P [Cerpen]

saat ini saya ingin keluar rumah. sendiri menyusuri jalan sambil melihat langit sore. satu hal yang masih terus saya ingat, bahwa langit terbuat dari lautan lain di dunia ini. di sana ada kehidupan yang sama seperti di sini, dan saya meyakini itu dari kecil.

saat saya duduk di tepi jalan yang berdebu, seorang peri turun dari langit diiringi polisi awan yang berseragam oranye. mereka berjejer rapi dan angin sore meniup rambut mereka yang klimis dan rapi.

saya melihat mereka turun perlahan ke sebuah danau yang tak jauh dari tempat saya duduk. maka saya pergi ke danau itu dan menanti mereka mendarat. terlihat peri itu berpakaian serba putih dan bercahaya samar, sedangkan polisi awan mengenakan pakaian serba oranye dan tegap. saya jadi ingat pemuda pancasila.

saya duduk di tepi danau, tak ada siapa-siapa, hanya saja nyamuk mulai banyak bersarang di kaki saya. membuat kulit saya banyak yang bentol-bentol. tapi hal itu tidak menyurutkan antusias saya terhadap kedatangan makhluk langit itu.

jika orang melihat ke atas, seharusnya juga melihat seberkas jejak di langit seperti roket yang pergi ke luar angkasa. namun bedanya yang satu ini berwarna oranye dan berekor kekuningan.

saya melihat ke sekeliling saya begitu sepi, sebentar lagi malam bakal tiba. namun makhluk langit itu tidak juga sampai ke danau. saya jadi semakin bosan dan memanggil-manggil mereka.

“ayo cepat, turun!”

kata saya, yang saya sendiri nggak tahu apa tujuan saya berkata seperti itu. seorang peri di barisan paling depan seolah adalah panglima dari rombongan itu. saya menunjuk-nunjuknya sambil mengisyarakatkan untuk segera turun sebelum malam tiba.

tapi seolah seperti slow motion, mereka begitu terlihat lambat untuk sampai ke danau. maka saya mencari cara agar mereka bisa cepat sampai. saya memanggil orang-orang di sekitar danau untuk menyerukan peri agar segera turun.

tak lama, tepi danau sudah terisi oleh banyak orang. mulai dari tukang bakso, tukang ojek online, anggota DPR, hingga anak kecil, sampai bapak saya sendiri yang cuma pakai sarung dan bertelanjang dada. kami sama-sama menyerukan kepada peri untuk cepat turun sebelum malam tiba.

“Turun! Turun!”

teriak kami serentak. 10 menit lagi agaknya matahari sudah tak terlihat. peri itu tersenyum kepada kami dan mengangkat tongkatnya sambil merapal mantra. ketika ia mulai mengayunkan tongkatnya ke arah kami, terlihat bintang-bintang kecil gemerlapan di ujung tongkat itu, berputar dan akhirnya menuju ke arah kami.

entah apa yang terjadi selanjutnya, sore itu menjadi terang kembali. matahari menjadi dua: di barat dan timur. barat berwarna biru, dan timur berwarna kuning spongebob. semua itu terjadi hanya dalam sekejap mata.

saya melihat ke orang-orang sekitar, mereka juga kebingungan. apa yang terjadi?

peri akhirnya sampai di atas danau, ia mengambang berdiri di atas air. sedang polisi awannya menunggu di atas pohon-pohon.

“Apa maumu?!” tanya saya sambil berteriak.

peri bergeming, dan hanya memberikan seulas senyum yang siapa saja yang melihatnya akan setuju bahwa ia adalah wanita paling cantik yang pernah mereka lihat sepanjang hidup dan tak pernah terbayangkan kecantikan semacam itu di kepala manusia. peri itu berbadan sempurna, bercahaya tipis, dan aura itu, tak datang dari bumi.

“Aku akan membawamu pulang,” kata peri padaku.

aku tak mengerti dengan apa yang dikatakan peri. tapi detik selanjutnya badan saya terasa melayang, dan berpindah ke sampingnya. harum wangi menyeruak dari tubuh peri, yang sepertinya ini wangi surga atau semacam itu.

“Sudah tidak ada kata bermain,” kata peri, saya hanya diam dan meringis.

Bapak saya terlihat kebingungan dengan apa yang terjadi, ia hanya mematung di sana. sarungnya sedikit melorot.

lalu saya dibawa peri ke awan hanya dalam hitungan 5 detik, di sini saya diajarkan bagaimana menggunting kuku kucing raksasa. di sini saya diajarkan untuk merawat kucing raksasa ini, di atas awan. dia adalah sumber kehidupan, kata peri.

kami tinggal di antara bulu-bulu kucing, bersama orang-orang lainnya. dan sepanjang hidup merawat kucing ini agar ia bisa terus berpindah dari awan satu ke awan lainnya.

kata peri, saya terjatuh dari punggung kucing ketika umur saya 6 bulan. lalu ditemukan oleh keluarga manusia yang mengurus saya sampai detik ini. hari ini adalah hari kepulangan saya ke rumah setelah sebelumnya mereka memantau saya dari atas awan.

saya tidak menyangka ternyata benar di awan ada kehidupan.***

Zara [Cerpen]

Apa yang lebih menyedihkan dari kedatanganku padamu, Zara? Aku jatuh cinta dan memikirkan bagaimana cara melepasmu—di detik yang sama.

Aku menyukai semua yang melekat padamu, dan semua yang pernah melekat padamu.

Namun, bagaimana caraku untuk pulang, Zara? Aku tersesat di matamu yang lautan bunga, dan senyummu yang candu. Saat pertama kali melihatmu, aku adalah orang yang ingin menjadikanmu tempat ibadahku. Darimu aku mendapatkan surga, dan hanya padamu aku menyembah.

Zara, kuingin kamu tahu ketika mata kita bertemu, aku ingin menjadi angin yang bisa leluasa memelukmu. Namun, sama seperti angin, ia mudah berlalu.

Jika kamu dengar deru ombak, itu adalah jantungku saat bibirku mencium bibirmu. Sepotong bibir yang manis, dan katamu ini terbuat dari tebu yang kamu tanam di halaman rumahmu di dataran tinggi.

Saat jemariku bermain di antara helai rambutmu, Zara, aku adalah ikan yang tersesat sampai ke samudera, mencari ujung dunia namun yang kutemukan hanyalah kamu. Rambutmu adalah malam yang pekat, dan aku memujamu dari surau paling sepi di ujung jalan desa.

Tapi, aku ingin kamu tahu bahwa aku memikirkan bagaimana caraku untuk pulang, bagaimana caraku melepasmu. Kembali ke rumah yang telah kupupuk dari serakan patah hati yang tak pernah kamu bayangkan.

Saat sebelum bertemu denganmu, aku adalah manusia paling rapuh yang pernah berpikir menjadi abu adalah cara lain menjadi hidup.

Lalu kamu, Zara, katakan satu napas saja agar aku bisa paham kenapa dunia begitu menakutkan bahkan untuk orang dewasa seperti kita. Kamulah yang aku imani saat ini, kata-katamu adalah sabda, ciumanmu adalah obat lara.

