Tim Basket

Minggu 02 November 2014

Awalnya ketika gue masuk basket itu karena coba-coba. Karena pengen aja masukin bola ke ring. Dan itu menjadi awal gue untuk bisa berlatih kepemimpinan di sini. Pada hari ini, gue diajak buat menggalang dana di sekolah Ricci. Gue bersama temen-temen basket gue menjadi lebih bekerja sama di sini.

Kita membagi-bagi tugas sampainya di tempat. Ada yang bertugas untuk menerima sumbangan; markir mobi, motor, ngarahin pengujung. Semua ini berjalan sangat seru. Baru kali ini gue markir. Dan ini adalah sejarah dalam hidup gue.
Sebenernya ketika Anton dan Titus ngomong, “Kita markir di sekolahan Ricci.” Gue langsung kaget, gue kan nggak bisa markir. Ya takutnya ada apa-apa gitu. Semacam mobil lecet dan sebagainya.

Saat gue menjalankan tugas gue. Gue bisa. Gue dengan cakapnya meniru Trisno. Sedang Titus menjadi leader. Ternyata pemilik kendaraan orang-orangnya ramah.
Dan yang paling parah adalah ketika jam setengah sepuluh pagi. Ada mobil/motor masuk dan keluar. Di sini sangat butuh kerja sama yang betul-betul.

Ini semua berjalan dengan lancar. Pada akhirnya, kita mendatkna satu juta. Ya satu juta hanya markir doang. Yang pasti ini buat beli bola basket dan ret-ret katolik.

Setelah lama bercumbu dengan parkir, akhirnya kita ber-10 pun mendapat makan. Bakmi. Sehabis makan, kita saling bercanda. Di lain sisi, ini sangat membantu kita untuk membangun kekluargaan serta kewirausahaan.
Entah kenapa, gue nyaman kalau lagi kumpul sama anak basket ini.




LPK Cabang dan Lomba Ceramah

Sabtu 20 September 2014

Pada hari ini juga gue masih dalam kegiatan LPK (latihan pengembangan kepemimpinan), dan juga pada hari ini gue lomba ceramah, dua kegiatan ini dilaksanakan pada satu hari...?

Sebelumnya gue udah belajar tentang Materi yang akan gue bawakan, semalem aja sampe jam 2 pagi, dan pada jam 6 pagi gue berangkat ke SMK 11, di sana sudah ada beberapa orang, mereka ukhti Rohis SMK11. Dan gue hanya siswa biasa yang nggak terlalu mengarti lebih dalam tentang mereka yang selalu dikasih soal-soal keagamaan dsb di Rohis.

Gue berangkat dari Puri (kwarcab tempat gue LPK) dengan baju koko dan celana levis, dan baju sama celana ini pula yang akan menemani gue ceramah nantinya, sopan nggak sih...?

Nah, ketika semua sudah siap untuk berangkat di Daperteman Agama JAK-BAR, kita menaiki angkot 02, dan turun di jalan Pradana. Kita turun di sana dan melanjutkan jalan kaki ke Dapertemen Agama. Di sana sudah ramai, lalu kami kedatangan Pak Agus dengan motor kerennya dan Pak Jalal jalan kaki terlihat mendekati kami yang sedang berkumpul di pinggir jalan menunggu beliau bersama Pak Joko.

Kita pun langsung masuk ke gerbang Dapertemen agama itu, lalu ada upacara pembukaan, entah kenapa gue nggak kuat dan mundur dari barisan ke belakang. Gue dikasih teh manis anget dan roti sama Pak Agus, rasanya gue dilayani banget.

Dan gue menikmati itu di barisan belakang, tak lama pembukaan pun diresmikan, gue dapati bahwa ceramah ada di gedung MTSN 40 di kelas 87.
Ketika gue kumpul di sana, gue bertemu dengan para peserta yang terlihat sangat siap. Dan gue duduk di belakang Putri, samping kiri gue adalah dia yang gue kira juara, dia kayak udah menguasai materi dan penyampaiannya bagus. Putri di depan gue, di saat masih belum mulai ceramah, tasnya jatuh, dan gue yang ngambil, lalu dia mungucapkan terima kasih ke gue seraya tersenyum.... etdahhh...

***

Benar saja, apa yang mereka sajikan sungguh mengagumkan, gue cengo, dan rasanya pengen kabur dari situ. Jelas, mereka sudah kayak da’i beneran, dan gue juga sedikit bisa mengimbanginya..., ya....

Gue tampil kedua terakhir, wah.... ini gue udah ngebleng, dan udah nggak tau apa yang bakal gue tampilkan di depan, lah sudah dibahas semua sama yang laen...?
Saat giliran gue, yang mana di tanda peserta gue adalah Putri, etdah, ini malu-maluin banget, mana pas ketaunannya mau tampil lagi, kan bikin gue ngedwon... gue hanya menampilkan ala kadarnya lalu keluar dari ruangan itu, dan gue ke ruangan debat, di sana sudah ada Coker, Halima dan Andika yang mewakili SMK11 dalam perlombaan ini.


Oh, ya sebelumnya juga ada teman gue, yaitu Ikhsan dan Imam, mereka hebat bisa melaju ke babak Final. Wow. Dan gue juga ketemu juga sama guru SMP gue (Pak Mas’udi) yang membawa anak didiknya yang gue kenal adalah Chika dan Fikri. Gue juga ketemu lagi sama bu Sa’ada membawa anaknya yang dari Mabes 03 itu lho... mereka terlihat kesepian, mungkin mereka hanya mengirimkan sat peserta, yaa... itu anak guru...

