepture video di dalam angkot:

Bahagia banget dia.






SELESAI~













Balik Ming Jakarta Meneh...

Keesokan harinya adalah hari pulang saya ke Jakarta. Pagi tadi alaram hape saya berbunyi kencang, beberapa kali memang, tapi saya matikan lagi dan lagi. Dan tepat jam 6 saya baru bangun. Yang lain sudah siap dan rapi dengan pakaiannya masing-masing. Ah, saya akan tertinggal! Cepat saya mandi, siap-siap, dan diantar ke stasiun Tugu Yogyakarta.
Ketika saya akan pulang. Mas Reza berceletuk, " Sokhi, nulis yang bener luh!" Begitu, dan masih terngiang di kepala saya sampai saat ini. Dan juga terima kasih untuk Mas Rey yang sudah memberi oleh-oleh berupa bukunya: Mendayung Impian, tunggu resensinya yah, Mas~
          Kereta Bogowonto dua jam lagi akan berangkat, saya masih bertahan di tempat tunggu stasiun. Saya habiskan dua jam itu dengan bermain twitter, ramai para peserta KF emas saling mention, termasuk saya juga sih.
Tak terasa kereta sebentar lagi datang, sempat saya lihat ada orang yang membawa kardus yang sama dengan saya, ah, pasti anak KF nih, batin saya. Dia naik kereta yang sama dengan saya, namun berbeda gerbong, udah, gitu aja.
Di kereta, saya habiskan di restorasi, memesan ayam goreng dan nasi dan air putih dan kopi. Menikmati pemandangan yang hadir di depan mata dan sambil menikmati lagu-lagu ost Kiseijuu. Uhuy.

                                                          ***
Saya sampai di Jakarta (tepatnya di kosan) malam jam setengah 7 lewat. Besok sekolah? Oh tidak, ditambah lagi seragam yang belum saya cuci dan nggak enak badan juga. Dan alhasil, keesokan harinya, saya kesiangan.
Hari Rabunya baru saya masuk. Teman-teman di kelas sudah siap saya bagikan oleh-oleh dan segera ludes begitu saja, semoga berkesan yah, teman ^_^


Btw, ini sekolah saya ^_^

Selepas itu, saya menuju ruangan Pak Simon (disuruh teman), guru produktif saya yang sangat perhatian ini menceramahin saya kerena tidak memberitahu bahwa saya pergi ke Yogyakarta kepadanya. Semua ada prosedurnya, bla, bla, bla…, kata beliau dengan kental logat bataknya. Saya hanya mendengar dan sedikit menyanggah apa yang beliau katakana jika kurang berkenan di hati saya.
Selesai itu, saya menuju ruang Bu Sri, wali murid yang sangat aktif. Saya disuruh Bu Sri menceritakan apa-apa yang terjadi kemarin di Yogyakarta. Beliau mendengar dengan antusias, dan beberapa kali berdecak kagum.
“Wah hebat kamu, Sokhi.”
“Berani banget sendirian.”
“Kamu orangnya pendiem, tapi tau-tau pinter juga kamu yah.”
Bla bla bla bla…
Dan ternyata Bu Sri ini juga suka dengan tulis-menulis, beliau sendiri sudah mempunyai buku. Wow, saya kagum. Dan beliau memberitahu saya bahwa kalau ada perlombaan tentang tulis-menulis maka saya yang akan mendapatkan jatah untuk ikut serta dan mewakili sekolah.
Akhirnya, setelah sekian waktu bersua dengan para orang-orang hebat yang menggeluti dunia kepenulisan di Kampus Fiksi Emas, saya berasa mendapatkan cabukan agar saya sendiri bisa menjadi seperti mereka. Saya tahu, itu semua tidak mudah, dibutuhkan banyak membaca, belajar, pengalaman, bargaul, dan seterusnya.

Susah memang dijelaskan kenapa saya mau jauh-jauh ke Yogyakarta sendiri modal nekat. Yang saya tahu, saya mendapatkan kepuasan batin yang tidak bisa diutarakan dengan apa-pun.   

Tambahan:
 
Ini buku yang saya dapat, gratis dari Kampus Fiksi Emas, harus bikin jadwal nih buat selesaian buku sebanyak ini *.*9


Ketika penumpang di depan kita pergi :3


Nikmat Mana Lagi yang Kau Dustakan?