Kumohon, Zara, jika kamu tak ingin aku di sini, buat aku menyesal karena pernah menatap matamu. Di sana setengah nyawaku terenggut, dan kamu permainkan, tak pernah kenal kata cukup.

Saat kamu memelukku, Zara, aku seperti menyentuh bulan di malam paling sepi dan dingin. Aku ingin memelukmu ketika kepalaku lebih ramai dari perang, lebih tajam dari parang. Aku hanya ingin pelukanmu dan wangi tubuhmu ketika aku tak percaya siapa-siapa.

Tapi, Zara, akhirnya kamu berkata bahwa wanita sepertimu tak pernah percaya segala hal yang mengikat. Kamu dan aku datang dari trauma yang sama, dengan awal dan akhir yang sama.

Aku tahu sejak awal kamu pun memikirkan hal yang sama ketika mata kita bertemu. Bahwa orang ini hanya singgah, dan suatu saat akan pergi seperti yang sudah-sudah.***


Juki [Cerpen]

Adalah sepasang mata Juki yang melihat perempuan itu melewatinya dengan begitu anggun. Pipi merah merona, rambut bergelombang sedikit pirang, dan bibir yang agak tebal seperti awan Jakarta malam itu. 

Juki baru saja bermandikan keringat, debu, dan pasir bak adonan di tubuhnya yang coklat. Ia sedang menunggu gantian mandi dengan teman satu mesnya, pekerjaan proyek hari itu selesai jam 11 malam.

Perempuan itu menyita perhatian Juki yang seperti baru saja kerasukan cinta pertamanya. Cinta yang sama saat ia di TPQ dan jatuh cinta dengan sepupunya sendiri. Meski kejadian sudah lama berlalu, tapi rasanya terkadang muncul dan bisa datang suatu saat di waktu yang berbeda, seperti malam itu.

Mata Juki bagai kucing di tengah kegelapan, ia menelisik jauh sampai perempuan itu tertelan gelap malam. Aku seperti melihat bidadari, gumamnya.

“Gantian mandi, Juk, nanti diserobot Si Kumbang,” kata temanya, Si Cacing, sekonyong-konyong mengganggu lamunan Juki yang mulai liar.

Juki cepat berdiri, dan berjalan ke kamar mandi yang terbuat dari triplek sisa proyek. Di sana ia mandi dan terus membayangkan lekuk tubuh perempuan yang baru saja dilihatnya.

***                                                                

Setelah beberapa hari di jam yang sama, Juki selalu memperhatikan perempuan itu. Akhirnya perempuan itu sadar akan keberadaan Juki. Saat Juki melihatnya mulai menjauh, terlihat samar lambaian tangan.

“Ia memintaku kesana?” gumamnya seperti orang tolol.

Juki yang saat ini bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek berlogo Manchester United, mendatangi perempuan itu dengan hati-hati. Layaknya anak kecil yang baru dikenalkan huruf abjad, Juki dengan saksama menelisik dari ujung kepala sampai ujung kaki perempuan di depannya.

“Mau apa kau?” ketus perempuan itu ketika Juki sudah di depan hidungnya.

Juki tak menjawab, kaku, kelu, seluruh tubuhnya dingin, menyatu dengan malam Jakarta saat itu.

“Aku tau laki macam kau, bajingan goblok yang mau menggadaikan masa depan untuk kesenangan sementara,” perempuan itu mendengus, “aku tau kau mau badanku.”

Juki menelan ludah, pupil matanya melebar, penglihatannya jadi lebih terang dari sebelumnya.

“Lima ratus ribu sekali main,” ucap perempuan itu, matanya kemudian memutar seolah tak sabar dengan sikap naif Juki yang sangat ketara.

“Mau nego? Bisa,” tambahnya.

Juki yang seolah tersirna oleh kecantikan perempuan itu–setidaknya menurutnya–kemudian mengeluarkan tiga lembar uang seratus ribuan dari saku celana logo Manchester Unitednya. Perempuan itu menerima.

“Ok, deal, ikuti aku dan jangan berisik.”

Juki mengikuti perempuan itu dari belakang seperti anjing yang menuruti majikannya. Ia melihat perempuan itu dari belakang yang terbalut kaos polos putih oversize dan celana jeans pendek sampai terlihat putih pahanya. Tubuh yang berisi, pinggul yang proporsional, dan kaki yang agak gemuk. Juki taksir umur perempuan itu di akhir 30an, sama sepertinya.

Juki sebenarnya sangat menyukai mata perempuan itu, yang terlihat tegas dan mengintimidasi, namun ia yakin sebenarnya di balik mata itu ada sosok yang rapuh dan penyayang.

Mereka sampai di depan sebuah kamar dengan pintu coklat yang terlihat cukup terawat, perempuan itu masuk disusul Juki. Matanya kosong, entah apa yang ada di batok kepalanya saat itu.

“Mandilah,” kata perempuan itu pendek.

Juki menuruti kata perempuan itu dan masuk ke kamar mandi yang tidak terlalu besar, hanya cukup untuk satu orang. Di sana ia temukan peralatan mandi seperti sabun, sikat, dan lainnya tertata rapi. Ia cepat mandi dan keluar dengan sehelai handuk biru berlogo Chelsea.

Juki duduk di ujung ranjang dengan sprei berlogo Barcelona yang mendominasi, kemudian perempuan itu mengelus pahanya. Juki hanya bisa diam dan menikmati sensasi itu, tangan perempuan itu terasa begitu lembut.

Kemudian perempuan itu mulai mendekatkan kepalanya ke pundak Juki, Juki semakin mencium aroma harum dari badan perempuan itu, wangi mawar, ya wangi mawar yang samar-samar.

Malam itu lampu kamar antara menyala atau tidak, tipis saja, Juki mulai bernafas tak beraturan, perempuan itu masih tenang dan terlihat profesional.

“Nggak usah tegang, goblok!” bentak perempuan itu pelan tapi nyelekit.

Juki hanya bisa mematung dan mencoba rileks.

Saat perempuan itu baru ingin mendaratkan ciuman di pipi Juki, terdengar satu pesan masuk ke hp Juki.

Juki yang melihat ke arah meja di mana hpnya tergeletak, melihat samar satu notifikasi SMS masuk, ia mengernyitkan dahi dan memfokuskan pandangan pada layar hpnya:

“Kamu belum kirim? Anakmu butuh susu.” Isi pesan itu terlihat di layar.

Juki, sekali lagi, hanya bisa mematung seolah terbius oleh harum perempuan itu yang membuatnya sangat nyaman berada di sana.

Tak lama kemudian, ia menyadari bahwa dirinya dan perempuan itu sudah tak menggunakan sehelai kain pun. Juki tak ingat apa-apa, dan tak merasakan apa-apa. Yang ia tahu pistolnya sudah lemas seperti kentang rebus.

“Sudah selesai,” kata perempuan itu.