Gue sedang di ruang debat dan mengamati sejenak, SMK11 tidak terlalu menonjol, gue hanya bisa.... yaudah berangkat lagi ke Puri buat LPK. Gue izin ke Pak Jalal, Pak Agus, dan Pak Joko untuk berpindah kegiatan. Dan diizinkan...
Gue naek angkot 02 lagi, kali ini lama sekali nunggunya, dan ketika sudah masuk, sempit di dalem...

Karena semalem gue tidur jam 3-an dan bangun jam 5, ini membuat gue merem-merem di angkot, untung saja nggak kebla-blasan dari Taman Kota. Dari Taman kota gue lanjutkan ke Puri... naek M 10.

Nah, di sini yang paling nggedekin, gue masuk angkot ini, masih sepi hanya gue sendirian, cuaca sangat panas, dan kira gue angkot ini bakal cepat berangkat, emalah nunggu penumpang lagi sampai penuh, alhasil, ada dua mas-mas masuk, mereka juga kepanasan sama kayak gue, huhhhh ini panas banget dakh.
2 mas-mas lagi masuk, dan akhirnya angkot berjalan.... ya berlajan, perlahan banget....

Dan di angkot ini gue tidur merem-merem, sedikit merem, merem, dan akhirnya ketiduran. Tapi, gue nggak kelewatan, mungkin ini sudah insting... gue turun dari angkot, dan melanjut masuk ke gang, dan sampailah di Kwarcab, sudah ada narasumber yang menjelaskan tentang ‘mengelola hat’. Gue duduk di paling belakang samping pintu masuk samping Kak Arif...

Dan mengamati apa yang dijelaskan, dan bertanya beberapa partanyaan yang gue buat, oh, iya, keren nih Narasumber, bisa hipnotis. Keren dakh pokoknya.
Lalu narasumber berganti dengan para DKN, di sini gue temui Kaka Cris yang mirip Ms. Rina, ya, mirip banget.... dan gue bertanya beberapa ke Ka Cris ini. lalu dijawabnya dengan logad medoknya yang kental.

Lalu selesailah materi siang sampai sore ini. dilanjutkan malam sampai biasa, jam 12, dan kami kerja kelompok di Masjid untuk membuat proposal raimuna cababang. Tapi semua itu sama sekali nggak nyambung, ini karen komedi putar itu, gila dakh, baru kali ini gue merasakan itu, rasanya semuanya berputar, gila dakhhhh....
Dan sampailah pada titik puncaknya, kita tidur di teras masjid itu.....

Naskah Drama untuk Hari Guru, XI-AP1

                           Guru, Sekarang Aku Sadar

Pada suatu hari, lima murid kelas di sekolah negeri, mulai lagi membuat ulah. Mereka sangat badung. Hampir di setiap pelajaran, mereka selalu tidak memperhatikan. Dan ketika ada waktu senggang, mereka gunakan untuk bermain kartu. Bukan hanya di lingkungan sekolah saja. Begitu pun di lingkungan masyarakat, sehingga menimbulkan keresahan.

*Di kelas*

Mae   :"Lu gimana sama do'i?"
Okta :"Akh, gue udah mulai bosen sama dia. Dia udah nggak perhatian  lagi sama gue, Mae."
Maeliani :"Udah, putusin aja, buat apa cowok kayak gitu!" ketus Mei-Mei
Pak Agus. Beliau adalah wali kelas mereka. Hati Pak Agus bak mutiara di lautan dangkal. Pak Agus sangat sabar menghadapi mereka.
Pak Agus :"Baik anak-anak, mari kita mulai pembelajaran kita."
Namun apa boleh buat, kelima anak muridnya yang badung itu, masih asyik bermainan kartu di meja paling belakang. Pak Agus hanya menggelengkan kepala. Baru beberapa menit kemudian mereka berhenti.

Barangkali hati mereka sudah keras bagaikan batu. Entah apa yang membuat mereka sangat susah untuk kembali ke jalan yang benar. Lisa, ivo, rafika, rika dan kawan-kawan. Mereka yang terkenal sebagai anak baik, sudah putus asa untuk membawa Mae Dkk berubah ke jalan yang benar.
Lisa :"Ayo, sholat, alangkah baiknya kita sholat berjamaah, ayo."  Kata Lisa kepada mereka yang sedang berkumpul bermain kartu.
Mae :"Akh..., apaan sih Lisa, ini lagi asyik main kartu juga!"
Argi :"Tau Lisa nih!"  Fadly pun hanya menganggukan kepala tanda setuju kata Mae tadi.

Beberapa hari kemudian, mereka semakin menjadi. Dibawanya minman keras, dan ditenggaknya di kelas. Semua sudah tidak lagi terkendali. Sampai pada akhirnya, ada murid yang memberi tahu kepada pihak sekolah melalui Pak Agus. Tapi, Pak Agus sama sekali tidak percaya.
Reza. BB :"Pak, saya serius. Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri. Bahwa mereka membawa minuman keras dan menenggaknya di sini, kelas ini Mereka juga bermain kartu dengan taruhan uang...!"
Pak Agus :"Bapak sama sekali tidak percaya, mana mungkin mereka melakukan hal itu. Tidak mungkin!"