Foto: Facebook


Besoknya, Minggu, 26 April,  acara inti diselenggarakan. Bertempat di resto De Nany kami dikumpulkan. Ketika saya sampai di sana, sudah ramai ternyata. Dan mungkin ketinggalan pembukaannya. Tahu-tahu sudah pemotongan tumpeng, dan dibagikan kepada peserta perwakilan perempuan dan laki-laki. Dan yang laki-laki ternyata Mas Rey, yah, dia sempat kaget juga. Ternyata Pak Edi menyebutnya dengan nama asli, bukan nama pena. Hem…, pantes….
Begitulah penulis, punya nama pena! Keren!
Di acara ini, saya ikuti dengan seksama, walau mata nggak bisa diajak kompromi. Ketika sesi pertama, mata agak bisa melek dengan sempurna, juga pada sesi Om Joni, tapi, pada sesi Om Raudal, sungguh, mata nggak bisa diajak kompromi. Lelah, tapi saya tidak tidur, hanya saja menutup mata dengan berusaha melek. Gimana yah?
Nah. Acara inti ini sungguh meriah! Amat meriah! Dan banyak mendapatkan ilmu baru!
Saya bingung, Pak Edi, selaku CEO Diva Press dan rector Kampus Fiksi mengatakan bahwa, tidak ada untungnya beliau mengadakan acara ini. Yang ada rugi banyak. Ya jelas, soalnya, belum untuk konsumsi? Penjemputan? Buku berdus-dus? Dan masih banyak lagi yang lainnya. Nikmat mana lagi yang kau dustakan?
Tapi, Pak, kalau boleh saya berpendapat. Bapak tidak rugi sama sekali. Jika semua ini Bapak adakan dengan ikhlas, jelas akan menjadi amal jariyah untuk Bapak. Menjadi cahaya di alam kubur kelak, semua pasti akan mendo’akan Bapak yang baik dan rendah hati ini.
Ngomong-ngomong tentang Pak Edi, sebenarnya saya ngefans sama beliau. Saya sering membaca tulisannya di blog, status fb, twitter, dan bukunya. Pikiran beliau ini yang sangat hebat, seperti tidak ada keringnya, terus bercucuran.
Ketika saya melihat pertama kali Pak Edi di resto De Nany, saya langsung tidak percaya. “Oh ya, ini Pak Edi? Yang saya idolakan? Oh ya? Oh ya? Yayayaya…!”

                                                          ***
Acara selesai pada senja hari. Diakhiri dengan kata-kata dari Pak Edi yang menggetarkan hati. Saya lihat, Pak Edi agak sedikit menahan tangis, tapi entah benar atau tidak yah, itu yang saya lihat.

 Pembagian Buku...


Nah, setelah selesai berselfie ria, akhirnya kami peserta acara ini mendapatkan satu dus yang berisi buku-buku. Wuah, keren bukan?
 Foto Nisit, Nduk...

Selepas maghrib baru saya dan teman-teman dijemput. Lalu sampai di gedung Kampus Fiksi dengan lelahnya. Tak lupa kami makan malam, kemudian bermain-main dan mengobrol-obrol dengan teman-teman.
Sebenarnya nih, ya, bisa dibilang di sini tidak ada yang saya kenal. Hahah…, ya, hanya modal nekat saja. Mas Rey aja sempat kaget mendengar pernyataan saya itu. Begitu juga dengan yang lain. Tapi, di sini saya berasa mendapatkan teman baru yang sangat terbuka dengan saya, membuat saya menjadi dihargai menjadi manusia, heheh…
Tak lama kemudian, jam 8 malam, ada kunjungan Pak Edi yang mengagetkan para peserta. Pak Edi datang dengan wibawanya, duduk di antara kami dan lalu menjadi poros dari kerumungan yang kami buat. Pak Edi mulai berbicara, sedangkan saya sudah amat mengantuk, sempat juga ikut mendengar apa yang Pak Edi bicarakan, tapi ya begitu, mata saya sudah tak bisa diajak melek, jadi, saya tidur, zZzZz…

Bersambung... ~> Balik Ming Jakarta


Dolan Ming Malioboro...