Juki mulai berkemas dan sorot matanya melihat ke arah tubuh bugil perempuan itu, perempuan yang kemudian ia menyebutnya Si Mawar. Ia keluar dari kamar itu dan tak lupa hp android yang sudah ia kenakan dua buah karet di bodynya—karena terkadang baterai di hpnya tak berfungsi dan dengan mudah kapan saja drop—dibawanya dan dimasukan ke saku.

Ia pulang dengan berjalan menyusuri jalan gelap yang sama ketika ia datang ke tempat itu, tak jauh, hanya sekitar 30 meter.

Seolah tak terjadi apa-apa, ia kemudian tidur di mesnya dengan selembar kardus air mineral. Ia tak cerita kepada siapa-siapa, dan hanya tidur yang ia inginkan untuk saat itu. Tidur adalah pelarian paling murah yang ia tahu.

***

Hari-hari selanjutnya, ia hanya bisa melihat perempuan mawar itu dari kejauhan tanpa menidurinya. Karena ia tak punya uang lagi. Pada saat dimana ia mendapat bagian upahnya, ia datang ke tempat perempuan mawar itu dan tanpa tedeng aling-aling ia bilang, “Aku mau semalam denganmu.”

Dan malam itu Juki seolah terlahir kembali, ia begitu menikmati tiap sentuhan perempuan mawar itu. Bibirnya yang bau Samsu dilumat habis perempuan itu dengan saksama, dan lumatan lainnya yang membuatnya seolah berada di surga dan segala bentuk janji manis untuk orang yang berbuat baik selama di dunia.

Juki menikmati surganya malam itu, ia terkekeh, tersenyum, merengkuh, mendesah, di riuhnya malam Jakarta yang jahanam.

***

Esoknya uangnya lenyap, ia sudah habiskan di satu malam bersama perempuan mawar. Ia datang ke proyek dengan mata merah dan wajah tak menyenangkan, ia begadang sampai subuh untuk menikmati tiap detik bersama perempuan mawarnya.

“Semalam kau kemana?” tanya Si Kumbang, orang paling ditakuti di antara kuli dan tukang bangunan.

“Bukan urusanmu, aku mau kerja, jangan ganggu,” ucap Juki acuh tak acuh.

“Istrimu menelponku.”

“Peduli setan.”

“Katanya istrimu sudah lama tidak kau sentuh, aku menyuruhnya untuk mencoba sendiri atau kalau sudah tak tahan, aku bisa melayani saat itu juga.”

Juki cuma diam. Saat itu dadanya adalah api.

“Aku bohong,” Si Kumbang terkekeh, “istrimu menelepon Si Cacing karena malam itu kau tidak ada kabar.”

Juki sudah kadung diselimuti amarah, tanpa babibu, Juki meninju mulut Si Kumbang dan darah segar keluar begitu saja. Juki mengerang kesakitan, begitu juga Si Kumbang. Tangan Juki ikut berdarah karena terkena gigi depan Si Kumbang yang kuning kecoklatan.

Tak lama kemudian area proyek sudah seperti arena tinju bebas dadakan. Tak ada yang melerai, karena semua sudah benci dengan si Kumbang dan ini saatnya melihat orang yang berani mati melawan jagoan itu.

Si Kumbang pun balas menyeruduk Juki sampai terpelanting di tumpukan pasir yang baru saja datang pagi tadi. Juki berusaha berdiri, orang-orang mengerumuni mereka dengan menyemangati Juki. Juki yang tidak memiliki ilmu apa-apa, hanya badan yang ia tempa di tempat proyek, mengandalkan nyali dan keberuntungan.

Juki mulai mendekati Si Kumbang dengan perlahan, ia pasang kuda-kuda, begitu pula si Kumbang. Orang-orang sorak sorai meneriakan nama Juki berkali-kali, ia adalah pahlawan bagi mereka.

Juki dan Si Kumbang sama-sama mengamati pergerakan masing-masing, saling memutar otak dan strategi untuk mencari celah untuk menyerang dengan telak.

Ketika melihat Si Kumbang ingin menyeruduknya lagi, Juki langsung melemparkan pasir tepat ke arah mata Si Kumbang, pasir yang ia rengkuh dari kejatuhan pertamanya tadi. Pasir itu otomatis membuat penglihatan Si Kumbang kabur dan menjadi kesempatan Juki untuk menyerang.

Sorak sorai semakin bergemuruh ketika Juki mulai meninju telak rahang Si Kumbang, yang membuat badan besarnya mulai goyah, Juki kembali meninju perut Si Kumbang, kemudian menendang dengkulnya sekuat tenaga sehingga membuat Si Kumbang terjatuh ke depan.

Hal itu dimanfaatkan Juki untuk mencekik dari belakang dan kesempatan itu tak ia sia-siakan, cekikan Juki yang bercampur tabungan amarahnya dan teman-temannya membuatnya begitu bersemangat.

Sedang Si Kumbang terus mencoba melawan, ia sekuat tenaga menjatuhkan Juki yang berada di atas badan besarnya. Tapi siapa saja yang melihat perkelahian itu akan tahu siapa yang akan kalah.

Tubuh Si Kumbang mulai lemas, nafasnya sudah sulit karena lengan Juki sudah seluruhnya masuk ke lehernya. Seperti kesetanan, Juki ingin membunuh Si Kumbang saat itu juga. Namun Si Cacing yang melihat Si Kumbang sudah tak berkutik, melerai perkelahian itu.

Si Kumbang terkapar seperti tai kucing, kemudian Juki diarak oleh teman-temannya.

“Juki, juki, juki, juki!”

Orang-orang mengelu-elukan namanya. Ketika ia berada dalam kesenangan, ia melihat ke luar, ke arah jalan yang biasanya orang lalui, ia melihat perempuan mawarnya, perempuan itu tersenyum tipis, dan Juki membalas senyumnya dengan memberikan ciuman jarak jauh ala remaja baru kasmaran.

“I lope you,” kata Juki mengikuti yang di film-film.

Meski tak ada yang tahu apakah yang berada di sana benar perempuan mawar yang dimaksud Juki.

***

Beruntungnya, atas kejadian perkelahian tersebut, tidak ada yang mengadu pada mandor. Semua kuli dan tukang senang karena Si Kumbang sudah hancur harga dirinya. Membuat mereka jadi lebih leluasa bekerja tanpa takut diusili oleh Si Kumbang yang sering kelewatan.

Malamnya, Juki datang ke tempat perempuan mawar itu, dan disana ia disambut dengan baik. Perempuan itu membantu Juki menyembuhkan luka-luka kecil di tubuhnya yang keras seperti beton dengan kapas dan alkohol.

Bak pasangan baru, mereka kemudian berciuman, bercumbu, dan bercinta sampai pagi.

“Hari ini gratis, besok bayar, ya.”

Juki hanya meringis mendengar kata-kata itu keluar dari mulut yang sama yang melumat tiap jengkal tubuhnya, dan ia mulai menyalakan rokok samsunya, mengebulkan asapnya perlahan. Pikirannya mulai tenang, dan bergumam: sedang apa istriku sekarang?***

The White Tiger: Tentang Kerasnya Kelas Sosial dan Dendam Mendalam

saya merasa lega kerena bulan Januari ini ditutup dengan film bagus. sebuah film yang benar-benar selera saya.