Pak agus menegaskan kepada Reza, dan Ikhan ketika pulang sekolah, di kelas yang sudah kosong.
Reza. BB :"Baik, jika bapak tidak percaya. Saya dan Ikhsan akan membuktikannya. Tunggu saja nanti, Pak!" Dengan agak kelogatan Bataknya, Reza berjanji.
Ihsan :"Setuju. Lihat saja nanti, saya dan Reza BB, akan menguak ini semua. Kami janji, kami tidak akan menghadap bapak sampai kami membawa bukti."
 Pak Agus hanya mematung, lalu menyuruh mereka pulang ke rumah masing-masing.

***

Lima anak badung itu terus berkemban. Mereka mulai mengenal narkoba, dan semacamnya.
Argi :"Mae, Okta, Maeliani, Fadly. Kita ketemuan yuks. Gue bawa sesuatu buat kalian. Pokoknya, kalau kalian nggak coba, kalian bakal nyesel. Kita ketemu di tempat biasa. Oke!" begitulah isi pesan dari Argi untuk keempat sahabatnya.

Malam itu juga, mereka berkumpul di tempat biasa mereka bersama. Argi mulai mengeluarkan  benda yang telah dijanjikannya, yang ternyata adalah Narkoba.
Fadly :"Argi, lu gila yah..., ini barang haram. Nanti kalau ketahuan polisi gimana? Mikir! Gue nggak ikut-ikutan kalo kayak gini."
Argi :"Akh karto lo, ayo yang lain coba nih pake. Kali ini mah gratis buat lo semua...!"

Mae, Okta, dan Maelian pun diam seribu kata. Mungkin di antara mereka penuh dengan pertimbangan. Tapi, pada akhirnya mereka semua menggunakan narkoba itu juga.

Tanpa mereka sadari. Ketika mereka berpesta, Reza BB dan Ikhsan membuntutinya, lalu Ikhan melaporkan kejadian ini kepada polisi.
Ikhsan :"Pak, di sini kami menemukan peseta nerkoba, tapatnya, di bla, bla, bla...."
Ikhsan :"Be, kita bersiap di depan gerbang ya." Dan Reza pun mengaggukan kepala.

***

Tak lama kemudian. Polisi pun menggrebek mereka yang sedang pesta narkoba. Dan dibawanya ke kantor polisi.
Pak Polisi :"Dengan Bapak Agus?"
Pak Agus :"Ya, saya sendiri."
Pak Polisi :"Begini Pak, kami menangkap anak didik bapak dalam keadaan berpeseta narkoba, kami juga sudah menemukan barang buktinya. Bapak bisa datang ke kantor kami, untuk memberikan keterangan mengenai hal ini?"
Pak Agus :"Siapa nama-nama anak didik saya, Pak?!"
Pak Polisi :"Argi, Fadli, Maeliani, Okta dan Mae."
Pak Agus :"Ti-tidak mungkin Pak. Mereka itu anak-anak baik. Pasti ada yang menjebak mereka!"

Pak Agus terus bersikeras membela anak didiknya. Begitu Pak Agus sampai di kantor polisi, Mae Dkk pun mengakui kesalahannya. Dan mereka dipenjara di tahanan anak-anak.

***

Kelas yang biasanya berisik, tak tertib. Sekarang menjadi hampa, sepi, dan tertata rapi. Gairah mengajar Pak Agus pun menurun drastis. Pak Agus terus memikirkan nasib anak didiknya yang sedang di penjara. Memang setahun lagi Pak Agus pensiun, tapi di tiap harinya, beliau selalu mengajar dengan caranya yang menyengangkan, penuh semangat, dan mengasyikkan. Hari ini adalah hari termurung untuk Pak Agus.

Tibalah ketika pelepasan Pak Agus. Dan setelah itu, Pak Agus menjadi seorang wirausaha, membudidaya ikan lele. Awalnya usahanya berjalan dengan mulus, dan selalu mendapat laba yang besar.

Beberapa tahun kemudian Mae Dkk keluar dari penjara. Mereka sudah tidak bisa dikatakan sebagai remaja lagi. Mereka mulai menjalin usaha masing-masing, yang mereka dapat dari pelatihan selama di penjara.

Dan ternyata, usaha yang mereka kembangkan, sukses semua. Sedangkan usaha Pak Agus bangkrut karena lele yang dibudidayakannya dicuri orang tiap harinya. Dan sekarang Pak Agus tinggal di rumah gubuk yang sangat sederhana, bersama istri dan kedua anaknya.

Di lain tempat, Argi Dkk merencanakan untuk menemui Pak Agus. Tanpa sengaja ketika mereka melewati suatu jalan, mereka dapati Pak Agus sedang memulung.
Argi :"Pak, Agussss....!"
tariak Argi. Dan menghentikan langkah Pak Agus.
Pak Agus :"Kamu siapa, ya?"
Okta :"Ini kami, Pak. Kami sudah keluar dari penjara."
Pak Agus :"Akh, kalian sudah keluar dari panjara? Bapak senang sekali mendengarkannya. Sekarang kalian mau kemana?"
tanya Pak Agus dengan lesunya, berbeda dengan beberapa tahun lalu.
Fadly :"Kami ingin bertemu dengan Bapak, sekarang boleh antar kami ke rumah bapak?"
Pak Agus :"Tidak jauh dari sini. Parkir saja mobil kalian di pinggir jalan sini. Kita jalan bersama ke rumah."