Sekitar jam 8 malam, rombongan orang yang ingin ke Malioboro pun turun ke bawah. Saya diajak sama Mas Rey, dia saya kenal ketika Mas Rey masuk kamar, dan saya bertanya basa-basi tentang Malioboro. Dan yeah. Saya diajak!
Saya turun tangga, bertemu teman-teman yang ingin ke Malioboro. Masuk mobil dan cabut…!
***
Di dalam mobil, mulailah perkenalan itu. Ada Mbak Resty (dari Subang) yang super aktif duduk di depan samping Mas Agus. Ada Mbak Aini (Semarang), Mbak Anis (Semarang), Mbak Riya (Kudus), dan Mas Rey (Kudus).
Susana di dalam mobil mencair gegara Mbak Resty. Kalau saya lihat, Mbak Resty adalah kaloborasi dua teman saya. Dia agak mirip dengan Yulia, dan suaranya mirip dengan Debora. Ya, begitulah.
Dari sekian orang di dalam mobil ini. Hanya saya yang masih SMK, rata-rata mereka adalah kuliah dan kerja. Dan juga, di antara kami, adalah mereka para alumni Kampus Fiksi, dan peserta Kampus Fiksi Roadshow. Saya? Saya hanya pengaggum Kampus Fiksi di media sosial saja, hiks :’(
Sampailah kami di Maliboro. Saya mulai akrab dengan Mas Rey, saya borong pertanyaan kepadanya.
“Malioboro itu gimana, kak? (awalnya saya memanggil Mas Rey: Kak).”
“Ada apa aja nanti?”
“Pernah ke sini sebelumnya?”
Dan banyak lagi pertanyaan lainnya, dan dengan sabar Mas Rey menjawabnya. Oh pantas saja Mbak Resty kepincut dengan Mas Rey, saudarah-saudarah, ternyata  mereka berdua mamang cocok ^_^


Kami ber-6 menyusuri jalan Malioboro, kami akan menuju Titik Nol Yogyakarta, kata Mas Rey, di sana ada tampat yang pas untuk berfoto-foto, dan benar!
Lama kami menikmati malam yang indah di langit Yogya. Kenangan kami ukir bersama dengan pena yang sama: perbedaan. Dan saya merasa sangat bahagia bisa dengan mereka malam ini. Pasti saya tidak akan melupakannya :’)





SEMUA FOTO (4) DI ATAS, SAYA AMBIL DARI BLOGNYA MAS REY, IZIN YA MAS~





***

Menuju pulang, kami sempatkan untuk membeli oleh-oleh. Mata saya sudah 4,5 wat, sudah agak pusing-pusing juga. Tapi, semua itu terusir dengan obrolan-obrolan ringan yang kami adakan.
Dan yang berkesan di antara itu semua adalah mencoba Wedang Ronde.
Saya penasaran, kenapa sepanjang jalan yang kami susuri banyak pedagang Wedang Ronde? Aromanya pun khas. Setelah satu porsi yang ditraktir oleh Mas Rey habis, saya bertanya kepada pedagang Wedang Ronde.
“Bang, tahu sejarah Wedang Ronde?” tanya saya sambil mengembalikan mangkuknya, sedangkan yang lain masih menikmati hangatnya si Ronde ini.
“Nggak tahu, Mas,” jawabnya singkat, sambil cengar-cengir.
“Mungkin gini kali yah Mas,” kata saya memberikan pendapat, “wedang ronde ini dulunya dibuat oleh orang-orang Yogya untuk Ronda. Ketika saya minum-makan wedang ini, rasanya tuh pengin melek, Mas, pas buat ronda! Gimana?”
“Nggak tahu saya, Mas,” kembali Abang pedagang Ronde cengar-cengir.
Ah, kalau gitu, mari kita berselancar di internet!

 
Ini Wedang Ronde, Bikin Saya Ketagihan!

Abang yang dagang...

***
Sekitar Jam 01:00 kami ber-6 menunggu jemputan di tempat yang sudah direncanakan dengan Mas Agus. Lama kami menuggu, berasa jadi gembel. Bayangkan, di tengah malam, di trotoar yang kotor, ada taik kucing, dan parkiran mobil, kami duduk menunggu.
Hahah…, tapi tak apalah kalau bersama dengan mereka orang-orang yang baru saya kenal dan langsung menjadi teman, sahabat bahkan keluarga saya sendiri, ini kan menjadi berkesan, bukan?
Belasan menit kemudian, mobil Mas Agus menepi. Segera kami naik, dan sampailah di gedung KF yang sudah ramai pengunjung (selama perjalanan saya tidur).
Kami yang masuk ke gedung Kf berasa makhluk asing yang baru saja mendarat di bumi dengan membawa plastik hitam berisi piring terbang (lha).
Hahaha…, kami masuk ke kamar masing-masing, dan membunuh malam dengan gelap yang bernama tidur.