The White Tiger bercerita tentang perjalanan seorang pria kasta rendah di india dalam usaha mengubah nasibnya. kelas sosial seperti ini memang terjadi di mana-mana, jika kita lahir dari keluarga miskin, mau pintar sekalipun, kita hanya memilki sedikit peluang untuk hidup lebih baik.




Balram, tokoh sentral dalam film ini, menyadari itu, analoginya: bahwa ayam-potong yang terkurung di sebuah kandang dan ia tahu nantinya akan dipotong, tidak akan/bisa melakukan perlawanan. Balram mencoba untuk keluar dari kandang itu dengan berbagai cara. baginya, hanya ada dua cara untuk menjadi sukses jika kita terlahir miskin: melalui kriminal atau politik.

ini adalah film yang dapat menggugah hati siapa saja. emosi Balram dalam film ini dapat kita rasakan. bagaimana ia diperlakukan oleh majikannya dengan semena-mena, membuat tabungan dendamnya semakin memuncak. dan semua itu tersampaikan dengan baik.

saya menemukan aroma film Pariste (2019) kali ini, semacam dendam yang mendalam dari kelas sosial rendah terhadap kelas atas. sebuah emosi yang barangkali saya dan kamu juga rasakan jika berada di posisi itu. hal yang membuat kita mulai berpikir bahwa dunia sama sekali tidak adil untuk orang yang terlahir miskin.

saya sangat suka bagaimana cerita berjalan, alur yang maju-mundur serta cerita yang berlapis-lapis membuat film ini istimewa. pergerakan kamera untuk mengantarkan emosi pemain kepada penonton juga salah satu hal yang membuat saya sangat menyukai film ini.

pada akhirnya, The White Tiger merupakan film penting dan wajib ditonton untuk mengisi awal tahun yang tidak seberapa menarik ini.***

Mindset Sederhana Sebelum Memulai Investasi

sepengalaman saya berinvestasi dan mengikuti akun-akun yang berbicara investasi serta ikut bergabung di grup telegram hingga facebook, saya selalu menemukan orang-orang yang panik ketika portofolionya merah. 

atau dengan kata lain, uang yang mereka investasikan berkurang.




setiap investor pasti pernah mengalami kerugian, tapi selama uang di portofolio tidak ditarik ya tidak terjadi apa-apa. orang-orang yang panik seperti ini kemungkinan adalah orang yang tidak menentukan tujuan investasinya. 

orang dengan tujuan investasi tentu saja akan bodo amat dengan portofolio hijau atau merah, selama tujuan itu belum tercapai ya tidak usah diambil pusing. 

ada juga investor yang ketika melihat portonya merah, ia akan menambah muatan. sebab ia sudah yakin dengan pilihannya tersebut dan yakin suatu saat nilainya akan bertumbuh. 

keuntungan dari investasi yang paling menonjol adalah dari selisih beli dan jual kita terhadap instrumen itu. 

secara logika, ketika pasar sedang merah artinya itu adalah saat yang bagus untuk beli, dan ketika pasar hijau adalah saat yang bagus untuk jual. 

dan tentu saja untuk investasi selalu gunakan uang dingin, jangan gunakan uang panas yang kalau uang itu hilang, kamu jadi benar-benar kepanasan.

akan lebih baik kamu persiapkan dana darurat terlebih dahulu. 

ada banyak instrumen investasi, yang tren belakangan ini adalah saham. sebelum memutuskan invest di saham, kamu harus memahami betul-betul apa yang kamu beli. 

kamu harus meluangkan waktu untuk belajar dan memperhatikan pergerakan pasar. 

jika kamu tidak ada waktu dan ingin investasi yang santai, reksadana bisa jadi pilihan, meski tampak santai, kamu juga harus pelajari setiap reksadana yang kamu ingin beli ya. 

ada namanya fund fact sheet, di mana kamu bisa membaca data-data yang kamu butuhkan untuk selanjutnya yakin membeli reksadana tersebut.

perlu diperhatikan bahwa hasil investasi di masa lalu tidak menjamin hal serupa di masa depan. 

Kenapa IHSG Terus Naik di Situasi ‘Seperti Ini’?

Saya bertanya kepada seseorang yang bekerja di sekuritas tentang bagaimana pendapatnya mengenai IHSG di 2021. dan saya mendapat jawaban yang cukup mengagetkan.

menurutnya IHSG akan terus naik di tahun ini dengan pertimbangan semakin banyak orang yang punya uang tapi bingung mau dikemanakan. membeli saham adalah salah satu usaha lain untuk mendapatkan keuntungkan dibanding usaha mainstream.




semakin banyak modal, semakin tinggi juga berkesempatan mendapat keuntungan. tapi jangan lupa ada risiko rugi juga. gunakan 'uang dingin' untuk membeli saham adalah salah satu syarat paling sederhana yang kadang dilupakan.

membeli saham tentu saja sama dengan kita membeli perusahaan tersebut. walau persentasenya sangat kecil. artinya usaha yang di mana perusahaan kita beli sahamnya, itu termasuk usaha kita juga, kita ikut dalam kepemilikan.

dan investor domestik tercatat mengalami pertambahan 42% di tahun 2020. meski masih jauh jika kita bandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia.

yang menarik, ketika hari pertama 'PSBB ketat' pada tanggal 11 Januari kemarin, yang menurut prediksi banyak orang IHSG akan turun dan bersiap untuk membeli saham incaran, IHSG malah menunjukan fakta sebaliknya. artinya isu seperti pembatasan dan sebagainya sudah tidak berefek lagi terhadap kinerja IHSG. atau ada anomali lain yang tidak bisa kita pahami.

yang pasti, kembali ke konsep penawaran dan permintaan. jika semakin banyak permintaan, maka harga semakin tinggi, begitu juga sebaliknya. semakin banyak orang yang membeli saham, artinya harga akan naik.

ya, meski tidak semudah itu. ada banyak faktor yang memengaruhi harga saham, mulai dari isu perusahaan, hingga tekhnik fundamental dan tekhnikal untuk melihat harga wajar.

boleh setuju, boleh tidak.