Sampainya di rumah gubuk Pak Agus, mereka tidak menyangka akan kenyataan ini.
Argi :"Bagaimana Bapak tinggal di rumah saya saja, ini tidak layak untuk dijadikan tempat tinggal, pak, bagaimana?"
Belum dijawab pertanyaan Argi oleh Pak Agus. Fadly, Okta, Mae, dan Maeliani menawarkan hal yang sama.

Terlihat mata Pak Agus berkaca-kaca. Karutan wajahnya itu jelas termakan oleh proses sang waktu.
Pak Agus :"Bapak bangga dengan kalian. Sekarang kalian sangat beda dengan dulu." Pak Agus pun tak kuasa menahan airmata, hingga akhirnya airmata permata itu beranak sungai di setiap bahu anak didiknya ini.
Hidup Pak Agus pun kembali bahagia, berkat anak didiknya yang sudah berubah, ke jalan yang benar.

                                    ~Tamat~

Artikel Korupsi

Generasiku Terbebas dari Korupsi

Mau sampai kapan kita terdiam melihat kekejaman para koruptor? Mau sampai kapan kita duduk manis, hanya menjadi penonton para koruptor yang terus menjamur dan menggerogoti negara kita ini?

Sebagai menusia yang dianugrahi hati nurani dan akal, pastilah mempunyai rasa sedih dan kasihan jika melihat kekejaman, penindasan, perampokan dan sebagainya. Itulah keunggulan manusia dibanding makhluk ciptaan Tuhan lainnya.

Sepertinya, sudah terlalu lama negara kita dijajah oleh para koruptor. Dan, kini adalah saatnya kita berdiri, dan hadapi koruptor/korupsi yang mungkin masih bersarang di hati. Yang jelas, korupsi itu adalah tindakan yang kejam, dan tidak patut untuk menjadi budaya negara kita.

Menurut bahasa: Korup artinya berkenaan dengan suka menerima suap, memanfaatkan jabatan untuk mengeruk keuntungan secara tidak sah. Tor sebagai tambahan pada kata untuk melambangkan pelaku. Koruptor adalah pelaku korupsi, orang yang suka melakukan korupsi (penyelewengan kekayaan negara).

Kuroptor juga dapat ditilik dalam kehidupan sehari-hari yang nyata, berawal dari berbohong, tidak puas, rakus; bahkan untuk sebagian besar orang pernah melakukan korupsi kecil-kecilan, seperti menggunakan sarana kantor untuk keperluan sendiri, bolos kerja, membeli buku  pribadi dengan uang lembaga, itu sebenarnya masuk dalam korupsi juga. Walaupun kita tidak berasa ada yang melihat ketika melakukan tindakan korup, namun ingatlah Tuhan selalu melihat kita, dan semua tindakan kita di dunia jelas akan diminta pertanggungjawabannya.

Semua agama jelas mengajarkan kebaikan, juga mengajarkan untuk tidak korupsi. Perundang-undangan negera kita pun mengatur mengenai korupsi. Namun pada praktiknya, para koruptor dari kelas teri sampai kelas kakap, dari yang benar-benar miskin sampai yang kaya, masih berkeliaran di antara kita. Entah di mana iman mereka, agama mereka; entah prinsip apa yang dianutnya. Dan, itulah koruptor, gelap hati jika melihat uang, kekuasaan serta jabatan. Mereka tidak menyertakan Tuhan dalam kehidupannya.

Dampak Melakukan Korupsi
Korupsi jelas tidak mempunyai sisi baik. Korupsi tetaplah korupsi, koruptor tetaplah koruptor, mau dikata apalagi. Agama melarang, negara melarang, keluarga juga melarang. Apa baiknya melakukan korupsi? Jelas bahwa kita harus memberantas korupsi, bukan hanya aparatur negara, bukan hanya KPK, tapi sertakan diri kita di dalamnya.

Berpikir ulanglah ketika Anda mulai berniat untuk melakukan tindakan menjijikan itu. Pelaku korupsi akan merasa bersalah yang akan menghantui dalam kehidupan kelak, dan tentu dosa yang ditimbulkan dari tindakan korupsi itu sendiri. Sedangkan dampak yang akan dirasakan oleh orang lain adalah timbulnya kerugian, baik secara materi atau non materi bagi korban tindakan korupsi, perasaan malu terhadap orang lain yang terjadi pada keluarga pelaku tindakan korupsi. Dan dampak yang dirasakan bangsa dan Negara Indonesia adalah kerugian secara financial atau berkurangnya pendapatan Negara, rusaknya struktur pemerintahan dan moral bangsa.

Para koruptor juga merasakan kegelisahan yang datang semakin menjadi-jadi di dalam hidupnya. Mereka tidak bisa tenang karena berpikir jika ketahuan bagaimana, siapa yang akan menghidupi keluarganya lagi, dan secara otomatis pekerjaannya pun menghilang dan tidak ada lagi perusahaan yang mau menerima mantan koruptor, mereka pasti akan terjerat dalam kasus hukum yang memaksanya harus masuk ke dalam sel tahanan, mungkin saja nanti mereka akan menjadi “buah bibir” di lingkungan rumahnya, mungkin mereka sudah tidak lagi dipandang menjadi orang yang terhormat kerena perbuatannya sendiri yang menjadikan dirinya diasingkan oleh keluarga dan lingkungannya, bisa saja dampak ke keluarganya karena malu melihat tersangka koruptor, keluargnya pun juga diasingkan lingkungan sekitar.