Tambahan:


MALIOBORO TENYATA AGAK MECET JUGA. TROTOARNYA PENUH PARKIRAN. 


BARU PERTAMA KALI LIAT TARI SAMAN PAKE TALI DILILITIN GITU KEREN

MALAM ITU, MALAM MINGGU. PAS BANGET, ADA KAYAK PEMENTASAN GITU. BERUPA BAND DAN LAWAKAN KHAS JAWA


MIRIP KAYAK DI FATAHILA JAKARTA KOTA YAH?


BELI OLEH-OLEH...








Berangkat ke Yogyakarta, Demi Kampus Fiksi Emas!

“KERETA GAJAH WONG, TUJUAN AKHIR LAMPUYANGAN YOGYAKARTA, SEGERA DIBERANGKATKAN!”
Suara itu menggema, memantul ke segala arah dan masuk ke telinga saya.
“Kereta itu?! Akan berangkat?! Arght!” gerutu saya.
Saya baru sampai di stasiun Pasar Senen, Jakarta pada jam 06:40 dan di tiket yang saya beli, kereta akan berangkat jam 06:45.
Mendengat suara itu, saya segera lari menuju pintu masuk yang membingunkan (sebelumnya saya belum pernah ke sini). Ketika sudah mengantre agak panjang dan sampai di meja pemeriksaan, bapak petugas berkata, “Pintu masuknya sebelah sana, Mas,” katanya sembari menunjuk pintu yang agak jauh. Spontan saya lari, tas yang saya bawa anjluk-anjlukan, napas saya tersengal-sengal, beruntung, pintu masuk itu tidak terlalu ramai. Dan di sini yang kedua kalinya saya berpamitan kepada seorang yang mengatar saya. Dia repot-repot, susah-susah, mengantar saya ke stasiun Senen. Terima kasih yah, jadi tambah sayang... *ini kok curcol woy!* 
Cepat saya masuk, dan menuju kereta Gajah Wong yang siap diberangkatkan. Bersama seorang ibu-ibu dan anaknya yang masih kecil (yang kebetulan bertemu dalam keadaan seperti ini), kami menaiki dan turun anak tangga bersama, dan sampailah di rangakian kereta Gajah Wong, jika telat sepersekian detik saja, saya akan ditinggal.
“Permisi yah…,” kata saya ketika sampai di bangku 11c gerbong 2. Ada ibu-ibu dan mas-mas dengan istrinya yang manatap saya dengan tatapan kosong, tak lama kemudian mereka tersenyum, dan mempersilakan saya untuk bergabung.
Tas saya taruh di atas, di tempat yang sudah disediakan, sudah penuh juga. Selepas itu, saya duduk dan menghela napas panjang.
“Kirain tadi nggak ada orang,” kata ibu-ibu di samping saya. Saya tersenyum dan membalas, “Iyah, Bu, hampir tadi telat.” Saya lap keringat yang menyumbul di kening dan mulai menenangkan napas yang tak beraturan. Kereta pun berangkat.
***
Perjuangan banget emang buat ke Yogyakarta ikut acara Kampus Fiksi Emas. Selain kejadian di atas, untuk membeli tiket kereta pun saya harus meminjam uang teman dahulu, dan akan dilunasi ketika Abang mengirimi saya uang bulan depan, heheh…
Di dalam kereta saya terus termenung ditemani sebuah buku tebal karya Herman Praktikno: Hamba Sebut Paduka Ramadewa. Sambil membayangkan apa yang akan terjadi di Yogyakarta nanti.
Setengah jam kemudian, pemandangan di jendela kerta yang tadinya gedung-gedung dan rumah yang tak beraturan, kini berganti pesawahan, pohon, dan para petani yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.                                                                                        

 
***
Selama perjalanan kereta, saya habiskan untuk tidur dan sesekali ke resotarsi untuk makan. Dan tak berasa sudah sampai di Yogyakarta. Deg, saya tidak menyangka, sudah sampai? Yogya? Aw, semoga ini bukan mimpi! Jam di hape saya menunjukan 15.05.