Soul (2020) dan Semua Omong Kosong Tentang Passion

passion, singkatnya, adalah ketika kamu melakukannya, kamu mau menggadaikan waktumu hanya untuk itu. hal yang jika kamu lakukan, kamu mengeluarkan semua potensi dalam dirimu. ada fase yang disebut 'zona' di mana kamu antara sadar dan tidak sadar ketika melakukannya. sebuah buku yang fenomenal tentu saja ditulis oleh penulis yang memasuki zona ketika menuliskannya. sebuah gol spektakuler lahir dari pemain yang memasuki zona.

begitu cintanya dirimu kepada hal itu, sehingga tidak memikirkan hal lain. namun, terkadang hal yang kita kira adalah passion, ternyata tidak lebih dari hal 'biasa saja'.

film soul berbicara tentang itu, lewat tokoh yang mempunyai mimpi menjadi musisi jazz terkenal. tentu saja tidak sesingkat itu, film ini membawa kita untuk merenung sejenak apa arti tujuan hidup ini. apakah yang selama ini kita lakukan sudah sesuai jalan? atau kita sedang berjalan di jalan orang lain?

soul berbicara melalui cerita yang berjalan dengan baik dan transisi yang sangat lembut. ditambah animasi yang sempurna dari pixar yang di beberapa adegan juga menggambarkan kehidupan sesudah dan kehidupan sebelum dengan menarik.

yang disayangkan barangkali ketika film menuju ending, adegan terkesan terlalu dipaksakan untuk diakhiri alih-alih mengambil alternatif lain yang lebih lembut. secara keseluruhan, film ini masih sangat rekomended untuk ditonton oleh siapa saja. akan sangat relate bagi mereka yang baru saja mengalami fase dari remaja ke dewasa, mereka yang mulai berpikir bahwa mengejar passion untuk hidup adalah mungkin.***



The Matrix: Berpikir Kembali Apakah Dunia Ini Nyata

hal random yang pernah saya lakukan ketika menjadi kakak adalah membisikan kepada adik saya bahwa dunia ini tidak nyata. bahwa semua yang dia lihat adalah hantu. itu adalah ketika saya masih SD. dan memang sejak sekecil itu saya mempertanyakan apakah dunia ini benar-benar nyata? apakah cuma buatan belaka.

dan, ya, adik saya ketakukan dengan perkataan saya itu. dia sampai menjauhi saya dan sekarang dia sudah SMK, semoga dia sudah lupa dengan kejadian itu. wk.



seperti di dalam film the matrix, ketika manusia 'hidup' hanya dalam pikirannya saja. tubuh manusia hanya menjadi 'bahan bakar' sekelompok robot canggih yang mengakusisi kehidupan di dunia. di mana seluruh umat manusia tunduk terhadap sistem robot canggih ini, yang mungkin saja akan tercipta pada 'beberapa' tahun ke depan.

film ini tayang pada tahun 1999, tapi ia seperti melewati batas zaman. menontonnya beberapa hari yang lalu masih berkesan sampai sekarang. pertanyaan mengenai apakah dunia ini benar-benar nyata merupakan satu hal yang menarik. bahkan jika dilihat dari segi filsafat pun belum ada penjelasan yang mengatakan secara gamblang bahwa dunia ini benar-benar nyata, bukan simulasi.

atau sebenarnya memang kehidupan ini benar-benar tidak ada? entahlah. intinya saya mau ngomong kalau film ini bagus. itu aja.***

Hal yang Seharusnya Saya Lakukan Ketika Mendapat Gaji Pertama

Tidak sedikit orang yang heran dengan gajinya. Heran karena ia tidak tahu kenapa gajinya tidak tersisa dan tidak ada yang ditabung. 

Semuanya habis di akhir bulan, terus seperti itu sampai gajian berikutnya. 




Hal ini juga saya rasakan dan teman-teman juga mungkin sama. Apalagi ketika mendapat 'gaji pertama'. Rasanya senang sekali dan selalu ingin membeli ini-itu yang sudah lama tertunda. 

Ternyata hal itu keliru. Setidaknya ada beberapa hal yang seharusnya kita lakukan ketika pertama kali mendapat gaji.

1. Tahu Pengeluaran

Ketika kamu tidak tahu pengeluaranmu berapa, ini berbahaya. Sebab keuangan yang baik adalah ketika pemasukan lebih besar dari pengeluaran. 

Kita harus belajar mencatat pengeluaran dan membuat anggaran tiap bulannya. Awalnya memang sulit, tapi ketika sudah kamu lakukan, pasti akan mendatangkan hal baik. 

Dengan begitu, kamu jadi tahu kemampuan keuanganmu berapa, dan membuatmu tahu diri dan tidak berhutang.

2. Atur Persentase

Ini berkaitan dengan anggaran. Seharusnya ketika mendapat gaji, dan sudah tahu pengeluaran kita berapa selama 1 bulan, kita bisa menganggarkan gaji kita dengan persentase. 

Keuangan yang baik adalah ketika kita bisa menabung/investasi 40% dari gaji. Dan kalau pengeluaran konsumtifmu lebih dari 50% berarti kamu harus hati-hati. 

3. Tujuan Keuangan

Karena hidup bukan sekadar detik ini, kita harus merancanakan keuangan kita dari jangka pendek, menengah, dan panjang. 

Seperti keinginan untuk liburan, membeli gadget baru, menikah, atau membeli rumah. 

Jika semua itu direncanakan, maka kemungkinan pengeluaran kita akan lebih terkontrol. 

4. Investasi

Melalui investasi, kita bisa mencapai tujuan keuangan. 

Seperti reksadana pasar uang cocok untuk investasi jangka pendek, reksadana obligasi untuk jangka menengah, dan reksadana saham/indeks untuk jangka panjang. 

Investasi membantu untuk mencapai tujuan keuangan kita, bukan untuk menjadi kaya secara instan.

5. Manfaatkan Gadget

Saat ini, ada banyak sekali aplikasi yang bisa membantumu dalam mengatur keuangan. Untuk mencatat anggaran dan pengeluaran kamu bisa menggunakan Excel atau Money Lovers. 

Untuk investasi kamu bisa download Bibit, Bareksa, Ipot, atau Ajaib. 

Saat ini semua serba mudah, semua ada di ujung jempolmu.

Cara Mudah Melatih Otak Agar Berpikir Kreatif



Saya membaca buku tentang cara berpikir kreatif sekitar 6-7 tahun lalu. Dan beberapa tipsnya masih saya ingat  dengan jelas, dan kali ini mau saya bagikan.

Otak merupakan organ manusia yang paling fenomenal. Ia sangat berperan penting terhadap karakter, pemikiran, hingga pengetahuan manusia, tidak terkecuali ide-ide kreatif. 

Pada dasarnya, kita semua dilahirkan menjadi manusia yang kreatif, hanya saja ketika tumbuh menjadi dewasa, kreatifitas itu mulai luntur. 

Sebab saat kita tumbuh, kita melihat dunia ini serba-baru. Melalui sudut pandang baru. Lalu semua dimusnahkan dengan sudut pandang yang diarahkan oleh orang lain. 

Seorang pemikir kreatif akan menghasilkan lebih banyak alternatif untuk memecahkan suatu masalah.

Salah satu proses berpikir kreatif yang paling penting adalah fase inkubasi. 

Fase di mana otakmu mencari jalan keluar sendiri tanpa kamu minta. Itu adalah hasil dari semua apa yang kamu lihat, baca, dengar, dan rasa. 

Semua terekam di otakmu tanpa kamu sadari dan memengaruhimu ketika mengambil keputusan.

Latihan untuk bisa berpikir lebih kreatif yang bisa sama-sama kita lakukan adalah, dengan melakukan hal yang tidak biasa tiap harinya. 