Kebanyakan, para koruptor takut untuk miskin. Mungkin hukuman yang pantas untuk mereka adalah dimiskinkan (hukuman sosial). Sedangkan kita lihat para koruptor kelas kakap dengan tentramnya hidup di sel tahanan, dengan fasilitas penjara yang nyaman bahkan sudah seperti di rumah mewahnya sendiri.

Aparatur penegak hukum juga harus dibenahi lagi, karena jika terus dibiarkan terus seperti ini, maka akhirnya rasa percaya masyarakat kepada aparat penegak hukum akan menurun, dan masyarakat akan memilih untuk menyelesaikan masalahnya dengan caranya sendiri yang kebanyakan tidak efektif.

Strategi Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi
 Perlu diketahui bersama, di dalam Perpres Nomor 55 Tahun 2012 menyatakan bahwa strategi  Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi (PPK) memiliki visi jangka panjang dan menengah. Visi periode jangka panjang (2012-2025) adalah: “terwujudnya kehidupan bangsa yang bersih dari korupsi dengan didukung nilai budaya yang berintegritas”. Adapun untuk jangka menengah (2012-2014) bervisi “terwujudnya tata kepemerintahan yang bersih dari korupsi dengan didukung kapasitas pencegahan dan penindakan serta nilai budaya yang berintegritas”. Visi jangka panjang dan menengah itu akan diwujudkan di segenap ranah, baik di pemerintahan dalam arti luas, masyarakat sipil, hingga dunia usaha.

Oleh karena itu, marilah kita dukung program KPK akan strategi pencegahan dan pemberantasan korupsi ini. Tidaklah mungkin KPK akan memberantas korupsi tanpa kita dukung, mulailah dari diri kita sendiri untuk mencegah dan memberantas korupsi, untuk Indonesia yang bersih dari korupsi. Mulailah dari hal yang kecil seperti bersikap jujur, bersyukur, tidak rakus, menerima, bertanggung jawab, tidak menyontek dan sebagainya.

Jelas kita ketahui bahwa menyontek sebagai tindak korupsi kecil-kecilan yang sepertinya lazim dan membudaya di pelajar Indonesia. Wabah menyontek ini jelas dapat menimbulkan bibit-bibit sifat untuk melakukan tindak korupsi, menyontek juga dapat menimbulkan dampak bagi diri sendiri dan orang lain, bahkan negara. Menyontek akan menyebabkan: malas serta mengalami kelambanan dalam belajar, daya nalar dan kekuatan mengingat cenderung rendah; melatih perilaku tidak mandiri, menjadikan otak malas bekerja, dan belum tentu jawaban hasil mencontek benar adanya. Jadi, tidak ada untungnya.

Kapan kita memberantas korupsi? Jawabanya adalah sekarang, ya sekarang juga, detik ini juga, jangan hanya diam duduk manis melihat koruptor menjamur di negara Indonesia.

Menururut ilmu psikolog, jika kita ingin membuahkan kebiasaan baik, kita bisa melakukan ‘hal tersebut’ berulang-ulang dalam kehidupan sehari-hari minimal 21 hari berturut-turut. Tipsnya adalah dengan mengatakan: ‘AWALI HIDUP INI, NIATKAN DALAM HATI, HIDUP TANPA KORUPSI’ setiap pagi dan hayati.

Tenang, waktu masih berpihak kepada kita, generasi muda Indonesia sudah saatnya berencana membangun negara yang lebih baik dari sebelum-sebelumnya. Maka, mulailah berantas korupsi, dunia belum kiamat. Kita akan cabut akar terdalam si korupsi  dari Indonesia, jadilah saksi Indonesia bersih dari korupsi.


Sumber Referensi:
Covey, Sean. 2001. 7 Kebiasaan Remaja yang Sangat Efektif. Jakarta: Binarupa Aksara.
http://acch.kpk.go.id/6-strategi-pencegahan-dan-pemberantasan-korupsi
http://id.wikipedia.org/wiki/Kategori:Koruptor_Indonesia
http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2013/05/22/157887/Hukuman-yang-Paling-Efektif-untuk-Koruptor-Adalah-Dimiskinkan

Seorang Paman

                                  Seorang Paman


Aku terkapar di kasur tipis kamar kos. Kipas angin terus berputar-putar di langit-langit kamar, walaupun anginya tidak sampai ke kulitku yang berkeringat hebat menjajah tubuh. Debu yang tersemat di baling-baling kipas,  jelas penyebab utamanya. Jaring laba-laba pun hanya bergoyang tak berirama di kamar kecil ini, meledekku.

Aku baru saja pulang sekolah, karena eskul yang kuikuti pada hari ini bentrok menjadi satu.
“Tok tok tok....” aku paham betul, itu adalah paman yang baru saja pulang dari dagangnya.
“Assalamualaikum,” kemudian paman membuka pintu kamar.
“Waalaikum salam,” jawabku yang terkapar di kasur tipis, lalu segara untuk bangkit. Karena kumandang adzan maghrib sudah menyeru. Bertepatan dengan kedatangan paman sore ini.

Selepas adzan, kulanjutkan untuk mandi, lalu shalat berjamaah dengan paman. Paman selalu memberiku nasehat risalah ini: jangan sampai meninggalkan sholat di mana pun dan kapan pun. Kata paman, Allah sudah memberiku keringanan, “jika memang ketiduran, di perjalanan, itu bisa di-qada atau di-qashar.”