Setelah turun dari kereta Gajah Wong, saya duduk di tepian ruang tunggu yang sudah penuh, tepatnya di gundukan. Menunggu jemputan. Tak ada yang saya pikirkan saat ini, orang-orang hilir mudik di depan muka. Dan entah ekspresi apa yang tampil di wajah saya saat ini, mungkin kalau ada yang melihat saya, pasti akan terlihat seperti bocah hilang yang habis diculik dan kabur karena disuruh ngamen, hiks.
Lama saya menunggu, hape pun hampa, saya mencoba menyibukan diri dengan mondar-mandir di stasiun sambil mengecek hape berkali-kali. Karena itu, saya menelepon Kak Vie. Pulsa saya tinggal dua ribu.
“Nanti, tunggu aja, dihubungi kok,” kata Kak Vie di ujung sana.
Saya pun kembali duduk, termenung, menatap hape dengan tatapan kosong, “Apakah saya akan terdampar di sini, selamanya…?” batin saya, lebay :3
                                                                   ***
Lama kemudian, sms masuk ke hape saya, oh, yeah, ini jemputan! Mas Kiki namanya, dan dia menyuruh saya untuk ke perempatan Malioboro, dan memberikan ciri-ciri diri saya kepadanya.
“Saya pakai baju abu-abu, jacket hitam, celana panjang dan tas hitam, orangnya ganteng.”  Begitu diskripsi yang saya berikan kepada Mas Kiki.
Segera saya berjalan menuju perempatan Malioboro. Tak usah tanya kenapa saya tahu perempetan itu, sebab saya bertanya, oke? *iyain ajalah*


Saya sudah sampai di perempatan, dan ketika saya ingin beranjak menyebrang rel kereta, suara tin nong ting nong berbunyi, padahal saya sudah berapa langkah ke depan. Pintu otomatis tertutup, saya panik, “Apa hidup saya akan berakhir di sini?” batin saya melas.
Tapi tidak, saya berjalan mundur, (Nggak penting yah?).
Nah, selepas kereta lewat, saya berjalan ke lampu merah perempatan. Saya berjalan pelan, pelan sekali.
“Kamu peserta Ka-Ef?!” tiba-tiba seorang Mas-mas menyambangi saya, dengan memakai kaus, celana pendek dan sandal; saya bisa menebak pasti ini Mas Kiki! Sedikit ada curiga juga: kalau ini bukan Mas Kiki…, dia pasti penculik! Tolongg…!
Ah tidak, benar, ini Mas Kiki. Dia menyuruh saya berjalan di belakangnya, cepat dia berjalan, dan sampailah di parkiran di tepi jalan. Mobil hitam pribadi yang sering saya lihat di jalan tapi nggak tahu mereknya apa, saya buka pintunya, dan…, ada tiga orang cowok, setelah saya berkenalan, ternyata mereka bernama: Mas Heru dari Cirebon, Mas Reza dari Jakarta (yang saya curigai sebegai admin twitter Kampus Fiksi), dan Mas Kiki itu sendiri.
Di dalam mobil, beberapa pertanyaan dilontarkan Mas Kiki, seperti nama.
“Siapa tadi namanya?” tanya Mas Kiki.
“Afsokhi. Sokhi ajah, Mas.”
“Sopi?”
“Sokhi! S-O-K-H-I. Soo kkhhii….”
“Sogi? Sohi?”
“Sokhi, Mas…,” jawab saya agak kesal. Entah kenapa orang yang baru kenal sama saya, pasti kesusahan dalam menyebut nama itu. Ya biarlah, nanti juga bakal biasa.

Ini di dalam mobil. Tapi bukan ketika menjemput saya, tapi ketika berangkat dari gedung KF ke Resto De Nany.