Seperti kamu bisa pergi ke kantor melalui jalan yang sama, kemudian pulang kantor melalui jalan yang berbeda. Atau ketika kamu terbiasa dengan membeli sesuatu di satu warung tertentu, kamu bisa mencoba membeli di warung lainnya. 

Cara lain, coba kamu menyikat gigi dengan tangan kiri, atau memulai mandi dengan urutan yang tidak sama seperti biasanya. 

Dengan begitu, kamu akan terlatih untuk melakukan hal-hal yang 'di luar' kebiasaan. Dan otak akan terlatih akan hal-hal baru. Tentu saja hal ini akan ditangkap otak kamu dengan baik, dan ketika kamu dihadapkan dengan satu permasalahan atau pencarian ide, maka otak akan memberi sinyal kepadamu tanpa diminta. Yaitu hasil inkubasi itu, ia akan melahirkan intuisi dan kamu akan mudah untuk mendapat sudut pandang baru ketika melihat satu hal.

Tentu saja hal ini tidak bisa didapatkan secara instan, kamu harus sering melatihnya, sesering mungkin.

Dan, selamat mencoba..


 



 

The Queen's Gambit: Bukan Sekadar Kisah Tentang Catur

The Queen's Gambit bercerita tentang seorang anak yatim piatu yang tumbuh untuk meraih mimpinya menjadi pecatur kelas dunia. 

Di samping itu, ia juga menyentil isu feminisme dan perlawanan terhadap patriaki. Meski setting waktu pada tahun 60an, hal ini masih sangat relevan sampai sekarang. 

Menonton serial ini bukan saja mengikuti keseruan perjuangan Elizabeth Harmon (Beth) dalam karier caturnya, tapi juga tentang bagaimana ia melawan batas-batas tabu atas gender. 


Aku ingin bermain catur tanpa peduli komentar orang lain terhadap perempuan.

Kendati demikian, Beth juga sempat mempertanyakan ‘kodrat’ perempuannya. 

Tapi di sisi lain, ia sama sekali tidak mau dianggap lebih rendah dari laki-laki, di lain waktu, ia mempunyai ambisi untuk mendominasi di atas laki-laki dari segi catur hingga sex. 

Karakter Beth dibentuk melalui masa lalu yang kelam dan pencarian jati diri yang cukup panjang.

Perjalanan kehidupan Beth mulai dari ia kecil sampai dewasa, ditampilkan sangat apik dan masuk akal. Bagaimana ia pertama kali berhasrat dengan lawan jenis juga cukup menarik dan menggelitik. 

Cerita juga tidak melulu fokus pada Beth, kadang juga menyoroti keluarga yang mengadopsinya. 

Yang sialnya keluarga itu sedang tidak baik-baik saja. Dan menuntut mereka berdua (Beth dan ibu angkatnya) untuk memutar otak agar bisa bertahan hidup. 

Kekurangan serial ini barangkali ada di pewarnaan yang terlihat tidak terlalu konsisten, kadang terlihat seperti tahun 60-an, kadang terlihat modern. Tapi ini bisa untuk tidak diindahkan mengingat aspek lain yang sangat menonjol. 

Pada akhirnya, The Queen's Gambit, bukanlah sekadar serial permainan catur, ia berbicara tentang feminisme, petriaki, pencarian jati diri, hingga gejolak perang dingin antara AS dengan Uni Soviet. 

Penghargaan paling tinggi saya kepada mbak Anya Taylor-Joy yang memerankan Beth dengan sangat sempurna.***





Merayakan Ketidakberdayaan dengan Musik

sebagai manusia, kita pernah merasa pada titik terendah. ada yang semaksimal mungkin untuk menutupinya, ada yang dengan terbuka menerima keadaan tersebut dan tentu saja dengan segala bentuk penyelasan, sakit hati, atau menangis. 

setiap orang berhak untuk menangis, perempuan atau laki-laki. seseorang tidak dinilai sebagai yang terkuat ketika ia tidak pernah menangis sepanjang hidupnya.




kita akan memilih untuk menyendiri, menutup seluruh tubuh dengan selimut, dan tidak sadar bantal basah dengan air mata. 

kita tidak bisa menahan rasa sakit yang ditimbulkan ketika kita sampai pada titik terendah. dan sialnya, semua bersumber di dada, kamu akan sesak, nafasmu terengah. 

dan masing-masing orang agaknya mempunyai cara sendiri untuk merayakan ketidakberdayaannya.

hal yang biasa saya lakukan adalah menyetel musik intrumental gitar elektrik dengan sangat keras. yang biasa saya dengarkan adalah john 5, joe satriani, hingga buckethead, musik mereka memang terdengar 'sangat keras' dan terkesan berantakan, tapi entah kenapa itu sangat menghibur saya jika dalam keadaan 'seperti itu'. 

ini sudah saya lakukan sejak lama, dan beruntungnya saya tinggal sendirian, orang-orang tidak akan merasa terganggu dengan musik itu.

saya yakin tiap orang mempunyai cara untuk merayakan ketidakberdayaannya untuk kembali menjadi manusia kuat esoknya. walau itu tidak mudah. sebab kita manusia, dengan segala keabsurdan dunia.***

The Wolf of Wall Street: Dunia Saham jadi Begitu Menakutkan

saat ini, orang-orang mulai tertarik dengan dunia saham, tapi di benak mereka dunia saham begitu menakutkan. tapi memang semenakutkan itu? sepertinya tidak. 

salah satu film yang mengangkat tentang dunia saham yang terkenal adalah The Wolf of Wall Street, diperankan oleh the one and only Leonardo DiCaprio. film ini diambil dari buku autobiografi, yang artinya cerita di film ini benar-benar terjadi.





film ini bercerita tentang anak muda, Jordan Belfort, yang terjun ke dunia saham. mentornya yang pertama kali ia temui sangat berpengaruh terhadap karirnya. ia meniru gaya mentor itu, mulai dari narkoba hingga seks yang membuat bisnis broker sahamnya menjadi lebih melesat. 

dan sialnya, tekhnik itu manjur, Belfort akhirnya mulai membuka sekuritas sendiri, menawarkan saham bodong kepada orang-orang dengan penghasilan menangah ke bawah, dengan menjanjikan return yang besar. di samping caranya menjual saham begitu lihai, akhirnya semakin banyak klien yang ia punya.

melalui bisnisnya, Belfort mempunyai segalanya, mulai dari rumah mewah hingga istri seorang model. tapi seolah tidak pernah puas, ia terus menambang uang di saham, menjalankan bisnisnya dengan ajaran mentor pertamanya tadi.

bisa jadi ia bukannya tidak pernah puas, tapi memang dengan melakukan jual beli saham, ia merasa senang. karena di kehidupannya yang sudah ada segalanya, apa lagi yang ingin ia kejar? 

melalui film ini, kita bisa melihat dunia saham lebih dekat, mulai dari ipo hingga cut loss. bagi orang awam, mungkin istilah-istilah dalam film akan memusingkan, tapi jika mereka mengerti sedikit tentang istilah itu, mereka akan menemukan keseruan jalan cerita. 

meski saham membuat Belfort kaya dalam waktu singkat, tapi ia juga bisa membuatnya miskin dalam waktu paling singkat pula. mulai dari pengkhinatan hingga bisnisnya yang mulai terendus sebagai bisnis penipuan. 

jalan cerita begitu cepat, saya tertawa lepas di beberapa adegan karena sangat relate. intinya sih, ini film sangat menghibur dan ingat, yang dilakukan Belfort di dunia saham sangat berisiko, lebih baik jangan ditiru. investasilah di saham dalam jangka panjang, setidaknya itu yang bisa saya sampaikan.***




The Gifted dan Kritik Pedas Terhadap Sistem Pendidikan

di negera berkembang, pendidikan tidak lebih hanya melahirkan kelas buruh baru. Robert Kiyosaki di bukunya berbicara bahwa untuk menjadi orang kaya, memang tidak diajarkan di sekolah mana pun. dan sekolah menurutnya hanya mendidikmu dengan pola pikir buruh/karyawan.