***

Seperti biasa, sehabis shalat maghrib, aku selalu mengaji kepada paman. Terkadang kita juga membicarakan tentang sastra, bahasa, agama, dan masih banyak lagi macamnya (selepas mengaji). Paman berpengatahuan luas sekali, mungkin jika paman melanjutkan sekolahnya, paman bisa menjadi lebih dari ini, lebih dari pedagang kecil yang keliling dari sekolah ke sekolah;paman bisa menjadi guruku di kosan.

Tapi sayang, bersebab ekonomi saat itu, saat paman sekolah di tingkat aliyah, waktu itu pulalah tidak ada biaya untuk melanjutkan sekolah ke jenjang selanjutnya – begitu  kata paman ketika berbagi cerita setelah mengaji seminggu yang lalu denganku.

Paman sudah seperti orangtuaku sendiri, paman sangat baik kepadaku, saban hari aku dibelikan makanan olehnya. Katanya agar aku jangan sakit, dan tetap bersekolah.

***

Tapi, sekarang paman sedang sakit, saban malam paman batuk-batuk, tenggorokanya seperti ada pendorong agar batuk itu keluar lagi dan lagi. Di kamar kos yang kecil ini, paman hanya bisa beristirahat di kasur yang tipis, di sana paman bisa meringkup dan terlihat tak berdaya. Tidak seperti biasanya, penuh semangat.

Kipas angin di langit kamar kos diberhentikan untuk berputar. Keringat paman beranak sungai begitu bangun dari kasur tipis – yang  dipaksa untuk menyerap keringatnya.

Hari ke hari berlalu-lalang begitu saja di kehidupanku, aku meninggalkan paman ketika berangkat sekolah di pagi hari, keadaan paman selalu sedang tidur di kasur tipis kamar kos.

Paman tidak juga sembuh, malah makin parah batuknya. Walau demikan, paman tidak pernah tinggal sholat lima waktunya, paman ber-tayamum lalu shalat dengan cara duduk. Kali ini, aku tidak bisa mengaji kepadanya. Apalagi berbagi cerita.

Tak lama kemudian, paman dibawa ke kampung oleh adikknya yang bekerja di tempat yang tidak jauh dari kosan ini, ia dikhususkan untuk membawa paman ke kampung. Aku tidak sempat bertemu dengan paman, ya untuk sekedar mengantarkannya ke stasiun, karena sore itu aku sampai di kosan tepat ketika kumandang adzan maghrib. Aku hanya dapati selembar kertas yang ditulis paman ditempelkan di cermin bersamaan dengan kumandang adzan:

Wa bali kampung. Aja kelalen sembayang sing bener, aja ana sing bolong. Maca Al-qur’an-e be dibeneri maning. Aja kelalen[1]
Membaca itu, aku tertegun, aku bisa melihat wajahku di cermin.
“Ah... cengeng sekali kau ini.” Batinku. Ya batinku. Secepat kilat kusapu airmata manja itu.

***

Mungkin di kampung sana paman bisa lebih baikan lagi, bisa cepat sembuh, dan aku harap paman tidak usah lagi datang ke kos kecil ini, paman sudah terlalu sepuh bercumbu dengan ibu kota, padahal perantau seangkatanya sudah pada pensiun, sisa paman yang masih bertahan. Aku harap, biarlah anak-anaknya yang sudah dewasa itu menjadi sanggahannya, menjadi harapannya, menjadi pelitanya di hari tua.
Semoga paman cepat sembuh. Walau di kos ini aku sendiri, tidak ada lagi yang bisa berbagi cerita denganku, apalagi belajar bersama. Seperti bersama paman.



[1] Paman pulang kampung. Jangan lupa shalat yang benar, jangan ada yang bolong. Bacaan Al-qu’an-mu juga harus diperbaiki lagi. Jangan lupa.


Afsokhi Abdullah
Jakarta, Tamansari, 21 Oktober 2014
Untuk Pamanku, Safi'i Alfaridzi




Hari Penyesalan, Perubahan

Hari Penyesalan, Perubahan

Jika ada waktu senggang seperti ini, yang terlintas pertama di lamunanku, adalah penyesalan. Ya, jelas, aku tidak mempergunakan waktu untuk berencana, tidak segera sadar bahwa hidup ini penuh perjuangan. Tidak segera.

Dan, waktu ternyata tidak menungguku untuk tumbuh dewasa. Namun, sekarang, terbayarlah sudah semuanya. Dagang di sekolah ke sekolah, gang ke gang; menjadi tukang urut, tukang bangunan yang gajinya hanya habis untuk makan. Semacam pekerjaan seperti itu sudah kulakoni semua. Sudah kulakoni.

Pulang kampung adalah pil pahit yang harus kumasukan ke dalam tubuh, secara paksa dan tanpa air. Bagaimana tidak? Aku tidak punya banyak hal yang dapat membahagiakan orangtuaku. Aku tidak membawa perubahan, hanya kekecewaan yang tersirat jelas di raut wajah ibu-bapak ketika kedatanganku di kampung. Tatapanya, beribu makna ada di sana.

Ya, semua sah-sah saja. Aku berkaca dari caraku belajar di sekolah tingkat kejuruan, dan mondok. Aku tidak memperhatikan, malas mengerjakan tugas, terpusat kepada teman, hura-hura; mengisi rapot pun sendiri. Ya sendiri, jadi aku bisa seenaknya saja mengisi. Semua, sah-sah saja kan?
Hanya kiriman uang dari orangtua yang kuharapkan ketika masih mondok. Masalah belajar. Itu tidak penting.