Mobil dilaju Mas Kiki menyisir jalanan Yogyakarta, terpampang plang-plang berkejaran di luar sana. Borobudur, Malioboro, Yogyakarta Kembali, Tugu, Titik Nol, dan masih banyak lagi.
Saya duduk di dekat jendela, saya rapatkan wajah saya ke jendela, dan mengagumi apa-apa yang terlintas di luar sana.
INI YOGYAKARTA….!
                                                ***   
Setelah menjemput satu peserta, namanya Fahri, di terminal, akhirnya kami menuju gedung Kampus Fiksi, hari sudah senja.
Tapi, Mas Heru yang di samping saya menggeliat ingin buang air kencing. Lalu Mas Kiki pun mengebutkan mobilnya, lama, kami sampai di POM bensin. Sebetulnya saya juga kebelet sih.
Segera saya berlari, dan sampai di toilet, ngantre, beberapa menit kemudian, baru giliran saya melepaskan kenikmatan yang luar biasa, seperti terlahir kembali kalau kata Mas Reza.
                                                          ***
Selepas semua itu terlepas, kami menuju gedung Kampus Fiksi, melewati jalan raya yang agak ramai, dan pedesaan yang asri. Gedung KF itu sendiri berada di sekitaran pesewahan, pokoknya, perkampungan, deh. Keren!
Kira-kira jam 18.30, kami sampai di depan gedung KF. Turun dari mobil dan menaiki tangga. Saya, Mas Reza, Mas Heru, dan Mas Fahri masuk. Dan lalu disambut peserta yang lain. Kami menyalami satu-persatu sambil mengucapkan nama masing-masing.
“Yang baru datang…, silakan makan, makan…,” perintah Kak Vie. Dan malu-malu saya mengambil makanan itu yang ternyata berisi ayam goreng dan nasi.
Satu kendala, yaitu ketika ingin mengambil air. Segelas air sudah di tangan, dan sampainya di dispenser, “Ini gimana caranya…?” saya pencet-pencet bagian dispenser, tapi tidak keluar juga isinya. Setelah agak lama, dan merasa malu juga kerena dispenser berada tepat di balakang ruang utama, akhirnya keluar juga airnya, ternyata tinggal pencet bagian depan itu, ya itu…
                                                ***
Tak lupa kami sholat.
Dan setelah itu, kamar dibagi, sudah ada beberapa tertata di kamar yang saya masuki. Saya tergeletak di kamar bersama Mas Fahri yang agak jauh di sana. Dan di ruangan tengah, sedang ada permainan poker berlangsung.
Saya buka notebook saya, ya, saya sudah tahu, pasti bakal begini. Saya bakal sendirian.
Tapi, “Sokhi! Fahri! Sini, main poker, bisa, kan?!” kata Mas Sayfulan penulis Imaji Dua Sisi yang spektakuler itu.
Saya tercekak, “Hah?! Iyah?!” jawab saya, dan lalu mematikan notebook. Melenggang ke ruang tengah bersama Mas Fahri, masuk ke dalam lingkaran, lalu Kak Sayfulan menjelaskan permainannya kepada saya.
“Oh.., cuma begitu…,” batin saya.
Dan, dua permainan berlangsung, saya bisa memenangkan keduanya sekaligus. Hahah…, lagi hoki 0.09
Setelah selesai bermain poker dan juga sekaligus mempererat saya kepada teman-teman yang sudah datang, saya dengar akan ada acara ke Malioboro.
Mendengar itu, saya merasa: harus ikut! 

Bersambung ~> Dolan Ming Malioboro


Hari Pendidikan Nasional Bukan Sekedar Nostalgia Semata (Jurnalis Pelajar 11)

Hari Pendidikan Nasional Bukan Ajang Nostalgia Semata

JURNALIS PELAJAR11, JAKARTA. Kepala SMK N 11 Jakarta, Edyson Jumaedi dalam kesempatan upacara memperingati Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada hari ini menyatakan, ''Pada tahun ini. Tonggak sejarah pendidikan di Indonesia ada yang baru. Yaitu, peningkatan mutu pendidikan. Sebelumnya, pada pemerintahan SBY, pemerataan pendidikan dikedepankan. Namun tahun ini, peningkatan pendidikan diperhatikan. Sebab kemakmuran Indonesia sudah mulai berkembang,'' kata beliau di mimbar upacara, tegas.

Selanjutnya, Bapak Edyson menyinggung pula mengenai PPDB di sekolah yang dikepalainya, ''Katakan pada teman kalian yang masih SMP. Kalau mereka ragu masuk SMK 11, mending tidak usah mendaftar. Jadi, harus sepenuh hati dan dengan semangat membangun dirilah yang mendaftar di SMK 11,'' ungkap beliau sungguh-sungguh.

Melihat hasil UN tahun lalu, SMK 11 Jakarta berada di nomor dua terendah di Jakarta Barat, ''Semoga, hasil UN tahun ini, kita bisa di papan tengah. Dan semoga untuk kelas 11 yang sedang upacara, pada gilirannya, bisa masuk di papan atas hasil UN-nya.''

''Melihat pemetaan Nem kalian. Ditargetkan 5 tahun lagi, SMK 11 bisa berkibar di DKI,'' tutur beliau yakin.

Selain itu, Pak Edyson menegaskan bahwa adanya Hari Pendidikan Nasional ini bukan ajang nostalgia semata, ''Sejarah itu bukan untuk dibanggakan, namun untuk dipelajari agar sejarah yang buruk tidak terulang lagi. Seharusnya dengan mempelajari sejarah, kita bisa menyongsong masa depan yang lebih baik,'' tungkasnya. (AAB)