The Gifted adalah sebuah serial Thailand yang bisa kamu tonton di youtube secara gratis. serial ini bercerita tentang sebuah kelas berbakat di sekolah kenamaan Thailand. bukan sembarang kelas berbakat, di kelas ini siswanya mempunyai kekuatan-super-yang-'dipantik' oleh sinyal buatan sekolah. 





tentu saja tujuannya adalah lulusan kelas berbakat ini dapat menjadi pekerja (buruh) yang andal dalam bidangnya ditunjang kekuatan super tersebut.

siswa di kelas ini mendapat perlakuan berbeda di sekolah, mereka mendapat fasilitas super, sedangkan siswa lainnya hanya mendapat fasilitas standar-standar saja, padahal mereka adalah siswa yang sama di sekolah tersebut. hal ini membuat Pawaret, salah satu siswa berbakat memberontak dan menginginkan sekolah 'tanpa kelas'.

hal ini tentu saja menggelitik beberapa orang, karena kalau kita tarik lebih jauh lagi, keinginan Pawaret sejalan dengan paham komunisme. tapi, ya, mau gimana lagi, untuk menggulingkan sistem yang sudah berakar bertahun-tahun, sangatlah sulit. 

menjelang akhir musim 1, Pawaret bekerja keras untuk melakukan revolusi-sekolah-tanpa-kelas. tapi untuk hasilnya mungkin bisa kita lihat di musim 2 yang sekarang ini sedang produksi. 

pada akhirnya, The Gifted bukanlah sekadar serial yang menghibur dari segi cerita, pemain, dan penyelendupan iklan yang kadang muncul di puncak konflik tanpa tadeng aling-aling. tapi ia adalah sebuah kritik pedas terhadap sistem pendidikan. di mana pengampu pendidikan sama sekali tidak paham apa yang dimau oleh siswa, dan sampai kapan pun jika sistem ini terus berlanjut, sekolah hanya terus memproduksi kelas buruh tiap tahunnya.***




Hal Menjengkelkan di Film Romance

hal menjengkelkan yang terjadi pada sebuah film yang menceritakan tentang pasangan adalah, ketika salah satu di antara mereka baru sadar bahwa dia tidak bisa benar-benar 'memiliki' kekasihnya. dia tidak bisa menerima perubahan yang terjadi pada kekasihnya. akan ada masa, kau melihat kekasihmu yang mungkin menurutmu sangat kamu kenal--terlihat menjadi orang paling asing, yang datang dari planet lain yang tak pernah kau pikirkan sebelumnya. 




di film, akan ada adegan di mana mereka putus, lalu kembali pada petualangan cinta yang payah. ketika kekasihnya sudah mendapatkan pasangan lain, dia belingsatan dan mencoba melakukan hal sama atau kalau bisa lebih dari itu, dia pun punya pasangan baru. 

lalu, keduanya merasa bahwa hal yang mereka lakukan adalah sebuah hal yang salah, tapi sudah terlanjur dilakukan. maka mereka mencoba untuk bertahan pada posisi ini, dan berandai-andai: 'coba aku menurunkan egoku sejenak, dan mencoba menerima pendapatnya.' 

hal paling menjengkelkan (lagi) adalah ketika omonganmu tidak pernah didengar oleh pasanganmu, dan kamu merasa harus selalu didengar dan dimengerti, dan ternyata pasanganmu tidak sesuai ekspektasimu dalam hal ini, atau sebaliknya.

kamu mulai merasa bahwa kamu sudah tidak dihargai lagi. hubunganmu mulai longgar, karena biasanya ia mencurahkan hatinya padamu, tapi kalian sedang tidak dalam hubungan yang baik, maka ia mencurahkan hatinya ke orang lain. dan sialnya, dari sekian banyak kemungkinan, ia akan merasa nyaman dengan orang itu. 

bagaimanapun, kamu merasa tidak dihargai. bahwa, kenapa kamu membangun sebuah hubungan adalah kerena kamu ingin menjadi 'spesial'. kita tidak pernah menjadi 'spesial' di manapun, dan ia menawarkanmu hal ini. 

ketika kesan 'spesial' itu sudah tidak ada lagi, lalu untuk apa kamu mempertahankan semua ini? omonganmu sudah tidak didengar, dan kamu harus menyadari bahwa keberadaanmu tidak lebih dari omong kosong. 

hal ini hanya terjadi di dalam sebuah film.***

Ngerti Saham Karena Raditya Dika

saya pernah ngobrol tentang saham dengan orang yang bekerja di sekuritas, suatu hari saya pernah diundang di acaranya di gedung BEI. tapi, saya sama sekali tidak paham saham, sampai akhirnya raditya dika yang berbicara, saya baru paham.




sebenarnya saham adalah salah satu instrumen investasi dari berbagai pilihan yang ada. selain saham, radit seringkali berbicara mengenai dana pensiun, dana darurat, gaya hidup, dan seputar itu. 

saya menonton videonya mengenai investasi di youtube dan mendengar podcastnya di sportify, itu adalah berbulan-bulan yang lalu. hingga akhirnya saya sampai pada titik: "wah, gue bego banget ya nggak ngerti investasi." 

akhirnya saya mencoba awal-awal untuk menabung emas, reksadana, hingga memutuskan untuk membuka RDN untuk melakukan transaksi beli saham di bursa. semua itu dilakukan full online.

dari sekian banyak instrumen investasi, saham adalah yang paling kompleks. kita harus menganalisis perusahaan yang ingin kita 'beli', dan itu tidak mudah. tapi, dari sekian banyak instrumen investasi, saham memang yang memberikan return tertinggi, dengan catatan jika kita paham dalam menabung saham dan mempunyai tujuan jelas. 

faktanya, dari sekian ratus juta penduduk indonesia, hanya 1% yang menjadi investor saham. dan jika dibandingkan dengan keseluruhan saham yang ada di indonesia, investor lokal memegang persentasi 58,22%, dan asing 41,78% ((KSEI) per 30 Juli 2020) angka ini terus membaik, sebelumnya bahkan asing pernah memegang keseluruhan saham di Indonesia di atas 50%. 