Sekarang, aku masih bisa bercerita, bagaimana menyesalnya dulu, betapa sengsaranya hidupku. Bercerita kepada diri sendiri. Bercerita kepada dunia. Bahwa akan ada orang yang ingin berubah detik ini. Ya, aku, menyesal.

Aku sadar. Ketika kecil. Aku terlalu manja kepada ibu-bapak. Terkadang pula aku membentaknya. Ah, semuanya adalah dulu. Aku menyesal. Sungguh.
Orangtuaku sudah sangat sepuh. Terakhir aku melihatnya ketika keberangkatanku ke Malaysia untuk bekerja. Ibu, bapak. Wajahnya terlalu banyak kerutan, termakan oleh proses sang waktu. Matanya berkaca-kaca, menatap tajam dan penuh harapan saat kepergianku. Senja itu.

Angin kala itu menjadi sangat dingin. Dada ini serasa penuh, sesak. Kepala ini berat untuk diajak tegap. Semua angin di kutub utara seperti bermuara di ujung-ujung jari kaki ini.

***

Sekarang, semua akan kuubah. Dengan apa yang kupunya, akan kuperbaiki hidup ini dengan waktu yang tersisa. Dewasa ini, aku sadar akan semua itu. Penyesalan hanya penyesalan, keberhasilan adalah tujuan akhirku, pilihanku.

Walau peluh membanjari tubuh ini. Walau dunia menertawakanku. Aku akan tetap berusaha. Akan tetap berubah sedikit demi sedikit. Dan pada akhirnya, aku akan pulang dengan membawa keberhasilan. Yang nyata.

Afsokhi Abdullah, Jakarta, 13 November 2014
Untuk Kakak-ku di Malaysia ^-^
Samsul Hidayat.

Menghapus

                                                

                                      Menghapus


Dari banyaknya peserta MOS yang berbaris di lapangan, aku masih bisa dengan jelas melihat salah satu peserta MOS. Dia yang bisa memusatkan seluruh perhatianku. Dari lantai dua ini, aku menikmati parasnya.

Pagi ini, semua peserta MOS berbaris di lapangan dengan tertibnya. Semua wajah yang kutangkap jelas asing di otak.

Mentari pagi sudah bangun dan siap menjadi raja siang. Dari lantai dua ini, ada satu yang membuat hati ini sekedar berdetak kencang. Ya, dia, entah apa yang kurasa, tapi aura yang dipancarkannya menarik seluruh perhatianku. Aku memang wanita yang tidak mudah suka dengan laki-laki. Tapi yang satu ini... berbeda.

Aku, masih duduk dan menonton MOS yang seru itu, entah kenapa mata ini tak henti berfokus padanya. Aku jadi berandai “jika aku adalah anggota OSIS, pasti aku akan mengerjainya, mendekatinya.  Tapi, aku bukan siapa-siapa, hanya murid kelas 11SMK  yang tak memiliki eskul, apalagi mengikut OSIS, huh.”

“Hoy!” kejut Pri, sahabatku.
“I-iya, ap-pa?“ jawabku terbata-bata.
Dia pun mengajakku masuk kelas, karena ada guru.

***

Hari kedua MOS, mejeng di lantai dua menjadi favoritku belakangan ini. Satu peserta MOS itu sudah membuatku tertarik. Sudah membuatku tak bisa tidur semalaman karena memikirkannya.

Kali ini aku melihatnya bercanda gurau bersama teman wanitanya – yang baru ia kenal. Memang, aku bukanlah siapa-siapa, tapi, ini jelas membuatku cemburu, ya cemburu buta. Baru saja kemarin aku tertarik padanya, baru semalam aku memikirkannya. Dengan cepatnya cemburu ini tumbuh begitu saja.

Karena itu semua, kuputuskan untuk masuk kelas saja, belajar apa adanya. Setelah bel istirahat pertama dibunyikan, segera aku menuju mushola sekolah, untuk sholat Duhha. Tempat wudhu untuk wanita sudah disediakan sedemikian rupa, agar tidak ada kejadian yang tak diinginkan nantinya. Tetapi, ketika aku mulai masuk ke tempat wudhu, terdengar pancuran air kran.  Lalu, kumasuki tempat wudhu itu.

“Hey, siapa kamu!? Ini tempat wudhu wanita, tau...!” bentakku, lalu menjambak-jambak rambutnya, yang sudah pasti dia adalah seorang laki-laki.
“E-e-e maaf-maaf,” dia meringis kesakitan, aku tak peduli siapa orang ini.
“Maaf...,” lanjutnya, lalu ia menampakan wajahnya – kutangkap itu. “Hah? Dia orang yang membuatku setiap pagi mejeng di lantai dua? Di-diaa...,” batinku. Campur aduklah perasaan ini. Entah aku yang salah, atau dia?

Dia pun melarikan diri ketika aku membeku. Tadi aku melihat wajahnya dengan jelas. Ah.

Segera kukumpulkan fokus yang berserakan. Lalu kulanjutkan untuk wudhu dan sholat. Setiap hari memang aku sholat Duhha, ini sudah rutinitasku. Pertama memang berat disuruh ibu untuk sholat Duhha. Namun, lama kelamaan, sudah menjadi kebiasaan. 

Memang, ibu dan ayahku terpandang dari segi agama di daerah tampat aku tinggal.
Selepas sholat, kuniatkan menuju kamar mandi. Hanya sebentar, lalu segeralah aku keluar.  “Bugh”.

“Hey, kalau jalan liat-liat...!” murkaku kepada orang yang menabrakku. Badan ini tersungkur ke lantai.
“Maaf, k-ka.” Jawabnya, lalu membantuku untuk bangkit.
Di-dia, orang itu lagi. Dalam 15 menit istirahat, aku mempunyai masalah dengannya 2 kali?
“Siapa namamu?” tanyaku setelah tegap berdiri.
“Ini kak,” jawabnya, seraya menjulurkan nametag-nya yang terbuat dari karton.
“I-ii-Indra?” Tanyaku memastikan. Tulisanya agak jelek, tidak mudah dibaca.
“Iya kak bener, kaka sendiri siapa namanya?”
“Titi.” Jawabku ketus.
“Oh, kak Titi maaf ya sekali lagi....”
“Oke-oke, kaka maafin, tapi jangan diulangi lagi ya.”
“Sip kak,” jawabnya, lalu ia memekarkan senyumnya (ini pertama kalinya aku melihatnya senyum mengarah kepadaku) lalu ia lari meninggalkanku yang mematung, serasa semua angin di kutub utara bermuara di ujung-ujung jari kaki ini. Rasa apa ini? Ah...

Bunyi bel masuk tanda istirahat telah berakhir dikumandangkan. Buyarlah sudah lamunanku tadi. Lagi-lagi kukumpulkan fokus yang berserakan. Setelah itu barulah aku menuju kelas. Dan sampainya di kelas.

“Pri, aku mau curhat dong,” kataku kepada Pri, sahabatku yang rela menampung segala curhatanku selama ini. Lalu ia menganggukan kepalanya.
Karena guru yang bersangkutan mengajar tidak hadir, maka curhatanku kepada Pri menjadi sungai yang tak berujung. Kuharap dia tidak bosan.
“Kalau kamu memang suka sama dia, deketin, jangan buat perasaan kamu jadi gundah, dan nggak menentu,” kata Pri ketika kutanya, apa yang harus kuperbuat.
“Oke, terima kasih, Pri.”

***

Perjuangan pun dimulai, dengan mengalokasikan seluruh kekuatan, akhirnya aku bisa mendapatkan nomor handphone-nya. Ya, dia, Indra.

Hari yang tak kutunggu pun datang – hari  terakhir MOS. Hari terakhirku untuk bisa melihatnya dari lantai dua ini. Karena itu, tidak akan kusia-siakan hari ini.
Kupusatkan ke tampat yang biasa ia berbaris. Tersedialah Indra yang selalu ceria. Kata orang-orang yang mengenalnya, dia adalah tipe laki-laki yang dingin, macho, dan pintar.

Waktu terus berjalan tak terasa, dan malam pun datang membawa gelapnya. Segara kubuka kontak (Indra) di handphone-ku, lalu kutekan tombol ‘panggil’ dengan penuh getaran di ujung jari tangan ini. Beberapa menit kemudian. “Tuut... tuttt... tut.. tuut..., klek.”
“Ha-halo,” suara keluar dari speker handphone-ku. Ya, suara Indra.
“Nggak ada orang ya?” lanjutnya, karena lama menunggu jawaban,  karena aku tak menyangka bisa sejauh ini mendekatinya.
“E, jangan ditutup dulu!” kataku terburu-buru.
“Ini siapa? Ada apa?”
“Em... ini kaka yang pernah ketemu kamu di sekolah, waktu istirahat pertama. Ingat?”
“Oh, kak Titi, ada apa, kak?”
Bla ~ bla~ bla~
         
  ***

Setelah lama bertutur denganya, aku bisa menyimpulkan bahwa dia bukanlah tipe laki-laki yang dingin. Dia perhatian, dan satu-dua kali dia bertanya kepadaku ketika bertelepon tadi.

Hari demi hari berlalu begitu saja berpacu bersama waktu. Dan, sampailah pada titik kedekatan kita yang lebih dari sebelum-sebelumnya. Kita menjadi lebih terbuka. Rasa sayang pun terbit di hati ini. Ya, sayang kepadanya. Indra.

Namun ketika aku bertanya mengenai agama, ternyata, dia, dia, tidak satu kepercayaan 
denganku. Bila ayah-ibu tahu, ini bisa menjadi masalah, ya... walau hanya sekedar berteman.
Aku dipaksa untuk memutuskan satu pilhan pada situasi ini. Menjauhi Indra, atau ayah-ibu, akan....

Mempertimbangkan ini semua, aku memilih menjauh dari Indra. Akan tetapi, dia berkeinginan untuk dekat denganku. Katanya, dia merasa nyaman denganku.
Dengan penuh perhitungan, aku lebih memilih menjauh denganya. Walau berat.

Sudah, biarlah semua ini menjadi lukisan indah di hati. Biarlah dia tersenyum dengan wanita selain aku. Walau airmata ini tidak bisa berkompromi. Walau, airmata ini satu-dua berjatuhan di pipi.

Walau saban hari aku bertemu denganya di sekolah, di mimpi, di pikiran ini. Tapi, biarlah waktu – yang  kuyakin akan menghapus dengan cepatnya. Menghapus. Ya, menghapus benih cinta kepadamu. Indra.




NB:
Cerpen ini adalah titipan dari teman. Dia wanita, bernama Titi.