pengaruh banyaknya asing yang menanam modal di bursa, jika suatu waktu mereka menjual sahamnya dalam jumlah banyak, IHSG akan mengalami gejolak. investor domestik mampu meredam itu. 

mungkin di mata awam, dunia saham terlihat begitu menakutkan, karena kita terlalu sering mendengar desas-desus ada orang yang jatuh miskin karena saham. ya, kasus itu memang ada, tapi tidak semua. maka dari itu, untuk terjun di dunia saham, kita harus membekali ilmu. karena investasi awal untuk terjun ke dunia saham adalah ilmunya. dan tentu saja harus berani mencoba.

dengan investasi saham, kita terut membangun negeri ini ke arah yang lebih baik. karena perusahaan publik yang melantai di bursa, mambayar pajak besar kepada negera. dan perusahaan itu pun membuka peluang kerja bagi banyak masyarakat.

kalau kata lo kheng hong (orang yang kaya raya karena saham), sangat disayangkan orang yang tidak mengerti saham, karena harta karun kini tidak di lautan dalam, tapi di bursa, di bursa uang jelas-jelas ada, dan transparan pula. 

kurang lebih begitu.***


‘Tak Ada yang Gila di Kota Ini’ Memang Gila

'tak ada yang gila di kota ini' adalah film pendek yang bercerita tentang marwan yang bekerja untuk pemilik hotel--tugasnya menyingkirkan orang-orang gila di sekitar tempat tersebut agar tidak mengganggu turis, namun di balik itu, marwan memiliki rahasia yang tidak diketahui oleh sang pemilik hotel dan rekan kerjanya. 

'rahasia' ini adalah plot twist dari cerpen yang ditulis eka kurniawan dalam judul yang sama, dan di tangan wregas, twist itu menjadi berlipat ganda. 



tokoh marwan yang diperankan oleh oka antara mengingatkanku pada tokoh utama di film korea berjudul '3-iron', tokoh utama ini sepanjang film tidak berdialog. 

'3-iron' adalah film yang diakui oleh wregas dalam sebuah wawancara: memengaruhi pandangannya terhadap film.

sepanjang film, marwan lebih banyak diam, dan emosi marwan hanya bisa dilihat dari mimik mukanya hingga sorot matanya, dan oka antara berhasil mengantarkan emosi itu kepada penonton. 

ini bukanlah film naratif, kita diajak untuk mengikuti cerita dengan pelan dan pasti, meski hanya sekitar 20 menit, kita bisa menikmatinya. dan ya, tentu saja, puncaknya adalah ketika di ending film yang tidak bisa kita prediksi sebelumnya walau kita sudah membaca cerpennya.

film ini sudah malang melintang di festival, ceritanya terkesan sederhana namun sangat dalam, dapat membius siapa saja yang menontonnya. 

eka kurniawan dan wregas adalah dua 'pencerita' yang saya kagumi. film pendek ini bagi saya adalah perwujudan nyata dari kenikmatan 'sebuah cerita' sebenarnya.***

Saya dan Film India Melawan Kesepian

ada masa di mana saya sangat gemar menonton film india. tapi bagi sebagian orang, nonton film india terkesan kuno dan bukan tontonan untuk anak muda.

saya tidak mengerti dengan orang-orang yang meremehkan film produksi negara tertentu, bahkan negeranya sendiri. ketika berkata film, mereka hanya tahu hollywood, bahkan film di dunia ini ada banyak sekali. film-film spanyol, prancis, thailand, korea--bahkan bisa dibilang ceritanya lebih segar daripada hollywood. 



alergi terhadap film selain hollywood ini bahkan sudah sampai pada ranah oscar, dan bisa dibilang oscar 2019 membutuhkan 'parasite' untuk membuktikan bahwa pemenang oscar tidak melulu dari hollywood, dan tontonan film bukan hanya dari amerika. 

film india sendiri pernah menemani hari-hari saya ketika kesepian. tidak jarang saya menonton film india dan tidak sadar menitihkan air mata, ia begitu pandai memainkan emosi penonton, di samping nyanyiannya dan joget-jogetnya, tentu saja.

yang sangat khas dari film india adalah 'intermezo', ketika kita kira film sudah akan berakhir, malah ternyata hanya sampai setengah saja. selanjutnya cerita melandai dan kembali sampai puncaknya. 

bagi sebagian orang akan malu untuk menonton film india, apa yang memalukan? semua film sama saja, ia adalah bahasa paling universal yang kita kenal, mungkin jika kita tidak bisa menerima film dari negara lain selain hollywood, mungin kita tidak lebih dari korban market 'produk' tertentu.***

Saya Membaca Quora Setiap Hari dan Anda Harus Coba

Quora, mungkin situs ini tidak terlalu populer dibanding Instagram, Facebook, Twitter. Dan memang pengakses situs ini di Indonesia masih rendah. Dan buat saya, Quora adalah harta karun di antara ribuan atau bahkan jutaan situs di internet. Saya selalu menyempatkan membaca Quora setiap hari, melalui laptop atau smartphone. Saya selalu menemukan hal baru setiap harinya, dan apa yang lebih menyenangkan di dalam satu hari selain menemukan hal baru?

Quora, seperti media sosial pada umumnya, ia mengharuskanmu membuat akun, dan kamu bisa memposting dan mengomentari postingan orang lain. Yang membedakannya dengan media sosial lain adalah, orang-orang yang memiliki akun di situs ini, ketika membuat postingan, tidak jauh dari pengetahuan, pengembangan diri, fakta unik, dan seputar itu. Tidak hanya dari Indonesia, kita juga bisa membaca postingan menarik lainnya dari akun luar negeri. Akun yang aktif menulis di Quora biasa disebut sebagai ‘penulis’.

Cara kerja situs ini cukup sederhana, kita akan menemukan pertanyaan-pertanyaan di beranda, dan beberapa orang akan menjawab dengan opini dan fakta yang meraka bawakan. Yang membuatnya menarik adalah, penulis di Quora menjawab pertanyaan itu selalu (atau sebagian besar) berdasar fakta atau buku yang pernah ia baca, atau situs, video youtube yang pernah mereka tonton, dan sebagainya. Selalu ada catatan kaki yang membuat pembaca percaya bahwa ia tidak asal-asalan dalam menjawab.

Sebagai pembaca, saya merasa seperti ikut membaca buku yang penulis baca, saya mendapat intisari buku tersebut tanpa membaca bukunya. Dengan baik hati penulis menjabarkannya dengan bahasa yang lebih ringan.

Tidak jarang pula di Quora, penulis akan menjawab pertanyaan berdasar pengalaman pribadi. Pengalaman itu bisa sangat menyedihkan, memotivasi, hingga horor.

Intinya, situs ini buat saya adalah paket komplit ketika saya butuh bacaan yang ringan dan bervariasi. Ada banyak ‘buku’ berserakan di sana, dan pemikiran-pemikiran baru yang belum pernah kita temukan sebelumnya. Jika kamu bosan dengan media sosial mainstream, cobalah hijrah ke Quora.***